
"Hemm ... sepertinya aku sedikit beruntung. Karena kedatangan kolega pak Darren, siang ini aku tidak harus memasak!" Ranti yang sedang duduk di kursi kerjanya membatin bahagia.
Nicko, Ricky dan seorang teman nya lagi, Teddy masuk keruangan Darren bermaksud menyambut Bram bersama. Mungkin lebih tepatnya berjaga-jaga.
"Kenapa kalian kesini?". Darren terkejut dengan kedatangan para sahabatnya itu dengan tampilan yang lebih necis dari biasanya.
"Kan Bram mau kesini. Jadi kami disini buat jaga kamu," Ricky menjelaskan.
"Kalian kira aku anak kecil? Sudah sana balik ke perusahaan kalian. kerja!" Darren kesal dengan dua sahabatnya itu, yang menurutnya sering menempel padanya. Meskipun dalam konteks yang baik.
"Kami akan kembali ke kantor setelah Bram pergi. Kami di ruang sebelah," kini giliran Teddy yang angkat bicara. Manusia dengan karakter yang sama dengan Darren. Tak banyak bicara dan keras kepala.
"Engm ... selama kalian tidak berulah."
"Emangnya mau berulah apa? Heeeh ... dasar!" timpal Ricky tidak terima.
"Nicko kamu disini aja. Kamu kan asistennya." Perintah Teddy.
"Oke," jawab Nicko.
"Engm ... (Pengaturan yang lumayan)," Darren.
Ricky dan Teddy keluar dari ruangan Darren dan masuk ke ruangan di sebelah kantor Darren. Mereka tetap berjaga jika situasi diluar kendali. Meski Bram adalah rekan bisnis yang baik perusahaan mereka.
*****
__ADS_1
Selama ini, Bram adalah rekan bisnis PT. TM dimana Ricky menjabat sebagai COE. Namun sebagian besar saham dari perusahaan itu adalah milik Darren. Selain PT. TM, Bram juga salah satu clien di PT. HDC yang pegang Teddy. Pun sama, saham terbesar nya adalah milik Darren. Sebelum rekanan, Bram sebagai pengusaha juga mencari tahu tentang perusahan yang akan dia ajak kerjasama tentunya. Saat itulah muncul nama Darren sebagai pemegang saham terbesar.
Bahkan Bram juga menemukan nama Darren di beberapa perusahaan menengah lain. Hal itu menjadikan rasa penasarannya semakin besar. Karena dengan sumber dayanya sebagai pimpinan group MULIA, Bram tetap tidak bisa mendapatkan informasi apapun tentang Darren. Sosok yang menurutnya misterius.
"Apakah Darren ini, adalah Darren yang aku cari?" Rasa penasaran yang besar terus mengganggunya. Brampun memerintah orangnya untuk terus mengawasi Darren. Sampai akhirnya dia diperusahaan kecil ini, tempat dimana Darren menjadi CEO nya.
*****
Dengan memasang wajah ramah, Darren dan orangnya menyambut Bram di kantornya.
"Hallo ... Senang bertemu. Belum pernah sebelumnya kan? Saya Darren," Salam Darren dengan ramah dan bersahabat.
"Bram. Maaf saya mengganggu waktu berharga anda tuan Darren ... " menyambut tangan Darren yang terulur.
"Ahhh ... tidak, saya yang tersanjung. Seorang pimpinan group raksasa seperti anda, mau datang ke gubuk kecil ini ... Mari silahkan duduk. Maaf, saya hanya menjamu anda di ruang kantor saya."
"Pak Darren benar- benar membuat saya penasaran. Seorang pemegang saham terbesar dari 2 perusaahaan maju tapi saya belum pernah bertemu sekalipun. Kenapa anda memilih memimpin perusahaan ini?".
"Bukan hal yang serius. Karna saya bukan orang yang rajin saja. Saya tipe pemalas .. he he hee ..."
"Pak Darren pandai merendah. Meski begitu, bagaimana mungkin kita belum pernah bertemu dalam acara sosial manapun?. Secara, Pak Darren pemilik saham terbesar sebuah perusahaan?". Sebersit ketertarikan kuat nampak jelas pada tatapan Bram, meski hanya sekilas.
"Bukan hal khusus juga. Hanya karna saya suka ketenangan. Untuk hal itu saya wakilkan pada Nicko, yang lebih cakap ... "Nicko pun mengangukkan kepala membenarkan pernyataan bosnya.
"Emmm ... saya jadi tahu standart orang hebat ... " Mereka pun tergelak bersama.
__ADS_1
"Saya ada proyek, dan saya sangat ingin Pak Darren yang menanganinya. Bukan nilai yang besar untuk Pak Darren, tapi saya sangat berharap Pak Darren menyetujuinya."
Alfin mengeluarkan dokumen dari tas kerjanya dan di serahkan kepada Bram, yang lanjut serahkan kepada Darren oleh Bram sendiri.
"Wow ... nilai yang fantastis untuk perusahaan kecil seperti ini Pak Bram. Apa Pak Bram tidak mencoba menawarkan ke perusahaan yang lebih besar dan lebih terpercaya?! Ini 20M Pak Bram! coba anda timbang kembali ... "
"Saya sangat yakin, Pak Darren adalah yang terbaik untuk proyek ini."
"Maaf Pak Bram. Perusahaan ini hanya perusahaan kecil. Saya juga baru 2 bulan disini. Saya dengan berat hati mengakui, belum memiliki orang yang saya angap mampu menangani proyek ini."
Tapi sekeras apapun Darren menolak, maka sekeras itu juga Bram membujuk.
Bukankah begitu sifat seorang yang sukses? Pantang menyerah!
Perbincanganpun terus berlanjut. Di tengah perbincangan itu, Alfin undur diri ke kamar mandi. Dia berjalan mendekat ke arah Ranti. Mungkin bertanya letak kamar mandi dan Ranti menunjukkan dengan sopan dan mengantarkan sampai luar ruangan. Karena Ranti ikut keluar ruangan bersama Alfin. Setidaknya begitulah menurut Nicko.
Nicko pun mengambil ponselnya dan melaporkan hal itu di group chat "sahabat" itu dengan tenang agar tidak menarik perhatian Bram. Karna tidak menutup kemungkinkan Alfin dan bosnya punya rencana lain bukan? Waspada, tidak ada salahnya .
******
Selanjutnya adaapa ya...???
Penasaran gak readers..?
__ADS_1
Like, love n vote nya ya 😇