Niken Areline

Niken Areline
Niken Areline


__ADS_3

    Di lantai dua kantor stasiun televisi Atomic Tegal, keduanya sedang duduk bersebelahan. Alan dan Nada nampak sibuk dengan pekerjaan mereka di mejanya masing-masing. Tumpukan berkas dokumen nampak menggunung di samping monitor. Tidak jauh berbeda seperti tumpukan piring kotor di dapur menjelang pesta, harus segera dibersihkan.


    Nada Emila adalah seorang wanita bermata sipit dan berkulit putih, rambut sebahunya dikuncir kuda dengan


poni miring ke kiri. Dia berteman dengan Alan sejak kecil dan, tanpa disengaja terjebak di satu kantor perusahaan yang sama.


    “Alan, sebenernya ada kejadian apa? Kak Vivi nggak mau cerita sama aku,” tanya Nada, dia menghentikan aktivitasnya sebentar dan menatap Alan.


    Sontak Alan menghentikan jemarinya yang dari tadi sibuk di atas keyboard, mungkin memindahkan data atau apapun. Dia menengok ke Nada, Alan tidak merasa terkejut, jelas pertanyaan itu akan dilontarkan oleh seorang


partner. “Umm, aku sendiri juga nggak tau Nad,” jawabnya. Jelas sekali dia tidak tahu harus dari mana untuk memulai ceritanya. Tidak mungkin dia bisa menceritakan hal mistis yang terjadi di hidupnya begitu saja, sekalipun kepada seorang sahabatnya.


    Lalu sesuatu terlintas di pikiran Alan tentang cerita kakaknya sore itu, saat Vivi menunjukan bola kaca yang sudah terbelah menjadi dua. *Kakak pikir ada wanita yang masuk ke tubuh kamu, kayaknya jahat! Tapi gimanapun, dia menyela kita malem itu. Dan kakak merasa, wanita itu berasal dari bola kaca *ini.


    “Gitu ya?” ucap Nada. “Tapi syukurlah kamu bisa siuman dan beraktivitas lagi,” dia tersenyum, membiarkan Alan menyimpan rahasia, wanita itu tahu, jelas-jelas tahu bahwa sahabatnya sedang merahasiakan sesuatu. Mungkin rahasia pertama di antara mereka.


    “Makasih Nad, bunga-bunganya,” ucap Alan. “Maaf sempet bikin kamu khawatir.”


    “Ya, Alan. Gak perlu minta maaf,” katanya. “Eh, bikin kopi yuk!” ajak Nada.


    “Ayok,” Alan tertarik, dia tersenyum.


    “Aku aja yang bikin,” ucap Nada sembari beranjak dari kursinya.


    “Kriiiim,” ucap mereka berdua berbarengan, seolah udah menjadi kebiasaan dalam ritualnya


membuat kopi.


    Nada berjalan meninggalkan meja kerjanya dan menuju ke dispenser, jaraknya sekitar sepuluh meter. Melewati beberapa karyawan yang tidak kalah sibuknya di balik bilik mejanya masing-masing. Sesampainya di depan dispenser, Wajah wanita berkuncir kuda itu merengut. Dia menyadari isi galon yang kosong. Artinya dia harus meminta seorang teman untuk membantu menggantikan dengan galon yang baru, tepat di bawahnya. Lengan kecilnya mungkin akan tersiksa jika harus mengangkat galon itu sendiri.


    Lantas Nada menengok ke sana kemari. Matanya berhenti kala dia melihat sosok Dimas (teman kerjanya) berjalan menghampiri. Penampilan Dimas selalu paling rapih dari karyawan lainnya. Rambutnya tersisir rapih ke samping. Matanya tajam dan alisnya tebal. Tak jarang dia menyapa rekan-rekan kerjanya dengan senyum yang berkharisma. Dimas mengenakan kemeja biru yang dilipat bagian lengannya dan, mengenakan jam


tangan berbahan perak yang mengkilap di pergelangan kirinnya. Aroma Bubble gum tercium wangi dari tubuh


Dimas yang atletis.


