
Sementara itu di Kana. Di mana masih banyak terdapat hutan, tanah lapang hingga bukit-bukit yang indah. Cahaya bulan menyinari pepohonan yang rindang. Ladang rumput nampak terang dengan sapi-sapi ternak yang sedang mengantuk di dalam kandang. Indah seperti Shire, sebuah desa yang terdapat dalam kisah fiksi fantasi The Lord of the Rings. Namun, tidak ada Hobbit di sini. Ini adalah Tronatu, banyak penyihir hebat yang tinggal di sini, di bawah pimpinan raja Kusno, keturunan langsung dari kesatria Arka.
Jalanan berbatu, mengarah kepada sebuah keraton yang berdiri megah di kejauhan sana. Keraton dengan dominasi warna merah dan emas. Jauh di bagian bawah tanah keraton, terdapat kamar-kamar tahanan yang diperuntukan bagi orang-orang yang melanggar hukum. Kamar-kamar dengan jeruji besi, gelap dan lembab. Penerangan hanya didapatkan dari cahaya-cahaya obor di koridor.
Dari semua kamar yang berjejer di sepanjang koridor, ada satu kamar yang di jaga oleh dua orang berpakaian jubah putih, jubah dengan tudung yang menutupi kepala. Keduanya adalah seorang penyihir dengan kemampuan sihir di atas rata-rata. Mereka ditugaskan untuk menjaga sebuah kamar tahanan di dalam keraton kerajaan Tronatu.
*
Di dalam kamar yang gelap dan lembab, nampak seorang pria dengan jubah hitam sedang memejamkan kedua matanya. Dia membeku di dalam sebuah batu Kristal yang transparan. Dia adalah Jaka, Jaka menciptakan sihir batu Kristal untuk melindungi dirinya dari serangan Baron, setelah dia mengirim Niken ke bumi. Lantas, batu Kristal
yang berisi tubuh Jaka itu diambil alih oleh kerajaan Tronatu. Jaka dibawa dan di kurung di penjara istana Tronatu.
Satu minggu lebih Jaka berada dalam Kristal dan tetap hidup. Itu karena kemampuan sihirnya. Dia mendapatkan asupan sari makanan dari batu Kristal itu sendiri. Batu Kristal dengan warna sedikit kebiruan namun transparan itu berfungsi seperti infus yang memberikan asupan makanan, namun sekaligus sebagai tameng perlindungan dari serangan fisik ataupun sihir. Karenanya, semakin lama Jaka berada di dalam Kristal, maka batu Kristal itu akan semakin menipis. Bisa dibilang lebih mirip seperti kepompong.
__ADS_1
*
Sementara di lantai atas, seorang pria berdiri menghadap ke luar dari jendela. Kedua bola matanya berwarna biru dengan sedikit kantung mata yang terlihat lelah. Rambutnya berwarna cokelat, panjang terurai sebahu. Dia seorang pemimpin kerajaan Tronatu, kerajaan terbesar sepanjang sejarah Kana. Pria itu berdiri menghadap cahaya bulan yang sedikit berwarna merah. Dari kerut di dahinya, ada sesuatu yang dia pikirkan. Dia adalah Kusno Elad.
Dia sudah mengetahui di mana Niken saat ini, namun, bukan berarti dia bisa begitu saja datang menemuinya. Kusno paham betul tentang kekuatan dari sihir kutukan yang ada di dalam diri Niken. Dia memikirkan dengan apa menakhlukkan Niken Areline saat ini? Meskipun dia memiliki banyak senjata yang terbuat dari batu Metta, namun dia tidak yakin semua senjata itu bisa bertanding dengan kekuatan sihir Larem yang dimiliki Niken. Jelas sekali semua senjata itu berbeda dengan keris Lonat yang diciptakan oleh Aulia.
Cahaya bulan di atas sana mengingatkannya kepada hari kematian Arka. Kesatria yang mengalahkan ratu sihir Larem menggunakan keris Lonat sekaligus pria yang membangun kerajaan Tronatu. Setelah Arka meninggal, pusaka keris Lonat itu melesat terbang ke langit dan menghilang di ketinggian sana. Konon, keris yang terbuat dari batu Metta itu, dulu memilih Arka sebagai tuannya karena dia memiliki kebijakan dan hati yang baik. Dan, setelah tuannya meninggal, keris itu pergi ke langit entah kemana. Banyak yang beranggapan bahwa dia mengikuti roh Arka ke atas sana, ada juga yang beranggapan keris itu sedang menunggu tuannya yang baru. Padahal itu adalah satu-satunya pusaka yang bisa digunakan untuk melawan kutukan Larem. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Kusno.
Di bawahnya, pintu gerbang nampak terbuka dan seseorang dipersilahkan masuk oleh para penjaga yang memegang tombak. Pria misterius dengan setelan jubah hitam berjalan menuju pintu masuk keraton. Kusno segera turun dan bergegas menemuinya.
*
“Slever nihet av gord,”
__ADS_1
“Selamat malam tuanku,” sapa Kardi.
“Gloten,”
“Bangunlah,” saut Kusno.
Lalu Kardi kembali berdiri dan menatap sang raja. Clak! Kusno membunyikan jemarinya, dia memberi kode kepada seorang pengawal yang ada di sebelah. Pengawal itu membawa sebuah peti, lalu membukanya di hadapan Kardi. Kotak peti berisi batu Metta, seukuran satu kepala manusia dan memancarkan cahaya hijau yang redup. Batu itu sangatlah langka. Batu yang sebenarnya hanya tersisa di daratan Areyan, wilayah kerajaan tempat tinggal Niken.
Kedua mata Kardi berbinar indah, bibirnya tersenyum lebar. Lalu dia kembali menatap Kusno dan berkata.
“Av nec drates gord,”
“Aku tidak akan mengecewakan tuan.”
__ADS_1
*
Kusno mempercayakan Kardi untuk menempa sebuah senjata dengan menggunakan batu Metta. Meski dirinya sendiri ragu bahwa Kardi bisa menciptakan senjata yang sama ampuhnya dengan Lonat, namun Kusno menaruh harapan besar pada pemuda itu. Kusno mengangguk lalu mempersilahkan Kardi untuk pergi meninggalkan keraton. Lagipula Kardi adalah keturunan langsung dari Aulia (seorang wanita penempa keris Lonat). Kusno membatin.