Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Balada Malam Pertama


__ADS_3

         Bu wisnu keluar dari kamarnya dengan menggendong Zain. Dilihatnya Darren duduk di kursi ruang tamu.


"Zain, sama mama di kamar dulu ya!"


"He'eh ... " Zain menurut, turun dari gendongan bu wisnu dan berlari kecil ke kamar mamanya.


"Nak Darren, ada perlu apa cari Ibu?"


Darren tersenyum, ketajaman Bu wisnu memang tidak berkurang.


"Besok kita ketemu di cafe yang kemarin ya,Bu. Sebisa Ibu saja jam berapa, saya ikut."


"Emng ... besok saya kabari."


"Emng ... Saya pamit dulu." Darren berjalan diiringi bu wisnu di belakang. Sampai di pintu Darren berbalik.


"Titip Ranti ... " ucap nya dengan senyum tersungging dan sedikit tersipu.


" Hehh! Apa sudah kangen? Dasar pengantin baru!"


Mereke berdua tersenyum dan terkekeh kecil. Semenjak lamaran itu, mereka menjadi lebih dekat. Darren yang terbuka pada Bu Wisnu, menumbuhkan kepercayaan di hati Bu Wisnu. Sementara Darren sangat menghormati dan mengagumi Bu Wisnu. Di hati Darren, Bu Wisnu adalah sosok ibu yang sempurna. Sosok ibu yang dia harapkan menjadi ibunya. Hangat, perhatian, pintar dan bijak.


 


 


***


           Ranti terduduk di kasur kamarnya. Pikirannya tak henti berputar tentang Darren.


"Siapa dia sebenarnya? Pernikahan ini, dia tidak ada keberatan sama sekali. Apakah sudah dia rencanakan?"


Lalu sekilas bayangan Darren yang mencium parutnya melintas di otaknya. Perlahan tangannya menyentuh perutnya. mengelusnya dengan perasaan getir. Ingatannya tertarik ke masa kehamilannya dan melahirkan. Air matanya mengalir begitu saja. Ranti langsung menghapusnya. Dia tidak ingin mengingat masa itu lagi.


"Bahkan di luka ini ... dia seperti sangat mengerti. Aku bukan hanya kecewa, tapi aku juga terluka. Apa aku pernah mengenalnya sebelumnya? Apa dia ada niat lain? mungkin balas dendam? Aku harus berhati-hati! Jika ini memang sudah dia rencanakan, berarti masih ada rencana lain di belakang nya ... yang lebih besar ...."


Dingggg ....


"Besok aku jemput seperti biasa"


"Maaf Pak Darren, besok saya ada keperluan di sekolah Zain. Jadi saya ambil libur. Surat ijin akan saya serahkan lusa, saat masuk kantor lagi."


"Oke. Jam berapa?"


"Jam 9 pagi"


"Oke. Cepat tidur!"


Ranti tidak membalas lagi. Baginya chat, pesan dan panggilan dari bosnya itu  seperti teror.


"Hemmm, gak dibalas! Haaaahh ... malam pengantinku ... " Senyum liciknya mengembang. Darren lalu membuat panggilan lain.


"Hemm ... bagaimana? Ada perkembangan?"


"Saat ini tidak ada Pak, tidak ada pergerakan yang berarti. Mereka tetap mengamati dari jauh."


"Emm, jangan lengah." Darren menutup panggilannya dan membuat panggilan lain lagi.


"Nicko, cafenya sdh siap?"


"Sudah."


"Emng ... Bram?"


"Sepertinya investasinya akan di tarik, Dia pasti menanti reaksimu "


"Ricky? Teddy?"


"Mereka sudah siap "


"Kalian urus ini!" Darren hendak menutup panggilannya, tapi dia urungkan.


"Sebaiknya ... kita tunjukkan kalau kita lemah. Buat kita terlihat kacau beberapa waktu. Aku ingin tahu, dia akan menggarah kemana."


"Oke. Mengerti."


Darren menutup panggilannya. Banyak hal yang harus dia persiapkan. Tapi wanita itu kembali menari-nari di pikirannya. Dia bangun, menyambar jaket dan kunci motornya. Berlari kecil menuju garasi. Dilihatnya motor sport yang dia miliki tidak nyaman untuk berboncengan. Darren teringan motor matic Dani.


"Danii ...!" Darren berteriak cukup kencang memanggil Dani yang terlihat ngobrol dengan security. Dani segera berlari.


"Ya, Pak Darreeenn!" Deni berlari.


"Kunci motormu mana?"

__ADS_1


"Hah hah ... Apa Pak?" Matanya bergerak - gerak, menerka kemana arah pembicaaran Bos nya itu.


"Kun-ci  mo-tor-mu!"


"Oh, ini Pak" Dani merogoh jaketnya dan memberikan kuncinya pada Darren.


"Emng ... " Darren memakai helm dan berlalu dengan motor matic Dani.


Dani kebingungan dengan sikap bosnya.


"Si bos kenapa ya? Tumbenan mau pake motor. Mana motorku yang biasa aja. Ya ampun!  Tuh motor buluk lagi, sebulan gak tak cuci. Alamat kena semprot deh besok!" Dani menepuk jidatnya.


 


***


            Ranti baru mulai tertidur dan handphonenya berdering. Dilihatnya ID Caller, Pak Darren.


"Ya, Pak?"


"Keluar! pakai jaket dan helmmu!"


Klekk...


Panggilan sudah putus."Apa sih?" Ranti kebingungan, dilihatnya jam, sudah 11 malam."Mau apa lagi!"


Ranti keluar rumahnya dengan jaket dan helm yang sudah dia kenakan. Tanpa bicara Ranti naik ke motor yang terlihat menunggu didepan rumahnya .


