Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Pak Darren ( Bawel Mode On)


__ADS_3

" Ahhh … pulang!” Gumam Rianti lirih sambil tersenyum.


                 Ranti mulai merapikan meja kerja nya. Memasukkan berkas dan laporan kedalam map masing- masing. Dia kemudian masuk ke kamar pribadi pak Darren. Membuka lemari dan mengambil kemeja, mencocokkan dengan setelan jas dan memilih dasi yang sesuai. Sejauh ini pak Darren belum pernah sekalipun mengeluh dengan outfit dan menu makanan yang di sediakan Ranti.


                Kembali ke mejanya, Ranti melirik jam dikomputer.


"16.14. Tumben pak Darren blm pulang sih! Hemm … ” 


"kayaknya sudah gak ada yang harus di kerjain lagi juga.” Ranti mengingat-ingat lagi jika mungkin ada yang pekerjaan yang lupakan.


"Fix ... udah gak ada lagi. Tunggu ajalah … semoga gak lama. Emm … mending aku siapin sekalian berkas-berkas buat besok.”


                Ranti kembali membuka map, kemudian memilah, membuka dan memberi tanda dengan pensilnya. Cukup lama. Tak terasa jam di komputernya menunjukkan angka 17.17. "Waah … sudah satu jam aja.” Ranti mulai melirik ke arah meja Darren. Nampak disana Darren yang sudah sibuk dengan ponsel pintarnya bukan lagi dengan dokumen. Ranti lalu berjalan mendekati meja atasannya.


" Maaf Pak Darren, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Ranti.


" Emmm ... kamu kembali aja kemeja mu,” jawabnya tanpa menoleh pada Ranti.


"Baik pak …” Ranti mulai melangkahkan kaki siap memutar badannya. Lalu …


”Kamu masak aja, siapkan makan malam buat kita. Aku mau sayuran yang banyak. Daging juga. Ayam. Sambel … ahhh … sama jus sirsat!” Pak Darren menatap Ranti sambil memasang senyum sumringah. Sementara lawan bicaranya menampilkan wajah terkejut dengan mata yang melebar dan mulut yang sedikit menganga.


"Ya ampunnnnn! Kenapa sekarang? kok gak tadi sih!” Ranti menggerutu dalam hati.


Menahan kesal, Ranti menarik nafas panjang dan menjawab," Baik pak ….”


"Kamu minta nicko siapkan bahannya. Dia sudah tau!” lanjut Darren lagi.


                  Dilantai kantor Darren, memang disediakan pantri yang sangat lengkap, jadi Ranti tidak binggung ketika bosnya itu minta dimasakkan sesuatu. Dan benar saja, Nicko sudah datang dengan bahan makanan segar seperti yang diminta sang bos. Ranti menuju pantri dan mulai memasak, dia sudah mengabari keluarganya jika harus lembur, jadi dia bisa memasak dengan tenang.


                  Sementara di ruangan lain, seorang pria tampan -dia adalah Darren- terlihat asik menyaksikan layar komputernya yang ternyata adalah tampilan Ranti dari CCTV di pantri.

__ADS_1


               Sah-sah aja kan?


***


 


                  Mereka makan bersama di ruangan pantri yang juga tersedia  satu set meja makan.


"Masakanmu hari ini enggak enak, sayuran ini agak asin!” menunjuk semangkuk sayur berkuah.


"Ini terlalu pedas" Dia menunjuk mangkuk berisi tumis.


"Ayam nya kurang berasa, dan dagingnya … alot!”


                 Kata perkata meluncur dari mulut Darren tanpa sekalipun melihat sang koki yang terbengong. Tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dengan cuek Darren tetap melanjutkan makannya yang lahap. tanpa memperdulikan Ranti sama sekali.


"Perasaan semua pas …” batin Ranti yang kebingungan dengan kritik Darren.


"Bilangnya enggak enak ... dihabisin juga!"


"Habis ini kamu ikut aku. Cari baju ... bosen lihat bajumu.”


"Baik pak … " jawab Ranti setelah beberapa saat.


                Ranti lagi-lagi dibuat kesal dengan kritikan pedas bosnya itu. Dan lagi ini soal penampilan. Wanita manapun pasti merasa tidak nyaman.


****


                Mereka sampai di sebuah Butik yang elegant. Tidak banyak ornamen dan hiasan yang dipajang di sana. Namun butik itu ditata begitu apik. Pakaian yang mereka milikipun ditata dengan minimalis. Ada banyak ruangan yang cukup besar. Masing-masing ruangan berisi pakaian dengan satu nuansa saja.


"Cari baju yang satu nuansa dengan pakaian yang biasanya aku pakai.”

__ADS_1


"Tapi pak Darren ... sebaiknya saya beli di toko langganan saya saja pak!” Ranti berusaha menolak. Dari butiknya saja sudah tahu harga bajunya pasti sangat mahal.


"Ranti... jangan buang waktuku.” kata Darren dengan nada tegas dan tatapan tajam.


Mau tak mau Ranti pun menurut.


"Mari, Nyonya. Saya bantu ... "kata salah satu pramuniaga yang mengira mereka pasangan. paling tidak calon pasangan.


                  Ranti mencoba beberapa baju lalu menunjukkan kepada Darren. Tak pelak kritikan demi kritikan melantun bagai nyanyian burung di pagi hari. Sayangnya, yang ini tidak merdu!


"Ya ampun!  Bawel bangel sih pak Darren. Apa aku ada salah ya? . Ah ... sudahlah … yang penting cepet selesai. Turuti aja apa maunya, aku sudah lelah!” batin Ranti yang rasanya sudah mau nangis menuruti bosnya itu.


                 Ranti sudah kehilangan semangatnya, sudah terlalu lelah. Darrenpun paham jika sekretaris cantiknya itu sudah kelelahan. Darren kemudian meminta pramuniaga membungkus beberapa baju yang dia rasa pas untuk Ranti. Darren menyerahkan kartu untuk membayar dan segera di proses oleh kasir butik.


"Langsung pulang saja. Motormu biar dikantor dulu. Besok pagi aku jemput sekalian!”.


 "Baik pak ... " Ranti sudah lelah untuk mendebat bosnya itu.


                Entah kenapa hari ini bosnya itu bawel dan bossy. Ranti hanya berharap kebawelannya ini tidak berlanjut esok hari.


 


 


 


****


Hallo readers... 😃


Dukung aku ya dengan tekan tombol love, jempol,rate dan vote.... 😇

__ADS_1


Kritik dan sarannya juga ya ... 😁


Karna ini novel pertamaku , tentu belum seindah novel yang sebelah.. 🙏


__ADS_2