
Sepertinya Dimas sedang senggang setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya di tengah hari ini. Sambil menunggu jam istirahat, Dimas memutar-mutar pena di jemari tangan kanannya. Dua rekan di belakang meja kerjanya sedang mengobrol. Suaranya lirih terdengar hingga ke telinga Dimas. Dua orang wanita itu sedang membicarakan sesuatu tentang tunangan. Nampaknya seorang di antaranya sedang bahagia setelah sehari yang lalu kekasihnya melamar.
Lantas obrolan yang didengarnya itu memberikan satu ingatan muncul di kepala Dimas. Sebuah ingatan tentang perkataan ibunya di meja makan bersama dengan ayahnya. Dia tunanganmu, ucap ibunya. Saat itu Dimas melihat selembar foto berdua dengan Julia Nada di atas puncak gunung sambil memegang plat bertuliskan 3428 TOP MT. SLAMET. Mereka terlihat bahagia dengan wajah tersenyum yang terkena sunrise. Namun, Dimas tidak mengingatnya sama sekali. Jangankan sosok wanita yang ada di foto itu, kedua orang tuanya yang berada satu meja dengannya juga sudah tidak dikenalinya lagi.
Ingatan itu membuat Dimas memperhatikan Nada dari kejauhan. Dari balik bilik monitor kerjanya, terlihat mata sipit dan poni Julia Nada. Sepertinya dia sedang serius melakukan pekerjaannya. Selang beberapa lama, panggilan masuk datang ke ponsel yang berada di atas buku catatan. Tertera sebuah nama dan foto seorang wanita dari panggilan itu, Clara Gretchen. Rambutnya hitam kecoklatan, sebahu. Matanya cokelat dan lesung pipi menyempurnakan senyumnya. Dimas menjawabnya.
“Hei.”
*
“Apa Kusno sekuat Arka?” tanya Alan dalam obrolannya bersama dengan Niken di tepi atap rumah. Sepulang kerja, mereka duduk menatap senja yang langka di bulan November. Benar-benar langka seperti capung di atas sungai.
“Aku nggak tau, tapi kata ayahku: Arka adalah manusia paling sempurna. Dia menjadi pilihan dewa dan mewarisi kekuatan yang berasal dari keris Lonat ciptaan Aulia.”
“Lalu, apa mungkin Kusno bakal mewarisi kekuatan itu?”
“Aku nggak tau juga, tapi mungkin aja. Yang pasti, keris Lonat memilih tuannya sendiri. Dulu begitu Aulia menghilang dan meninggalkan keris Lonat nggak ada yang bisa ngangkat keris itu dari atas meja. Banyak yang datang, namun mereka gagal. Lalu Arka datang, dia mengangkat keris itu dari meja kerja Aulia, kayak gampang banget! Setelah itu, keris berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam lengan kanan Arka.”
“Masuk gitu aja?”
__ADS_1
“Ya, kayak aku pas masuk ke dalam jantung kamu. Terus Arka melemah, dan jatuh pingsan. Orang-orang bilang, waktu Arka membuka matanya, dia melupakan semua orang yang ada di hadapannya. Ibu, ayah, istri dan anaknya. Tapi itu kata orang-orang.”
“Apa dia juga melupakan perang?” tanya Alan, dia mengangkat punggunya yang sedikit membungkuk. “Apa dia melupakan segalanya?”
“Nggak, tapi dia melupakan ada keris di dalam lengannya. Hingga istrinya memberitahu apa yang telah terjadi, lalu Arka mulai menyadari kekuatan dari keris itu.”
“Jadi gitu,” katanya. “Mungkin Arka terkena efek dari kekuatan keris Yonad.”
“L, o, n, a, t, Lonat!” Niken mengejakannya untuk Alan. “Arka terkena efek darikeris itu, semua ingatan tentang orang yang disayangnya menghilang.”
“Ya Lonat, tapi bukankah itu mengerikan, kita jadi melupakan orang-rang yang kita cintai.”
“Di mana orang tuamu Alan?”
“Mereka udah meninggal,” jawabnya. “Saat itu usiaku belum genap dua tahun.”
“Maaf.”
“Gapapa,” katanya. “Kakakku bilang, dulu kami mengalami kecelakaan mobil di jalan raya. Hanya kami berdua yang selamat di hari itu,” Lantas hal itu membuat Niken semakin tersadar akan perkataan Alan sebelumnya. Bahwa dia tidak ingin tinggal terpisah dari kakaknya. “Aku merindukannya.”
__ADS_1
“Av lei meisa nale,” ucap Niken.
“Apa artinya?”
“Aku juga merindukan orang tuaku,” jawab Niken. Dia sudah meneteskan air mata.
Dia nggak punya siapa-siapa lagi, Alan membatin begitu melihat Niken yang sudah mewek dan menangis. Air matanya terbias cahaya senja dan matanya berkaca. Wajah Alan ikutan sayu. Di depan mereka, langit mulai gelap,
mentari juga perlahan tenggelam di telan horison. Namun bersamaan dengan itu, cakrawala memancarkan cahaya jingga yang indah ke seluruh daratan dan pepohonan yang terlihat.
Seperti senja, ingatan mereka tentang kedua orangtuanya yang telah tiada, hilang berganti gelap. Tidak benar-benar gelap, mungkin ada gumpalan awan dan kilatan petir di sana, yang mungkin membuat mereka jadi merindukan senja.
Meski begitu, Alan tidak berani mengusap air mata yang menetes di wajah Niken. Bahkan kalimat jangan menangis masih tertahan di dalam mulutnya, dasar pecundang. Rintihan tangis Niken terdengar lebih dominan di antara suara burung yang berterbangan pulang ke sarang. Tidak beberapa lama kemudian, Niken berubah menjadi cahaya merah seperti biasa dan masuk ke dalam jantung Alan. Tinggalah kini Alan duduk sendirian menatap langit
yang sudah gelap, ada bulan di atasnya. Mungkin dia (bulan) yang membawa dingin.
*
Sekilas Alan melihat sorot mata yang menyala berwarna hijau dari ranting pohon jambu di halaman rumahnya. Kucing. Pikir Alan setelah melihat dengan samar sosok kucing berwarna hitam di balik dedaunan. Lalu kucing itu meloncat ke tanah dan berjalan ke luar pagar. Kucing berwarna hitam. Apa itu kucing yang sama? Alan membatin, memikirkan kejadian di pagi itu ketika dia di serang oleh kucing yang juga berwarna hitam.
__ADS_1
“Niken, kamu liat enggak?” lirih Alan bertanya, namun juga tidak berharap Niken menjawabnya melalui pikirannya, seperti yang sudah-sudah. Lalu kucing itu menghilang dari pandangannya, berlari pergi entah kemana.