
Selesai menjalani hari yang berat, Nina Enra membersihkan diri di dalam kamar mandinya. Pancuran air hangat dari bambu, mengguyur rambut hitam panjangnya. Kedua tangannya mulai membersihkan debu dan segala kotoran di tubuhnya. Lantas pandangannya tertuju kepada mahkota perak milik Niken yang dibawanya hingga ke kamar mandi. Mahkota itu berada di samping gayung.
Umm, ibuku, semua kebenarannya ada di sini, teringat perkataan Niken saat dia melepas mahkota lalu melemparkannya ke Nina. Ternyata Nina sedikit bisa memahami bahasa yang diucapkan oleh Niken. Lantas Nina memungut mahkota itu. Dia memegangi dan menatapnya. Mungkin berpikir, bagaimana benda seperti ini bisa menjelaskan sesuatu? Nina duduk di lantai kamar mandi yang basah dan hangat. Dia terus memegangi mahkota perak dengan berlian berbentuk hati di tengahnya. Percikan air sedikit mengenai tubuh dan mahkota itu.
Nina memperhatikan setiap sisi dari mahkota. Mencari sesuatu, mungkin saja ada semacam kode atau pesan yang terselip. Tapi Nina tidak menemukannya. Lalu dia membenamkan wajah di kedua lutut kakinya. Mengayun-ayunkan mahkota dengan malas menggunakan jemarinya. Saat ini pikirannya sudah sedikit tenang terkikis waktu. Tanpa sadar, Nina menaruh mahkota itu di atas kepalanya.
Tiba-tiba saja Nina terkejut, dengan mendadak dia mengangkat kepalanya dan mundur menyandar tembok. Mahkota perak itu terjatuh di sampingnya. Untuk sesaat dia melihat sebuah kejadian mengerikan, Nina melihat Baron dengan jubah serba putih sedang menutup wajah seorang wanita yang terbaring dengan menggunakan bantal. Wanita itu meronta-ronta di kasur dan berusaha melawan. Lalu penampakan itu lenyap ketika Nina terkejut dan menjatuhkan mahkota milik Niken.
Akhirnya Nina menyadari bagaimana cara mahkota itu berfungsi. Namun, jantungnya kembali berdebar sangat kencang. Sekali lagi, Nina memungut mahkota itu dan perlahan menaruhnya di atas kepala.
*
Baron, seorang pria yang digadang sebagai penyihir terkuat dari sembilan kerajaan, saat ini sedang berdiri menyendiri di pinggir tebing. Dia telah menyimpan rahasia atas pekerjaan kotornya. Sebelumnya, Baron telah menerima tugas dari ratu Serani untuk membunuh ratu Rahma. Dia jelas melakukannya dengan baik dan membuat semua orang menduga bahwa sang ratu bunuh diri. Hal itu jelas memicu perjanjian yang telah dibuat antara raja Darna dan raja Kusno. Di mana jika ibunda Niken Areline melakukan bunuh diri, seperti persis kutukan yang diucapkan Larem dulu, maka Niken Areline akan dihukum mati.
Semua itu demi takhta semata. Sebab, ratu Rahma adalah istri pertama dari raja Darna, maka Niken Areline menjadi ahli waris yang sah atas kerajaan Areyan nantinya. Namun, ratu Serani tidak bisa membayangkan hal itu sama sekali. Bagaimana mungkin sebuah kerajaan besar dipimpin oleh seorang putri yang memiliki kutukan jahat di dalam dirinya? Semua itu juga telah ada didalam kepala Baron saat ini. Namun, hal utama yang membuatnya tidak tenang adalah, Baron tidak bisa menemukan raja Darna dan sekarang dia mendengar kabar bahwa Niken Areline berhasil melarikan diri dari hukuman mati di kerajaan Tronatu.
Pada akhirnya Baron mendapatkan sebuah tugas baru dari ratu Serani. Sebuah tugas yang terbilang berat bagi seorang penyihir terkuat sekalipun. Berkaitan dengan mengorbankan sisa umur dan mempertaruhkan nyawanya. Kali ini Baron ditugaskan pergi ke Bumi untuk membunuh Niken Areline dan semua yang menghalanginya. Dia tidak bisa mundur bahkan menolak, semua sudah terlanjur terjadi. Tiba waktunya kesetian Baron terhadap ratu Serani kembali diuji.
