
Di dalam rumahnya, setelah semua tamu sudah pergi, Alan memasukan pakaiannya ke dalam koper. Dia membiarkan barang-barang Vivi tetap pada posisinya. Bahkan membiarkan pintu kamar kakaknya masih terbuka begitu saja. Dari sofa, dia bisa membayangkan Vivi masih ada di rumahnya. Mungkin sedang merapikan baju atau berjalan dari tangga membawa buku novel. Alan duduk lalu menutup koper dan menguncinya.
“Keluarlah,” ucap Alan.
Sosok ular Sanca itu kembali keluar dari balik tembok, menembus seperti hantu.
“Aku tau apa yang kamu mau,” ucap si ular, lidahnya menjulur-julur.
“Siapa namamu?”
“Menurutmu siapa?”
“Larem?”
“Ya,” ular Sanca melingkari sofa dengan anggun dan menatap mata Alan.
“Berapa banyak?”
“Sebanyak yang kamu bisa.”
“Hahahahaha,” Larem tertawa. “Aku tunjukin sebagian kecil aja dari sihirku.”
Larem menatap langit-langit di atas mereka, alan mengikuti pandangan Larem. Lantas dari langit-langit itu, berjatuhan lembaran-lembaran uang pecahan seratus ribu dengan jumlah yang sangat banyak. Alan memperhatikan uang-uang yang terus berjatuhan seperti daun di musim gugur. Namun, Larem malah memperhatikan Alan. Pria itu tidak kagum sama sekali, mungkin karena lubang di hatinya. Pikir Larem.
Selama lima belas menit uang berjatuhan, hujan uang itu berhenti. Kini telah berserakan uang pecahan seratus ribu di lantai, bertimbun setebal mata kaki.
“Aku butuh koper yang besar.”
*
Keadaan di kerajaan Areyan sudah mulai kondusif lagi. Para prajurit dibantu oleh penduduk, melepas poster-poster Niken Areline yang tertempel di setiap tembok. Raja Darna kembali menduduki singgasana, raut bahagia tersirat dari para menteri dan anggota kerajaan lainnya. Baron dikurung di penjara bawah tanah dengan keadaan kedua tangannya yang terikat oleh borgol batu Metta. Pengadilan sudah memutuskan Baron akan dihukum gantung di hadapan semua rakyat dua hari mendatang.
Sementara itu, Niken Areline mengurung diri di dalam kamarnya. Dia berbaring menyamping memeluk bantal. Setelah Niken di bawa ke keraton, Jaka menghilangkan efek dari sihir bola kaca. Hasilnya, meskipun Niken atau Alan saling memikirkan satu sama lain, mereka tidak akan bisa dipertemukan di pohon Hirena lagi. Niken juga telah diberi peringatan oleh pengadilan Tronatu. Jika dia menggunakan sihirnya untuk membuka portal ke dunia lain, maka dia akan dikurung seumur hidup di penjara kerajaan Tronatu. Untuk mengantisipasi hal itu, raja Darna memohon kepada Niken untuk mengenakan gelang di tangan kiri yang terbuat dari batu Metta. Dengan tujuan agar Niken tidak bisa menggunakan sihirnya. Gelang itu terikat erat oleh sebuah kunci. Selain itu, perjanjian tentang kutukan yang ada di dalam darah Niken masih berlaku untuk ke depan.
Sang putri terus menangis sepanjang hari. Dia enggan memakan makanannya ataupun pergi keluar dari kamar. Para dayang tidak ada hentinya memohon putri Niken untuk makan. Tapi kesedihan mengalahkan segalanya. Beberapa peri berterbangan di kamar sang putri, mereka memandangnya sayu.
__ADS_1
*
Pagi ini Dimas bangun dari tidurnya, dia menatap foto Clara Gretchen di meja. Wanita itu tersenyum memberi semangat di pagi hari. Dimas duduk, lalu turun dari kasur dan membuka tirai. Membiarkan mentari masuk dan menerangi seluruh sisi gelap kamarnya. Namun, ketika dia hendak membuka pintu kamar untuk pergi ke kamar mandi, dia baru menyadari sesuatu yang membuatnya jatuh duduk di lantai.
Tangan kanannya telah kembali, tangan yang telah diamputasi oleh dokter itu kini telah kembali utuh berada di lengannya. Dimas kebingungan, bahkan tidak ada luka bekas jaitan sedikitpun. Dia bisa merasakan dan menggerak-gerakkan tangannya. Lalu dia menampar wajahnya sendiri dan merasa sakit, mematahkan asumsinya bahwa ini mungkin saja mimpi. Tapi tidak, tangan kanan itu benar-benar telah tumbuh lagi. Dia segera mengunci pintu kamarnya, bisa saja ibu atau ayahnya masuk untuk melihat keadaan dan Dimas kesulitan untuk menjelaskan hal yang sudah terjadi.