"Pegangan!"


"Sudah biasa naik motor Pak, gak jatuh kok."


"Pegangan!"


Tak dapat di hindari, Ranti menarik sedikit jaket di kanan dan kiri Darren. Darren menggeleng, lalu menarik kedua tangan Ranti dan menyatukannya di depan perutnya. Darren tersenyum bahagia dan menjalankan motornya. Dalam benaknya, 'Romatis'.


Ratusan, bahkan mungkin ribuan kali. Darren sudah membayangkan ini. melalukan hal-hal sederhana yang romatis bersama Ranti. Yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih. Saat ini Darren mencoba mewujudkannya, satu persatu.


 


"Suapi! Dengan tanganmu!"


"Tapi Pak, ini di tempat umum!" Ranti geregetan.


"Gak mau? Oke, aku gak makan. Dan artinya ... kita gak pulang!"


" ... "


Ranti akhirnya mengalah, dengan berat hati, menyuapi ayam goreng di warung lesehan di pinggir jalan. Ranti terus menunduk. Malu!  Ini jauh dari tata cara yang sejauh ini dia tahu. Dan Darren, dimata Ranti dia berubah menjadi ... mesum! Saat di suap, dia selalu menjilat dan menghisap jari-jari Ranti yang masuk ke mulutnya. Rasanya Ranti ingin menghilang saja dari sini.


Saat acara makan ekstra mesum itu berakhir. Ranti masih mendapat kejutan lagi.


"Malam ini aku menginap di rumahmu." ucapan Darren dengan ringan seolah tidak mengandung arti apa-apa. Dan masih terus menciumi tangan Ranti yang sudah bersih.


"Enggak! jangan harap!" Ranti menajapkan tatapannya dan menghentakkan tangannya dari genggaman Darren.


"Kamu lupa? Ini malam pertama kita? Kalau tidak boleh kerumahmu, kerumahku saja!"


" Enggak! Tetep enggak!"


"Oke, pakai helm mu." Darren terdengar melunak. Ranti merasa lega.


Mereka berkendara lagi. Yang romantis menurut Darren . Menyebalkan menurut Ranti.


"Loh, Pak! ini kita mau kemana? Ini bukan jalan kerumahku!"


"Istriku, kenapa gak bisa nurut ... " Darren tidak memperdulikan keluhan Ranti, dan terus berkendara ke arah yang dia mau.


Setelah motor itu berhenti di rumah mewah Darren, Ranti tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia mendorong Darren dan membentaknya dengan keras.


"Antar aku pulang! Aku mau pulanggg!" Ranti sangat benci dengan Darren. Kenapa manusia ini semaunya sendiri.


"Disini juga rumahmu ... besok pagi aku antar. Sekarang masuk." Darren melangkah masuk. Menyadari tidak ada langkah kaki yang mengikutinya, dia menoleh.


"Masih tidak mau masuk? Mau tidur dengan Dani?"


Ranti sangat kesal, tapi mau tidak mau dia juga menurut dan masuk ke dalam rumah.


"Nyonya, Tuan ... " sapa Imah yang masih setia menunggu tuannya pulang.


"Sudah beres?" Tanya Darren.


"Sudah tuan ... " Imah lalu memalingkan wajahnya ke Ranti.

__ADS_1


" Nyonya, selamat datang. Jika butuh apapun, Nyonya bisa memangil saya ... " Imah menunduk lalu pamit," Saya permisi."


Darren menggandeng tangan Ranti, menuntunnya naik ke kamarnya, kamar pengantinnya. Tapi Ranti tidak bergeming, dia tetap berdiri di tempatnya.


"Oke, kita habiskan malam kita ... disini saja. Mungkin seru juga." Darren justru melemparkan senyum menggoda ke Ranti.


Ranti melihatnya dengan kemarahan. Dia menghirup nafas panjang, lalu ...  Ranti berlari menaiki tangga, masuk ke kamar Darren dan mengunci pintunya dari dalam. Nafasnya memburu, dia lalu terduduk di lantai.


"Dia kira bisa melakukan semaunya padaku? Jangan harap!" Ranti lalu menghempaskan diri di kasur king size Darren dengan senyum kemenangan.


Darren sama sekali tidak mengira Ranti akan melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu. Darren justru tertawa lepas, terbahak-bahak. " Ranti, istriku ... kamu memang ngegemesin!"


Darren merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Senyum bahagia tak lepas dari wajahnya. Pikirannya melayang pada masa-masa mudanya. Dia yang muda dan kesepian, hidup dalam pelarian dan persembunyian. Dipaksa hidup terpisah dari keluarga demi keselamatannya. Satu-satunya obat rindu akan kehangatan sebuah keluarga hanya mereka. Ranti dan keluarganya.


Tak terasa 2 jam berlalu, Darren menuju kamarnya. Dia mengeluarkan kartu lain untuk membuka kunci kamarnya. Membuka dan menutup pintu dengan perlahan. Dilihatnya istrinya sudah tertidur.


"Kamu sudah merasa aman kucing kecil ku?" Batinnya sambil tersenyum memandang wajah cantik istrinya.


Perlahan dia berbaring di samping Ranti, sepelan mungkin agar Ranti tidak terbangun. Melingkarkan tangannya pada pinggang Ranti dan menciumi rambutnya.


"Rasanya ... begitu damai bersamamu ... " Darren akhirnya terlelap dengan merengkuh mimpinya. Cintanya ....


 


 


---------------


 


Hallo readers...🥰


Up lagi ya .. semoga suka...


like n lovenya ya, biar semangat.. bisa up terus ..


terima kasih...😊🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2