Niken Areline

Niken Areline
Hasrat Membunuh


__ADS_3

    Toko Roti Paman Jek baru buka lima belas menit yang lalu. Beberapa pelanggan berdatangan pagi ini. Aroma harum roti hangat dengan aneka macam isi dan toping, menggugah selera. Meski Toko Roti Paman Jek adalah toko roti yang terbaik di kota Tegal, namun tempatnya tidaklah luas dan jauh dari kata mewah. Toko roti milik ayah dari Julia Nada ini kecil, sederhana dan berkualitas. Hanya memiliki empat orang karyawan.


    Vivi menjadi pelayan di toko ini, pagi ini dia nampak sibuk menata roti-roti di rak berlampu putih. Dia mengenakan seragam toko berwarna cokelat dengan slemek putih di depannya, sudah terikat rapih di pinggang Vivi yang ramping.


    Sementara itu, televisi di dinding menyiarkan sebuah berita kriminal tentang pembegalan di daerah pedasaan yang menewaskan seorang remaja laki-laki dan, pelakunya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Lila, seorang wanita yang berkerja sebagai kasir, menyimaknya sambil meminum teh. Cangkir bergambar kucing Gerfield itu berasap hangat.


    Kling, kling, kling, bunyi lonceng di pintu masuk. Seorang pria yang mungkin sebaya dengannya (23 tahun), sedang berdiri menatapnya dengan raut yang penuh semangat. Rambutnya tersisir rapih ke belakang, hitam mengkilap. Alisnya sedikit tebal dengan hidung yang mancung dan kedua matanya berbinar. Parfum Axe Gold tercium seketika dia berjalan melewati Vivi ke arah kasir. Sesampainya di depan Lila, pria itu berkata.


    “Aku mau ketemu paman Jek, aku mau melamar kerja di sini.”


     Vivi memperhatikannya sembari menyusun roti-roti dengan rapih.


    “Tunggu, nama kamu siapa?” tanya Lila, sekilas dia salah tingkah melihar ketampanan pria itu.


    “Dani.”


     Lalu Lila mengambil sebuah pena dan membuka sebuah buku catatan kecil.


    “Nama lengkapnya siapa? Paman Jek baru bisa datang jam sepuluh siang. Tinggalin nomer hape aja ya,”


    “Dani Ardiansyah.”


*


    Trang, trang, trang! Suara benturan besi terdengar dari luar sebuah rumah gubug di tengah sawah. Sebuah rumah gubug yang terletak di belakang keraton Tronatu. Bising suaranya memecah siang bolong. Di dalam sini, ada banyak sekali senjata yang terpajang memenuhi dinding, seperti tombak, keris, pisau gada dan lain-lain. Terdapat juga peralatan pandai besi seperti, palu, landasan, batu bara dan besi yang telah dilelehkan dalam sebuah wadah, mencair seperti magma. Ini adalah ruangan yang dulunya digunakan oleh Aulia untuk menempa keris Lonat.


    Seorang pria bertelanjang dada, sedang sibuk mengayunkan palu ke besi panas. Dia adalah Kardi. Keringatnya bercucuran dari kepala hingga menutupi mata, tak luput di sekujur tubuhnya. Dengan penjepit dan palu, dia membentuk besi yang menyala api menjadi sebuah rantai. Satu-persatu mata rantai dia buat dengan teliti. Di setiap mata rantai itu, Kardi membuat dua buah lubang kecil seukuran kelereng. Kardi terus menempanya hingga terbentuklah sebuah rantai sepanjang tiga meter dengan ukuran satu kepalan tangan orang dewasa per mata rantainya.

__ADS_1


    Lalu Kardi membuka sebuah peti yang di kunci, peti yang berisi batu Metta. Cahaya hijau menyinari wajahnya yang berkeringat. Kardi mengambil bongkahan batu seukuran kepala manusia itu dari peti. Dia menaruhnya di atas meja besi, lalu dengan keahliannya, Kardi memotong batu Metta menjadi kecil-kecil. Kardi menggunakan pahat dan palu, tidak menggunakan sihir. Sihir sekuat apapun akan melemah seketika berada dalam jangkauan batu Metta.