*
__ADS_1
Alan, Vivi dan Niken, mereka menyewa sebuah Vila di daratan tinggi kabupaten Tegal. Vila dengan lokasi yang jaraknya jauh dari jalan utama ataupun Vila lainnya. Pagar kayu yang rendah, melingkar mengelilingi. Banyak pohon Cemara yang tumbuh di sekitarnya. Tungku perapian mengeluarkan asap, tanda api sedang menyala. Alan dan Vivi duduk menonton Netflix. Sementara Niken sudah masuk kembali ke dalam jantung Alan. Tubuh dan kekuatan Niken melemah setelah berpisah dari jantung Alan untuk waktu yang lama.
Terlebih, baru saja Niken menggunakan sihirnya secara besar-besaran untuk menukar banyak bebatuan dengan tumpukan uang rupiah pecahan seratus ribu dari sebuah bank. Prosesnya sama ketika Niken mengganti baju, hanya saja dia menggunakan batu untuk diganti dengan uang. Dengan uang itulah mereka menyewa Vila yang terbilang mewah ini. Setelah itu,
Niken Areline mengaktifkan dinding sihir yang tidak kasat mata melingkari rumah hingga ke luar pagar. Dinding sihir akan menahan segala sesuatu yang memiliki niat jahat. Awalnya Vivi menolak untuk menerima ajakan Niken meninggalkan rumah lamanya sementara waktu, namun setelah mendengar penjelasan bahwa ibunda Niken tidak bunuh diri tapi seseorang sudah membunuhnya dan berkemungkinan mereka akan terus berdatangan untuk mengincar nyawa Niken, Vivi menerima ajakannya.
*
Alan memahami betul perkataan dari mulut kakaknya. Dia tidak bisa mengelaknya, karena semua perkataannya benar. Lantas sesuatu terpikirkan oleh Alan, suatu kepedulian yang dimiliki Vivi untuknya atau untuk Niken. Seperti apapun itu, Vivi mau menuruti kemana adiknya pergi dan mematahkan keegoisan yang sempat diasumsikan oleh Alan untuknya. Lalu Alan kembali berpaling dan lanjut menonton film horor.
“Terima kasih kak,” ucap Alan.
*
__ADS_1
Pagi ini, Nina Enra sudah berpakaian rapih dengan jubah putih yang selalu dipakainya. Sebelumnya, dia sudah menawarkan sebuah interogasi lebih dalam lagi dengan disaksikan oleh raja Kusno dan seluruh anggota kerajaan lain di ruang singgasana. Permintaan itu disetujui langsung oleh Kusno sendiri.
Nina berjalan memasuki ruang singgasana dengan percaya diri. Badannya tegap dan langkahnya mantap berjalan di atas karpet merah. Di hadapannya sudah ada banyak anggota kerajaan, dari sang raja dan ratu yang duduk di singgasana, hingga penasihat dan seluruh menteri kerajaan Tronatu yang duduk berjajar di tepi karpet. Mungkin ada sekitar tiga puluh orang di dalam sini. Pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi akan menjadi bagian dari saksi sebuah kebenaran yang akan diungkapkan oleh wanita dari kerajaan pesisir.
Nina berdiri di tengah-tengah para menteri dan berhadapan lima meter dari singgasana. Pertama dia membuka tudungnya, merapikan rambut nya ke belakang telinga lalu bersujud di hadapan raja.
“Gloten, ame li wlane da sayet?”
“Bangunlah,” ucap Kusno. Nina berdiri lagi. “Apa yang ingin kamu katakan?”
“Virna il av drayet av gord, trate abol datle Rahma ine hirase tie deas. Tie deas havpa Niken Areline. Wlane gord uneta?”