    “Sini aku bantuin,” ucap Dimas. Lantas Nada menyingkir dan mempersilahkan Dimas untuk membantunya. Dimas menaruh galon yang kosong dan menggantinya dengan yang baru. Kemudian dia mengelap galonnya dengan tisu yang ada. “Yup,” ucap Dimas sembari memberi senyum kepada Nada, lalu dia pergi lagi.


    Nada memperhatikan satu bekas cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri Dimas. Meski Dimas telah membantu Nada untuk mengganti galon, namun tidak ada ucapan terima kasih yang terdengar dari bibir tipis wanita itu. Wajahnya juga tidak berkamuflase menjadi senyum atau apapun yang enak di lihat. Dia tetap merengut


seperti anjing Pitt Bull. Bahkan mungkin, dia lupa untuk membuat kopi.


*


    Pagi ini Alan berlari memutari alun-alun kota. Satu hal yang selalu ia sempatkan setiap pagi sebelum jam kerjanya dimulai. Jantungnya memompa oksigen ke seluruh organ vital di dalam tubuh dengan baik. Alunan lagu Rap, menjadi pilihan untuk menemani. Udara yang bersih, terhirup menjelang matahari terbit. Sedikit dingin, namun


segar.


    Seekor kucing hitam berlari dari belakang. Rrrrrr! Kucing itu melompat dan menyerang


punggung Alan.


    “Aww!” gumam Alan, merasa sesuatu mencakarnya. Kucing? Pikir Alan.


    Kucing hitam itu terjatuh lalu pergi lagi, Alan melihatnya. Alan berhenti berlari, dia meraba bagian lengan belakang yang terasa perih, Benar saja, ada luka cakaran yang menggaris pendek berawarna merah. Tak lama kemudian, darah segar keluar dari luka itu. Astaga, Alan membatin.


    Lantas Alan menyingkir dari jalanan dan duduk menyandar di sebuah pohon Ek. Dia memperhatikan luka itu. Dalam hitungan detik, luka cakar di lengan tangan kirinya itu merapat dengan sendirinya. Menghapus tiga garis merah yang terasa perih. Lalu lenyap, seperti sulap recehan. Gimana


bisa? Pikirnya.


    Dia mengusap darahnya, lalu menyadari luka itu memang telah menghilang dan tidak terasa perih lagi. Dalam kebingungan itu, Alan mengingat sebuah kalimat: Luka di dadamu hilang! Ucapan kakaknya dua hari yang lalu. Lalu Alan melihat ke arah kucing hitam itu tadi berlari, sudah lenyap. Benar-benar sulap recehan.


*


    Gerimis mewarnai suasana senja. Gelap namun sedikit memerah di cakrawala sana. Vivi berdiri menyandar tembok berkeramik putih, sementara Alan sedang duduk di kursi rotan depan teras. Dia menggambar seorang wanita yang sedang duduk di ayunan sebuah pohon. Wanita itu berambut hitam panjang dan mengenakan mahkota kecil layaknya seorang putri. Mengenakan kebaya putih, bagian belakangnya panjang menyentuh tanah yang dipenuhi dedaunan kering berbentuk bintang. Satu hal yang membuat hidup lukisan di kertas buku gambar itu adalah, Si putri nampak sedang bersedih, arsiran dedaunan yang berguguran, menegaskannya.


    “Kamu kayak Logan,” ucap Vivi. Dia menanggapi cerita adiknya tentang luka yang cepat menghilang dari kejadian diserang oleh seekor kucing tadi pagi. Mungkin terdengar konyol, saat ada kucing yang tiba-tiba menyerang dari belakang. Sedangkan Logan, dia adalah salah satu tokoh super hero di komik Marvel. Dia mempunyai kekuatan untuk meregenerasi tubuhnya dari luka dan, sembuh dengan cepat. Vivi merasa sesuatu yang masuk ke dalam tubuh adiknya, telah mengambil peran dalam tubuh sang adik.


