Niken Areline

Niken Areline
Remuk


__ADS_3

Ketiganya sudah keluar dari hutan, hujan deras mengguyur mereka. Namun, mereka enggan berhenti, mereka berlari seolah itu adalah hari terakhir mereka untuk berlari. Tidak mempedulikan rasa sakit di telapak kaki, mereka terus menyusuri bibir sungai dan mengikuti arusnya. Tak lama kemudian, suara deras sungai semakin mengeras. Di hadapan mereka nampak ujung dari sungai berupa air terjun. Ujung tebing, menghentikan langkah mereka. Hujan terus mengguyur dan perlahan dinginnya membekukan tulang.


Vivi duduk di batu besar. “Nggak ada jalan lagi,” katanya.


Niken dan Alan melihat ke segala arah, hingga mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan yang ada yaitu kembali ke dalam hutan atau tetap di sini.


“Niken, kalo tubuh kita bersatu, apa mungkin bisa melawan Baron?”


“Nggak tau Alan.”


“Apa kamu mau mecobanya?” tanya Alan.


Niken hanya mengangguk. Lantas ketiganya bersembunyi di balik sebuah batu besar, di tepi tebing. Niken belum masuk ke tubuh Alan karena jika dia menggunakan sihirnya lagi, maka peri Homta akan menemukan mereka dengan cepat. Satu hal yang mereka harapkan saat ini yaitu Baron tidak bisa menemukan persembunyian mereka. Namun, jika Baron sudah menemukan mereka, maka Niken akan masuk ke dalam jantung Alan dan bersatu untuk  melawannya. Hanya itu rencana yang mereka miliki. Alan duduk di tengah, Vivi dan Niken menyandarkan kepala ke pundak Alan. Ketiganya jelas sekali kedinginan, badannya merungkuk dan menggigil. Hujan masih terus mengguyur membasahi mereka.


Sebenarnya Niken bisa menggunakan sihir untuk menghangatkan suhu disekitar mereka. Namun sekali lagi, hal itu akan memancing peri Homta dan Baron. Pada akhirnya Niken pasrah. Dia memegang tangan Vivi.


“Maafin aku kak,” katanya sambil menggigil.


Vivi menggenggam erat tangan Niken, lalu tersenyum. Sesungguhnya Vivi mengerti posisi Niken sangatlah sulit. Namun, dia hanya memiliki Alan, karena itu Vivi cenderung menyalahkan Niken. Tapi malam ini, Vivi melihat betapa ketakutannya Niken namun, Niken malah sempat memberi ide untuk berpisah agar dirinya dikejar Baron sendirian dengan alasan agar Alan dan Vivi bisa selamat. Dan pada akhirnya, genggaman erat Vivi kepada Niken memberi isyarat bahwa dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada Niken ataupun Alan.


Sudah sekitar dua puluh menit mereka bersembunyi, belum ada tanda-tanda kehadiran Baron. Niken mengintip, tidak ada sosok Baron atau peri Homta yang mungkin akan terlihat sedang mencari seperti yang ada dalam bayangan kepala Niken. Wajah mereka bertiga sudah pucat kedinginan, mungkin juga sudah sulit untuk berbicara. Ketiganya mulai berdiri dan melihat keadaan sekitar dari balik batu.


*


Zrat! Petir menyambar batu tempat persembunyian mereka. Menghasilkan ledakan yang bunyinya merusak telinga. Ketiganya terpental memencar ke segala arah. Kepala Vivi terbentur sebuah batu lalu berhenti di bibir sungai. Niken terpental ke bibir sungai yang lain, sementara Alan, dia berpegangan pada batu di puncak air terjun, tubuhnya menggantung nyaris jatuh terbawa oleh arus deras air terjun. Pandangannya tidak begitu jelas tertutup oleh arus air, dia hanya bisa meliat tubuh Vivi yang terkapar di pinggiran sana. Sementara Niken, dia sudah berdiri tegak berhadapan dengan Baron.


Peri Homta masuk kembali ke dalam jubah putih tuannya. Slap! Niken berubah menjadi cahaya lalu melesat masuk ke dalam jantung Alan. Mendadak Alan mempunyai kekuatan untuk mengangkat badannya. Dia melompat dari ujung air terjun ke bibir sungai tempat Baron berdiri. Zrat! Zrat! Dua sambaran petir menyerang Alan. Namun, dia bisa menghindarinya.