    Setelah batu Metta berubah menjadi butiran-butiran kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari kelereng, Kardi memasukan satu-persatu batu hijau itu ke dalam lubang pada setiap mata rantai yang dia buat. Setelah semua butiran kecil batu Metta itu terpasang, Kardi duduk untuk melepas lelahnya. Dia memandangi terus karyanya sambil tersenyum. Menenggak segelas arak lalu mengusap keringat di dahi yang terus mengalir ke mata.


    Dan langkah terakhirnya adalah, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan dari Aulia. Sebuah kekuatan di dalam tubuh yang bisa menyatukan sihir dengan batu Metta. Kardi berdiri lagi di hadapan maha karyanya itu. Dia memegang erat bagian tengah dari rantai yang sudah dingin. Lalu tiba-tiba dia mengerang membuka mulutnya. Kedua matanya berubah, bola mata itu menghilang. Menyisakan putih mata dari ekspresi wajahnya yang meringis sambil menahan sebuah kekuatan. Kekuatan yang keluar dari dalam tubuhnya, telah mengalir di rantai besi itu.


    Aura putih mengalir dari mata ke lengan, lalu menyelimuti seluruh bagian dari rantai. Sekitar dua menit, proses itu berhenti. Kardi melepaskan rantai dan tiba-tiba terjatuh ke ubin. Darah mengalir dari lubang hidungnya yang mancung, bola matanya kembali muncul. Namun ekspresi puas tersirat darinya. Kini, di hadapannya, terciptalah sebuah rantai penangkal sihir.


*


    Selesai mandi, Kardi berdandan rapih dengan jubah hitam yang biasa dia kenakan. Masih di dalam gubugnya, dia duduk di bangku memegang beberapa foto yang bertuliskan sesuatu di bagian belakangnya. Sebuah informasi yang telah diberikan Kusno untuknya. Namun, justru karena foto itulah, Kardi tidak berniat membuat senjata seperti keris, kapak, atau pisau yang bisa membunuh seseorang. Terlebih Kardi hanya ditugaskan untuk menempa senjata dari batu Metta lalu membawa Niken Areline ke Kana.


    Itu adalah foto Alan, Vivi dan Nada, lengkap beserta dengan keterangan  di mana mereka biasa bertemu, berkerja dan tinggal. Lalu, Kardi memperhatikan foto Vivi yang sedang berkerja di toko roti. Nampak Vivi mengenakan pakaian kerja sedang mengelap pintu kaca toko. Setelah itu, Kardi memasukan semua foto itu kedalam sebuah saku di bagian dalam jubahnya. Dia berdiri, lantas mengucapkan sesuatu seperti mantera.


    “Evestio gare.”


    Seketika itu juga Kardi berubah menjadi seorang pria dengan kemeja hitam putih yang rapih. Rambutnya hitam tersisir mengkilap kebelakang. Alisnya sedikit tebal dengan hidung yang mancung dan kedua mata yang tajam. Kardi telah merubah dirinya menjadi sosok pria lain. Lantas dia membuka portal antara dua dunia. Kardi sadar akan resikonya, ketika masuk kedalam sana, sisa usianya akan berkurang separuh. Begitu juga ketika Kardi kembali dari sana. Namun dia memiliki keyakinan dan tekad yang tinggi. Mungkin sama tingginya seperti tekad seorang pendaki yang melangkah untuk menuju puncak.


     Kardi telah merubah dirinya menjadi Dani Ardiansyah, rencananya adalah melamar pekerjaan di toko roti Paman Jek.


*


    “I miss you, I miss youuu,” Niken menyanyikan lagu yang didengarnya di pesta, namun nadanya melengking dan fals. Saat ini wanita itu sedang berjalan membelakangi Alan. Niken mengenakan kemeja merah berukuran XL dan celana jin berwarna gelap dengan sepatu ket putih. Sore ini Niken menjadi penyanyi dadakan, bahkan sesekali dia melompat atau berputar.


    Sementara Alan, dia masih mengenakan kemeja kerja dan sedang menuntun motornya. Ban belakangnya bocor dalam perjalanan pulang sore ini. Mereka terjebak di daerah persawahan dengan jalanan yang berbatu bahkan berlubang. Pepohonan lebat, ada di sebelah kanan dan sawah yang luas di sebelah kiri.


    “Ugh,” gumam Alan, suaranya lelah. Sepulang kerja dan masih harus menuntun sepeda

__ADS_1


motornya, mencari tukang tambal ban yang terdekat. Pegel banget, pikir Alan. “Ngomong-ngomong, kok sekarang tiap kamu keluar udah gak kerasa sakit lagi dadaku?” Niken menengok.