“Maaf jika aku lancang tuanku,” jawabnya, lantas Nina mengambil mahkota milik Niken Areline dari dalam jubahnya dan menunjukannya kepada sang raja. “Kebenaran tentang kematian ratu Rahma berada di mahkota ini. Ini adalah mahkota milik Niken Areline. Maukah tuan memakainya?”
Semua orang terkejut dan berdiri menatap Nina. Hanya Kusno dan istrinya yang masih duduk dengan tenang. Lalu Kusno mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar semua orang kembali duduk. Mereka segera mematuhinya.
Beberapa saat kemudian Kusno berdiri, dia turun dari singgasananya. Istrinya memegangi tangan Kusno, dengan wajah sayu, dia ingin agar Kusno berhati-hati. Lantas Kusno menenangkannya, memastikan semuanya akan baik-baik saja. Kusno berjalan mendekat ke Nina Enra, Nina langsung jongkok merunduk begitu Kusno berada di hadapannya. Wanita itu mengangkat mahkota milik Niken, menyodorkannya kepada sang raja.
Kusno memungut mahkota itu, segera Nina mengepalkan tangan kanannya ke dadanya sendiri. Sebagai tanda bahwa apa yang dilakukannya berdasarkan kesetiaan dan kepatuhannya. Sambil memegang mahkota perak milik Niken, Kusno berjalan pelan mengitari Nina. Lalu Kusno mulai menceritakan sesuatu kepada semua orang yang hadir di ruang singgasana ini.
“Belon, av nev fiterisen eita gord Darna. Darna guyined av tropane, evel nihet, darna tron ona bliceta ine evel groz ave slinet. Thema sayet, tie bliceta cane cone tof hapre, il da tune og mifsate eita trate, da wila wathen ame ir li bliceta wathen lone nihet.”
“Dulu, aku pernah berperang bersama dengan raja Darna. Saat itu dia adalah pemimpin batalionku. Setiap malam, dia selalu menaruh satu ekor kelelawar di setiap tenda tempat kami beristirahat. Orang bilang, kelelawar itu bisa masuk ke dalam sebuah benda, dan jika kau menyentuh atau menggunakan benda itu dengan benar, maka kau akan melihat apa saja yang dilihat kelelawar itu di sepanjang malam.”
Lantas Kusno melepas mahkota emas yang sedang dipakainya, kemudian mengganti dengan mahkota perak milik Niken. Segera, Kusno dihadapkan dengan pemandangan di dalam sebuah kamar. Dengan sudut pandang dari atas, Kusno melihat Baron sedang menutup wajah seorang perempuan yang dia duga adalah ratu Rahma. Rahma meronta, namun tenaga Baron jelas jauh lebih kuat. Hingga beberapa menit kemudian, ratu Rahma melemas, kaki dan tangannya terkapar. Setelah memastikan kematiannya, Baron mengangat bantal itu.
Nampaklah wajah sang ratu yang sudah meninggal dengan mulut dan mata terbuka. Tidak berhenti di situ, Baron mengeluarkan sebuah tali dan menggantungkannya di atap. Setelah itu Baron mengangkat tubuh sang ratu yang sudah tidak bernyawa, dan menggantungkan lehernya di tali yang sudah dibentuk simpul. Tidak ketinggalan, dia menempatkan kursi yang terbaring di bawah kaki ratu yang mengambang. Semuanya dibuat seolah sang ratu membunuh dirinya sendiri. Kemudian Baron meninggalkan kamar dengan merubah dirinya menjadi sebuah burung gagak, lalu keluar dari jendela kamar yang terbuka separuh.
Elan melepaskan mahkota Niken dari kepalanya. Wajahnya nampak terkejut dengan apa yang baru saja di lihatnya. Semua orang di dalam ruangan memandanginya dengan penuh penasaran, kecuali Nina Enra. Setelah itu, Kusno menyuruh semua orang yang berada di dalam ruangan untuk mengenakan mahkota itu secara bergantian. Surat keputusan pun segera dibuat, penangkapan ratu Serani yang diketahui adalah atasan Baron, penangkapan Baron dan, pembatalan eksekusi hukuman mati terhadap Niken Areline.
__ADS_1