
Sepulang dari kampus,Alan langsung berbaring di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal. Vivi memperhatikannya dari luar pintu kamar Alan yang tidak tertutup. Mungkin Vivi merasa sedikit bersalah dengan ucapannya yang terdengar seperti abaikan saja sesuatu yang sebenarnya memang tidak ada. Alih-alih bermaksud mengkhawatirkan nyawa adiknya, sikap Vivi justru terlihat egois. Namun, Vivi tetap mengabaikan adiknya, dia melanjutkan membaca novel misteri.
Mau gimana lagi? Aku memiliki kutukan itu. Teringat perkataan Niken Areline di malam pesta ulang tahun Clara. Alan membayangkannya lengkap dengan sentuhan tangan Niken di kedua pundaknya. Beserta dengan raut sedih dari putri yang malang. Sesuatu yang semakin menyayat hati Alan saat ini.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang dengan Niken. Dia juga bertanya-tanya: Kenapa sihir bola kaca tidak bisa mempertemukanku dengannya lagi? Bahkan dia juga membatin tentang rasa penyesalan karena tidak bisa menjaga Niken. Niken, maafin aku. Lalu Alan duduk dan meraih laci meja di samping tempat tidurnya. Dia meraih sebuah kertas lalu duduk menyandar dan memperhatikan gambarnya.
`Air matanya mengalir melihat lukisan Niken yang sedang duduk di ayunan sebuah pohon. Alan melukis itu dengan pena sebelum dia berkenalan dengan Niken di dalam mimpi. Wanita di lukisan itu murung. Air mata Alan melukiskan betapa tidak mengiranya dia akan mengenal Niken sejauh ini lalu kehilangannya. Terkadang hal indah yang sudah terjadi, akan menjadi buruk saat kau sudah kehilangannya.
*
Alan sudah terlelap dalam tidurnya, dia tertidur tanpa melepaskan kemejanya. Lalu bermimpi, Alan berada di bawah pohon berdaun emas yang Niken sebut sebagai pohon Hirena. Namun ayunan itu kosong, tidak ada kekasih hatinya di sana. Alan duduk dan berayun pelan, sekilas dia menyadari ada sebuah tulisan yang tertulis di batang pohon Hirena dengan huruf kapital yang dibaca: KAMU MEMILIKI KEKUATANKU.
Dua hari kemudian
Di ruang tahanan bawah tanah di kerajaan Tronatu, Niken dikurung dengan penjagaan yang super ketat. Karena beritanya sudah menyebar ke seluruh penjuru Kana, perwakilan penyihir terbaik dari sembilan kerajaan diundang datang untuk menjaga Niken. Mereka ditugaskan untuk menjaga Niken hingga tiba saat waktunya eksekusi hukuman mati datang. Terdiri dari tujuh pria dan dua wanita, kesembilan penyihir itu mengenakan jubah berwarna putih dan tudung yang menutupi kepala. Mereka berdiri berjajar membelakangi jeruji besi. Tempat si putri yang malang di kurung.
Niken duduk terikat erat oleh rantai batu Metta. Batu Metta menyala redup, menerangi sedikit dari raut wajah Niken yang memejamkan mata dan tidak sadarkan diri, nampak dia begitu kelelahan. Batu Metta menyerap banyak dari kekuatan sihirnya. Air matanya juga nampak sudah mengering.
Seekor kecoa merayap mendekati Niken. Kecoa itu naik ke jempol kaki Niken yang tanpa alas. Kecoa itu diam di atas punggung kaki kanan Niken.
Di luar pagar istana, rakyat berkumpul untuk menyaksikan eksekusi hukuman mati yang akan dilakukan kurang dari tiga jam lagi. Tamu-tamu undangan dari kerajaan lain datang bersama kereta dan kuda-kuda mereka. Di halaman istana sudah berdiri sebuah panggung tempat untuk mengeksekusi Niken. Seperangkat alat untuk menjagal kepala. Kayu dengan lubang dan pisau besar yang tajam di atasnya, terkait oleh tali tambang yang jika di potong maka tajam pisau besar itu jatuh memenggal kepala seseorang yang dieksekusi. Para penjaga berpakaian serba merah dengan selaras tombak, berdiri di setiap sudut istana.