    Kekanak-kanakan memang untuk membandingkan apa yang sedang terjadi dengan tokoh fiktif komik super


terkenal. Namun, Vivi mengucapkannya setelah dia mencari kalimat yang baik agar tidak membuat adik atau dirinya merasa khawatir dengan hal mistis yang sedang terjadi. Dan, itu mungkin memang yang harus dilakukan oleh seorang kakak.

__ADS_1


    “Kak, kakak pernah mimpi ketemu orang sama berulang-ulang kali nggak?” tanya Alan mengalihkan perhatian, namun pandangannya masih tertuju pada lukisan di pangkuannya.


    “Kayaknya sih pernah, tapi mungkin enggak nyampe dua tiga hari,” jawabnya. “Kenapa


emang?"


    Selesai mengarsir rambut si wanita di lukisan, dia mengangkat dan menunjukan lukisan


itu kepada kakaknya.


    “Aku ketemu sama dia tiap malem, selama satu minggu terakhir.”


    Dengan seksama Vivi memperhatikan lukisan itu. “Dia temenmu?”


    “Bukan kak, aku juga nggak kenal.”


    Vivi merebut lukisan itu dari Alan, lalu memperhatikannya lagi, matanya melotot.


*


    Malam hari, deras hujan terdengar lebih dominan daripada detak jam di dinding. Di dalam kamarnya yang gelap, Alan memaksa selimut untuk memeluknya erat. Lantas dia memejamkan matanya dan perlahan menuju ke dalam alam bawah sadar.


    Manusia butuh sekitar lima hingga tujuh menit untuk tertidur dan tiba di alam bawah sadar. Di dalam mimpinya, Alan bertemu dengan sosok wanita berkebaya putih yang sedang duduk di ayunan sebuah pohon besar. Pohonnya aneh, daunnya berbentuk bintang dan berwarna emas. Sinar matahari membuat dedaunan itu nampak silau sebab, memantulkan gemerlap cahaya keemasan. Wanita itu duduk tanpa menggerakkan ayunannya. Diam seperti mayat.


    Dari depan, Alan berjalan menghampiri si wanita. Alan hanya mengenakan piyama tanpa alas kaki. Kakinya menginjak rerumputan kering dan tanah berbatu yang sedikit hangat. Kemudian, salah satu daun yang gugur, tertiup angin lalu hinggap di dada Alan. Alan memungutnya, dia ingat bahwa mimpi ini memang sudah terjadi


selama satu minggu berturut-turut. Namun, dia merasa bahwa mimpi ini belum pernah sampai hingga sejauh ini. Biasanya, ketika dia berjalan mendekati wanita itu, mimpi akan berakhir dan dia akan terbangun di malam hari.


    Namun tidak untuk kali ini, dia memegang daun itu dan melanjutkan langkahnya. Alan sudah berada sekitar tiga meter di depan wanita misterius. Dia juga mengenakan mahkota perak dengan batu berlian biru berbentuk hati. Rambut hitam panjangnya terhelai angin. Kalung emas dengan pernak-pernik berlian biru, menghiasi leher


hingga ke bagian belahan dada yang sedikit terlihat.


    “Hei,” Sapa Alan.


    Wanita itu menatap. Rautnya sedih, matanya berkaca, lalu dengan cepat dia mengusap air mata yang mungkin masih tersisa. Seolah terkejut menyadari seorang pria menyapanya.


    “Hei,” wanita itu membalasnya, dia mencoba tersenyum.


    “Niken,” jawabnya. “Niken Areline.”


    “Niken,” gumam Alan. “Kamu berasal dari mana? Kenapa selalu masuk ke mimpiku?”


    “Kana.”


    “Kana?”


