
Bulu roma Alan merinding melihatnya. Gluk, dia menelan ludahnya sendiri.
“Ooi” teriak Alan dengan wajah yang pucat.
Seperti petir, dengan cepat adrenalin merasuk ke tubuh Romi. Naluri membunuhnya datang begitu saja. Dia menarik tubuh Alan, menyeretnya ke dalam semak-semak.
Kuat sekali, Alan membatin merasakan tenaga dari pria asing yang terlanjur dianggapnya sebagai seorang penjahat. Romi melemparkan Alan begitu mudahnya ke rerumputan tinggi di balik semak. Lengan Alan mulai merah berluka tergores oleh duri atau ranting di sekitarnya. Alan terbaring menghadap pria yang telah berdiri di hadapannya. Golok tajam mengkilap di genggaman tangan kiri itu menjadi pusat perhatian Alan.
Jangan sedih, aku bisa jagain kamu, mendadak dia mengingat kalimatnya sendiri yang diucapkan semalam untuk Niken. Gimana aku bisa? Alan membatin, memikirkan betapa ketakutannya dia saat ini. Berhadapan dengan pria asing yang sudah jelas akan membunuhnya.
Tanpa sepatah kata, Romi mengayunkan goloknya ke Alan, dia mengarahkannya ke bagian kepala.
*
Setelah melewati belokan, Niken masih berlari. Namun, dia belum juga menemukan satu orangpun yang bisa ditanya, di mana ada tukang tambal ban? Sepanjang jalan hanya ada pepohonan dan sawah. Rumah pertama ada sedikit jauh di ujung pandangannya.
Tiba-tiba jantungnya terasa sakit dan kepalanya pusing. “Arrggh,” gumam Niken. Dia berhenti dan terjatuh. Lantas keluar asap hitam dari dalam jantung Niken yang kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya. Sihir bola kaca? Pikirnya.
Slap! Niken berubah menjadi bulatan cahaya kecil berwarna merah, lalu terbang melesat kembali ke arah Alan. Cepat seperti petir.
*
Trang! Mata golok yang tajam dan dingin itu patah seketika mengenai kepala Alan. Alan yang sempat memejamkan matanya, kembali membuka mata dan keherenan dengan apa yang terjadi. Namun, raut wajah Romi lebih terkejut. Ini bukan kali pertamanya Romi menebaskan golok ke kepala manusia. Dia dikejutkan dengan sebuah bulatan cahaya kecil berwarna merah yang melayang di sisi kepala Alan. Cahaya itu yang menangkis serangannya? Pikir Romi. Romi semakin panik dan mundur dua, tiga langkah, seketika melihat cahaya itu membesar dan berubah menjadi sosok seorang wanita.
Niken, berdiri menatap Romi. Romi menjatuhkan goloknya yang sudah patah. Niken menatapnya dengan penuh
amarah, tersirat dari bola matanya yang berwarna kuning menyala. Dan ekspresi
kesalnya.
“Kyaaaaaaaaaaaaaa!” Romi berteriak seperti wanita dan berlari tunggang langgang menerobos semak-semak.
Srak! Semua kuku di jemari kedua tangan Niken memanjang tajam. Alan memperhatikannya dengan seksama. Lalu tiba-tiba saja semua akar dari pepohonan di sekitarnya bergerak, seperti ular derik dengan jumlah yang banyak. Akar-akar itu bergerak mengejar Romi.
Alan merasa sesuatu yang buruk akan dilakukan oleh Niken. Dia segera memegang pergelangan kaki Niken.
“Udah!” ucap Alan.
Niken menengok ke bawahnya, dia menatap Alan tanpa merubah ekspresi marahnya. Sontak Alan melepaskan lagi pegangan tangannya di kaki Niken. Alan tidak merasa yakin bahwa sosok yang sedang menatapnya ini adalah Niken.
Lalu Niken membalikan badannya menghadap Alan. Perhatian Niken kini tertuju kepadanya, dia mencekik Alan dan mengangkatnya.