*
Niken membuka kedua matanya, wajahnya terlihat sangat lemas. Pandangannya laungsung tertuju kepada kecoa yang dari tadi tediam di kakinya. Tiba-tiba, waktu berhenti seketika Niken menatap lebih dalam kecoa itu. Seluruh ruangan di sekitar Niken berubah, ruang tahanan yang kotor dan gelap itu berganti menjadi sebuah kamar yang sangat bersih, terang dan luas. Saat itu juga Niken menyadari bahwa ikatan rantai di tubuhnya telah hilang. Dia kebingungan dengan apa yang terjadi.
Di atas ranjang, ada seorang pria tua memakai piyama ungu, sedang duduk menatap Niken. Pria berjanggut putih itu membuat Niken meneteskan air matanya.
“Dalu”
“Ayah,” panggil Niken. Dia langsung berlari menghampiri dan memeluk ayahnya.
Dia adalah raja Darna, ayah kandung Niken yang diamankan oleh Jaka dari hal yang tidak diinginkan setelah kematian ratu Rahma. Raja Darna membuat semacam sihir teleportasi untuk mempertemukan roh Niken dengannya, melalui media kecoa. Tubuh Niken yang asli sebenarnya masih berada di dalam ruang tahanan kerajaan Tronatu dan terikat oleh rantai, namun rohnya datang ke tempat di mana ayahnya berada.
Sang raja menangis memeluk anaknya. Pria tua dengan kerutan dan rambut putih di kepalanya itu, menderu seperti anak kecil. Lalu melepaskan pelukan dan saling bertatap muka.
__ADS_1
“Hane simen da, av wine?”
“Bagaimana keadaanmu, anakku?” tanya sang raja.
“Avovrean bel grik Kusno.”
“Aku baik-baik saja sebelum ditahan oleh Kusno.”
Sang raja merengut mendengarnya.
“Av nes hap tamine bres, av shini blate. Av wlane glome da abol li haped, bi proni, il da hase breina, da wila tap doena li deba tof da.”
“Aku tidak punya waktu lama, sihirku terbatas,” katanya. “Aku ingin memberitahu kepadamu tentang yang terjadi, tapi berjanjilah, jika kau sudah mengetahuinya, kau akan tetap melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri.”
“Yi.”
“Ya,” Niken mengangguk
“Datle da weina nole saltena da. Rahma nes per drates havpa da. Ye slama gin. Da reti
drateki da weina se minet da frew. Ye mifsate ploneca se kronex li sari me da.
Thel ver nik kronex se ploneca, ye mifsate
Gord Kusno tof minet da. Da glome liped powrane Tornatu Alince. Tof tie magina
Glare Blis arne.”
“Kematian ibumu bukanlah kesalahanmu. Rahma tidak pernah kecewa memilikimu, dia selalu bahagia. Kau adalah anugerah terbaik yang pernah dia miliki. Namun, Serani berkhianat kepada kita. Demi takhta untuk kedua pangeran, dia tega membunuh ibumu dan mengincar nyawamu. Dia memanfaatkan perjanjian dan kutukan yang ada di dalam dirimu. Lalu atas nama kutukan dan perjanjian itu, dia memanfaatkan Raja Kusno untuk mengincarmu. Kau tahu seperti apa kekuatan kerajaan Tronatu,” Niken menangis lagi mendengar cerita ayahnya, meweknya semakin menjadi. Rasa sedihnya bercampur dengan kebencian setelah tersadar bahwa ibunya tidak bunuh diri. “Untuk hal inilah sihir bola kaca diciptakan.”
“Magina Glare Blis?”
"Sihir bola kaca?” tanya Niken tersengguk-sengguk.
