Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Wajah lain


__ADS_3

        Pria perlente keluar dari gedung perkantoran dengan senyum mengembang. Dengan setelan jas marun yang mempertegas ketampanannya. Diikuti asisten dengan pipi yang bengkak, berjalan ke arah pintu mobil Bentley yang sudah menanti. Sopir menutup pintu setelah tuannya duduk dimobil dan segera berputar menduduki kursi kemudi lalu melaju.


"Heeh ... Bonusmu!" Bram melempar selembar cek dengan senyum kepuasan yang masih tersunging di bibirnya.


Haap!!!


Dengan sebelah tangan Alfin menangkap bonus 30 jutanya."Terima kasih ... Bos yang terbaik!" Senyum bangga tak luput dari wajah bengkaknya.


"Bagaimana kamu bisa dapat ide konyol itu? ha.. ha.. haa ... dasar orang bodoh!"


"Hemm ... karena sekretaris tidak biasanya disana. Masih banyak tempat, tapi pak Darren memilih satu ruangan. Dan sudah lama dia dikantor kecil itu. Jadi, apalagi?"


Ha.. ha.. ha ... mereka tertawa bersama.


"Dia tidak membelanya, tapi dia juga tidak menyalahkannya ... heeeh, mau kamu sembunyikan sampai mana Darren?!". Sesaat, tatapan dan senyum dingin nan bengis muncul di wajah Bram.


"Darren, kamu harus hancur ditanganku ...."

__ADS_1


*****


"Besok pagi ... kita menikah besok pagi. Saya mohon ... saya tidak ingin Zain mengetahui nya ... " Ranti memohon sekali lagi dengan tubuhnya yang masih gemetar dan putus asa.


"...." Darren menatap Ranti tajam dan cukup lama. Memperhatikan wajah sekretaris cantiknya yang kini tampak menyedihkan. Air mata membasahi seluruh wajahnya. Rambut dan bajunya kini berantakan karena ulahnya. Belum lagi mata itu. Mata jernih yang memancarkan kecantikan, kini menampilkan ketakutan dan kerapuhan.


"Heeeehhh ... oke, besok pagi. Kamu rapikan dirimu dulu, terus kita pulang," Amarahnya masih belum mereda.


"Iya ... " Dengan sesenggukan Ranti berjalan lunglai ke toilet. Dia membasuh wajahnya berkali-kali, berharap dia terbangun dan yang baru saja terjadi hanya mimpi.


"Kenapa jadi seperti ini?! Alfin ... kamu busuk!" Rutuknya dalam hati.


            Marah, sedih dan putus asa yang Ranti rasakan. Dia tidak percaya hal buruk terjadi lagi padanya. Dulu, Semua orang yang mengenalnya perlahan menjauh, lalu mencibir dan menghakimi. Tatapan menyalahkan seolah tiada habisnya. Dan hari ini, saat Alfin mengenalinya, rasa takut itu muncul lagi. Membuatnya lengah. Dan kini hanya bisa meratapi kebodohannya sendiri.


*****


            Darren menengak air mineral dari botol dan melemparnya sembarangan. Tinjunya terkepal lalu dilayangkan pada meja di depannya.

__ADS_1


"Sial! benar-benar diluar didugaanku. Kenapa brengsek itu kenal Ranti ...!" Dia terduduk dan memijit keningnya.


"Harusnya, Bram hanya curiga. Dan itu bisa kujadikan alasan agar lebih dekat dengan Ranti. Tapi si brengsek itu langsung menyerangnya. Sial!" Darren memukul pegangan tangan pada kursinya. Marah dan menyesal karena tidak bisa menjaga Rantinya.


             Sedetik kemudian senyum perlahan mengembang. Sampai Darren menutup mulutnya dengan tangan. Sinar kebahagian memancar dari sepasang matanya.


"Astagaaaa ... Aku akan menikah dengan Ranti. Ya Tuhaaan ... ini bukan mimpiiii!" Sesaat dia terlarut oleh rasa yang menggelumbung memenuhi hatinya.


"Ekhem, ekhem," Darren mencoba menyadarkan dirinya dari fatamorgana itu. mengingatkan otaknya bahwa itu belum terjadi. Sebuah mimpi yang belum dia genggam. Tapi tetap saja, rasa itu terus mengelitik sudut bibirnya.


"Bodoh! Ranti tidak boleh melihatku seperti ini," Darren segera masuk ke kamar pribadinya.


 


 


********

__ADS_1


Terima kasih like nya Readers...😇


Yang masih silent, segera like n love ya .. biar aku up terus ..🥰


__ADS_2