
Ranti menguatkan diri dan hatinya untuk tetap menjalani hari seperti biasa. Seperti pagi ini, saat matahari baru menyembul dari ufuk timur. Saat sebagian besar orang baru terbangun dari tidur lelapnya, Ranti sudah pulang dari pasar. Dia membawa sayuran segar dan bahan kue yang dibuat mamanya untuk dititipkan esok hari.
"Ma, ini belanjaannya.” Ranti meletakkan keranjang belanja di meja.
"Ada pesanan buat besok, Ma. Kuenya minta ditambah jumlahnya.” Ranti menyerahkan kertas kecil.
"Ini ya, ma. Catatannya,” imbuhnya seraya tersenyum kepada sang mama.
"Waaah! Ini sih banyak Ranti ... Alhamdulillaaaahh ... "syukur Bu Wisnu. " Makasih ya, Nak …” sambil memeluk putri nya yang turut berbahagia.
" iya, ma ... " ucap Ranti.
"Udah kamu cepetan siap-siap. Mama siapankan sarapannya.” Bu Wisnu kembali sibuk di dapur .
Ranti bergegas ke kamarnya dan bersiap, tak lupa mengurus Zain untuk ke sekolah. Tak lama Ranti pun pamit kepada mamanya diikuti si kecil Zain yang asik berda-da da-da dengan sang nenek. Rutinitas biasa yang dilakukan juataan orang didunia. Tapi tidak bagi Ranti. Hal yang biasa ini adalah berkah. Berkah yang dia syukuri setiap hari … setiap detiknya ….
Terbayang bagaimana tragisnya Ranti berganti nasib. Dari seorang Nona Muda yang selalu dilayani, sekejap berubah menjadi orang yang harus mencari nafkah sendiri. Meski hidupnya kini sederhana, tapi Ranti yakin, bahwa diluar sana … ada banyak orang yang bersedia menukar kehidupnya dengan kehidupan Ranti, kehidupan yang sederhana ini. Maka baginya, setiap hari, adalah hari yang indah, yang wajib dia syukuri.
__ADS_1
****
Rasa takut itu kembali membayangi Ranti, saat mereka sampai di sekolah Zain. Mobil hitam itu seolah sudah menunggunya disana. Seperti singa yang menunggu mangsanya. Hati Ranti benar-benar menciut. Dia ingin sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Melaju secepat yang dia bisa. Tapi Ranti harus menahannya. Menahan ketakutan dan bersikap biasa agar bisa mengelabuhi siapapun orang di dalam mobil itu!
Ranti melaju dengan kecepatan sedang untuk beberapa saat. Dia dengan sabar memelankan laju motornya dan menunggu rambu lalu lintas menyala seperti yang dia inginkan. Hingga saat lampu merah menyala dia langsung menambah kecepatan, menerobos rambu lalu lintas itu. Dengan gesit dia menghendari kendaraan dari arah lain yang mulai melaju dari arah berlawanan. Hal paling gila yang mungkin pernah dia lakukan. Dan, akhirnya Ranti berhasil menghindar dari BMW itu. Mobil hitam mewah itu tertahan di rambu lalu lintas.
" heeeehh.. benar- benar gila,” Ranti membatin.
Ranti mulai berkendara dengan kecepatan biasa. Dia memilih masuk ke dalam gang agar tak terlacak mobil itu lagi. Sampailah Ranti diparkiran kantornya. Dia dengan gelisah mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencoba memastikan mobil itu tidak ada di sekitarnya .
"Hei, siapapun kamu yang didalam mobil itu, aku berhasil lolos darimu hari ini! hehhh!” sungut Ranti dalam hatinya. Ranti segera masuk kedalam perkantoran sambil menstabilkan dirinya.
__ADS_1
***
Ranti melakukan tugasnya seperti biasa. Dia melaporkan jadwal kerja pak Darren dan menyiapkan apapun kebutuhannya. Begitu pun saat makan siang. Hanya saja Ranti merasa ada yang berbeda dengan sikap bosnya itu siang ini. Meskipun dia jarang melihat Ranti dan kata-katanya nya cukup singkat tapi aura pak Darren ramah dan hangat. Bukan seperti ini, aura ini dingin, kaku ,tegang ,enggap … Entah bagaimana menjabarkannya.
" ahhhh... ada apa lagi ini …?”
*******
Terimakasih reader..😊
Ditunggu love n like nya ya .. 😇
Semoga suka ya .. 🥰
__ADS_1