“Serangan Baron kuat, tapi akurasinya buruk. Kita harus jauhin dia dari kak Vivi,” ucap Alan.

__ADS_1


Belum sempat Alan berlari, Baron tiba-tiba sudah berada di hadapan dan memukul perutnya. Cepet banget! Pikir Alan.


“Arrrghh,” teriak Alan, tubuhnya terpental jauh hingga ke tepi tebing. Dia merungkuk memegangi perutnya yang terasa sakit. Lalu saat pandangannya tertuju kembali ke depan sana, Niken ternyata sudah keluar dan sedang bertarung dengan Baron. Tiga kali sambaran petir bisa dihindari Niken, namun wanita itu tersudut di sebuah pohon. Sontak Alan segera bangkit dan berlari menghampiri Baron dari belakang. Bersamaan dengan itu, Niken kembali berubah menjadi cahaya dan melesat masuk ke jantung Alan.


Kepalan tangan kanan Alan terlihat kuat seketika dia bersatu dengan Niken. Baron menengok ke belakang dan, duag! Wajah Baron terpukul dengan sangat keras hingga membuat mulutnya mengeluarkan darah, mungkin giginya patah. Tubuh Baron terpental tiga meter ke belakang. Tidak berhenti disitu, Alan menghampiri Baron dan menendang wajahnya menggunakan lutut kaki kanannya. Duag! Dua kali wajah Baron terkena pukulan. Namun, Baron masih bangkit dan mundur ke belakang untuk menjaga jarak dari Alan.


Kita bisa melawannya pikir Niken. Baron mengambil sesuatu dari dalam kantong jubahnya. Itu adalah seonggok daging yang biasanya Baron makan untuk merubah dirinya menjadi sosok monster dalam jangka waktu tertentu. Seperti yang dulu pernah dilakukannya ketika menyerang Niken dan Jaka.


“Gawat!” ucap Alan. Alan kembali berlari menyerang Baron, dengan cepat Alan mencekik leher Baron dan menampar tangan kanan Baron yang memegang daging itu. Membuat daging itu melayang lalu terjatuh di tanah. Kali ini Baron terbaring dengan posisi Alan menindih dan mencekiknya.


Duag! Alan menghantam lagi wajah Baron. Duag! Dua kali dia melakukannya sambil mencekik. Namun, saat pukulan ke tiga hendak di ayunkan, tubuh Alan tersambar oleh petir dan terpental ke sungai yang berbatu.


*


Vivi terbangun, kepalanya terasa pusing dan sakit. Ada luka dan darah di keningnya. Lalu Vivi melihat ke arah Alan, di kejauhan sana, adiknya sedang berhadapan dengan Baron. Alan sedang berpegangan pada batu untuk menahan tubuh dari derasnya arus yang mengalir. Baju Alan nampak sudah robek setelah terbakar oleh sambaran petir. Sementara Baron, dia memungut daging di tanah. Wajah Baron sudah babak belur, matanya lebam dan mulutnya berlumur darah.


Alan menaiki batu di tengah arus itu lalu dia melompat ke arah Baron. Namun terlambat, Baron sudah memasukan seonggok daging ke mulut dan menelannya. Duag! Alan berhasil menendang Baron hingga penyihir itu terpental masuk ke dalam hutan. Tapi Alan dan Niken sama-sama tahu bahwa yang sebentar lagi akan muncul dari balik kegelapan hutan itu adalah sosok monster yang mengerikan.


“AAARRRRRGGGGGHHHHH!!!” teriak Baron dari balik kegelapan.


Benar saja, sepasang mata menyala dalam gelap. Berwarna merah dan menatap Alan. Lalu terdengar pula raungan yang mirip seperti suara harimau.


“Grrrrrrrrrrrrrrrrrr.”


Baron keluar dari gelap dan melompat menerkam Alan. Giginya runcing berliur, kedua matanya menyala merah, kulitnya bersisik, telinga runcing dan semua kuku di jemarinya pajang menajam. Yang membuatnya bisa dikenali bahwa itu Baron hanyalah jubah putih yang dipakainya.


