
Ranti terdiam cukup lama, masih dengan panggilan yang tersambung di telingganya. Terlalu banyak yang ingin dia luapkan. Marah, kecewa, ingin memaki tapi semua katanya tertahan dan berjubel di tenggorokannya. Tak ada satu patahpun yang berhasil terucap hingga terasa menggondok. Kemarahan itu juga memunculkan rasa panas dihatinya. Akhirnya Ranti memutus sambungan panggilan itu.
Kleck..
Tangannya terjatuh seperti tak bertenaga. Tanpa sadar, peralahan giginya mengerat semakin keras hingga bergelutuk. Diremas kemudian dia lempar ponselnya ke atas kasur. Nafasnya semakin memburu. Air matanya terjatuh tanpa dia berkedip.
"*Breng*k! Pengecut! Sekarang kamu mencariku? Mau apa lagi kamu!" Ranti berapi-api.
"Setelah semuanya ... dia muncul?. Gila ... Dia memang orang gila ... Orang gila yang tidak punya hati .... "
Cukup lama Ranti bergelut dengan emosinya. Akhirnya dia mengambil kembali ponselnya dan memblokir nomor itu. Dia tidak mau lagi berhubungan dengan pengecut itu. Bayu, mantan suaminya.
****
Tiin
Klakson ringan seperti biasa, Ranti keluar rumah dan segera masuk kedalam mobil.
"Mas Dani, Pak Darren gak ngantor hari ini?"
"Enggak mbak, mungkin ada kerjaan di kantor lain." Jawab Dani ramah.
"Ooh ... ya sudah, yuk jalan!" yang dijawab anggukan oleh Dani dan mobil mulai melaju.
Tringg...
"Aku gak ke kantor. Kalau kangen, nanti siang biar diantar Dani kerumah."
Begitulah isi chat yang masuk ke phonsel Ranti. Ranti membalas nya dengan emoticon, sebuah gambar wajah yang sedang memutar matanya.
Triingg...
" Sudah mulai berani? Nanti siang ke rumah. Layani aku!"
Chat dari Darren lagi. Ranti belum membalas, sudah ada chat lain yang masuk.
"Tidak ada penolakan! Apalagi ALASAN!"
Ranti langsung menyimpan phonselnya. Tidak ada yang perlu dijawab bukan?
Sepanjang perjalanan ke kantor, Ranti tidak berkata apa-apa lagi. Semalam sudah tidak menyenangkan, dan harus ditambah dengan hari ini, harus mengurus suaminya yang menyebalkan. Jadi siapapun jangan tanyakan semangatnya pagi ini.
Sampai di gedung kantornya, Ranti melangkah ke lift khusus. Tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu.
"Lift karyawan!"
Ranti sedikit berlari menuju lift karyawan yang berjarak lumayan jauh dengannya. Dia terus tersenyum tanpa sadar.
Hal kecil ini membuat nya bahagia.
"Hallo ... selamat pagi semuanya ... " Ranti menyapa beberapa karyawan yang sedang menunggu lift dengan terengah dan terlalu bersemangat.
"Oh, selamat pagi Bu Ranti .... "
"Selamat pagi ... " jawab beberapa karyawan hampir bersamaan.
Ranti tidak mengenal satu orangpun jadi dia tidak berbincang banyak. Sampai Anne tiba-tiba menepuknya.
"Wah! benar bu Ranti ... mana pak Bos?" tanya Anne sambil celingukan.
"Hari ini gak kekantor. Kecewa? He.. he.. he .... "
"Hemm, dikiiit ... masih ada pak Nicko, lumayan ... buat cuci mata ... " Dan Annepun cekikian.
Tapi Ranti hanya tersenyum getir, tepatnya meringis. Matanya menatap kebelakang Anne. Anne yang tidak mendapat respon selayaknya, segera melihat Ranti dan ikut menatap kebelakangnya. Dan dia menjadi pucat seketika!
Nicko menatap dingin pada Anne yang saat ini sedang melotot dengan mulut yang terbuka.
"Bu Ranti, Anda tidak di perkenankan untuk naik lift karyawan."
Kata-katanya jelas di tujukan kepada Ranti. Namun matanya tetap menatap tajam pada Anne yang sekarang menutup mulutnya dengan tangan. Nicko justru tambah memicingkan matanya, seolah Anne adalah titik target. Anne yang mulai tersadar. berpindah ke belakang tubuh Ranti.
"Maaf, Pak Nicko ... " katanya dengan suara lirih.
"Emng ... mari Bu Ranti." Nickopun mengarahkan Ranti untuk mengikutinya kembali ke lift khusus.
"Aku duluan ya, Anne ... " Ranti berpamitan dengan tidak rela.
" Iya, Bu Ranti ... " jawab Anne lirih dengan meringis. Bagaimana tidak, tatapan belati itu masih menancap padanya.
Dengan berat hati Ranti mengikuti langkah Nicko. Wajahnya kembali murung. Semangat dan kebahagiaan kecilnya, hilanglah sudah.
