Niken Areline

Niken Areline
Bencana


__ADS_3

     “Engaden!”


     “Segel!” keras seorang penyihir pria paling ujung dengan membuka kedua telapak tangan dan mengarahkannya ke Niken. Bebatuan tembok di atas dan sekitar Niken copot. Seperti magnet, reruntuhan itu bergerak menimbun rapat kaki, tubuh, hingga kepala Niken. penyihir lainnya melepaskan lima ekor burung Gagak dari dalam jubahnya, yang kemudian terbang menyusuri koridor dan keluar dari ruang bawah tanah untuk memberi pesan. Bahwa telah terjadi masalah di dalam ruang tahanan.


     Braaaaggg!!! Batu-batu yang menimbun tubuh Niken, melontar ke segala arah bahkan membentur dan membengkokkan jeruji besi di hadapan para penyihir itu. Semua penyihir terlihat sangat panik. Kini mereka berhadapan dengan Niken dan kutukannya. Putri itu berdiri dengan wajah garang, bola matannya yang hitam kini sudah menyala kuning, rambut panjangnya acak-acakkan dan gaun putihnya kotor bahkan robek di beberapa bagian. Yang lebih menyeramkan lagi, kuku tajam dan panjang di jemari tangannya itu keluar.


     Untuk inilah kami di undang. Nina membatin. Memikirkan hal buruk yang sempat dibayangkan orang-orang itu, kini sedang terjadi.


     Tap! Niken melangkah maju dengan perlahan.


     “Hahahahaha,” dia tertawa. “Tronatu!” ucap Niken.


     “Engaden!”


     “Segel!” seru kedelapan penyihir yang tersisa secara bersamaan, mereka mengarahkan kedua telapak tangannya menuju Niken.


     Seluruh jeruji besi patah dan melesat cepat ke tubuh Niken. Jleb! Satu jeruji menusuk pungung kaki hingga menembus ke tanah. Jleb! Jleb! Jleb! Jeruji besi lainnya datang bergantian setelah itu, menusuk kaki satunya, perut, dada hingga telapak tangan Niken yang terulur ketika bermaksud untuk menahannya. Lalu dengan serentak, jeruji-jeruji besi yang sudah menancap di tubuh Niken bergerak, masuk ke dalam tanah dan mengunci tubuhnya. Membuat Niken merungkuk penuh darah dan tidak bisa bergerak.


     “HAHAHAHAHAHAHAHAHA!” tawa Niken semakin menjadi saat darah terus mengalir keluar.


     Beberapa saat kemudian, kedua tangan dari semua penyihir itu bergetar. Mereka merasakan perlawanan yang sangat luar biasa. Namun mereka terus berupaya menahan besi-besi itu agar terus mengunci tubuh Niken. Ini gila! Nina membatin.


     Srak! Srak! Srak! Jeruji-jeruji besi yang sudah berlumur darah itu mulai terangkat dengan sendirinya. Perlahan keluar dari tanah lalu lepas dari tubuh Niken satu per satu. Semua jeruji besi itu melayang di atas Niken, jumlahnya ada enam. Semua jeruji besi bergetar hebat. Darah sang putri berceceran dari setiap ujung jeruji besi. Semua penyihir masih terus berusaha untuk menahan dan mengendalikan jeruji-jeruji besi itu. Niken masih merungkuk, perlahan lubang luka di setiap bagian tubuhnya merapat.


     Ini sihir regenerasi, astaga! Pikir Nina menyadari apa yang dilakukan oleh Niken. Akhirnya dia menyadari bahwa sosok di hadapannya bukanlah lawan yang seimbang untuk mereka. Niken kembali berdiri tegak, kali ini dia nampak jauh lebih menyeramkan dengan darah yang mewarnai kebaya putihnya. Luka-luka di tubuhnya telah hilang, namun senyum di wajahnya tidak.


     Lalu Niken melihat jemari di tangannya sendiri. 1, 2, 3, 4 hingga sembilan dia menghitung jumlah penyihir itu dengan jemarinya. Niken kembali menatap wajah mereka. Mereka semua terlihat sangat ketakutan dalam usahanya mempertahankan jeruji-jeruji besi yang kini melayang-layang di atas kepala Niken.