Dimas kembali duduk di kasur dan masih syok melihat lengannya. Sentuhkan ujung ibu jari ke jari kelingkingmu, lalu sebut namaku. Mendadak kalimat itu terlintas di pikirannya. Kalimat yang sempat di ucapkan Aulia, seorang wanita yang hadir di dalam mimpinya. Dimas melakukannya.
“Aulia.”
*
“Apa yang kamu mau?” tanya Dimas sesampai Aulia berhenti di hadapannya.
“Untuk saat ini, pahami kekuatanmu.”
“Jelaskan!”
“Dengan keris Lonat di dalam tanganmu, tubuhmu akan memiliki kecepatan dan kekebalan yang luar biasa. Selain tahan banting, kamu juga bisa merasakan niat jahat seseorang di sekitarmu. Dan, gunakan keris itu untuk melawan kekuatan sihir jahat.”
“Seperti apa kekuatan sihir jahat itu? Jelasin!”
*
__ADS_1
Sehari setelah pemakaman Vivi, Julia Nada datang ke rumah Alan. Wanita itu mengetuk pintunya lirih. Seseorang membukanya, seorang wanita paruh baya dengan kerutan di dahi, mata cekung dan rambut terurai ke samping. Nada kebingungan, dia belum pernah melihat wanita itu di rumah Alan sebelumnya.
“Maaf bu, Alannya ada?” tanya Nada, mungkin dia saudara jauh Alan, dia datang karena kematian kak Vivi. Nada membatin.
“Mas Alannya udah pergi ke luar kota mbak.”
“Hah?” Nada kebingungan, bahkan Alan belum sempat memberitahu bahwa dia akan pergi ke luar kota. “Ke mana bu? Kok nggak ngabarin aku ya?”
“Jakarta, mas Alan minta titip ibu buat jagain rumah ini selagi dia di Jakarta,” jawabnya sambil memegangi pintu. “Mbaknya siapa ya?”
“Saya temennya bu,” jawab Nada, raut wajahnya masih bingung, mungkin juga sedikit kesal. Lantas dia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan kepada Alan melalui via Whatsaap.
*
Alan membeli sebuah apartemen lantai 55 di daerah Jakarta Selatan, dia meninggalkan rumah lamanya dan membayar tetangganya untuk merawat rumah yang dulu. Sekarang, penampilan Alan sudah benar-benar berubah. Alan rajin melatih tubuhnya dengan beberapa peralatan Gym yang dia beli. Otot-otot di tubuhnya benar-benar sudah terbentuk. Rambutnya selalu tersisir rapih ke belakang. Setiap hari selama satu bulan ini, Alan mengabaikan panggilan masuk dari Julia Nada. Namun, dia selalu ragu dan memiliki rasa bersalah ketika mengabaikan panggilan itu. Seringkali Alan memandangi panggilan itu sangat lama, membuat perhatiannya teralihkan, namun dia enggan mengangkatnya. Mungkin rasanya seperti menutup pintu untuk kucing kecil di malam yang dingin, membiarkannya tertidur di keset.
*
Malam hari, Alan berdiri di balkon apartemennya. Menenggak sebotol beer sambil berpegangan pagar dan melihat gemerlap lampu kota metropolitan. Ternyata segalanya tidak berubah, hatinya masih menangisi kehilangan Vivi. Rasa sakit itu terasa semakin dalam ketika dia jauh dari rumahnya. Ketika dia melihat sesuatu yang mengingatkannya kepada satu-satunya orang yang dia sayang. Misalnya saat menonton TV, tidak ada seseorang yang harus menguasai remotnya seperti Vivi. Atau mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya di pagi hari.
“Apa kamu mau melakukannya sekarang?” Larem bertanya dari belakang, ular itu sedang melingkar di kursi santai Walnut. Dia menanyakan tentang rencana Alan masuk ke dalam Kana. Larem jelas berantusias mendengarnya, bahkan Larem akan menggunakan sihirnya untuk melindungi Alan dari efek berkurangnya separuh dari sisa umur seseorang yang, menyebrangi dunia lain.
Alan meneguk kembali botol beer-nya, dia menghabiskan satu botol berukuran 800cc. Melemparkan botol kaca itu ke bawah lalu berbalik menatap Larem dan berkata.
“Ya,” Alan sudah menangis deras.
__ADS_1