__ADS_1
***
Ranti menyelesaikan tugasnya seperti biasa. Pekerjaan yang tidak rumit dan cenderung remeh untuk jabatannya saat ini. Namun Ranti tetap menikmatinya, mengecek setiap detail dengan teliti. Ranti tetap bersyukur, pekerjaannya saat ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa di raihnya. Hingga tak terasa waktu sudah siang.
Tokk tokk tokk
"Masuk ...."
"Maaf, Bu Ranti. Pak Darren meminta saya untuk mengantar Bu Ranti ke rumah sekarang."
"Heeehh ... " menghela nafas,"Oke. Tunggu sebentar ya, Dan ..." Ranti segera bersiap dan turun dengan Dani.
****
Mobil mewah itu perlahan memasuki rumah mewah yang dipagari pohon-pohon yang menjulang tinggi. Ranti turun dari mobil dan sudah disambut oleh Darren. Darren tersenyum, terlihat bahagia. Dia tampak tampan dan segar dengan kaos dan celana sport panjang. Entah karena sinar matahari yang terlalu terang atau mata Ranti yang silau. Dia melihat Darren hari ini berbeda, seperti... bercahaya dan sangat tampan.
"Baru gak ketemu beberapa jam ... rasanya sudah sekangen ini!" Darren membatin sendiri dan menggingit bibir bawahnya.
"Ayo bernafas, bernafas ... " Darren mencoba menenangkan dirinya, karena jantungnya berdebar semakin kencang dan perutnya berdesir, membuatnya jadi gugup.
"Ehmm ... " Ranti mencoba menyadarkan dirinya yang untuk beberapa detik terhipnotis oleh penyihir di seberang sana.
Ranti berjalan mendekat." Pak Darren, sedang butuh sesuatu?"
"He.. he.. hee ... tentu! Dan akan selalu butuh ... sudah siap?"
"Mau menu apa hari ini?"
"He.. he ... istriku yang berbakti. Tapi tidak, kita makan saja bi Imah sudah menyiapkannya."
"Baik."
Mereka berjalan ke arah ruang makan.
"Maaf, saya permisi ke kamar kecil dulu." Ranti sangat sopan, berusaha menjaga jarak dengan suaminya, seolah mereka hanya karyawan dan bos.
"Hanya yang ada dikamar kita. Pakai yang disana, selain itu terlarang buat kamu!" Nada yang tegas, jelas tidak menerima penolakan.
Ranti hanya menatapnya tanpa bicara. Dimatanya jelas terlihat keluhan yang besar, dia menatap Darren dengan sedikit mengeratkan giginya lalu melangkah menuju kamar atas.
Ranti sudah selesai dengan keperluannya. Dia membuka pintu kamar mandi hendak kembali ke bawah, tapi dia terlonjak. Dia dikejutkan oleh keberadaan seseorang tepat di depannya. Ya, Darren sudah menunggunya, bukan hanya di kamar, melainkan tepat di depan pintu kamar mandi itu. Dengan detak jatung yang memburu karena terkejut Ranti memukul Darren.
"Apa yang kamu lakukan, ha! Hampir aja aku mati ... jantungan tahu gak?"
Ranti masih menghujani Darren dengan pukulan ringan. Ranti sangat kesal dengan ulah Darren yang kekanak-kanakan. Sementara Darren malah tertawa renyah. Darren lalu menangkap tangan Ranti dan menarik tubuh istrinya kepelukannya. Mendekapnya erat dan membawanya berayun lembut seperti menari. Ya ... Darren sangat Bahagia. Dia ingin terus seperti ini, dekat dengan istrinya, dekat dengan tubuh dan hatinya.
Darren mengelus rambut Ranti.
"Apa yang sebenarnya aku suka dari wanita ini?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
Darren lalu menjauhkan tubuh Ranti dan melihatnya dari atas sampai kebawah\, dan kembali ke atas\, ke wajah Ranti. Dengan senyum yang semakin lebar Darren kembali menarik tubuh Ranti merapat ke tubuhnya. Menarik dagu Ranti hingga dia bisa dengan jelas menilik wajah dan mata Ranti. Darren lalu menjatuhkan bibirnya di bibir Ranti. Menyesapnya dengan lembut\, ******* dan menj***t bibir manis itu lalu menjejalkan lidahnya. Rasanya begitu manis\, dan Darren tidak ingin berhenti\, ingin terus mengecap rasa manis ini.
Ranti meronta, dia sudah merasa sesak. Barulah Darren melepaskan pangutannya. Nafas Darren tak kalah memburu karena sesak. Darren masih memeluk Ranti, dia menjatuhkan dagunya di pundah Ranti. Sekarang dia mengendus, menghirup aroma istrinya yang juga manis. Tangannya kini tak lagi bisa diam.
"Hentikaaan! Bukannya kita mau makan?"
"Salah sendiri kamu menggodaku ...."
Ranti melotot," Kapan aku menggodamu?" Ranti meronta berusaha melepaskan diri dari lintah besar, bukan, lintah super besaaaarrr!
