
Dukkk...
Ranti terduduk di sofa ruang ganti setelah Darren melepas semua pakaiannya yang tersisa. Dengan Perlahan Darren membaringkannya, mendorongnya dengan ciuman di bibirnya. Ranti sangat gelisah, dia memalingkan wajah dan menutup matanya erat.
Darren menjauhkan tubuhnya, memandangi dan mengelus wajah cantik di bawahnya, istrinya. Dia menjatuhkan pandangannya pada segaris luka di perut Ranti, lalu mencium luka caesar itu dengan lembut.
Ranti tersentak. Dia mengangkat bagian atas tubuhnya dan melihat Darren menciumi segaris parut di perutnya. Tatapannya berubah rumit. Sementara hatinya tergetar dengan hebat.
Yang dilakukan Darren telah menyentuh bagian terdalam dijiwanya. Membuka sebuah emosi yang dia kunci di dasar hati. Sebongkah rasa sakit, rasa kesepian, tercampakan, rasa terbuang. Perasaannya sebagai seorang wanita yang terluka. Tanpa dia sadari, air matanya mulai menumpuk.
"Kenapa ...?" batin Ranti penuh pertanyaan. Dia butuh jawaban!
Darren memahami istrinya, memahami bagimana hatinya. Hingga sebelum air mata Ranti menetes Darren menciuminya lagi. Dia berjanji di dalam hati.
"Aku akan menebus rasa sakitmu,Ranti ... " Darren terus menciumi wanitanya dengan lembut penuh kasih.
Ranti meneteskan air matanya dalam ciuman Darren. Inilah pertama kalinya dia menangis. Menangis sebagai dirinya ... sebagai seorang wanita ... sebagai Ranti. Meninggalkan sejenak titelnya sebagai anak dan sebagai seorang ibu. Melepaskan kesakitan terdalamnya dan membaginya dengan orang lain.
Tanpa kata ... mereka berbagi emosi dengan sentuhan. Sebuah curahan rasa sakit yang dalam dan sebuah penghiburan.
Darren bahagia. Meski hanya sedikit, Ranti telah membuka celah untuk dirinya. Membiarkannya tahu perasaanya.
Darren tak ingin wanita terlarut terlalu lama dalam kesedihannya. Perlahan Darren mulai membangunkan hasrat Ranti. Dia mulai menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuhnya.
"Uhhh ...."
Ranti melenguh, tak berdaya pada permainan Darren.
Sesaat, Darren menikmati wajah kemerahan itu. Kebahagian terpancar dari mata dan senyumannya. Dengan perlahan Darren menyatukan tubuh mereka.
Darren memandangi Ranti yang kelelahan dan mengelus punggungnya hingga Ranti tertidur. Darren bangkit, mengambil selimut di salah satu lemari, menyelimuti Ranti dan berbaring disamping, memeluknya. Darren terus tersenyum. Puas, lega dan bahagia.
Adakah percintaan yang lebih memuaskan jiwa, selain dengan orang yang kita cintai(?)
***
"Emm... " Ranti terbangun oleh sentuhan halus di pipinya. Perlahan membuka mata dan mencoba mengumpulkan nyawanya. Dia tertegun sesaat, menginggat apa yang baru saja mereka lewati.
Tanpa menoleh, Ranti berjalan ke kamar kecil dengan menutup tubuhnya dengan selimut yang entah sejak kapan menyelimutinya. Ranti membersikan tubuh dan mencuci rambutnya.
"Kapan lepasnya hiasan kepala itu? Apa Pak Darren yang melepasnya? Ah ... sudahlah .... "
__ADS_1
Ranti kembali fokus pada apa yang dia lakukan. Dia ingin segera pulang, kembali ke rumahnya yang nyaman. Terbebas dari perasaan tertekannya.
Kembali keruang ganti, Ranti memungut celana dan mengambil bajunya yang tergantung. Dia kembali ke kamar kecil lagi untuk memakainya. Keluar lagi dengan atasan biru muda yang cantik dan celana jeans. Membiarkan rambut basahnya tergerai. Dia segera memakai sepatunya dan menyambar sling bag berwarna cream tanpa melihat Darren, suaminya.
" Langsung pulang? Salim dulu .... "
Ranti menghentikan langkahnya dan mengertakan giginya. Berbalik dan melotot pada pria telanjang yang menjulurkan tangannya. Duduk dengan angkuh di sofa yang berantakan.
Ranti tidak menggubrisnya dan berbalik, melanjutkan niatnya. Lalu dia terhenti oleh tangan kekar yang memeluknya.
"Makan dulu ... " Darren.
"Aku, masih kenyang." Ranti.
"Tidak makan? tidak boleh pulang!" Darren.
"....."
***
Mereka sudah duduk disofa lagi, Ranti disuapi sup hangat dengan telaten oleh Darren. Sedang Ranti terus memalingkan wajahnya sambil sesekali menerima suapan yang di paksakan padanya.
"Sudah habis, aku pulang dulu .... "
Dengan kesal Ranti mencium punggung tangan Darren. Setelahnya Darren mencium kening Ranti dan mengelus lembut rambutnya.
"Keringkan dulu rambutmu."
"Nggak usah, nanti juga kering sendiri."
"Kalau sama suami itu yang nurut!" Perang tatapan pun tak terhindarkan.
Dengan memberengut, Ranti kembali ke meja rias dan mengeringkan rambutnya.
"Cepet kering ... cepet kering ... cepet keriiiiingg! " rapalnya dalam hati. Ranti benar - benar ingin segera pergi dari sini. Jauh-jauh dari Darren.
"Aku bantu ... "
Tatapan mereka bertemu melalui cermin. Ranti langsung menunduk, melepaskan hairdryer yang ditarik oleh tangan lain.
"Sudah kering, aku pulang dulu."
"Aku antar .... "
__ADS_1
" ... " Geregetan ....
***
"Assalamualaikuuumm ... " Salam Ranti didepan pagar rumahnya. Membuka pagar dan melangkah masuk.
"mama!! ye ... mama sudah datang ..." terdengar suara Zain yang kegirangan.
Ranti tersenyum dan mengangkat putra tercintanya, menghujaninya dengan ciuman.
"Nenek mana?"
"Sholat."
"Ohhh ... " Ranti menurunkan Zain.
"Hallo, Zain masih ingat om?" Darren jongkok, menyamakan tingginya dengan Zain.
Zain tersenyum malu dan menganggukkan, lalu berlari kembali ke mamanya. Ranti tersenyum melihat tingkah anaknya, dan mengelus rambutnya.
"Zain cari nenek dulu, ya."
"He'eh ... " Zain berjalan ke kamar Bu Wisnu.
Ranti menghela nafasnya dan menghadap Darren.
"Aku sudah bilang, jangan libatkan Zain! Pernikahan ini hanya antara kita. Zain bukan anakmu dan mama bukan mamamu!"
Darren kecewa mendengar kata-kata Ranti, tapi dia mengerti. Bahwa tidak akan mudah masuk ke dalam kehidupan Ranti.
"Aku mengerti. Untuk kesopanan aku mau pamit sama mama kamu."
Ranti tidak menyahut, Darren mau mengerti dan tahu batas, itu sudah cukup untuknya. Ranti segera masuk ke kamarnya, meninggalkan Darren sendiri.
Darren yang di tinggalkan hanya bisa tersenyum maklum.
" Aaaaahhh ... Istriku, I love u .... "
-----------
Up lagi Readers...
like n love nya ya ..
__ADS_1
terima kasih....🙏😊