    Lalu Niken mengangkat bahunya, dia mulai menjelaskan sesuatu yang mungkin akan sedikit rumit untuk didengar Alan. Niken merasa seperti hendak menaruh benang yang panjang dan kusut di dalam kepala pria itu, mungkin akan membuatnya kehilangan akal sehat.


    “Aku berasal dari dunia lain, kamu bisa menyebutnya Kana,” lantas Niken berdiri, ternyata tubuh Niken sedikit lebih tinggi dari Alan. Kedua kaki indah tanpa alas itu, melangkah mendekati Alan. Lalu Niken mengulurkan tangan kanannya dan menatap mata Alan. Alan menyadari bahwa wanita itu memiliki wajah kejawaan yang mempesona. Kedua bola matanya berwarna hitam, hidung yang mancung dan bibir sedikit tebal. Aroma melati menyengat dari tubuh Niken saat angin berhembus ke arah Alan.


    Cantik sekali, Alan membatin sekaligus merinding, bulu romanya berdiri.


    “Sentuh aja, kamu bakalan ngerti semuanya,” ajak Niken.


    Gluk, Alan menelan air liurnya sendiri. Lantaran takut dan gugup bercampur aduk. Alan termasuk sosok yang terbilang cupu di antara pria seusianya. Dia jarang sekali membaur dengan teman kerja atau kuliahnya, pergi ke pesta bahkan berkencan dengan seorang wanita. Alan lebih senang menghabiskan waktunya untuk menyendiri, memakan cemilan di rumah dan membaca beberapa novel horror terjemahan karya Stephen King, Robert


Lawrence Stine ataupun Anne Spollen.


    “Apa harus pegangan tangan?”


    Niken Areline menjawabnya dengan senyum dan menganggukan kepalanya. Lalu Alan menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Dia menjatuhkan daun emas yang dipegang, lalu dengan perlahan, Alan mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya sudah menuju ke jemari tangan kanan si putri cantik.


*


    Begitu menyentuh jari telunjuk Niken, Alan roboh dan tersungkur di tanah. Tumbang seperti pohon yang baru ditebang. Alan masuk ke tempat yang lebih dalam dari alam bawah sadarnya. Alan berdiri di suatu tempat beralas hitam putih, bak papan catur namun tanpa ujung. Di mana wanita itu? Dia membatin.


    Kemudian pemandangan di sekitarnya berganti, alas hitam putih itu menghilang, berganti dengan matahari


yang datang dengan cepat, batu bata merah tersusun dengan sendirinya menjadi sebuah tembok. Perabotan-perabotan mahal berbalut emas seperti guci, lukisan, meja dan kursi dengan ukiran batik, menempatkan dirinya di setiap sisi dalam ruangan. Semuanya bergerak sendiri, seolah benda-benda itu tahu di mana letaknya masing-masing. Ini sebuah rumah? Pikirnya begitu menyadari dia sedang berada di dalam sebuah ruangan. Lalu Alan  melihat sebuah jendela dengan pemandangan ke cakrawala. Begitu dia berjalan mendekat ke jendela, dia melihat sebuah Keraton kerajaan yang besar dengan para penjaga yang berdiri di setiap sudut. Semua penjaga itu


mengenakan jubah berwarna merah dengan tudung yang menutupi kepalanya. Dan selaras tombak yang mungkin sudah sedikit berkarat.

__ADS_1


    Daratan yang hijau dengan pepohonan yang rindang, serta burung-burung berterbangan di langit jingga. Apa ini masa lalu? Alan membatin. Sebab apa yang dilihatnya saat ini merupakan gambaran dari film klosal Indonesia yang


mungkin pernah ditontonnya di televisi.


    Tap, tap, tap, terdengar suara langkah yang gugup di belakangnya. Alan menengok, nampak seorang wanita paruh baya berpakaian kebaya cokelat dan rambut sanggul sedang berlari menuju ke pintu ruangan lain.


    “Hei,” panggil Alan.


