
Nina Enra adalah salah seorang penyihir wanita yang terbaik dari kerajaan Minarama. Dia mendapat perintah dari rajanya untuk menjaga Niken di dalam tahanan hingga waktu eksekusinya dimulai. Sebelum berangkat, Nina dibekali oleh sang ratu dengan sebuah kalung perak dengan hiasan batu Metta berbentuk hati. Meski batu Metta sangatlah langka, namun sang ratu lebih mengutamakan keselamatan wanita yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Sehingga dia memberikan satu-satunya perhiasan dengan batu Metta yang dimilikinya.
Saat ini, Nina sudah datang bersama dengan penyihir lainnya. Ini adalah tugas pertamanya untuk pergi jauh dari kerajaannya. Tronatu berada di daratan tinggi, sementara Minarama adalah kerajaan yang berada di pesisir pantai.
Dulu, dia pernah bertemu dengan Niken Areline, ketika raja Darna dan keluarganya berkunjung ke kerajaan Minarama. Bahkan Nina sempat menculik dan mencium bibir Niken kala itu.
Namaku Niken, samar teringat momen itu di kepala Nina saat ini. Mungkin saat itu usia Nina lima belas tahun, sebaya dengan Niken. Dan, dia tidak pernah menyangka bahwa hari ini dia ditugaskan untuk menjaga Niken sebelum dieksekusi hukuman mati.
Pertama kali dia melihat keraton kerajaan Tronatu, wajahnya melongo hingga mulutnya terbuka. Betapa berbedanya istana kerajaan ini dengan istana yang dimilikinya. Bahkan rumah-rumah penduduknya pun nampak lebih rapih, teratur dan mewah dengan batu-batu marmer yang indah. Jelas dia tidak bisa menyamakan dengan apa yang ada di kerajaannya. Lalu rombongan kesembilan penyihir dibawa untuk bertemu dengan sang raja di singgasananya, Kusno. Mereka mendungkuk bersujud di hadapan Kusno.
Kusno menjelaskan beberapa peraturan sembari menjamu mereka dengan hidangan-hidangan mewah. Seperti daging domba, lobster, telur ikan dan makanan lezat lainnya yang tersaji di meja panjang. Dua jam setelahnya, Nina dan teman-teman barunya itu di bawa ke ruang bawah tanah, tempat Niken dikurung. Udaranya terasa lembab dan pengab. Lorong gelap dan banyak kamar-kamar jeruji yang tidak berpenghuni. Mereka terus berjalan ke tengah koridor. Hingga akhirnya mereka sampai di hadapan ruang tahanan Niken Areline.
*
Pertama kali Nina melihat Niken, dia merasa tenang. Jelas dia tahu seperti apa gadis yang sempat diajaknya kencan semalam di pantai Yonar. Tidak seperti bayangan orang lain bahwa Niken adalah sosok yang mengerikan dan akan menatap dalam matamu sebelum merobek tenggorokanmu. Yang dilihatnya sekarang adalah, seorang putri lemah berkebaya putih dan kusam yang tidak sadarkan diri duduk terikat rantai dengan batu Metta di sudut tembok.
Kemudian, setelah penjaga mengantarkan mereka, kesembilan penyihir mulai berdiri membelakangi tembok. Mereka membicarakan tentang apa yang ada di kerajaannya lalu dibandingkan dengan kemewahan kerajaan ini. Mereka juga saling berkenalan satu sama lain. Drax, Neo, Lofa, Anel, dan nama lainnya yang samar diingat oleh Nina. Ternyata tidak hanya aku, penyihir wanita disini. Nina membatin sembari mendengarkan Anel, si penyihir wanita lainnya yang sedang cerewet membicarakan tentang ***** bengek kekuatan batu Metta dan sejarah Larem. Anel cenderung membangga-banggakan kerajaan Tronatu dibandingkan dengan kerajaannya sendiri yang pasif.
Setengah jam kemudian, Nina mendengar suara benturan besi dibelakangnya. Suara rantai yang mungkin saling bergesekan. Nina menengok, dalam kegelapan itu, Nina melihat Niken sudah membuka mata menatapnya. Namun tatapannya tidaklah garang atau seram, sebaliknya, putri itu terlihat sedih. Nina berpikir bahwa dia hanya terbangun dan tidak akan jadi masalah yang berarti selama rantai dengan batu Metta itu masih mengikatnya. Nina kembali berpaling membelakangi Niken. Dia memberitahu teman-temannya bahwa Niken sudah terbangun, mereka semua juga menengok ke arah Niken lalu kembali berpaling membelakanginya.