__ADS_1
“Argh,” keras Alan berteriak sembari memegangi tangan Niken yang begitu kuat.
Alan sekuat tenaga berusaha melepaskan cekikan Niken. Namun dia merasakan cekikan itu sangat kuat. Sangat kuat hingga Niken bisa mengangkat tubuh Alan hanya dengan mencekiknya saja.
Jika mereka masih mengganggumu, maka artinya mereka menggangguku juga, aku akan berusaha untuk melindungimu, ingatan tentang perkataan Alan di pesta malam itu, mendadak muncul di kepala Niken. Bersamaan dengan ketika Niken mencium bibir pria di hadapannya itu. Hal itu kemudian membuat cekikan Niken di leher Alan melemah. Melepaskannya dan membuat Alan jatuh duduk menyandar pohon.
Lantas bola mata kuning menyala itu menjadi redup dan padam, menjadi hitam. Wajah garang Niken berkamuflase menjadi seperti orang yang sedang kebingungan. Niken juga sempat menyadari kuku yang panjang di semua jemari tangannya, kini telah kembali pendek ke bentuknya semula. Wanita itu memegangi kedua kepalanya sendiri, menangis dan jatuh merungkuk di hadapan Alan. Sekilas Alan menyadari dengan apa yang telah terjadi. Kutukan itu menguasai Niken, pikir Alan.
Niken masih menangis, dia membenamkan kepalanya ke tanah, tidak peduli rambut dan pakaiannya akan kotor. Sementara Alan, dia masih mengatur nafas dan detak jantungnya yang sudah tidak karuan. Satu hal yang mereka berdua sadari kini adalah: Bahwa kutukan di dalam darah Niken menjadi satu momok yang patut dikhawatirkan untuk kedepannya.
*
Malam ini, keduanya duduk di atap rumah, tempat yang juga biasa digunakan untuk menjemur pakaian. Alan dan Niken duduk di lantai saling berhadapan. Niken mengenakan kebaya putih, sementara di belakangnya, separuh bulan nampak dari balik awan gelap yang membahu. Dan, Alan mengenakan piyama biru yang kusut, sementara di belakangnya, hanya ada langit mendung yang sedikit merah. Tentu saja ada yang harus dibicarakan di antara keduanya setelah kejadian tadi sore.
“Rasanya kayak sesuatu yang nggak bisa ditolak olehku,” ucap Niken, dia menceritakan sesuatu kekuatan yang tadi sempat mempengaruhinya.
“Apa yang bikin hal itu datang? Itu ngeri banget.”
“Entahlah,” jawab Niken memalingkan wajahnya dari pandangan Alan. “Apa kamu khawatir?”
“Ya,” jawab Alan ragu. Dia takut ucapannya mungkin terdengar seolah menghakimi Niken.
“Kutukan itu?”
“Ya, kekuatan dari kutukan itu,” katanya, lalu Niken kembali menatap Alan. “Tadi saat aku sadar, aku ketakutan udah berubah di hadapanmu. Aku bener-bener takut sampai nangis,” wajahnya sayu, sedikit mewek.
“Lalu gimana kutukan itu bisa berenti pengaruhin kamu?”
“Aku nggak yakin, mungkin karena bahaya atau semacamnya,” jawabnya.
“Tapi, kamu ngak apa-apa?”
“Ya aku nggak apa-apa,” jawab Niken. Padahal kamu yang berada dalam bahaya waktu itu, dasar begok. Dia membatin.
. “Syukurlah,” lalu Alan berdiri dan melangkah ke tepi atap. Melihat jalanan di depan rumahnya yang sepi. Ada sepeda motor matic hitam milik kak Vivi di halaman. Alan duduk di pinggiran. “Kak Vivi, dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku takut membahayakannya,” ucap Alan tanpa menatap Niken,dua detik kemudian dia baru menengok ke arah Niken yang masih duduk menatapnya.Menatapnya sangat dalam dengan kalimat yang penuh makna.
Niken merengut, dia bingung dengan apa yang harus dikatakannya.
“Aku juga memikirkannya,” ucap Niken. “Apa kamu mau tinggal terpisah dengan kakakmu?”