Darren justru melemparkan senyum mesum pada Ranti dan tentu saja di balas tatapan ketus.
"Kamu memakai pakaian kerja yang seksi. Bentuk tubuhmu tercetak jelas. Kemeja putih, rok hitam. Semuanya begitu pas di tubuhmu. Apa namanya?. Emmm ... Sekretaris penggoda? Hehehe ... dan aku tergoda!"
Tatapan Darren semakin tajam tepat ke manik Ranti." Sekarang aku akan memakanmu .... "
Kini Darren seperti predator yang siap menerkamnya. Dan tentu saja membuat Ranti takut dan gugup.
Darren menggiring Ranti ke ranjang dan mulai menindihnya. Menghujani Ranti dengan ciuman lembut dan kasar. Menikmati Ranti, setiap jengkal tubuhnya. Membawa wanitanya ke puncak kenikmatan dan memuaskan dirinya sendiri.
Setelahnya, Darren tidak melepaskan Ranti. Tubuhnya masih menginginkannya lagi, dan lagi. Kali ini Darren melakukannya berkali-kali. Kemarin, Darren memberi kelonggaran pada tubuh Ranti yang sudah lama tidak tersentuh. Tapi kali ini, Darren ingin memuaskan dahaganya, sepenuhnya.
****
Ranti terbangun saat hari menjelang sore.
"Ya ampun badanku, sakit semua ... rasanya seperti remuk!"
__ADS_1
Kruuuuyuuuuk..
Perutnya ikutan memprotes. Terang saja mereka belum makan siang tadi. Ranti melihat troli makanan di dekat sofa. Perasaannya sedikit mambaik. Ranti lantas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelahnya di segera menuju troli makanan.
"*B*i Imah sangat baik, beruntungnya si penyihir dapat asisten seperti bi Imah."
Ranti membuka penutup makanan. Makanan di dalamnya masih hangat karena ada api kecil yang menyala di bawah wadahnya. Itulah salah satu alasan Ranti menyukai bi Imah, karena dia pengertian. Ranti mengambil makan dan mulai makan. Sesekali dia melihat suaminya yang masih tidur.
"Tampan dan sempurna ..." Ranti masih melanjutkan makannya. Tapi pikirannya tak lepas dari penyihir yang ada di atas ranjang. "Dia tadi terlihat bahagia? Apakah dia bahagia karena aku?" Hatinya mulai mengingkari pikirannya. Hatinya seperti merasa tersentuh.
Bayu memanglah yang pertama menyentuhnya. Tapi saat itu, diantara mereka tidak ada perasaan sama sekali. Bayupun menyentuhnya dengan dingin. Hanya untuk memenuhi keinginan mamanya yang menginginkan cucu. Hanya 2 kali, dan Ranti hamil. Selanjutnya mereka tidak bersama. Ranti dan Bayu tinggal di kediamannya masing-masing.
Tapi Penyihir itu, menyentuhnya dengan lembut. Bahkan dia hampir berfikir ada "cinta" disana. Hal yang bodoh, Ranti segera penepis pemikirannya. Makannya pun sudah selesai. Dia mengemasnya peralatan makannya.
"Pak, Pak Darren ... Saya pulang dulu. Sudah sore ...."
"Emmmngg?" Darren mengeliat. Perlahan membuka matanya.
Dia tersenyum lagi," Bahkan setelah mencapai surga, aku masih di bangunkan bidadari ... " Dia terkekeh. Tangannya menggapai tubuh Ranti. Menariknya lagi ke dalam pelukannya.
"Bukankah disini juga rumahmu, Istriku?" tanya Darren sambil menciumi Ranti.
"Berhenti panggil aku Pak! Aku suamimu. Atau kamu kamu mau aku panggil " Sekretaris penggoda"? Panggil aku mas."
Ranti diam saja. Rasanya aneh harus memanggilnya mas.
"Ayo! panggil aku mas. Sekali saja ... nantinya akan terbiasa."
"Em.. mm.. Ah! mungkin lain kali ...."
"Sekarang!"
" ...."
"Atau ... kamu tidak mau pulang?"
"Mas!"
"Ha.. ha.. haa.. " Darren tertawa keras, karena Ranti mengatakannya seolah membentak.
Dengan gemas Darren menciumi istrinya lagi."Aku antar." Darren segera bangkit dan membersihkan diri. Setelah siap dia mengajak Ranti .
" Ayo ...."
"Pak Darren makan dulu saja. Pak Darren tadi juga belum makan siang."
"Oke, suapin ya ... " Darren menaik-naikkan kedua alis nya.
Ranti tersenyum kalem,"Kalau begitu saya pulang sendiri saja ...."
"Oke deh istriku. Aku makan sendiri," Darren makan dengan bahagia.
"Untuk hatimu, aku pasti akan selalu bersabar."
__________
Selalu ditunggu like n love nya ya Readers ...
Terimakasih ..😇🙏
__ADS_1