Niken Areline

Niken Areline
Keris Lonat


__ADS_3

     Dimas menginap semalaman di kamar Unit Gawat Darurat rumah sakit Mawar. Setelah mengalami kecelakaan, Dimas mengalami banyak operasi dan puluhan jahitan disekujur tubuh. Hingga sekarang, dia belum sadar dari koma. Saat ini dia terbaring di kasur dengan alat pendeteksi denyut nadi yang menempel di sekujur tubuhnya. Grafik tanda kehidupan di monitor terlihat lemah. Clara Gretchen, yang duduk di sisinya memandangnya cemas. Sudah puluhan kali Clara mencium kening kekasihnya itu dan meneteskan air mata. Berharap Dimas membuka mata terbangun dari komanya. Ayah dan ibu Dimas, duduk di sofa dekat mereka. Ibunya kelelahan dan tertidur menyandar di bahu ayahnya. Mereka berdua tahu betul ini bukanlah pertama kali bagi anaknya terbaring koma.


     Di balik mata Dimas yang sedang terpejam, Dimas masuk jauh ke dalam alam bawah sadarnya.


     Wanita berkebaya biru berdiri membelakangi Dimas. Rambutnya yang panjang dan berwarna putih, bergerak terhelai oleh angin malam. Jutaan bintang menjadi atap dan ladang rumput tanpa ujung, menjadi alas. Hanya ada mereka berdua di tempat seluas dan sesepi ini. Dimas berdiri telanjang dada, dia hanya mengenakan celana piyama berwarna putih. Rambut pendeknya tidak tersisir, jauh dari kata rapih. Dia menatap sosok wanita asing yang berdiri membelakanginya.


     “Aulia,” ucap wanita itu menjawab pertanyaan Dimas. “Namaku Aulia Casandra. Aku adalah peri.”


     “Peri?”


     Lantas wanita itu, membalikkan badan dan menatap mata Dimas. Nampaklah sepenuhnya kecantikan dari wanita yang mengaku sebagai peri. Kulitnya pucat, bola matanya berwarna hijau, hidung yang tidak kalah mancung dari Dimas dan kedua telinga runcing khas peri. Rambut putih yang panjang dan terus bergerak terhelai angin itu, menyempurnakan keindahan sosok Aulia Casandra. Tinggi badannya juga setara dengan Dimas. Lalu hal yang lebih menegaskan lagi atas pengakuannya adalah, Aulia membentangkan kedua sayapnya dari punggung. Dua pasang sayap yang berbentuk seperti sayap seekor capung.

__ADS_1


     Dimas terkejut, Apa ini mimpi? Dia membatin.


     “Tempat apa ini?” tanya Dimas dengan gugup, pandangannya mulai melihat ke segala arah.


     “Ini adalah hatimu, dan ini bukan mimpi,” ucap Aulia.


     Tatapan Dimas kembali berhenti di wanita bersayap yang berdiri di hadapannya. Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Nggak, nggak mungkin!”


     “Apa maksudmu?”


     “Orang-orang yang kamu cintai.”

__ADS_1


     Dia adalah tunanganmu, sontak teringat perkataan dari ibunya di meja makan. Kala Dimas memegang sebingkai foto yang menampakan bahwa dirinya sedang berdua dengan seorang wanita dan berdiri dengan senyum di puncak gunung. Namun hingga kini Dimas masih belum mengingatnya sama sekali, bahkan ingatan tentang masa lalu bersama dengan ibu atau ayahnya sendiri.


     “Apa maumu?” tanya Dimas, dia merasa sosok peri cantik itu sudah masuk lebih jauh ke dalam zona pribadinya. Membuatnya tidak merasa nyaman sama sekali.


     “Ini adalah takdirmu,” ucap Aulia. “Ada sihir jahat yang kuat, dia datang. Berada dekat denganmu. Dulu, kekuatan itu telah menghancurkan banyak dari kehidupan di duniaku.  Percaya apa enggak, kamu bakal berhadapan dengannya.”


     “Apa yang kamu bicarain?” tanya Dimas, nada suaranya mengeras. “Aku nggak ngerti sama sekali. Apa hubungannya kekuatan jahat sama ingatanku yang hilang?”


     Lalu Aulia berjalan menghampiri Dimas, dia masih membentangkan lebar sayapnya. Sesampainya di hadapan Dimas, Aulia berhenti. Lalu dia mengatakan sesuatu dengan perlahan dari kata ke kata dengan sangat jelas. Dia mulai berbicara seperti berjalan melewati gundukan tanah ke gundukan tanah lainnya di sebuah rawa.


     “Denger baik-baik. Aku adalah Aulia Casandra, peri yang menyatukan dirinya ke dalam sebuah keris yang saat ini berada di dalam lengan kanan tanganmu. Aku tidak berasal dari duniamu, kita berbeda dimensi. Tapi, kekuatan sihir jahat dari duniaku udah masuk ke dalam duniamu. Karena itu aku, memilihmu untuk menjadi seorang kesatria. Namun, efeknya kamu kehilangan ingatanmu kepada orang-orang yang kamu cintai untuk sementara waktu. Gunakan dengan bijak kekuatanku! Bukalah matamu, kamu bakal sadar. Dan, kalo masih banyak pertanyaan, gunakan jari tangan kananmu. Sentuhkan ujung ibu jari ke jari kelingking, lalu sebut namaku. Maka, kamu akan bertemu denganku di tempat ini.”

__ADS_1


__ADS_2