Alan diam memikirkannya, sekitar sepuluh detik hingga hembusan angin menerpa poninya, Alan berbalik menanyakan sesuatu.
__ADS_1
“Orang-orang di bumi berbeda, kami nggak punya kemampuan sihir untuk menjaga diri kayak kalian. Aku nggak mau jauh dari kakakku. Apalagi dia cewek. Gimana kalo kejadian kayak kedatangan Yudi malem itu terulang lagi?”
“Iya,” Niken menyadarinya sekaligus merasa gagasannya tentang tinggal terpisah merupakan hal yang salah. “Kalo gitu, aku pengin kamu melakukan sesuatu kalo kutukan itu menguasai tubuhku lagi.”
“Apa?”
“Lukai dirimu, gunakan sesuatu untuk melukai tubuhmu.”
“Hah? Maksudnya gimana?”
Niken berdiri, Berjalan mendekat ke arah Alan. Gaun panjangnya menyapu debu di lantai. Dia duduk di samping Alan menghadap ke halaman di bawahnya, pemandangan yang tadi di lihat Alan. Sementara Alan masih menatap wajah sang putri, menunggu penjelasannya tentang hal yang mungkin terdengar konyol. Melukai diri sendiri? Pikir Alan.
“Sihir bola kaca,” ucap Niken tanpa menatapnya. “Sihir bola kaca yang menyatukan aku dan kamu. Efeknya akan terus berkerja selama kita masih bersama. Tadi sore, tiba-tiba sihir itu datang dan memaksaku untuk berubah menjadi cahaya lalu terbang untuk menyelamatkanmu dari pria jahat itu. Meski aku sempat tidak terkendali, tapi pada akhirnya aku tetep nggak bisa lukain kamu,” Niken mulai menatap mata Alan. “ Dari situ aku berasumsi bahwa, kalo kamu dalam bahaya, atau kamu melukai dirimu sendiri, itu sama saja kamu melukaiku. Dan, efek dari sihir bola kaca akan memaksaku kembali ke tubuhmu. Menghalangimu untuk melukai dirimu, melukai kita.”
“Kalo aku terluka, maka kamu akan terluka juga?”
“Ya.”
“Kedengerennya nggak buruk, tapi aku juga nggak bisa menggantungkan keselamatan kakakku berdasarkan asumsi itu.”
“Gimana kalo kita berlatih?”
“Berlatih?”
“Ya, cobalah lukai dirimu sendiri, liat apa yang terjadi.”
Tik, tik, tik, gerimis menyentuh keduanya.
*
“Kita pasti udah gila,” ucap Alan. Dia melipat lengan panjang piyamanya lalu mengarahkan mata pisau ke punggung lengannya.
Mereka berdua duduk berhadapan di dalam kamar. Pintunya terkunci, mengingat sejauh ini Alan belum menceritakan tentang Niken kepada kakaknya. Lantas Alan memperhatikan Niken, dia sama sekali tidak berubah menjadi cahaya atau sesuatu yang sudah dijelaskannya.
“Kamu nggak serius,” tuduh Niken. “Lakuin aja, gores dikit kan nggak kenapa-kenapa.”
Emang bener lukaku sembuh waktu aku diserang sama kucing aneh, tapi tetep aja sakit. Alan membatin lalu kembali memperhatikan lengannya. Mengumpulkan keberanian sambil gemetaran. Terdiam beberapa detik, getaran di lengannya yang memegang pisau sudah berhenti. Nampaknya Alan sudah mulai tenang. Tatapannya benar-benar serius memandangi punggung lengannya yang sedikit berbulu dan, tajam mata pisau yang mengkilap.
Alan melakukannya, dia menggerakan pisau itu ke lengannya. Namun, sebelum sempat pisau itu menggores, dengan cepat Niken berubah menjadi bulatan cahaya kecil berwarna merah dan melesat menghalangi mata tajam pisau itu.
Alan menyadarinya, semua yang diduga Niken benar! Pikir Alan.
__ADS_1