Suasana yang sempat hening kembali ramai saat Anel membuat candaan yang lucu tentang Niken hingga membuat semua teman-temannya tertawa. Kecuali Nina, dia tidak merasa bahwa wanita lemah dibelakangnya itu pantas di sebut sebagai iblis atau monster yang malang seperti kata Alen. Bahkan Nina sempat berpikir bahwa Niken tidak pantas menerima eksekusi hukuman mati untuk kutukan yang ada di dalam dirinya.
Dalam kegaduhan itu, tiba-tiba saja Anel berhenti berkata. Hoek! dia memuntahkan darah dari mulutnya. Sontak kesembilan penyihir yang lain, terutama Nina terkejut melihatnya. Potongan rantai yang terbuat dengan batu Metta itu menembus masuk ke perut Anel dari belakang. Membuat sedikit dari bagian ususnya keluar dari perut dan jubahnya yang sobek. Brag! Anel tumbang di lantai yang lembab seketika itu juga.
*
Setelah mengetahui kebenaran yang diceritakan ayahnya, roh Niken kembali ke tubuhnya, dia membuka mata dan, menyadari dirinya masih berada di balik jeruji besi. Dengan kesembilan penyihir yang berdiri membelakangi tentunya. Mereka terdengar sedang mengobrol dan mulai akrab satu sama lain. Namun, yang dipikirkan Niken adalah apa yang harus dipikirkannya tentang Alan. Seperti kata ayahnya, bahwa sihir bola kaca bisa membuatnya bertahan dalam kekuatan Metta, karena kekuatan cinta.
Sontak Niken segera memikirkan dari pertama kalinya dia bertemu dengan Alan di ayunan di pohon berdaun emas, hingga berpisah ketika Alan meneriakkan namanya dengan raut sedih saat Niken di bawa masuk ke Kana oleh Kardi. Tapi pikirannya itu juga terbagi dengan kematian ibunya yang ternyata dilakukan oleh Ratu Serani. Sontak kebencian terus menyelimuti dirinya. Jangan gunakan amarah. Teringat perkataan ayahnya, Niken mulai menarik nafas yang dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan diri.
__ADS_1
*
Slap! Tiba-tiba saja Kepala Niken terasa berat, lalu dia memejamkan matanya dan kembali tidak sadarkan diri. Sekarang Niken dibawa kedalam ruang alam bawah sadarnya, sebuah pohon dengan ayunan yang biasa dia tempati. Namun kali ini yang duduk di ayunan itu adalah Alan. Pria itu sedang mengenakan kemeja putih. Perlahan Niken berjalan mendekati Alan dari belakang.
“Hei,” dia menyapa Alan seketika berhenti melangkah tepat di belakangnya.
Alan segera menengok, dia memandang Niken, terkejut lalu berdiri.
“Hei,” ucap Alan, wajahnya gugup. Mata Niken, berkaca melihat Alan. “Maaf, aku nggak bisa jagain kamu.”
“Apa kamu menyukaiku?” to the pint Niken menanyakannya.
Alan terdiam tiga detik karena kaget dengan pertanyaan Niken. Lalu menjawabnya dengan suara lantang.
“Ya,” dengan nada yang sedikit bergetar.
“Apa waktu itu kamu serius bilang bakal jagain aku?”
“Ya,” Alan dan Niken meneteskan air mata bersamaan. Bibir mereka juga mewek. Lantas Alan berjalan mendekati Niken, sesampai dia di hadapan Niken, Alan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Jaka. Alan jongkok dan merundukkan kepala di hadapannya. “Aku akan menjagamu selama aku hidup, tuan putri.”
Niken tak kuasa mendengar kalimat itu keluar dari mulut Alan. Seorang pria yang baru dikenalnya kurang dari satu bulan. Putri itu menutup mulut dan berusaha menahan suara tangisnya sendiri. Kemudian dia jongkok dan mengangkat wajah Alan untuk menatapnya.
“Alan, aku akan dihukum mati hari ini. Tapi entah kenapa aku bisa masuk kedalam ruangan ini terus ketemu kamu,” ujar Niken. Dia tidak menyadari bahwa yang bisa mempertemukan dirinya dengan Alan adalah kekuatan cinta di antara mereka. Alan merindukan Niken hingga ke dalam mimpi, sementara Niken juga merindukannya. Lantas efek dari sihir bola kaca mempertemukan mereka berdua di bawah pohon Hirena, di alam bawah sadarnya saat ini.
“Aku nggak tau,” jawabnya. “Tapi,” Niken memalingkan wajahnya.
“Tapi apa?”
Lalu Niken kembali menatap Alan.
“Barusan aku ketemu sama ayahku, dia cerita banyak tentang kebenaran yang terjadi. Lalu dia percaya bahwa aku akan selamat dari hari ini karena sihir bola kaca, tapi itu jika, jika orang yang terkait dengan jantungku cinta sama aku.”
