Niken Areline

Niken Areline
Kesetiaan


__ADS_3

    Kemudian, pemandangan di sekitarnya berubah lagi. Semuanya lenyap, menghilang dari hadapan Alan. Pemandangan baru mulai datang, rerumputan yang hijau dan pepohonan yang rindang membentuk dengan sendirinya. Udara sejuk mengandung oksigen yang melimpah, terhirup olehnya. Banyak sekali warna-warni hewan-hewan unik yang menyerupai kupu-kupu berterbangan ke sana kemari. Sesekali hinggap di rambut dan piyama Alan. Salah satunya terbang di hadapan wajah Alan, lalu Alan mengulurkan tangan kanannya. Hewan kecil itu hinggap di punggung telapak tangan Alan. Sayapnya mirip seperti sayap kupu-kupu, namun setelah diperhatikan lagi, dia memiliki tubuh yang berbentuk seperti manusia.


    Seorang pria berjanggut santa, tubuh pendek dan pakaian dari daun. Sayapnya hampir lima kali lebih besar dari tubuhnya. Peri? Pikir Alan.


    “Ya, peri.” Niken menjawabnya.


    Lalu hinggap satu peri lagi di lengan Alan, Seekor peri perempuan. Tubuhnya kurus tinggi, rambutnya pirang dan sanggul bak pramugari. Pakaiannya sama, dedaunan hijau yang nampak telah di jahit sedemikian rupa dengan benang ulat.


    “Aku pikir kalian cuman dongeng!” ucap Alan.


    Perkataannya membuat si peri wanita itu nampak kesal. Lalu si peri pria terbang menjauh dari lengan Alan dan, cenit! Si peri wanita menggigit punggung tangan Alan.


    “Awww!” gumam Alan.


    Peri wanita itu terbang menjauh, kesal kemudian menghilang dalam keramaian peri-peri lainnya. Alan melihat ke sana kemari, melihat semua keanehan yang tidak ada di dunianya. Peri, pepohonan dengan warna dedaunan yang aneh, merah, emas, perak, ungu misalnya.


    Lalu datang lagi seekor peri laki-laki dengan badan lebih gemuk dari kedua peri sebelumnya. Peri ini terlihat lebih muda, kulitnya putih pipinya merah. Rambutnya berwarna merah bergaya Elvis. Peri gemuk itu terbang mengelilingi


Alan, dia masuk ke dalam kantung celana piyama Alan. Beberapa saat lalu keluar dan masuk ke kantong sebelahnya. Lalu keluar lagi dengan wajah kesal. Peri itu menendang celana Alan sambil menggerutu, entah apa yang dibicarakan. Suaranya terdengar seperti tikus dilempar sandal. Lantas peri itu terbang menjauh dari Alan.


    “Dia adalah Homta,” ucap Niken.


     “Apa itu Homta?"


     “Jenis dari peri yang rakus,” katanya. “Biasanya dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk mencuri atau melakukan hal-hal buruk lainnya. Kamu hanya perlu memberinya sepotong keju.”


    “Jadi ada juga peri yang kayak gitu,” ucap Alan melanjutkan langkah.


    Alan mulai terkesima dengan seluruh elemen yang ada di skitarnya, dia menunjukan senyum. Terus melangkah mengikuti satu-satunya jalanan setapak. Belum jauh melangkah, dia melihat pohon yang sama persis dengan pohon yang berada di tempat Niken duduk di ayunan. Daun berbentuk bintang dan berwarna emas, serta batang


yang kokoh mirip pohon Ek.


    Di bawahnya, dia melihat seorang gadis kecil sedang berdiri menghadap ke batang pohon itu. Usianya mungkin sembilan tahun. Gadis kecil dengan rambut hitam sebahu, dia mengenakan mahkota mirip dengan milik Niken Areline, ada berlihan bermotif hati di tengahnya. Gaunnya hitam dan roknya pendek.


    “Apa itu kamu?” tanya Alan, lirih.


    “Ya,” jawab Niken.


    “Apa yang kamu lakuin di sana?”


    “Berdoa.”


    Lantas, Alan segera berjalan mendekati putri kecil itu. Putri kecil itu memejamkan kedua matanya sembari merapatkan jemari kedua tangannya di atas dada. Tidak ada kata yang dia ucapkan, mungkin si putri kecil berdoa di dalam hati.


    “Apa dia bisa ngeliat aku?”


    “Nggak,” jawab Niken. “Sama kayak semua dayang di kamar ibuku tadi. Ini hanya memori yang


ada di dalam kepalaku.”


    “Tapi kenapa peri-peri itu bisa ngeliat aku?”


    “Itu karena semua peri bisa ngerasain kekuatan sihir, aku menceritakan kisahku kepadamu menggunakan sebuah sihir. Karena itu mereka bisa liat kamu. Semua peri, mereka spesial.”