     “Nienar.”


     “Sembilan,” ucap Niken. “HAHAHAHAHAHA,” tawa mengerikan itu keluar lagi.


     Lalu Niken melakukannya, dia menggerakan tangan kanannya ke depan dan menunjuk ke arah mereka. Slap! Slap! Slap! Slap! Secara berbarengan, jeruji-jeruji besi itu melesat terbang kearah mereka. Menyebar dan menusuk setiap jantung dari enam orang penyihir. Menancap dan membunuh mereka. Tumbang bersamaan seperti pin Bowling.


     Beruntung Nina dan satu temannya lagi tidak terkena oleh serangan megerikan itu. Satu temannya, seorang penyihir pria, lari terbirit meninggalkan ruang tahanan, berteriak ketakutan, mungkin menangis atau bahkan kencing di celana. Tinggallah Nina berdiri menghadapi Niken di antara jeruji besi yang telah patah dan mayat teman-teman barunya.


 


 

__ADS_1


*


 


 


     Niken melangkah perlahan mendekati Nina. melewati reruntuhan dan lantai yang penuh darah. Glek. Nina menelan ludah karena ketakutan, wajahnya juga pucat. Namun Nina terpaku, dia kebingungan hingga tidak bisa berlari. Sementara Niken sudah berdiri di hadapannya. Dia memandang dengan sorot mata yang sangat mengerikan. Giginya meringis dan menunjukan taring-taringnya.


     Slap! Sebuah potongan jeruji besi terbang dan berhenti di genggaman tangan kanan Niken. Niken memutar-mutar potongan jeruji besi itu bak stick Drum. Nina berkeringat ketakutan setengah mati. Jelas dia yakin kekuatan sihirnya tidak akan mampu mengalahkan makhluk mengerikan yang berada di hadapannya ini. Namun, saat Niken berusaha menusukkan potongan besi itu ke tubuh Nina, ujung tajam besi itu berhenti tepat di depan jantung Nina. Tangan Niken bergetar tidak bisa digerakan, sekuat tenaga Niken mencobanya. Nina hanya bisa memejamkan mata setelah langkahnya terpaku karena takut.


    Kemudian, tiba-tiba saja tubuh Niken terpental dan jatuh duduk ke dalam sel. Sekarang berbalik, wajah Niken yang menjadi ketakutan. Dia menyadari bahwa Nina sepertinya menggunakan batu Metta untuk menangkal kekuatan sihirnya. Dan, hukum kembali berlaku, kekuatan batu Metta mengalahkan kekuatan sihir.


 


 


*


 


 


     Ular Sanca yang memeluk tubuh Alan dan Niken itu mendadak melepaskan jeratannya lalu pergi ke atas pohon dan berkamuflase di antara ranting-ranting. Lalu, kedua mata Niken dan Alan kembali normal, bulatan retinanya sudah nampak lagi. Mereka kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Hingga akhirnya sesuatu disadari oleh Alan.


     “Bukan aku yang ngelakuinnya,” ucap Niken, dia mewek.


     “Iya aku ngerti, bikin portal! Kamu harus bikin portal lalu balik ke duniaku Niken. Sebelum orang-orang berdatangan untuk membunuhmu!” Alan menyuruhnya seolah yakin dengan apa yang akan dikatakannya.


     Niken mengusap air matanya sambil mengangguk. Kemudian dia memejamkan kedua mata itu.


 


 


*


 


 

__ADS_1


     Di dalam sel yang gelap dan dingin, Niken tersadar dari apa yang telah dilakukannya. Bola mata berwarna kuning itu telah menghilang. Dia melihat mayat-mayat di hadapannya. Dan, sosok penyihir wanita yang duduk menyandar tembok sedang melihat dirinya ketakutan.


     Dalam pikirannya, Nina mengetahui bahwa kalung batu Metta yang dipakainya membuat Niken tidak bisa menyerang dirinya. Namun dia juga kebingungan, bagaimana cara Niken memusnahkan kekuatan dari rantai batu Metta? Cinta dari siapa?


