Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Mantan Suami


__ADS_3

"Zain ...!" Ranti segera memeluknya begitu sampai ke dalam rumah. Ada rasa bersalah yang besar dalam hatinya.  Dia tahu, Zain sedang tidak baik saat ini, dan dia tidak mendampinginya sepenuhnya.


"Sudah makan?" tanya Ranti sambil mengelus rambut Zain.


"Sudah." Zain senang mamanya sudah pulang.


"Pinteeerr ... baru main apa? Mama ikut ya?" Ranti duduk di karpet.


          Ranti ikut bermain lego menemani Zain. Dia masih bisa merasakan kemarahan dan kesedihan Zain kemarin. Sebisa mungkin Ranti mengajak putranya mengobrol. Tak jarang Ranti mengeluarkan suara lucu agar Zain tidak bosan, juga untuk menghidupkan obrolan mereka.


"Mandi dulu ... sudah sholat belum?" tanya Bu Wisnu yan baru saja memasuki ruangan itu.


"Sudah, Ma. Sudah sholat juga."


"Itu yang diluar kok gak diajak masuk?"


"Sudah mau pulang, Ma ... " elak Ranti.


Bu Wisnu menghela nafasnya. Bu Wisnu tahu itu hanya alasan Ranti. Dilihatnya mobil mewah itu belum bergerak, yang artinya bukan tidak diajak masuk, tapi tidak boleh masuk oleh putrinya. Bu Wisnu menarik senyum simpul.


"Perjuangan yang masih panjang," katanya dalam hati.


           Di dalam mobil Darren masih duduk di kursi kemudi. Menatap penuh harap ke arah rumah istrinya, mendengarkan mereka bercengkrama. Kata yang didengar tidaklah jelas, tapi tidak mengurangi ketertarikannya. Betapa dia ingin menghambur kedalam sana, dan larut dalam kebersama mereka, berada di tengah-tengah kehangatan itu. Kehangatan sebuah keluarga yang dia impikan. Darren mengehempaskan nafasnya. Merasa cukup, Darren mulai melajukan mobilnya.


 


 


**


           Malam sudah larut, namun Ranti masih belum bisa tidur. Beberapa kali dia membolak-balikkan tubuhnya, tapi masih tetap terjaga. Pikirannya mulai berkelana, teringat panggilan telphone dari Bayu kemarin.


"Zain!" anaknyalah yang langsung terlintas." Mungkinkah Bayu akan mengambil Zain?"


          Serta merta Ranti terduduk. Kemarin dia sangat marah, hanya teringat dengan nasibnya dulu dan bergelut dengan emosinya sendiri. Tapi malam ini, dia yang sudah tenang bisa menggunakan otaknya lagi.


"Zain. Zain adalah anakku. Anakku sendiri! Bayu tidak berhak atas Zain! " Ranti murka kembali.


"Tidak, aku harus tenang ..." Ranti mengatur nafas mencoba untuk tenang agar pikirannya lebih jernih.


"Hak Asuh! Bayu akan menuntut hak asuh atas Zain? Sekarang Zain masih 4 tahun, seharusnya hak asuhnya masih padaku. Dia tidak mungkin tidak tahu hal ini. Jika bukan Hak Asuh, lalu apa?" Ranti mencoba menerka alasan Bayu yang sebenarnya. Ranti mengambil phonselnya di nakas lalu memandanginya cukup lama, seperti menimbang sesuatu.


 


 


**


          Esok hari berjalan seperti biasa. Ranti di kantor sampai tengah hari, setelahnya dia harus menghabiskan waktunya dirumah mewah Darren. Tidak ada hal yang special, Ranti hanya harus sedikit menurunkan egonya lagi dan lagi. Dan Ranti masih bergelut dengan kegundahannya di hatinya. Zain. Jelas tidak mungkin bisa Ranti tinggalkan ataupun sekedar dikesampingkan. Karena Zain adalah hidupnya. Nyawanya!