    “Gitu ya,” Alan mengerti. “Apa yang lagi kamu doain?”


    “Harapan.”


    “Harapan kayak apa?”


    “Biar aku nggak jadi kayak yang banyak orang ucapin.”


    “Apa yang mereka ucapin?”


    “Monster.”


    Plak, batu kerikil mendarat di kepala si putri kecil. Dia kesakitan dan memegang kepalanya yang lantas mengalirkan sedikit darah. Sontak si putri kecil menengok ke belakang, mencari siapa yang melemparnya. Putri itu tidak menangis, dia menunjukan ekspresi kesalnya saat mendapati dua anak laki-laki sebayanya datang menghampiri. Merekalah yang melemparkan batu itu ke arahnya.


    Siapa mereka? Alan membatin.


    “Mereka adalah Yudi dan Yuda,” jawab Niken. “Saudara tiriku.”

__ADS_1


    Yudi berambut pirang, ikal dan berkulit pucat. Kedua tangannya masih menggenggam bebatuan kerikil. Sementara adiknya, Yuda, dia berkepala botak sedang memunguti kerikil di sekitarnya untuk di lemparkan lagi.


    “Hei monster! Pergi sana!” teriak Yudi mengusir Niken kecil.


    “Kutukannya nggak bakal ilang walaupun kamu berdoa terus!” saut Yuda masih memunguti bebatuan.


    Kemudian si putri kecil berlari meninggalkan pohon tempatnya berdoa. Si putri kecil berlari menjauhi kedua pangeran yang nakal. Kutukan? Pikir Alan.


    “Aku akan menceritakannya nanti,” jawab Niken.


    Masih dalam kebingungan lantaran pertanyaannya tentang kutukan belum terjawab, semua pemandangan di sekitar Alan lenyap, sama seperti sebelumnya. Hijau taman itu berkamuflase menjadi sebuah ruangan. Sebuah kamar yang mewah, mungkin di dalam keraton. Kamar dengan seluruh perabotan berbahan emas dan perak. Ranjang mewah berkelambu merah, terletak di dekat jendela. Lantainya terbuat dari batu marmer dan sebagian dari temboknya juga. Banyak lukisan berbingkai yang terpajang di dinding. Beberapa di antaranya adalah lukisan Niken yang sudah dewasa, panorama dan sepasang raja dan ratu.


    “Apa ini kamarmu?”


    “Ya.”


    “Indah,” ucap Alan, menyadari dirinya baru pertama kali masuk ke dalam kamar mewah seorang putri raja. “Apa yang mau kamu tunjukin?”


    “Tunggu.”


    Selang beberapa detik kemudian, nampak Niken yang sudah dewasa keluar dari bilik gantinya. Dia sudah mengenakan kebaya putih lengkap dengan kalung emas dan mahkotanya. Sama persis seperti Niken yang Alan temui dalam mimpi, atau yang berada di lukisan Alan. Sepertinya Niken hendak keluar dari kamar, namun, belum sempat dia mengenakan sepatu mungil berhias berlian itu, dari cermin besar berbingkai perak di depannya mengeluarkan cahaya merah. Sontak mengalihkan perhatian si putri dari sepatu mewahnya. Dia meninggalkan sepatu itu dan berlari ke arah cermin di depannya.


    “Masuklah,” ucap si putri itu.


    Lantas dari dalam cermin, keluar begitu saja seorang pria berjubah serba hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya. Pria itu berlutut dan merunduk di hadapan Niken.


    “Kenapa Jaka?” tanya Niken.


    “Maaf putri, aku udah lancang masuk ke sini. Aku bawa kabar buruk,” ucap pria yang dipanggilnya Jaka.


*


    “Ada apa Jaka?” raut sang putri cemas. Kemudian Jaka mengatakannya.


    “Ibunda, Ratu Rahma telah meninggal, seorang dayang menemukannya telah tergantung di sebuah tali. Mereka bilang bahwa ratu bunuh telah diri,” mendengar kabar tentang ibunya, Niken menjadi lemas dan terjatuh duduk di lantai. Tatapannya merunduk ke bawah, bersedih lalu menangis. “Kedua pangeran bakal masuk kemari


bersama ratu Serani,” lanjut Jaka.


    “Bawa aku ke kamar ibu.”


    “Maaf putri, aku nggak bisa. Ratu Serani udah ngamanin kamar ibunda Rahma,” ucap Jaka.


    Kemudian Niken menatap Jaka, air matanya sudah berlinang, membasahi wajah dan lantai di bawahnya.


    Alan terdiam di antara mereka berdua, menyimak setiap kata yang akan keluar dan mencoba untuk memahaminya. Kenapa dia nggak boleh ke kamar ibunya? Alan membatin.