    “Uuumm, aku nggak tau,” jawab Niken sembari memikirkan beberapa kemungkinan yang mengakibatkan hal itu terjadi. Mungkin karena keduanya sudah mulai terbiasa dalam satu tubuh, atau mungkin efek dari sihir bola kaca. Lantas rasa pegal menggigit lengan Alan.


    “Niken, bantuin aku. Kamu jalan duluan ke depan, cari tukang tambal ban yang paling deket, aku gak ngerti daerah ini.”


     “Yaudah, kamu nunggu di sini dulu. Aku cari tukang tambal ban.” ucap Niken, lalu dia berlari ke depan. Seperti bocah yang disuruh ibunya jajan di warung.


    Apa dia ngerti tukang tambal ban itu kek gimana? Alan membatin, membayangkan seorang putri mencari tukang tambal ban.


    “Astaga,” pekik Alan sembari menepikan motor ke pepohonan bambu, Lalu dia duduk di tanah melepas lelah. Mulai menikmati semilir angin sore yang menyentuh tubuh. Keringat yang terkena hembusan angin, terasa dingin. Di kejauhan sana, Niken sudah menghilang di telan jarak, mungkin belok di tikungan.


    Srak, srak, srak, terdengar sesuatu dari belakang Alan, tepatnya di pepohonan bambu. Kucing? Berang-berang? Pikir Alan. Sontak mengalihkan perhatian Alan. Begitu Alan menengok, dia mendapati sosok pria berbadan kurus namun tinggi sedang berdiri di belakangnya. Pria itu mengenakan jaket parasit berwarna biru, celana cokelat dan sepatu kulit hitam. Rambutnya cepak dan kedua kantung matanya agak gelap. Mungkin tidak tidur semalaman.


    Pria itu diam menatap Alan, Alan terkejut saat menyadari pria itu sedang memegang sebilah golok di tangan kirinya.


*


    Romi Malik adalah seorang pria jangkung berkepala cepak. Semalaman dia tidak pulang setelah menyadari polisi menggerbek rumahnya. Romi adalah seorang mantannarapidana yang sudah bebas dari masa hukumannya. Namun, tiga hari yang lalu dia baru saja membunuh seorang pengendara sepeda motor di jalanan yang sepi. Dan, sepertinya polisi sudah mengendus kelakuannya. Meski beritanya sudah tersebar, namun Romi Malik belum juga bisa ditangkap.


    Dalam pelariannya, Romi tidak tahu lagi harus kemana. Dia tidur dan bersembunyi di balik semak dan pepohonan yang lebat. Dia berbaring sembari memikirkan nasib buruknya. Romi meninggalkan rumah tanpa membawa satu rupiah uang. Hanya sebilah golok yang dia bawa untuk mengambil kayu bakar saat rumahnya didatangi lima orang polisi bersenjata api. Dia hanya bisa memandangi lebatnya dedaunan di atas, sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya lagi. Kriuk, suara dari cacing di dalam perutnya yang lapar.


    Golok yang berkarat menancap di sampingnya. Dalam lamunannya, Romi mendengar percakapan orang di sekitarnya. Wanita dan Pria. Pikirnya. Lantas Romi beranjak berdiri dan menarik goloknya yang menancap di tanah. Dia melewati semak-semak, menembus pepohonan untuk menuju ke sumber suara. Lalu, sembari bersembunyi, Romi mengintipnya. Seorang pria sedang menuntun sepeda motor dan seorang wanita yang sedang berjalan di depannya. Romi menyadari roda sepeda motor pria itu sedang bocor. Dan pria itu nampak kelelahan menuntunnya.


     Tidak lama kemudian, wanita berambut panjang itu berlari menjauh. Dan, si pria menepikan sepeda motornya di pepohonan, semakin mendekati keberadaan Romi. Segera Romi keluar melewati semak dan kemudian berdiri persis di belakang pria yang sedang duduk melepas lelah. Romi berharap, dia membawa uang dalam dompetnya, ataupun bisa membawa pergi sepeda motornya. Segala hal yang terpikirkan olehnya untuk bertahan hidup. Pada akhirnya, kekerasan menjadi candu bagi Romi.


    Lantas si pria itu menengok, dia terkejut menyadari keberadaan Romi yang sedang berdiri tegak menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2