         Tentang Ranti, Darren tidak mungkin tidak memahaminya. Hatinya yang tidak tenang terlihat jelas di mata Darren. Meski Ranti tidak mengatakannya, tapi Darren tetap mengetahui ada yang membebani hati wanitanya. Sesuatu yang besar.


         Ranti yang nampak tenang, melakukan apapun yang Darren inginkan tanpa keberatan, justru menimbulkan tanda tanya bagi Darren.


"Wanita ini, apa yang sudah mengganggunya? Sampai akupun tidak bisa mengalihkannya."

__ADS_1


        Darren begitu ingin tahu, masalah apa yang sedang dihadapi Ranti. Tapi Ranti tetaplah Ranti. Dia tidak akan mengaduh pada siapapun! Dan Darren tahu itu!.


Seeetttt!


        Darren menarik tangan Ranti yang sedang memijat lengannya membuat tubuh Ranti tertarik ke arahnya. Ranti terkejut dan melemparkan tatapan penuh pertanyaan kepada Darren. Darren balas menatapnya lalu dengan seksama memperhatikan wajah Ranti. Ada gurat kecemasan dimata Ranti dan jelas dia tidak tidur nyenyak semalam. Kemarahannya tiba-tiba muncul.


"Nanti malam tidur disini!"


Ranti mengerutkan alisnya bingung,"Enggak!"


"Jangan membantah!"


"Aku harus menemani Zain!" Ranti meronta, mencoba melepaskan cengkraman tangan Darren.


"Hemm ... " Darren menghela nafasnya, dia melembut."Apa Zain belum membaik?"


Ranti terkejut sesaat dan mengangguk."Emn ...."


         Amarahnya perlahan menghilang berganti dengan sendu." Zainn ..." Ranti memperhatikan Darren lagi, hatinya sedikit tersentuh. Bosnya ternyata memperhatikan anaknya.


         Darrenpun melembut, dia menyelipkan helaian rambut Ranti kebelakang telinga dan mengelus kepala Ranti.


"Aku akan menginap di rumahmu. Jangan menolak! Zain butuh sosok ayah saat ini. Meski aku bukan ayahnya, tapi aku menyayanginya."


        Ranti terkejut dan bimbang. Yang dikatakan Darren memang benar, Zain butuh sosok ayah saat ini. Tapi dia juga takut jika nanti Zain harus merasa kehilangan Darren saat mereka berpisah nanti.


"Emm ... mungkin lain kali," tolaknya lirih.


"Dengarkan aku," Darren membenarkan duduknya dan menghadapkan wajah mereka." Zain sangat pintar dan sangat tertutup. Jika dia selalu menyimpan segalanya sendiri, kita tidak akan pernah tahu kapan itu akan meledak. Dan saat itu terjadi, pasti sudah terlambat bukan?" Darren melihat kedalam mata Ranti, mencoba membujuknya.


"Kalau begitu, kita jemput Zain kesini saja, atau ... kita ajak menginap di hotel. Bilang saja kita kerja tapi hanya sebentar jadi bisa sekalian liburan. Oke?"


Ranti menggeleng."Enggak usah. Zain sudah baik kok ..." Ranti mengulas senyum untuk meyakinkan Darren bahwa Zain memang sudah baik.


          Lagi. Darren mencoba menyelami hati istrinya."Benar, itu Zain. Tapi juga hal lain."  Amarahnya meluap lagi, Darren mengeratkan giginya dan meninggalkan Ranti.


 


 


****


         Hingga jam makan malam, Darren masih belum terlihat. Ranti sangat gelisah. Dia ingin segera pulang!


"Bi Imah, Bibi lihat Pak Darren tidak?"


"Tidak nyonya ..." Bi Imah menjawab dengan hormat dan tidak berdaya karena tidak bisa membantu. Sedang nyonyanya terlihat sangat gelisah.


