Niken Areline

Niken Areline
Kesatria Terpilih


__ADS_3

    Clara Gretchen adalah seorang penulis berusia dua puluh satu tahun. Ayahnya adalah seorang pendiri Universitas Tegal Bahari. Tempat yang juga dipilih Alan untuk mempelajari ilmu Informatika. Clara merupakan wanita blasteran Jerman dan Indonesia. Ibunya sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu karena diagnosis kanker otak. Sedangkan ayahnya adalah warga asli Indonesia, dia pekerja keras. Memiliki tiga cabang universitas Bahari di Indonesia. Clara jarang sekali bertemu dengan ayahnya, mungkin karena kesibukan.


    Di rumahnya yang terletak di perumahan Taman Biru block B, Clara tinggal berdua dengan seorang pembantu rumah tangga yang sudah dianggapnya keluarga. Minarsih, berusia tiga puluh lima tahun dan, sudah berkerja untuk keluarga Gretchen sejak lima belas tahun yang lalu.


    Saat ini Clara sedang duduk di depan laptop di belakang rumah. Rambut cokelatnya yang pendek, bergerak terhelai angin. Bola matanya juga cokelat dengan bulu mata yang indah. Hidungnya mancung dan, kedua lesung di pipi mewarnai giginya yang gingsul. Dan kulitnya putih sedikit berbintik merah. Clara sedang menulis di meja yang dekat dengan kolam renang. Panas sinar matahari terhalang oleh payung meja yang lebar.


    Meski belum ada satu buku yang pernah dia terbitkan, namun saat ini Clara sedang berkerja keras menyelesaikan sebuah novel romance yang dia garap sejak lima bulan yang lalu. Tapi, di hadapannya ada sosok yang sedikit mengganggu konsentrasinya, sekaligus membuat perasaannya nyaman.


   Dimas Mahardika, mantan tunangan dari Julia nada itu sekarang sedang berdiri memanggang potongan daging Sapi, asap terbang meninggi. Kening Dimas terlihat berkeringat karena terkena terik sinar matahari. Dimas sudah menjalin hubungan dekat dengan Clara sejak setahun lalu. Dia berkenalan dengan Clara di suatu tempat pertemuan saat ayah Clara dan ayah Dimas hendak menjalin hubungan bisnis. Meski sekarang mereka sudah saling mencintai, namun ada satu keraguan di hati wanita cantik itu.


    Clara mengetahui bahwa sebelumnya Dimas sudah bertunangan. Clara juga memahami bahwa Dimas telah mengalami amnesia yang buruk. Karena itu, ingatan yang mungkin bisa kembali di kepala Dimas, membuat momok tersendiri untuk Clara Gretchen. Alih-alih duduk menulis, Clara justru memandangi kekasihnya yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuknya. Tanpa menutup laptop, Clara beranjak dari kursi kayu dan berjalan menuju ke Dimas.


    “Hei, yang ini udah agak gosong,” ucap Clara memeluk Dimas dari belakang.


    “Aku?”


    “Iya, aku makan aja auuuummm,” ucap Clara menyandarkan kepala di punggung Dimas.


    “Astaga, kamu godain mulu ih,” ujar Dimas. “Gimana novelmu?”

__ADS_1


    Lantas Clara melepaskan pelukan dan berdiri di samping Dimas, Clara ikut membantu membalikan potongan-potongan daging sapi yang terlihat lezat. Satu di antaranya sedikit gosong.


    “Udah mau selese,” katanya.


    “Serius?”


    “Ya,” jawab Clara, tiba-tiba saja wajahnya murung.


    “Hei kenapa? Bukannya itu bagus?” Dimas khawatir dengan apa yang sedang dirasakan kekasihnya.