    “Ramalan,” suara Niken menjawabnya.


    “Ramalan?”


    “Ya, mereka bilang kutukanku membawa ramalan, bahwa aku bakal bikin ibuku bunuh diri, ayahku dan semua orang yang aku cintai. Sampai aku menghancurkan seluruh kehidupan di negeri ini.”


    “Siapa mereka?” tanya Alan.


    Di lain sisi, Niken yang masih berada di ayunan pohon berdaun emas, dia memperhatikan tubuh Alan yang terbaring tidak sadar di rumput hijau. Sembari lirih berayun, air matan Niken menetes dari mata sebelah kiri. Lalu bibirnya mewek dan berkata.


    “Semua orang.”


    Dari dalam kamar Niken, Alan mendengarnya. Dia terbesit, terpaku diam berdiri di antara Jaka dan putri yang terus menangis meski sudah mengusap air matanya. Jaka sendiri tidak berani untuk menatapnya.


    Brag! Gebragan pintu memecahkan suasana sedih. Pintu kamar sudah terbuka dengan pengait yang hancur. Kedua pangeran Yudi dan Yuda sudah datang memasuki kamar Niken, diikuti oleh ratu Serani, ibunda mereka berdua. Perhatian Alan, Jaka dan Niken tertuju kepada mereka.


    Mereka, pikir Alan. Dia orang yang menyerangku malam itu. Dia membatin seketika melihat


sosok Yudi di sana.


    “Liat! Kutukannya udah mulai berkerja, kamu nggak bakal kita lepasin! Dasar monster!”


keras Yuda kepada Niken.


    Dengan sigap, Jaka menggunakan sihirnya. Muncul aura bercahaya merah dari telapak kanan Jaka, lalu dia menapakkannya ke lantai. Zap! Terciptalah diding sihir yang melingkar melindungi Niken dan Jaka. Dinding sihir berwarna merah transparan dengan diameter sekitar enam meter.

__ADS_1


    Slap! jari telunjuk Yudi berubah menjadi runcing bak mata tombak. Dia berusaha


merobek dinding sihir itu sekuat tenaga, namun gagal.


    “Cih,” Yudi meludah.


    “Udah, sekarang jadi urusannya,” ucap ratu Serani yang lantas berjalan keluar meninggalkan mereka. Yudi dan Yuda mengikuti ibunya tanpa melepaskan tatapan mengancamnya dari Niken.


    Plak, plak, sembari berjalan menjauh, Serani menepukkan tangannya dua kali.  Slap! Datang seorang pria


bertudung dan berbadan besar di dalam kamar Niken. Sekarang, dia berdiri menatap Niken dan Jaka dari luar dinding sihir. Wajahnya garang, kedua bola matanya berbeda warna. Sebelah kiri biru dan sebelah kanan merah. Mungkin usianya berkisar tiga puluh tahun ke atas. Dia mengenakan jubah dan tudung yang sama dengan milik Jaka, hanya saja warnanya serba putih. Satu tangannya masuk ke dalam saku jubahnya. Aroma Lavendel tercium dari tubuh pria itu.


    “Siapa dia?” tanya Alan.


    “Baron,” jawab Niken. “Di antara sembilan kerajaan, dia adalah penyihir terkuat. Dia ditugaskan


untuk membunuhku.”


    “Putri liat aku!” ucap Jaka, Niken pun segera menatapnya. “Kita nggak akan selamat, tapi masih ada satu cara yang harus dicoba,” dalam tangisnya, Niken hanya diam menatap Jaka. Kemudian Jaka kembali berkata. “Aku bakal ngirim putri ke dunia lain, putri berhak hidup lebih lama. Sihir bola kaca bakal menuntun putri ke orang


yang tepat. Tapi, meski begitu, hidup putri akan terikat dengan seseorang di sana. Itu efek dari kekuatan di dunia lain, sihir bola kaca mengirim tubuh putri ke tempat yang aman.”


    Niken mengangguk memahaminya, “Tapi gimana sama ayahku?”


    “Raja udah aku bawa ke tempat persembunyiannya. Putri nggak perlu khawatir.”


    Kemudian Niken membuka tudung Jaka. Perlahan Jaka memberanikan diri untuk menatap wajah sang putri. Nampaklah wajah Jaka dengan sempurna. Rambut hitam yang lebat tersisir ke belakang dengan janggut tipis yang menyambung. Hidungnya mancung mencuat dan matanya tajam dengan bola mata berwarna biru, tampan!


    “Jangan nangis lagi,” kata Jaka. “Cuma ini jalan satu-satunya. Baron udah terikat dengan perjanjian, dia bakal mengeksekusi putri kalo cara ini nggak dicoba.”


   “Terima kasih Jaka,” ucap Niken.