"Sudah malam bi, Aku mau pulang, tapi mereka tidak mengijinkan aku keluar dan Pak Darren masih belum kelihatan juga ... " Ranti gelisah dan cemas, dia ingin pulang dan menemani Zain.


"Nyonya sebaiknya mandi dulu, saya akan cari tuan. Nanti nyonya bawakan makan malam untuknya, semoga tuan tidak marah lagi, gimana?"


        Ranti menimbang sesaat dan mengangguk setuju. Dia lalu naik ke kamar utama, kamarnya dengan Darren.


***

__ADS_1


       Diruang rahasia di rumah itu. Darren menatap layar monitor dengan nyalang. Layar sedang menampikan Ranti yang sedang menaiki tangga menuju kamar utama.


Diruangan yang sama, ada Nicko dan Ricky yang terdiam, tidak tahu dan tidak berani berucap sepatah katapun. Hanya berbisik diantara mereka.


"Apa yang kamu laporkan tadi pada Bos?" Selidik Nicko pada Ricky. Entah kenapa Nicko juga marah pada temannya itu.


"Tadi Si Bos minta cek phonsel Ranti. Jadi aku laporkan. Ternyata mantan suaminya menghubunginya kemarin" Ricky menjelaskan sambil berbisik. Lalu tercengang! Dia melihat Nicko yang memandangnya dengan sengit.


"Kenapa? Aku salah karena mengatakannya? Ayolah, akukan hanya melakukan yang dia minta!" Tapi Nicko tidak mengendur. "Hais ...! Apa ini salahku!" Ricky mulai tersulut juga.


"Kamu memanggil "dia" pada siapa?"


Ricky akhirnya paham."Oh, maaf! Maksudnya Nyonya Bos. Nyonya Bos mendapat telphon dari mantan suaminya," Cengiran garing itu masih menetap di wajahnya hingga beberapa detik. " Bodoh!!" Serunya pada dirinya sendiri.


 


****


       Ranti turun dan segera mencari Bi Imah.


"Bi Imah, makan malamnya sudah siap?"


"Sudah Nyonya ... ini agak berat, jadi pakai troli saja, biar di bantu sama pelayan yang lain, ya ...."


"Iya Bi, terima kasih."


Bi Imah membalasnya dengan senyuman dan menepuk pundak Ranti."Semoga berhasil ...." Rantipun tersenyum. Suasana yang baik, semoga juga menghasilkan yang baik.


        Darren sudah menunggu di ruang kerja. Dia keluar dari ruangan rahasianya dan sudah mengabarkan keberadaannya pada Bi Imah.


Tokk Tokk


       Pintu terbuka, Ranti melangkah masuk dengan senyuman yang menawan. Darren, meski hatinya menyimpan kemarahan, namun melihat Ranti yang tersenyum manis padanya, jantungnya seakan berhenti berdetak! Dan hatinya jatuh hingga ke lantai. Meleleeeeehhh ...! Darren baru tersadar setelah Ranti menyentuh pundaknya.


"Astagaaaaa...!" Segera Darren menguasai kesadarannya lagi.


"Pak Darren? Kita makan malam dulu ... " Ranti memintanya dengan lembut. Dia tentu enggan melakukannya, tapi demi bisa pulang, dia akan mencoba segalanya!


"E-emmm ..." Darren menjawab dengan dingin dan seolah tidak tertarik. Padahal, hatinya masih lebek seperti bubur.


       Ranti benar-benar melumpuhkannya. Dengan mengenakan dres putih yang jatuh membentuk tubuhnya dan sedikit menerawang. Menjepit sejumput rambutnya lalu membiarkannya tergerai. Merias wajahnya senatural mungkin membuatnya secantik "DEWI". Hingga Darren memaki dalam hati.


"Wanita licik! Harusnya aku menghukummu, menyiksamu! Tapi kenapa jadi aku yang tak berdaya ...."


Setelah beberapa saat, Darren menyadari apa yang dilakukan istrinya. Diapun tersenyum rumit."Mau melawanku? Coba saja!"


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2