    Wanita itu tidak mendengarnya, dia membuka pintu itu dan masuk, lalu menutupnya lagi. Alan penasaran, dia melangkah menuju ke pintu berwarna cokelat yang terlihat kokoh. Namun, sesampainya di sana, tangannya tidak bisa menggenggam daun pintu. Tangan Alan menembus daun pintu itu. Lantas dia memperhatikan setiap bagian


dari pintu. Apa aku bisa menembus melewatinya? Alan membatin, dia mulai melangkah ke depan.


    Slap, pertama kaki kanan Alan menembus masuk ke pintu, diikuti oleh seluruh badannya.


Sekarang dia tiba di dalam sebuah ruangan lainnya. Menembus masuk seperti hantu Casper. Di dalam ruangan itu, nampaklah beberapa wanita paruh baya sedang mengelilingi sebuah ranjang di dekat jendela. Enam, Alan menghitung jumlah wanita berkebaya cokelat itu. Mereka nampak sibuk menangani seorang wanita lain yang berbaring, nampaknya dia akan melahirkan. Dan, tangisan itu terdengar hingga memecah senja.


    “Ooaaaaaaaaaa,” tangis si bayi.


    “Perempuan!” ucap seorang wanita yang menggendong bayi itu. “Ratu, dia cantik banget. Sempurna!” dia menyodorkan bayi itu ke wanita di ranjang yang dipanggilnya ratu.


    Sang ratu tersenyum selagi air matanya terus menderas. Nafasnya mulai teratur setelah proses melahirkan terlewati. Kemudian, dia mencium kening bayi yang tak henti berteriak menangis, tali pusarnya belum dipotong.


    Alan memperhatikannya terus, wajahnya masih sedikit kebingungan. Lantas sesuatu nampak sedang dipikirkannya. Apa itu kamu?


    “Ya,” terdengar


suara Niken di telinga Alan.


    Sontak hal itu membuat Alan terkejut dan melihat kesana kemari.  Di mana kamu? Alan membatin. Rasanya mungkin seperti mendengar bisikan gaib, tapi memang itu adalah bisikan gaib.


    “Aku masih di ayunan, di bawah pohon Hirena. Pohon berdaun emas dan, kamu lagi ada di dalam pikiranku. Simak baik-baik biar bisa ngejawab pertanyaan kamu tentang aku,” ucap Niken.


    “Tapi, orang-orang ini pakek bahasa yang sama dengan bahasa yang biasa aku pakek?”


    “Itu karena sihirku bisa menerjemahkannya. Bahasa kita berbeda.”


    Jadi seperti ini cara dia menceritakannya. Pikir Alan.


    “Apa aku berada di masa lalu?”


    “Ya.”


    “Dua atau tiga ratus tahun yang lalu?”


    “Nggak, ini dua puluh tahun yang lalu.”


    “Hah?” Alan sempat kebingungan hingga dia tersadar bahwa ini bukanlah dunianya. Jadi bisa saja dunia tempat tinggal Niken Areline itu masih berbentuk kerajaan kuno seperti apa yang dilihatnya sekarang. “Sekarang duniamu masih kayak gini?”


    “Ya.”


    Ini adalah Kana, pikir Alan. Lalu, dari atap tempat tidur, ternyata ada satu ekor kelalawar yang dari tadi hinggap


di sana. Sekarang dia terbang mengelilingi semua orang, lalu pergi keluar jendela.


    “Kelelawar terbang keluar di siang hari?”


    “Itu adalah Renrena, sebuah sihir.”


    “Apa maksudnya?”


    “Kelelawar itu melihat proses kelahiranku, lalu akan menunjukannya kepada ayahku di dalam


singgasana.”


    “Jadi seperti kamera CCTV yang ada di duniaku?”


    “Bisa dibilang begitu.”


    "Kenapa ayahmu nggak dateng sendiri buat liat kelahiranmu?


    "Rumit, ini hari Aloan."

__ADS_1


__ADS_2