    “Umm, iya, bagus”


    “Hmm, apa kamu masih mikirin itu?” tanya Dimas, dia menanyakan tentang unek-unek yang sempat di katakan Clara kepadanya tiga hari lalu. Clara bertanya apakah kamu bakal kembali sama kehidupan kamu yang dulu, kalo ingatanmu balik lagi? Saat itu Dimas belum memberikan jawaban yang bagus untuk meyakinkan kekasihnya. Ketika itu Dimas malah menanyakan kembali kepercayaan Clara terhadapnya. Sekarang Clara mengangguk merengut.


    Wanita itu kembali melebarkan senyumnya lalu mencubit perut Dimas yang atletis.


    “Aw,” gumam Dimas. “Apa semuanya baik-baik aja?”


    Clara mengangkat pundaknya, berbunyi entahlah.

__ADS_1


*


    Setelah seseorang membuka tirainya, cahaya pagi menembus masuk dari jendela kaca yang lebar. Perlahan Dimas membuka kedua matanya. Dia masih terbaring di atas kasur putih. Selimut menutupi separuh badannya yang telanjang. Di sampingnya, tercecer pakaian dalam wanita hingga sepatu high heels merah sebelah di atas bantal.


    Semalaman Dimas bercinta dengan Clara. Lalu mentari pagi yang dia lihat membuatnya gugup. Karena Dimas harus segera pergi berkerja. kemudian dia melihat jam digital di atas meja di sampingnya. Waktu sudah menunjukan pukul enam lebih dua puluh menit.


    Klak, pintu kamar mandi terbuka. Clara keluar dengan handuk hitam yang menutupi tubuhnya. Wanita itu sedang mengeringkan rambutnya dengan kedua tangan. Dimas segera bangun dan duduk di tempat tidur Clara yang super empuk.


    “Hei, kamu udah bangun,” ucap Clara begitu melihat Dimas. “Buruan mandi, aku udah selese.”


    “Iya,” jawab Dimas memandangi Clara. Cantik!


*


    150 kilometer per jam, Dimas memacu Honda Civic milik Clara. Dia meminjamnya untuk berangkat ke kantor, mengingat kemarin Clara yang menjemput Dimas untuk menginap di rumahnya. Dimas sudah berkemeja rapih dan rambut hitam yang selalu mengkilap. Aku mempercayaimu. Teringat perkataan Clara semalam tadi. Sesaat sebelum mereka berciuman lalu bercinta di kamar Clara.


    Mobil hitam itu membelah jalanan pantura. Menyalip banyak truk-truk besar dan bus yang tidak kalah cepat. Cahaya membias masuk ke kaca dan sedikit menyilaukannya. Draaak! Terjadi kecelakaan kendaraan di depannya. Sebuah bus besar menabrak bagian belakang truk kontainer. Bus itu oleng dan menghalangi jalanan lalu berhenti menabrak punggung jalan. Sontak Dimas membanting setir ke kiri untuk menghindari. Namun celah antara truk dan bus itu sempit, Dimas tidak yakin bisa melewatinya. Dalam kecepatan seperti itu, sudah jelas dia tidak akan bisa untuk menghentikan laju kendaraannya.


    Srak! bagian kiri mobil Dimas menyerempet kepala truk kontainer yang sudah berhenti. Hal itu membuat

__ADS_1


Dimas kehilangan kendali. Mobilnya berputar seperti gangsing hingga menabrak pembatas jalan di sebelah kiri. Lalu berguling keluar jalur. Kepala Dimas terbentur beberapa kali hingga mobil berhenti dengan posisi terbalik di pinggir sawah. Suara klakson membising di telinganya. Lalu dirasakannya mulai lirih. Dimas tidak bisa merasakan kaki dan tangannya. Beruntung sabuk pengaman melindunginya dari kondisi yang mungkin bisa lebih parah.


    Dalam penglihatannya, di bagian luar kaca yang retak, dia melihat seorang wanita berambut putih sedang berdiri menatapnya. Kebayanya biru panjang hingga menutup kaki. Namun Dimas tidak sangup untuk mempertahankan penglihatannya, matanya berkunang dan kepalanya terasa berat. Hingga akhirnya dia memejamkan mata tak sadarkan diri.


__ADS_2