   Tak kuasa Jaka melihat air mata sang putri, Jaka turut menangis. Dia segera mengeluarkan bola kaca berwarna hitam pekat dari dalam kantong kemudian menaruhnya di lantai. Lalu mengeluarkan sebilah belati dari balik jubah hitamnya.


    Melihat dengan apa yang akan dilakukan oleh Jaka, nampaknya Baron tahu apa yang akan terjadi. Baron segera mengeluarkan tangan dari sakunya, dia memungut seonggok daging kecil yang berdenyut layaknya jantung. Baron memasukan ke mulut, dan menelannya. Melahap daging itu seperti burung camar yang menelan ikan.


    “Arrrrggghhh!!!!” teriak Baron merasakan efek dari daging itu..


    Sontak mengalihkan perhatian Alan. Kenapa dia? Pikir Alan. Dengan cepat, tubuh Baron berubah dua kali menjadi lebih besar. Semua jemari di tangannya mengeluarkan kuku tajam yang memanjang. Seluruh giginya juga


menajam seperti ikan Piranha. Kedua matanya menyala merah dan air liur menetes dari selah-selah gigi itu. Baron telah berubah menjadi monster.


    Alan terkejut dan wajahnya menjadi pucat bagai melihat hantu, dia berjalan mundur untuk menjauh. Kini rasa takutnya itu bercampur aduk dengan rasa panik. Sementara Niken dan Jaka mengabaikannya, Jaka memegang pergelangan tangan kiri Niken, membuka telapaknya lalu mengiris telapak tangan lembut si putri cantik


menggunakan belati yang dipegangnya. Darah menetes dari luka di telapak tangan ke bola kaca di bawahnya.


    “Selamat tinggal putri,” ucap Jaka, sembari menatap wajah Niken. Mungkin untuk yang


terakhir kalinya.


    Secepat kilat, tubuh Niken tersedot dan masuk ke dalam bola kaca hitam. Lalu Jaka kembali menapakkan tangannya ke lantai. dari telapak tangan itu terbentuklah sebuah lubang yang perlahan membesar membesar. Dari dalam lubang itu, terlihat gumpalan awan dan langit malam yang berbadai. Itulah dunia lain yang dimaksudkan oleh Jaka. Dunia yang Alan dan Vivi tinggali. Lantas dengan meneteskan air matanya, Jaka menjatuhkan bola kaca ke dalam lubang itu.


    Zrat, zrat, zrat! Baron berhasil merobek dinding sihir sedikit demi sedikit. Hingga dinding itu terbuka, Baron menembus masuk kedalamnya. Slap! Jaka mengangkat telapak tangannya dan kemudian lubang dunia lain tertutup kembali. Namun, ketika dalam pergerakan Baron menyerang Jaka, seluruh pemandangan di hadapan Alan lenyap


seketika. Menghilang begitu saja dan menjadi gelap gulita. Alan tidak bisa memastikan apakah Jaka bisa melawan Baron atau tidak?


*


    Perlahan Alan membuka kedua matanya. Rerumputan dan tanah berbatu menjadi pemandangan pertama yang dia lihat. Hingga Alan menyadari bahwa tubuhnya sedang terbaring tengkurap di rumput. Hal yang membuat Alan teringat, bahwa terakhir kali dia berbaring di rumput adalah ketika menjalani ospek sebagai mahasiswa baru di


kampusnya. Alan bangkit dan membersihkan piyama birunya, lalu melihat Niken berayun di ayunan pohon berdaun emas. Udah selesai? Pikir Alan. Kini dia sudah berdiri di hadapan Niken.


    “Kenapa aku yang kamu pilih?” tanya Alan.


    Niken menghentikan ayunannya, dia memandang Alan dan kemudian menjawab.


    “Aku nggak milih kamu, sihir bola kaca yang milih kamu. Sihir bola kaca adalah sihir yang dibuat berdasarkan perasaan cinta. Malam itu, saat kamu liat kakak kamu lagi berusaha mempertahankan nyawanya dari serangan Yudi, hatimu menangis hebat. Tersayat dalam melebihi luka yang nyaris membawamu kepada kematian. Itulah hal yang bikin bola kaca retak, lalu cahayanya membawaku masuk ke dalam luka di jantung kamu. Meregenerasi dan menjadi saling terkait. Atau bisa dibilang, kita terjebak.”


    Alan terdiam berusaha untuk memahami semua penjelasan dan cerita yang dialami oleh kenalan barunya yang super cantik itu. Hingga tiba saatnya untuk dia menanyakan kembali tentang sesuatu yang tidak kalah pentingnya. Sesuatu yang menjadi akar dari semua kejadian ini.


    “Ceritakan tentang kutukanmu.”

__ADS_1


__ADS_2