
Pernikahan ini, Ranti yang memintanya. Tapi bukan keinginannya. Saat Darren terus menatapnya dengan arti yang tentu dia tahu ... jelas Ranti ketakutan. Ingin rasa nya berlari, pergi jauh dari pria yang kini menjadi suaminya.
"Sekarang, suapi aku!"
Suara Darren menyadarkan Ranti dari ketakutannya. Dia lalu mengambil makanan dan menyodorkan sesendok ke mulut Darren yang langsung dilahap dengan mata yang terus menatapnya. Dengan gemetar dia menyendok makanan lagi, nasi, sedikit sayur dan sedikit lauk. Ranti terus berdoa dalam hati, agar terjadi keajaiban dan bisa terbebas dari kewajibannya meski untuk sekali ini saja. Dia benar-benar tidak siap. Meski ini bukan yang pertama, tapi melakukannya dengan 'orang asing' tanpa ada rasa, tetap berat bukan?!
Disisi lain, Darren merasa sangat tersentuh, tatapan matanya melembut. Wanita yang selalu dia cintai dan hanya bisa dia hayalkan kini sedang menyuapinya. Perasaan sentimentilnya serta merta membuncah, membuat matanya sedikit berkabut. Meskipun dia menyadari bahwa Ranti belum punya perasaan khusus padanya, tapi disuapi Ranti, rasanya ... masih seperti mimpi.
Setelah makanannya habis, Ranti mengambil minuman dingin dan menyodorkannya pada Darren tanpa diminta. Memunculkan sebersit senyum di bibir Darren. Tapi, bukannya menerimanya, Darren malah dengan santainya menempelkan mulutkan pada bibir gelas. Dan tatapan itu seolah menyiratkan apa yang ada di otaknya.
"Habislah aku ...!" Ranti menutup matanya. Dia menyadari tidak bisa lepas darinya hari ini.
"Bersihkan makeup mu!" Ketidaksabaran terdengar sangat kental dari suara Darren.
"Iya ... " Ranti meletakkan alat makan yang di pegangnya, lalu kembali ke meja rias. Duduk di kursi tanpa sandaran.
Baru saja Ranti menatap cermin setelah mengambil kapas basah, wajah suaminya sudah menempel di sebelah wajahnya. Mencium pipinya dan terus turun ke lehernya yang sedikit terlihat. Nafas panas terhembus disana, disusul ciuman. Tanpa persiapan, serangan itu meloloskan desisan dari mulut Ranti. Ranti segera tersadar, dia bangkit dan mencoba menghindar. Sayangnya Darren lebih dulu mencengkeram pundaknya dan menekannya.
"Mau lari? Jangan harap!" Tatapan mereka kembeli bertemu melalui cermin.
__ADS_1
"Bersihkan wajahmu ... " Tapi Darren tidak berhenti. Terus mengendus dan menempelkan bibirnya di leher dan telinga Ranti. Tangannya menelusuri dan meremas mulai dari lengan, punggung sampai ke pinggang ramping Ranti. Sementara Ranti mengeratkan giginya, hampir menangis.
Dengan tangan yang gemetar dan nafas yang tertahan, perlahan Ranti membersihkan wajahnya. Melakukannya dengan sangat pelan berharap bisa mengulur waktu. Tapi Darren sudah tidak sabar, dia memutar kursi Ranti hingga wajah mereka pun berhadapan. Darren menarik kursi lain dan duduk di depannya. Darren mengambil kapas dari tangan Ranti.
"Tutup matamu!" Ranti menutup rapat matanya.
Darren mulai menyapukan kapas pada wajah cantik di depannya dengan perlahan dan tekun, lalu mengantinya beberapa kali. Secantik apapun riasannya, Darren lebih menyukai wajah alami Ranti. Kulit putih mulusnya yang terawat. Bulu mata lentiknya hingga bibirnya yang pink alami. Semua bagian wajah itu seolah menggodanya.
Darren langsung menciumnya lagi. Lebih dalam ... Darren mencurahkan segenap cinta di hatinya.
"Ranti, andai kamu tahu besarnya cintaku dan rinduku"
"Buka bajuku!"
Ranti menurut, dia membuka kancing-kancing baju itu dengan kesulitan sampai selesai. Berputar kebelakang dan menariknya sampai terlepas dari tubuh Darren dan menyisakan kaos putih polos. Darren segera berputar ke arah Ranti.
"Giliranku membantumu ... " ucapnya, dengan senyum dan tatapan berhasrat yang tidak mampu lagi dia tutupi.
Semakin gugup, Ranti melihat jelas keinginan suaminya dari wajahnya. Dia mengeser tubuhnya dan mundur beberapa langkah. Dia memeluk baju Darren di depan tubuhnya sebagai tameng. Tapi percuma, pria di depannya bertubuh lebih besar, dengan dua langkah saja Darren sudah menggapai tubuh Ranti. Menarik bajunya dari Ranti dan mengunci Ranti ditembok.
__ADS_1
"Aaahh ... kancingnya banyak sekali, aku akan lebih cepat" ucap Darren lagi sambil melirik Ranti sesaat.
Darren membuka kancing kebaya itu satu per satu. Sementara Ranti, menutupkan kembali kebayanya dengan menggenggam bagian yang sudah terbuka. Sebuah penolakan yang tentu di sadari oleh Darren.
"Kenapa? tidak rela? he.. he.. he ... sudah jadi istriku, menurut saja."
Dia menghentakkan tangan Ranti dari kebayanya. Kulit yang putih bersih itu terekspos di depannya. Seketika aliran darahnya mengalir lebih deras hingga membuat Darren mendesah. Darren menjatuhkan ciuman ke tiap bagian tubuh Ranti yang terlihat
Sementara Ranti mulai terisak, tubuhnya bergetar. Darrenpun menyadarinya, dia segera menciumi wajah Ranti lagi dengan lembut. Matanya, keningnya, hidungnya ... seolah dapat menenangkannya.
" Aku tidak bisa menunggu lagi, tapi aku juga tidak akan menyakitimu "
_______________
Sudah up ya readers...
jangan lupa like , love n vote nya ya ..
__ADS_1
terima kasih ..🥰