Sraaaaak! Alan melompat menghindari cakaran Baron. Baron mencakar batu besar hingga membuat batu itu hancur.


Astaga! Alan membatin.

__ADS_1


Baron menengok ke samping dan melihat sasarannya kembali. Baron berlari, lalu mengayunkan cakarnya lagi membabi buta. Alan melompat mundur untuk menghindarinya. Dia sedikit terkena  tajam kuku Baron di bagian pipi dan bibir. Membuat wajahnya berdarah. Srak! Alan terpeleset batu licin lalu terjatuh duduk dan mati langkah. Baron melihat kesempatan itu dan mulai mengayunkan cakar di tangan kanannya.


Dan, duag! Baron goyah ke samping saat bongkahan batu besar mengenai wajahnya. membuat ayunan serangannya meleset. Nampak Vivi yang sudah berdiri, dia baru saja melemparkan batu kali untuk menyelamtkan nyawa adiknya. Namun keningnya masih sedikit mengalirkan darah.


Baron tidak terjatuh, dia bisa menahan tubuhnya dan menatap ke arah Vivi. Baron mengambil batu di kali lalu melemparkannya ke arah Vivi. Dug! Batu seukuran kepalan tangan orang dewasa itu mengenai perut Vivi. Membuatnya terpental lalu jatuh dan kesulitan bernafas.


“Kakaaaaakk!” teriak Alan.


  Lalu, hal itu terjadi. Hal yang ditakutkan oleh Alan dan Niken dari awal. Baron meloncat ke arah Vivi. Dia menusuk jantungnya menggunakan satu kuku jemari tangannya yang tajam.


“Argh,” gumam Vivi, seketika itu juga dia meregang nyawa.


“Huuuuuuuaaaaaaaaaaaaaa!” Alan berteriak dan berlari menangis ke arah Baron. Baron melepaskan kuku dari jantung Vivi dan dengan cepat berbalik menyerang Alan. Dia mencakar dada lalu menendang tubuh Alan hingga terpental. Pandangan Alan masih tertuju kebada tubuh Vivi yang terkapar di sana. Alan bangkit dan berdiri lagi, dia kembali melangkahkan kakinya untuk melawan Baron. Srak! Srak! Srak! tiga cakaran mengenai tubuh Alan, membuatnya tumbang. Alan jatuh tengkurap di antara bebatuan, namun matanya masih memandangi Vivi.


Dan, tiba-tiba tubuh Niken keluar dari Alan. Niken terkejut dengan apa yang terjadi. Dari belakang, Jaka datang bersama dengan pasukan kerajaan yang dengan cepat sudah mengambil formasi untuk mengelilingi Baron. Mereka membawa senjata yang terbuat dari batu Metta. Salah seorang prajurit melepaskan anak panah yang juga terbuat dari batu Metta ke bahu Baron.


“Arrrggghhh!!” Baron menjerit, lalu jatuh tersungkur. Anak panah itu menyala di tubuhnya. Membuat Baron merasakan sakit yang teramat sangat hingga mengembalikan bentuk tubuh aslinya. Prajurit yang lain memasangkan rantai batu Metta ke tubuh Baron. Setelah itu, Jaka membuka kembali gerbang menuju ke Kana.


“Enggak Jaka,” ucap Niken. “Kita nggak bisa ninggalin Alan gitu aja!”


“Maaf putri, tugasku hanya mengembalikanmu dan menangkap Baron.”


Jaka membawa masuk Niken ke dalam lingkaran portal.


“Allaann!” Niken berteriak kepada Alan yang masih terbaring bersimpah darah di tanah berbatu dan berlumpur.


Lalu prajurit lainnya masuk ke portal dan membawa tubuh Baron yang sudah terikat oleh rantai batu Metta. Namun, Alan tidak mempedulikan semua itu. Dari tadi dia hanya memperhatikan tubuh kakaknya terbaring di kejauhan sana, terguyur deras hujan.


Alan mencoba untuk berdiri, rasa sakit memeluk seluruh tubuh. Langkahnya tersuruk-suruk seperti zombie bibirnya mewek, dan matanya sayu. Bajunya compang-camping robek dan penuh darah. Sesampainya di dekat Vivi, dia jatuh merungkuk, benar-benar hancur.

__ADS_1


__ADS_2