
Gluk, Dimas menelan ludahnya sendiri. Dia ketakutan mendengar Aulia menceritakannya dengan tatapan tajam yang begitu menusuk hingga ke jantung. Dimas menggaris bawahi beberapa perkataannya. Seperti berbeda dimensi, keris, dan kekuatan jahat. Angin malam membuat keringat di dahi Dimas terasa dingin. Lebih dingin dari tatapan peri yang seolah datang dan mengatur kehidupannya.
Selesai mengatakan itu, Aulia Casandra menjelma menjadi sebuah cahaya berwarna putih. Cahaya yang membuat mata Dimas silau karena melihatnya dari dekat. Lalu cahaya itu semakin mengecil dan berkamuflase menjadi sebuah keris. Keris perak dan gagangnya hitam, Peri yang menyatukan dirinya ke dalam sebuah keris. Dimas jelas mengingat kalimat itu. Ada garis hijau yang memanjang di sepanjang lekukan mata keris. Keris itu melayang di hadapan Dimas. Hingga sekitar tiga detik kemudian, keris itu melesat dan masuk ke dalam lengan tangan kanan Dimas dengan cepat.
Dimas terkejut dan langsung memperhatikan lengan tangan kanannya. Lalu dia melihat garis hijau di antara urat nadi di pergelangan tangannya. Seolah cahaya itu berasal dari dalam lengan Dimas. “Astaga!” gumam Dimas.
Sontak semua pemandangan di hadapan Dimas berubah menjadi latar putih yang menyilaukan mata. Lalu, menjadi gelap dengan sendirinya, hitam tanpa cahaya sedikitpun. “Arrggghhh!” Dimas berteriak memegangi kepala dengan kedua tangannya, mendadak dia merasakan sakit yang amat sangat. Dia jatuh tengkurap, membenamkan wajahnya ke lantai yang hitam. Lalu, semua ingatan berdatangan satu persatu bahkan secara bersamaan di dalam kepalanya. Ingatan tentang semua orang-orang yang dicintainya. Ibu, ayah, sahabat dan Julia Nada. Dari sejak Dimas kecil hingga dewasa ingatan itu berganti-ganti seperti sebuah potongan film yang ditayangkan satu persatu dengan cepat.
*
“Julia Nada, aku melamarmu,” ucap Dimas, dia berjongkok dan menyodorkan sebuah kotak berisi cicin emas kepada Nada yang berdiri di hadapannya. Ini adalah salah satu ingatannya yang muncul di antara ingatan-ingatan lain. Hari itu Dimas melamar Julia Nada di atas puncak Gunung Semeru. Julia Nada tersenyum hingga matanya sipit. Nampak pipinya merah dan tersirat perasaan bahagia. Matahari terbit mulai menghangatkan suhu dingin yang sempat menembus jaket tebal mereka. Tidak hanya itu, kirananya juga membawa cinta. Puncak berbatu ini seolah menjadi milik mereka berdua. Nada menerimanya, Dimas memasangkan cincin itu di jari manis sang kekasih.
Ingatan lainnya datang, semua keluarga di kedua pihak berkumpul di rumah Julia Nada. Acara lamaran yang meriah tersirat dari senyum di antara semua sanak keluarga yang datang. Hari itu, Dimas berjanji akan menikahi Nada pada tanggal 20 November 2020, yaitu satu tahun berikutnya. Namun, sesuatu terjadi seminggu setelahnya. Hari ketika Dimas dan Nada mendaki untuk kedua kalinya ke Gunung Slamet.
__ADS_1
*
Dalam perjalanan turun, kabut memisahkan mereka berdua. Dimas tidak bisa melihat jalan setapak di hadapannya. Nada yang dari tadi berjalan dekat di belakang, kini juga tidak terlihat. Dimas kebingungan, kenapa ada kabut setebal ini? Namun dia terus berjalan ke depan, menginjak tanah yang berbatu dan memegang pepohonan. Memanggil nama tunangannya dengan keras.
“Nadaaaa!” namun tidak ada jawaban sama sekali, benar-benar hening. Dimas mulai ketakutan, dia tidak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Dalam benaknya dia ingin berhenti melangkah namun pepohonan yang tinggi dan kabut di sekitar benar-benar terlihat mengerikan. Seolah dia berada di alam yang lain. Dia terus melanjutkan langkahnya, berharap melewati kabut dan kembali menemukan jalan setapak.
Mungkin sudah lima belas menit, Dimas berada di dalam kabut. Hingga dia menemukan sebuah benda mengkilap yang bergitu kontras terlihat dari antah berantah lainnya. Keris Lonat tergeletak di tanah. Keris itu tidak tertimbun apapun, seolah seseorang baru menjatuhkannya di tempat ini. Perlahan Dimas menghampirinya, di antara rasa takut, rasa penasaran membawa langkahnya untuk menghampiri keris itu.
Begitu Dimas menyentuh gagang keris, keris Lonat berubah menjadi cahaya dan masuk kedalam lengan tangan kanan Dimas. Dia terkejut dan memegangi tangan kanannya yang gemetaran. Setelah itu, kabut di sekitarnya hilang, jalan setapak muncul lagi. Dan, Julia Nada memanggil namanya dari belakang.
Dimas menengok, dia menemukan Nada masih berada di belakangnya. Dimas benar-benar takut dan kebingungan. Tangan kanannya masih gemetaran. Lantas, dengan tiba-tiba, rasa berat muncul di kepalanya.
“Argh,” Dimas kesakitan memegangi kepalanya. Lalu dia tumbang, jatuh terkapar di tanah. Perlahan memejamkan kedua matanya.
“Dimaaass!” teriak Nada.
__ADS_1
*
Saat ini, di kamar rumah sakit Mawar, pada pukul sembilan belas malam, Dimas membuka kedua matanya. Pria itu sudah tersadar dari koma. Clara terkejut melihatnya, wanita itu hampir tidak pernah memalingkan pandangan dari wajah Dimas. Berharap dia bisa melihat momen ini.
“Sayang?” ucap Clara, menangis bahagia sambil menyentuh pipi Dimas.
Dimas melihat Clara menangis menyapanya, lalu dia melihat kedua orang tuanya sendiri sudah tertidur lelap di sofa. Perasaan sedih muncul di benak Dimas ketika dia semakin memperhatikan air mata Clara. Setelah mengingat kecelakaan yang dialaminya, dimas berpikir bahwa betapa dirinya hampir meninggalkan Clara untuk selamanya. Akhirnya Dimas menangis melihat Clara, dia ingin menggenggam jemari Clara. Namun, Dimas tidak bisa merasakan tangan kanannya. Dia melihat selimut yang menutupi badannya, bermaksud melihat keadaan tangan kanannya.
Dengan wajah sedih, Clara membuka selimut di tubuh Dimas sambil berkata.
“Dokter terpaksa melakukan ini.”
Lengan kanan Dimas telah diamputasi karena cidera parah setelah kecelakaan yang hampir merengut nyawanya.
__ADS_1