“Maksudnya aku harus cinta sama kamu?”
“Egois emang, tapi mungkin itu bisa menyelamatkanku sekarang.”
“Umm,” gumam Alan. “Saat itu aku belum kenal kamu, tapi jujur aku udah suka kamu sejak aku melukismu di selembar kertas,” katanya. “Terus, saat aku semakin jauh mengenalmu, aku bahagia. Hingga kita berpisah, aku jadi kangen banget. Rasanya kayak kehilangan sesuatu yang berharga, apa itu bisa dibilang cinta?”
*
“Mau ciuman?” ajak Niken.
Alan kaget.
“Apa itu ucapan terima kasih lagi?” tanya Alan.
__ADS_1
“Bukan,” jawabnya “Aku mau ngasih hatiku buat kamu.”
Alan mengangguk, air matanya jatuh ke baju. Kemudian Alan memegangi dagu Niken dengan tangan kanannya, lalu mencium bibir lembut si putri cantik. Mereka berdua tenggelam dalam ciuman dan air mata, mesra!
*
Di lain sisi, di balik jeruji besi ruang tahanan. Niken yang tidak sadarkan diri dan masih terikat oleh rantai batu Metta, dia mengeluarkan cahaya berwarna merah dari jantungnya. Cahaya itu merambat ke seluruh bagian dari rantai batu Metta. Lalu, nyala hijau batu Metta itu menjadi semakin redup seolah kekuatannya telah hilang dan, kemudian padam bersamaan dengan cahaya merah yang juga menghilang. Kekuatan cinta telah mengalahkan kekuatan batu Metta.
*
Kembali ke bawah pohon Hirena, di mana Niken dan Alan sedang berciuman. Bunga-bunga tumbuh dengan cepat di rumput di sekitar mereka. Srak, srak, terdengar suara dari arah atas pohon. Mereka berdua membuka mata dan melihat ke atas.
Di ranting sana, ada sebuah ular Sanca sedang melingkar dan menghadap ke bawah. Ular Sanca besar berwarna hitam dengan lerek kuning di kulitnya. Mata ular berwarna kuning menyala, mirip seperti bola mata Niken ketika kutukan menguasai tubuhnya. Ular itu memandangi mereka. Niken dan Alan terpaku menatapnya hingga mata mereka berubah menjadi putih keseluruhan, mereka berdua terhipnotis. Lantas ular itu turun dan melingkar memeluk tubuh Alan dan Niken yang sudah tidak sadarkan diri.
“Terima kasih sudah membuka segelnya, kalian luar biasa,” kata si ular dengan nada serak seorang wanita. Kekuatan sihir telah mengalahkan kekuatan cinta.
*
Dalam kegelapan di ruang tahanan, Niken membuka kedua matanya, kuning menyala. Trang! Dia mulai melepaskan ikatan rantai batu Metta yang sudah tidak lagi berfungsi. Dalam pandangannya, salah satu penyihir wanita menengok ke arahnya. Mungkin karena mendengar suara dari sentuhan rantai. Lalu semua penyihir itu menengok ke arah Niken. Namun, mereka tidak menyadari bahwa rantai batu Metta telah patah. Tidak lama kemudian, mereka kembali membalikan pandangannya ke depan. Seolah lupa bahwa bola mata berwarna kuning bukanlah milik Niken Areline.
“Pled evet av glome, ane wiez li sadle.”
“Pada akhirnya aku tahu, ada juga iblis yang malang,” ucap Alen, salah satu seorang penyihir wanita yang berdiri disana. Disambut dengan tawa dari teman-temannya.
Niken malah tersenyum. Sudah jelas, kutukan itu menguasai tubuh Niken lagi setelah kekuatan batu Metta lenyap oleh kekuatan cinta di antara Alan dan Niken. Kini, Niken sudah melepaskan rantai itu, dia berdiri memandangi kesembilan penyihir. Kekuatan sihir sudah mengalahkan kekuatan cinta. Kutukan jahat itu mengendalikan tubuh Niken sepenuhnya.
__ADS_1
Lantas, jemari tangan kanan Niken bergerak, potongan rantai di bawahnya terangkat terbang dengan mudah. Melayang di antara lututnya. Dengan sedikit gerakan dari jemarinya, ujung rantai yang patah itu melesat dari belakang dan dengan cepat menembus pinggang salah seorang penyihir wanita yang ada di depannya.
Brag! Penyihir wanita yang dikenal dengan nama Alen itu tumbang seketika. Sontak semua penyihir lain yang ada di sampingnya terkejut dan segera melihat ke arah Niken lagi.