
Malam hari, Baron masuk ke dalam rumah Vivi. Lampu teras menyala, namun di dalam nampaknya gelap. Dengan sihir, Baron merubah dirinya menjadi tikus lalu berlari memasuki rumah lewat celah di bawah pintu. Setelah memasuki rumah, dia kembali ke wujud aslinya. Baron membuka tudung putihnya. Dia berjalan menaiki tangga dan membuka pintu demi pintu yang ada. Namun tidak menemukan keberadaan Niken atau siapapun di sini.
Tapi, hidungnya mencium sesuatu. Aroma wangi melati yang khas di miliki Niken. Lantas, dari dalam jubahnya, Baron mengeluarkan seekor peri seukuran genggaman tangannya. Peri itu berbadan gemuk, berpakaian daun dan bersayap biru. Mulutnya sibuk menyantap potongan keju di kedua tangannya. Baron menatap peri gemuk yang berada di telapak tangan kanannya. Beberapa lama kemudian, peri itu sadar sedang diperhatikan. Dia adalah peri Homta, jenis peri yang rakus dan mau menjadi tangan kanan seorang penyihir.
Dia menengok dan menjatuhkan keju saat melihat Baron menatapnya. Lantas peri itu berdiri dan memberi hormat seperti seorang tentara kepada Baron. Baron memberi kode dengan memutar-mutar telunjuk tangan satunya ke udara. Seolah sudah tahu apa yang harus dilakukannya, peri itu mengendus-enduskan hidungnya mencium aroma melati. Lalu dia menggepakkan dua pasang sayap semutnya dan tinggal landas dari telapak tangan Baron. Peri itu memejamkan mata dan terbang mengikuti aroma melati. Namun, indranya merasakan sihir yang kuat berasal dari aroma itu. Sihir yang telah digunakan Oleh Niken Areline bisa dengan mudah tercium oleh seekor peri Homta. Peri itu keluar dari rumah melalui ventilasi, Baron tersenyum dan mengikutinya.
*
Kedua penjaga gerbang perbatasan Areyan, dikejutkan oleh kedatangan rombongan berkuda dari kerajaan Tronatu. Tiga unit kereta kuda berisikan orang-orang penting di dalamnya. Kedua penjaga itu semakin terkejut saat melihat surat yang diserahkan oleh seorang prajurit pria dari Tronatu. Itu adalah surat penangkapan ratu Serani dan Baron atas tuduhan pembunuhan terhadap ratu Rahma.
Tronatu memiliki hukum yang mengatur seluruh kerajaan di Kana. Salah satunya ketika terjadi kejahatan terhadap anggota kerajaan. Bahkan perjanjian atas kutukan yang ada dalam tubuh Niken Areline. Itu karena Tronatu adalah kerajaan termaju dan terluas di seluruh daratan Kana. Hukum itu dibuat berdasarkan kesepakatan dari setiap kerajaan di Kana. Tanpa menunggu lama, kedua prajurit penjaga perbatasan segera membukakan gerbang dan mempersilahkan rombongan untuk masuk.
*
Ratu Serani yang sudah mendengarkan kabar, menyerahkan dirinya. Ekspresi wajahnya datar, namun ada kekesalan yang teramat sangat setelah Niken Areline gagal dieksekusi mati. Dari sorot matanya juga tersimpan ambisi dan harapan agar Baron berhasil membunuh Niken kali ini. Meskipun kenyataan telah terungkap, segala sesuatu yang jahat akan semakin menjadi. Seorang prajurit mengikat kedua lengan kecil sang ratu dengan borgol yang terbuat dari batu Metta. Martabatnya sudah hilang.
Yuda anaknya, dia hanya berdiri memandang sedih kenyataan yang dilihatnya. Mungkin dia tetap akan menyalahkan Niken Areline meskipun ibunya adalah seorang kriminal.
*
Jaka dibebaskan dari penjara bawah tanah Tornatu, dia keluar dari sihir batu Kristal yang selama ini melindungi tubuhnya dari kemungkinan Baron akan membunuhnya. Langkah Jaka terlihat rapuh dan hampir tumbang, tubuhnya lemas. Dua orang penjaga membantunya berjalan. Jaka mengatakan di mana raja Darna diamankan saat ini kepada tiga petinggi dari kerajaan Tronatu.
Demi keselamatan Niken Areline, Jaka diutus oleh Kusno untuk menjemput Niken dengan mengorbankan separuh dari sisa umurnya untuk pergi ke Bumi. Hal itu di lakukan sebagai hukuman atas kesalahan Jaka mengirim Niken ke Bumi. Hukum melarang keras, siapapun orang yang dengan sengaja memaksa orang lain untuk menyeberang portal antara dua dunia. Dalam waktu yang bersamaan, Kusno dan beberapa pasukan berkudanya menjemput raja Darna yang dikatakan berada di sebuah rumah di bukit Kelor.
__ADS_1
*
Vivi sudah tertidur di sofa, sementara Alan masih menonton acara film horor luar negeri. Kedua matanya sedikit merah mengantuk. Lampu ruangan juga sudah gelap, hanya tersinari oleh cahaya dari api di tungku pemanas dan Televisi yang menyala. Dua gelas kopi juga sudah mendingin. Dari luar Vila terdengar suara hewan-hewan, seperti jangkrik, gagak dan sesekali raungan anjing liar.
Dalam rasa kantuk dan lelah, tiba-tiba Niken keluar dari jantung Alan. Dia duduk di sofa dengan mata melotot, dia berkata kepada Alan.
