
“Jadi, kakak dari pria itu meninggal demi menyelamatkan mereka berdua?” tanya Dimas setelah Aulia menceritakan keseluruhan kejadian, akar hingga buah dari kutukan kekuatan sihir jahat itu.
“Ya,” katanya. “Dan, sekarang kekuatan sihir jahat itu terbagi menjadi dua. Sang putri memiliki separuh dan si pria malang memiliki separuhnya lagi. Tapi sayangnya, kekuatan sihir dan kutukan jahat itu menjadi lebih hidup dalam perasaan benci, dendam dan amarah. Bahkan mungkin akan terus menguat. Dan, semua perasaan itu telah muncul di dalam hati si pria malang. Kematian kakaknya membuat lubang yang sangat bersar di dalam hatinya.”
“Jadi aku harus mencari tahu di mana si pria itu?”
“Nggak, kamu udah tahu di mana dia.”
“Apa maksudmu? Memangnya siapa pria itu?”
“Alan Wisanggeni.”
“Alan? Astaga! Jadi yang meninggal adalah kak Vivi?” Dimas terkejut begitu mendengar nama yang disebutkan Aulia. “Nggak, nggak mungkin aku bisa nyakitin apalagi buat bunuh Alan!”
“Itu terserah kamu, pilihanmu yang menjadikan kamu seorang kesatria.”
*
Zrat! Zrat! Kilatan petir dari awan yang menggumpal sesekali menyambar tubuhnya. Dari lubang portal di atas awan, Alan melesat terjun ke bawah dengan cepat. Bola matanya berwarna kuning menyala, bajunya terbakar oleh atmosfer Kana. Dari kejauhan, dia melesat turun bak meteor. Di bawahnya sudah terlihat keraton kerajaan Tornatu yang menyala di malam hari.
Baaaammm! Alan mendarat dengan keras dan menciptakan suara ledakan yang menggelegar. Lubang luas juga terbentuk di area pendaratannya. Sekarang dia sudah berdiri di tengah-tengah tebalnya debu. Bajunya hangus tak tersisa, hanya celana milik seorang pemadam kebakaran yang dia curi di toilet umum. Alan mendarat tepat di halaman belakang kerajaan Tornatu. Lantas dia berjongkok, memasang kuda-kuda seolah dirinya adalah pelari profesional. Satu per satu para penjaga berbaris di depan pintu belakang keraton. Mereka menghunuskan tombak-tombaknya yang tajam dan mengkilap.
__ADS_1
Namun, bukanlah keraton yang Alan tuju. Melainkan sebuah gerbang lain yang berada di sisi kanannya. Gerbang yang menuju ruang bawah tanah, hanya ada empat orang penjaga yang berdiri di depan gerbang itu. Mereka menghunuskan tombak. Tapi jelas sekali itu bukanlah masalah bagi Alan yang sekarang.
Dengan cepat, Alan berlari seperti peluru yang ditembakan melewati para penjaga begitu mudah. Waktu terlihat melambat dalam kecepatan geraknya. Bak meriam, Alan menghancurkan pintu gerbang dan menembus masuk ke dalamnya. Dia terus berlari menyusuri panjangnya koridor di antara kamar-kamar jeruji besi. Aroma tubuh Baron semakin mengental, Alan mengenduskan hidungnya untuk menghirup aroma Lavendel khas yang di miliki oleh Baron. Aroma itu berasal dari sebuah pintu jeruji yang berada di ujung koridor.
Sraaaak! Alan berhenti dan memegang jeruji besi. Nampaklah Baron di dalam sana sedang menatapnya terkejut.
*
Baron membuka kedua mata, ikatan borgol batu Metta sudah terlepas dari pergelangan tangannya. Dia sedang duduk berhadapan dengan potongan daging di lantai. Seonggok daging yang biasa dimakannya untuk berubah menjadi monster. Daging itu bergerakgerak seperti denyut jantung. Lantas Baron melihat keadaan di sekitarnya. Saat ini dia sedang berada di dalam ruangan yang luas dan serba putih. Dindingnya terbuat dari beton. Tidak ada jendela, hanya sebuah pintu besi berwarna hitam di hadapannya. Mungkin ruangan bawah tanah. Baron sudah merasa bahwa dirinya telah dibawa ke Bumi oleh Alan.
“Berubahlah, nikmati pertarungan terakhirmu.”
Baron melahap danging itu. Untuk ketiga kalinya, dia berubah menjadi monster lagi di hadapan Alan. Matanya menyala merah, taringnya berliur. Badannya membesar dua kali lipat. Baron berlari dengan kencang dan menerkam Alan.
Duag! Alan memukul tepat di ulu hati, di bawah tulang rusuk Baron.
“Hoeek!” Baron memuntahkan darah. Lantas dia kesakitan dan berguling di lantai memegang perutnya. “Arrrrggghhh!!” lirih Baron nyaris tidak bisa bersuara.
Lantas Alan menindih badan Baron dan mencekik lehernya, lutut kakinya menahan dada Baron. “BANGSAT! NGAPAIN BUNUH KAKAKKU?!”
Alan meluapkan amarah dan kesedihannya. Secara instan kedua bola matanya berubah menjadi berwarna kuning menyala. Baron meronta berusaha melepas dan melawan Alan, namun dia tidak bisa. Lalu, dari jemari tangan Alan yang mencekik leher Baron, keluar kuku-kuku tajam yang langsung menembus tenggorokan.
__ADS_1
“Craassh.”
*
Setelah membunuh Baron, Alan duduk di sudut tembok. Matanya menatap lantai yang bersih, tidak ada lagi mayat Baron di sana. Sama seperti kejadian saat Yudi mati di dalam rumahnya, di malam ketika dia menyerang Vivi. Mayatnya langsung menguap dan hilang begitu saja. Seperti setetes air di atas penggorengan. Mungkin memang begitulah cara kerjanya, seseorang dari dunia yang berbeda, saat meninggal di sini mayatnya akan lenyap.
Sesuatu mengacaukan pikirannya, kawat berduri itu benar-benar ada di dalam kepala. Mungkin dia bisa saja kehilangan akal sehatnya. Alan membenamkan wajahnya di antara lutut. Dia menyadari akan kekuatan yang dimilikinya. Namun, justru karena kekuatan itulah Alan memilih untuk tinggal menjauh dari kehidupan lamanya. Alan sadar ini adalah sebuah kutukan yang bisa membuat dirinya menggila. Dia tidak mau menanggung resiko untuk melukai orang-orang terdekatnya, terutama Julia Nada.
*
Tok,tok! Pintu kayu itu berbunyi. Seseorang mengetuknya dari luar. Alan berjalan sembari membersihkan tubuh dan memakai kaos oblong berwarna hitam. Dia mengusap air matanya dan menarik celana Denim yang sedikit melorot. Alan membuka pintu tanpa melihat terlebih dulu siapa orang yang berada di luar sana dari lubang kaca.
“Alan,” sapa Dimas.
__ADS_1
Dia berdiri di luar pintu apartement Alan. Mengenakan Tuxedo hitam dan rambut yang tersisir rapih ke samping. Aroma parum Bubble Gum tercium dari tubuhnya.