
Dengan kebaya putih yang begitu pas, menampilkan lekuk tubuh yang sempurna. Mata yang jernih, hidung yang kecil yang tinggi, bibir mungil dan penuh. Berhiaskan melati. Jari - jari lentik dengan lukisan henna yang indah. Begitu sempurna ....
Sepasang mata yang tak henti menatapnya. Mencermati tiap detail keindahan. Saat ini begitu dekat, tepat di depannya, dalam rengkuhannya.
Bidadarinya ... Istrinya ....
***
"Maaf mrs, taruh tangannya di dadanya Mr, ya! Lebih dekat lagi, dikit lagi ... ya ... tahan .... "
Ckrik ckrik ckrik ....
Suara blits kamera menjadi musik latar yang tiada hentinya. Berbagai pose sudah dijalani dan juga sudah berpindah beberapa lokasi. Entah sudah berapa banyak foto yang diambil, namun seolah belum juga cukup. Ranti sudah merasa lelah dengan pakaian yang dia kenakan. Rasa nya sesak dan sulit bergerak. Gurat kelelahan sudah terlihat di wajah cantik Ranti .
"Pak Darren, Maaf ... sepertinya sudah banyak foto yang diambil, bisa tidak di sudahi foto nya?" Ranti menatap Darren sedikit memohon karena memang sudah merasa lelah. Sedari pagi dia sudah bersiap dan saat ini sudah lewat tengah hari." Saya juga mau ke kamar kecil, "Ranti masih melanjutkan, karena lawan bicara nya belum menanggapi.
Dengan mata yang masih terpaku pada sosok indah di depannya, Darren hanya menjawab dengan gumaman.
"Emm ..." lalu dengan tidak rela dia melepaskan tangannya yang megait pinggang ramping Ranti. Menoleh ke arah photografer,"Sudah cukup, terima kasih."
"Baik, Pak Darren ... " Dia pun mulai berkemas merapikan peralatannya.
Darren langsung menuju ke ruang ganti, ketempat yang di tebaknya menjadi tujuan Ranti. Melangkahkan kakinya dengan mantap sampai berpapasan dengan Nicko.
"Kamu masih di sini?" Darren.
"Emm ... " Nicko.
"Minta pelayan siapkan makan di ruang ganti," Tanpa menunggu jawaban Nicko, Darren melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa . Rasa lelahnya mulai terasa, tapi kebahagiannya tidak berkurang sama sekali. Dia melepaskan tutup kepalanya dan menengadah menatap langit-langit. Hatinya masih saja berdesir memikirkan kenyataan di depannya. Bahwa dia sudah menikah dengan wanita yang dipujanya. Cintanya satu-satunya ....
Suara pintu terbuka, Ranti ke luar dari kamar kecil di ruang ganti. Darren segera menoleh, mencari sosok yang dia pikirkan. Matanya terhenti pada pakaian Ranti yang mana bawahannya sudah diganti dengan celana jeans. Darren mendengus kesal. Menghampiri Ranti yang kini terduduk di depan cermin siap membersihkan wajahnya.
"Kamu sudah mengganti pakaianmu tanpa meminta ijin padaku?" tanya Darren tepat di telinga Ranti. Dengan nafas panas yang sengaja di hembuskan membuat Ranti sedikit bergidik.
"Maaf, memakai rok itu tidak nyaman. Terlalu sempit hingga aku sulit berjalan."
Tatapan mereka bertemu melalui cermin. Ranti menelan ludahnya, merasa sangat gugup dengan tatapan Darren kepadanya. Ada amarah dan sesuatu yang lain, yang seolah menyala. Ranti perlahan menjauhkan kepalanya dari Darren, ada ketakutan didalam hatinya .
Tokk tokkk tokk ....
"Tuan, makan siangnya ... "
"Bawa masuk," Masih terus menatap wanitanya dari cermin.
"Tuan dan Nyonya, selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu bahagia, cepat dapat momongan dan langgeng," ucap Imah sepenuh hati.
Dengan senyum bahagia Imah meninggalkan ruangan itu. Darren segera mendekat ke troli makanan dan mengambil sepiring buah semangka yang sudah dipotong. Dia kembali mendekat dan mendudukan sedikit pantatnya di meja rias.
"Buka mulutmu," perintahnya pada Ranti sambil mendorong sepotong kecil buah semangka dengan garpu.
Dengan gugup Ranti membuka mulutnya dan memakannya. 1 potong lagi di sodorkan, Ranti memakannya, lalu 1 potong lagi. Ranti sangat gugup. Buah yang di telannya seolah tersangkut di tenggorokan. Bagaimana tidak Orang yang menyuapinya menatapnya dengan nafsu yang terlihat jelas.
Saat mengunyah potongan ketiga Darren mencekal tengkuk nya dan menciumnya dengan sangat rakus. Menghisap dan menggingit sampai Ranti membuka mulutnya. Lidahnya menjejal masuk dan bermain disana lalu merebut buah di dalam mulut Ranti.
Darren terkekeh dengan puas.
"Waaaah ... semangka ini benar-benar manis."
__ADS_1
Ranti tentu saja ketakutan. Dia berdiri dan melangkah mundur, mencoba menjauh dari Darren. Sayangnya Darren tidak melepaskannya. Darren melangkah mendekatinya dan meraih tubuhnya.
"Kamu baru makan sedikit buah, belum makan nasi. Ayo kita makan dulu," Darren mengiring Ranti duduk di sofa dengan senyum licik yang membuat Ranti ingin pergi.
"Selamanya, kamu harus melayaniku ... tapi hari ini, aku akan melayanimu. Anggap hadiah pernikahan dariku ... " ucapnya sambil tersenyum bangga. Darren lalu mendorong sesendok makanan ke mulut Ranti. Ranti tidak menolaknya.
"Nah ... gitu dong. Nurut, kan aku lebih senang."
"Aku harus cari alasan untuk lepas dari nya. Tapi apa?" Ranti mencoba mencari cara untuk bisa pergi dari bosnya yang kini jadi suaminya. Dia tetap menerima suapan itu dengan hati yang ketar ketir sambil terus mencari ide.
"Pak, maaf ... habis ini saya mau pulang." Ranti memberanikan diri menatap Pria yang kini jadi menakutkan di matanya.
"Kenapa? Kita baru saja menikah. Kamu harusnya berada disini."
"Maaf, tapi Zain ... " Ranti menginggit bibir bawahnya, mencoba mencari kata yang tepat untuk maksudnya.
Darren menghela nafasnya. Kecewa? pasti!
"Oke, tapi tidak sekarang."
Kelegaan menghampiri hati Ranti, tapi hanya sesaat. Karena senyum yang menyertai akhir kata itu begitu ... mengerikan!
"Sekarang, layani aku !"
_________
Sudah up ya..
semoga suka ..
__ADS_1
Terus dukung penulis ya , di tunggu like, love dan votenya ..
terimaksih ...😊🙏