Niken Areline

Niken Areline
Aulia


__ADS_3

    Setelah kematian Ratu Rahma Areline (ibunda Niken), raja Darna (ayahnya) dibawa ke suatu tempat terpencil oleh Jaka. Itu adalah perintah dari sang raja sendiri, dia memerintahkan Jaka untuk mengamankan dirinya, jika suatu hari nanti kalimat dari kutukan Larem mulai terjadi. Salah satunya adalah kematian sang ratu. Karena bukan tidak mungkin segala hal buruk terjadi setelah seseorang memahami perjanjian atas kutukan di dalam diri Niken. Misalnya percobaan kudeta.


    Lantas, kerajaan Areyan saat ini di pimpin oleh istri keduanya, yaitu ratu Serani. Dalam kekuasaannya, Serani menjalin aliansi yang lebih intens dengan kerajaan Tronatu. Sang ratu membiarkan raja Kusno (pemimpin Tronatu) untuk menambang batu Metta yang mungkin masih tersisa di wilayah Areyan. Jelas mereka bermaksud membuat


berbagai senjata penangkal sihir untuk mengalahkan Niken. Mengalahkan kutukan yang telah lahir setelah dua ratus tahun lamanya.


    Di dalam ruangan yang bercahaya lilin, Ratu Serani berjongkok di hadapan lukisan Yudi, putranya yang telah meninggal oleh Niken. Di belakang lukisan yang berbunga itu, terdapat sebuah patung wanita berambut panjang seukuran manusia normal. Patung wanita berwarna putih itu sedang berdiri tegap mengangkat sebuah keris yang menusuk langit. Wajahnya memandang ke atas penuh keberanian.


    Ratu Serani menundukan kepala dan merapatkan jemari kedua tangannya. Dengan wajah sedih, sang ratu berdoa hingga meneteskan air mata.


    “Aulia av gorenia, floena av Govret, gaf alore fictera. Fom av proled, fom Areyan si av gred.”

__ADS_1


    “Aulia dewiku, utusan Tuhanku, beri kami kemenangan. Demi anakku, demi kerajaan dan duniaku.”


    Setelah doa itu, ratu Serani berdiri. Dia membakar arang di wadah yang terbuat dari tanah liat sebagai ritual dalam keyakinannya. Menaburkan bunga melati di atasnya. Harumnya tercium hingga keluar ruangan. Dua orang penjaga di luar pintu, menundukan kepalanya. ikut merasakan kesedihan sang ratu.


*


    Sehari berlalu, Alan menjalaninya tanpa Niken. Pria itu begitu lesu dan tidak semangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Julia Nada khawatir, namun wanita itu jelas tidak bisa berbuat banyak. Mata Alan berkantung, mungkin semalaman dia nggak tidur, pikir Nada.


    Bahkan ketika di kampus, saat jam pelajaran kosong, Alan duduk di bangku lapangan basket. Menonton dua tim yang sedang bertanding. Namun, dia jelas tidak mempedulikan bahkan menghitung berapa skornya. Alan duduk di bangku paling depan, penontonnya tidak begitu ramai, namun suaranya riuh. Alan terus memikirkan Niken. Membuatnya lupa untuk makan malam, atau bahkan malas.


    “Aku kira kamu lagi kuliah?” tanya Nada.

__ADS_1


    “Aku masih di kampus kok, nggak ada dosen.


    “Sorry aku call, aku suka khawatir sama sahabat yang lagi patah hati. Hahaha,” Nada mencoba melawak, mungkin ingin melihat sahabatnya tersenyum. Dan dia mendapatkannya, senyum sedikit merekah dari bibir Alan.


    “Aku baik-baik aja.”


    “Kamu udah makan? “


     “Umm,”


    Tiba-tiba tangan kiri Alan bergerak dengan sendirinya, dengan gerakan cepat Alan menangkap sebuah bola basket yang hampir mengenai kepalanya. Alan terkejut, saat perhatiannya tertuju ke bola itu. Bahkan dia tidak menyadari seberapa cepat bola basket menuju ke arahnya. Di bawah ring, beberapa pemain yang sedang bertanding itu melihat Alan sambil menutup mulutnya. Mungkin mereka takut bola itu mengenai kepala Alan. Beberapa penonton juga sempat berteriak histeris.

__ADS_1


    Si pemain, yang sudah melempar bola basket dan hampir mengenai kepala Alan, dia berlari menghampiri untuk mengambil bola dan mungkin meminta maaf. Namun, sebelum sempat sampai di hadapan Alan. Bang! Tiba-tiba saja bola basket itu meledak oleh cengkraman Alan yang sangat kuat. Semua orang kaget dan berteriak untuk kedua kalinya.


    Tangan kiri Alan gemetaran, si pria pemain basket berhenti dari langkahnya. Alan memperhatikan tangan kirinya sendiri sekaligus mengabaikan Julia Nada di seberang panggilan. Kenapa ini? Alan membatin. Padahal Niken udah nggak ada di jantungku lagi.


__ADS_2