     Beberapa saat kemudian, Niken menggunakan kekuatan sihirnya yang tersisa untuk membuka portal ke Bumi. Dia menapakkan telapak tangan kanannya ke tanah yang bergenang  darah, lalu muncullah llingkaran portal di atas telapak tangan kanan Niken. Sebelum Niken masuk ke dalam lingkaran portal itu, dia mengatakan sesuatu kepada Nina yang masih duduk terpaku di sudut sana.


    "Maafinn aku, bukan aku yang bunuh temen-temen kamu.” Setelah Niken memperhatikan sedikit lebih lama wajah wanita itu, agaknya Niken baru menyadari kalau dia adalah Nina Enra.  Niken jadi merasa mungkin Nina adalah orang yang bisa dipercaya. “Nina?” sapa Niken. Nina Enra mengangguk masih menangis ketakutan. “Umm, ibuku, semua kebenarannya ada di sini,” Niken melepas mahkota di kepalanya lalu melemparkannya ke Nina. Dan, Niken tidak sadar telah berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang mungkin saja tidak dipahami oleh Nina.


     Setelah itu, Niken masuk ke dalam portal. Portal langsung tertutup begitu tubuh Niken sudah masuk semuanya. Meninggalkan darah di mana-mana, puing-puing bangunan, jeruji besi dan tujuh orang mayat penyihir terbaik. Niken menyisakan Nina, seorang wanita yang beruntung sudah mengenakan kalung batu Metta. Meski sempat terkejut bahwa Niken masih mengingat namanya, Nina segera mengambil mahkota milik Niken. Dia memasukkan mahkota itu ke dalam jubah putihnya.


 


 


*


 


 


     Brag! Niken membuka pintu kamar Alan. Pria itu sudah tertidur pulas. Lantas Niken mengambil bantal dan memukul kepala Alan untuk membangunkannya.


     “Hei bangun!” Begitu Alan bangun, dia langsung menatap Niken dengan kedua mata yang sedikit merah. “Kita harus pindah dari rumah ini! Kita juga harus memperketat pertahanan kita!”


     “Eh?” gumam Alan. “Kamu melakukannya,” tentang membuka portal dan kembali ke Bumi.


 


 


*


 


 


     Setelah kejadian di ruang tahanan bawah tanah, Nina mendapat banyak pertanyaan dari interogasi yang dilakukan oleh pihak kerajaan Tronatu. Dia menceritakan semua yang dilihatnya dengan rinci, dari pertama kali datang ke istana hingga melihat Niken masuk ke dalam portal. Namun, Nina tidak memberitahu sesuatu tentang mahkota milik Niken yang sedang disimpannya. Jelas dia tidak bisa menceritakan semua kebenaran tentang kematian ratu Rahma yang terdapat di mahkota itu kepada sembarang orang.


     Dia beranggapan, jika ratu Rahma tidak bunuh diri, maka bisa saja salah satu pihak dari Tronatu atau Areyan bertanggung jawab. Karena itu, Nina Enra lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat.

__ADS_1


     Namaku Nina, teringat kembali hari itu, hari perkenalannya dengan Niken Areline saat usia mereka sembilan tahun. Kenapa kamu tidak mau bersalaman denganku? Nina bertanya saat Niken menyembunyikan kedua tangannya di balik pinggang. Aku akan dihukum, maaf. jawab Niken. Setelah itu, ayah Nina menarik lengan putrinya dan membawanya jauh dari hadapan Niken. Hari itu, Nina mengira bahwa seorang putri raja memang tidak layak untuk bersalaman dengan seorang putri bangsawan biasa. Namun, pada akhirnya semua ini menjelaskan banyak hal. Mungkin kutukan yang ada di dalam diri Niken, yang membuatnya dilarang menyentuh orang lain. Pikir Nina.


     Namun, Nina melihat sesuatu di dalam mata Niken kala itu. Saat dia berjalan menjauh dari Niken, Niken terus menatapnya. Hingga malam datang, Nina menjemput Niken di dalam kamarnya. Nina menaiki tembok dan melewati genteng seperti pencuri. Namun apa yang dia curi hari itu adalah hati seorang putri. Niken menerima ajakannya pergi ke pantai untuk melihat bintang. Mereka bercerita banyak hal hingga berakhir dengan ciuman canggung namun indah. Dua bintang jatuh, melesat di atas mereka.


__ADS_2