Niken Areline

Niken Areline
Asmara


__ADS_3

    Pukul dua belas lebih lima menit siang, Julia Nada duduk di bangku taman yang panjang di depan kantornya. Sedikit kusam namun sangat nyaman untuk duduk. Dia menaruh termos air minum dan membuka kotak bekal makan siangnya. Paha daging ayam goreng dan sayur kangkung menjadi menu makannya. Namun, raut wanita itu nampak tidak bernafsu untuk menyantap bekal di pangkuannya.


    Biasanya setiap siang, di bawah pohon mangga ini, dia makan bersama dengan Alan. Namun tidak dengan hari ini, sahabatnya menghubunginya bahwa dia tidak bisa masuk berkerja karena ada keperluan yang mendesak. Lantas Nada menatap ke jangkauan pandangannya yang lebih jauh. Semua karyawan sedang duduk di bangku-bangku yang tersebar di hijau taman di belakang gedung ini.


    Lalu di kejauhan sana, Nada melihatnya. Dimas, dia sedang duduk sendirian memakan bekal makannya. Perhatian Nada tertuju kepada botol air minum yang berdiri di samping pria itu. Botol air minum berwarna merah yang sedikit penyok di bagian badannya. Hal itu membuat Nada kembali mengingat sesuatu.


Empat tahun lalu.


   “Namaku Dimas,” ucap Dimas sembari berjalan membelakangi Nada.


    Mereka berdua sedang melakukan perjalanan turun dari pendakiannya di gunung Slamet. Keduanya mengenakan pakaian lengkap perlengkapan pendakian. Sesekali Dimas membetulkan posisi tas carrier yang seringkali miring ke kanan dari punggungnya.


    “Aku Nada.”


    “Jadi kamu ketinggalan rombongan pas lagi kencing?” Dimas bertanya, awalnya dia menemukan Nada sendirian berdiri di pos lima sedang kebingungan. Lalu mengajaknya menuruni gunung bersama.


    “Ya, gitu. Ngeselin banget kan?”


    “Iya, ada berapa orang emangnya?”


    “Belasan kayaknya.”


    “Jadi kamu naik gunung dan nggak sempet ngitung jumlah anggota?”


    “Mana aku ngerti? Aku baru pertama kali ini.”


    “Okay.” Lalu


    Nada membuka tutup botol minum yang dipegangnya. Dia menenggak air putih dari botol minum berwarna merah sambil melangkah. Jelas berceceran dan membasahi jaket hijaunya. Mungkin Nada sedikit gugup atau salah tingkah.


    “Kamu dari kota mana?” tanya Dimas.


    “Tegal.”

__ADS_1


    Lantas langkah Dimas berhenti dan menengok ke Nada. Sembari menatap wajah wanita yang


ikut berhenti, Dimas berkata. “Kita dari kota yang sama.”


    “Beneran?”


    “Ya, aku dari daerah Panggung, kalo kamu sih daerah mana?”


    “Aku mejasem.”


    “Lumayan deket,” ucap Dimas sembari berbalik dan melanjutkan perjalanan. “Sebagai pemula, gimana menurutmu berada di puncak sana?”


    “Umm, aku ngerasa jadi orang yang lebih baik daripada ketika aku berada di rumah.”


    “Bener,” saut Dimas. “Jadi kamu bakal mendaki lagi kan nantinya?”


    “Tentu,” jawab Nada sembari memindahkan botol air minum dari tangan kiri ke tangan kanannya. “Kamu sendiri, apa yang kamu rasain di atas sana? Kayaknya kamu udah biasa ya naek gunung? Terus di mana rombonganmu?”


    Setelah jawaban itu, keduanya melanjutkan tanya jawab disepanjang perjalanan. Berpegangan pohon dan mencari pijakan yang tidak licin. Banyak jejak-jejak pendaki di sekitar tanah di jalan setapak. Gerombolan kera berayunan di atas pohon yang tinggi. Sesekali Dimas membantu Nada untuk melangkah, dia terus menengok ke belakang untuk memastikan jaraknya dekat dengan wanita pemula itu.


    Setelah ratusan meter berjalan, kabut nampak tebal dan sedikit menutupi pandangan di sekitar mereka. Nada mulai memegangi tas carrier Dimas. Wajahnya panik melihat ke segala arah. Ke pepohonan yang tinggi, tebing di samping kanan mereka, dan, sebuah papan bertuliskan SAMARANTU yang menempel miring di batang pohon.


    “Samarantu,” ucap Nada.


    “Ya, ini pos empat,” saut Dimas. “Kamu tau nggak artinya Samarantu?”


    “Nggak,” jawab gadis itu semakin erat memegangi carrier teman barunya. Nada mulai merasa parno.


    “Di pos ini, kita nggak boleh bikin tenda apalagi nginep semaleman.”


    “Hah, Kenapa?”


    “Konon sih orang-orang yang pernah nginep di pos ini, mereka bakalan diganggu sama makhluk halus penghuni tempat ini.”

__ADS_1


    “Astaga!” Nada semakin panik dan mempercepat langkahnya menyalip Dimas. Gadis itu tidak ingin berjalan di belakang lagi setelah mendengar cerita seram. “Udah nggak usah diceritain!”


   “Hahaha, oke oke.”


   Saking paniknya, Nada lengah dalam melangkah. Dia tersandung akar dan jatuh cukup keras ke tanah berbatu.


   “Arrgh!” teriak Nada seketika wajahnya mencium tanah yang licin.


   “Oi, hati-hati,” ucap Dimas terkejut, lantas dia  segera mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.


   “Kakiku,” ucap Nada merasakan sakit. Giginya meringis seperti monyet.


   “Masih bisa jalan nggak?” tanya Dimas sembari menaruh tangan kiri Nada di punggungnya. Dia memegangi pinggang Nada dan membantunya berjalan sedikit demi sedikit.


    “Bisa tapi sakit,” Nada mewek.


    “Mau duduk lagi aja?”


    “Nggak usah,” jawabannya kesal, namun rangkulan tangannya di punggung Dimas begitu erat. “Aku nggak mau di pos ini lama-lama!”


    Semakin jauh Dimas membantu Nada melangkah, semakin sering Nada memperhatikan keringat yang menetes dari pelipis Dimas. Hal yang membuat si gadis merasa terharu sekaligus merasa canggung. Perjalanan turun ini akan lebih buruk kalo aku nggak ketemu dia tadi. Nada membatin


bersyukur.


    “Terima kasih,” ucap Nada.


    “Oh, iya, santai aja.”


    Mereka saling menatap, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Kemudian Nada menyadari botol minum miliknya itu telah penyok. Mungkin terbentur oleh pohon atau batu saat dia terjatuh tadi.


Sekarang.


    Di bangku taman, Nada mulai menyantap bekal makannya dengan raut sedih. Terkadang hal indah yang telah terjadi, bisa menjadi hal buruk saat kau sudah kehilangannya.

__ADS_1


__ADS_2