“Yi, magina lesay arne mifsate gron knole se miderna. Bret magina Glare Blis diferta, Rahma arne eita covas se klova. Thel Rahma miternaine tof Jaka. Magina li arne eita covas frone da weina, powranes, magina tie wila staren frone brona Metta. Bret, tie il manera li frenesa harte da havpa covas to da.”
__ADS_1
“Ya, sihir biasanya diciptakan menggunakan ilmu pengetahuan dan ambisi. Namun, sihir bola kaca berbeda, Rahma membuatnya dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Lalu dia mengajarkannya kepada Jaka. Sihir yang dibuat dengan perasaan penuh kasih sayang dari seseorang seperti ibumu, sangatlah kuat, sihir itu akan bertahan dari kekuatan batu Metta. Tapi, itu jika orang yang terkait jantungmu memiliki cinta untukmu.”
Aku akan berusaha untuk melindungimu, ummm bukan, aku akan berusaha melindungi kita. Tiba-tiba saja Niken teringat akan perkataan Alan di malam pesta ulang tahun Clara. Lantas sesuatu terpikirkan olehnya, seperti: Apa Alan mencintaiku? Mengingat bahwa hukum yang menyatakan: Kekuatan cinta bisa mengalahkan kekuatan batu Metta. Hingga beberapa saat kemudian dia merasa bahwa pertanyaan itu mungkin terdengar konyol. Di lain sisi dia juga merasa bahwa kekonyolan itulah yang menentukan nasib kehidupannya saat ini. Niken merenungkannya cukup lama, diam merengut. Hingga wajahnya melihat ke sekitar ruangan.
“Tie wherisa?”
“Ini di mana?” tanya Niken.
“Av ine horema ine blakag Kelor. Da nes plec brimenata av.”
“Aku ada di sebuah rumah di bukit Kelor. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku,” lalu seperti mengetahui
apa yang sedang dipikirkan putrinya, Darna menyampingkan rambut di kening Niken yang sedikit menutupi mata.
“Jlane doen amoeran, thines fole da tof mane, manera li frenesa harte da. Tie wila makera feren magina Glare Blis powranes, se da cane rumen frone brena Metta.”
“Jangan gunakan amarahmu, pikirkanlah perasaanmu kepada pria itu, orang yang terkait dengan jantungmu.
Hal itu akan membuat efek dari sihir bola kaca menguat, dan kau bisa melarikan diri dari batu Metta.”
“Ah? Hane dalu cane glome il ye ise mane?”
“Hah? Bagaimana ayah bisa tahu kalau dia adalah seorang pria?”
“Av alaisar wathen da, av nes lev gi.”
“Aku selalu mengawasimu, aku tidak pernah pergi.”
Lalu Niken memeluk ayahnya. Dia terus meneteskan air mata. Dia tidak mengira bahwa ayahnya terus mengawasi Niken selama ini. Kemudian Darna memandang ke langit-langit di atasnya. Di antara atap putih, ada pergerakan dari seekor hewan. Ternyata itu adalah kelelawar. Kelelawar itu turun dan terbang mengitari mereka berdua, lalu menjelma menjadi sebuah cahaya bulat berwarna putih dan masuk ke dalam batu berlian berbentuk hati yang ada di mahkota Niken.
“Tamine hal dret, evesa kloke Serani, ine hirase da deas, gave tof manera da provos.”
“Waktunya sudah habis, semua bukti kejahatan Serani ada di mahkotamu sayang, berikan kepada orang yang kau percayai.” ucap Darna.
Mahkotaku? Niken membatin. Lantas raja Darna menghilang dari pelukan Niken, perlahan ruang kamar itu berganti dengan gelap hingga menjadi kembali seperti semula. Sebuah ruang tahanan di mana rantai itu masih
__ADS_1
mengikat tubuh Niken. Kecoa di kaki Niken pergi lalu merayap dan masuk ke lubang kecil di tembok. Kesembilan penyihir masih berdiri membelakangi jeruji besi. Mereka tidak menyadari apa yang baru Niken alami.