“Dinding segelnya kebuka!”
Sontak Alan menusap-usap matanya dan panik mendengar apa yang Niken katakan.
“Tapi kamu bilang dinding itu kuat?”
“Ya, Baron datang bersama dengan peri, aku rasa peri itu yang menemukan kita.”
Alan membangunkan Vivi.
“Kak, bangun kak,” perlahan Vivi membuka kedua matanya, terasa silau saat pandangannya langsung tertuju ke arah layar TV. “Ada orang di luar sana!” ucap Alan.
“Di mana?” tanya Vivi.
“Pegang tanganku kak!” Niken mengulurkan tangan kanannya. Begitu memegangnya, Vivi mendapat sebuah penglihatan keberadaan seseorang berjubah putih di luar pagar vila. Dia adalah Baron, bersama dengan seekor peri kecil yang terbang di belakangnya. Niken melepas tangannya dan pandangan itu hilang dari kepala Vivi.
“Siapa dia? Siapa orang yang ada di depan?” tanya Vivi.
“Dia Baron, penyihir jahat kak!” ucap Alan.
Belum sempat menggunakan alas kaki, ketiganya berlari ketakutan lewat pintu belakang rumah. Kedatangan Baron membuat Alan mengingat kejadian saat Niken hendak dibunuh di dalam kamar istananya, lengkap dengan wajah Baron saat berubah menjadi monster.
*
Niken Areline berlari paling depan, disusul oleh Alan dan Vivi yang bergandengan tangan. Mereka berlari melewati jalan setapak yang menuju ke dalam hutan.
__ADS_1
“Kenapa Baron bisa nemuin kita?” tanya Alan, sambil berlari hingga nafasnya tidak teratur.
“Peri!” jawab Niken. “Peri bisa mencium bau sihirku. Itu adalah peri Homta, dia rakus dan Baron memanfaatkannya.”
“Terus kita mau ke mana?” tanya Alan, dia merasa pelarian ini akan sia-sia jika dalam jarak yang jauh saja, seekor peri bisa mengetahui lokasi Niken.
“Memisahkan kakakmu denganku,” jawab Niken.
Mereka masih berlari menyusuri gelapnya jalan setapak di tengah hutan. Hanya kebaya putih milik Niken Areline yang menuntun langkah mereka.
“Maksudnya gimana?” tanya Alan sambil memegang tangan Niken dari belakang, lalu memaksanya berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
Niken berhenti, dia menatap Vivi dan Alan yang sudah kehabisan nafas.
“Baron mengincarku, peri Homta cuman ngikutin aku. Kita utamakan dulu keselamatan kak Vivi.”
Vivi menatap Niken sambil memegangi batang pohon dan mengatur nafasnya.
“Jadi bukannya tadi kak Vivi bakal lebih baik kalo tinggal di rumah aja? Atau nginep di rumah lain gitu?” tanya Alan kepada Niken.
Lalu Vivi berkata dengan nada kesal kepada Niken. “Nggak, aku gak mau ngebiarin adikku sendirian terlibat dalam masalahmu! Itu alesan aku mau ikut nginep di Vila.”.
“Astaga kak,” ucap Alan melihat Vivi.
“Aku minta maaf,” ucap Niken. “Tapi sekarang kita harus berpisah kak, aku ngerasain aura membunuh dari dinding sihir yang barusan diancurin sama Baron.”
Alan panik dan kembali menatap Niken. Lantas dia kembali menatap Vivi lagi dan mencoba untuk meyakinkannya.
“Kak,” ucap Alan. “Bener apa kata Niken, kita harus berpisah sementara waktu, biar Baron ngejar kami.”
“Nggak Alan,” ucap Niken. “Aku pergi sendirian.”
Sontak Alan menatap mata Niken.
“Oi, nggak usah ngawur, dulu aja kamu diselamatkan sama Jaka waktu Baron dateng.”
“Tapi aku nggak mau ngebahayain kalian lagi, kalian bisa selamat sekarang,” ucap Niken.
Tidak lama kemudian, gerimis menetes membasahi pepohonan dan ketiganya. Alan masih menatap Niken dan genggaman tangannya masih erat memegang dua orang wanita rapuh itu.
“Aku udah janji buat jagain kamu, aku nggak bisa biarin kamu sendirian,” ucap Alan.
Vivi mendengar ucapan adiknya. Bagi Vivi, kalimat itu terdengar bukan hanya diucapkan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta. Tapi juga oleh serang adik yang sudah tumbuh dewasa dan memegang tanggung jawab. Sebagai kakak, jelas Vivi sedikit merasa bangga.
“Ayok cepetan keburu kesusul!” ucap Vivi.
“Kita harus ke tempat yang lebih luas, di dalam hutan kayak gini kita sulit buat ngeliat. Semoga ujan deres,” ucap Niken.
__ADS_1
Lantas ketiganya kembali berlari. Gerimis yang semakin membesar membuat Niken memiliki sebuah pemikiran bahwa hujan akan menyamarkan bau dan sihirnya. Namun, mereka juga harus berada di tempat terbuka yang mungkin ada sesuatu untuk bersembunyi. Jika tetap berada di dalam hutan, penglihatan mereka sangat terbatas. Pepohonan yang tidak terkena hujan juga akan mengirimkan jejak dari bau aroma melati tubuh Niken. Mereka terus berlari hingga mendengar suara air mengalir. Jalan setapak itu ternyata menuju ke sebuah sungai yang lebar dan berbatu.