Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Lamaran


__ADS_3

"Melamar kamu ... "


" ... "


         Lagi, Ranti dibuat terkejut sampai tidak mampu berkata-kata. Pernikahan ini hanyalah sebuah ganti rugi. Bagaimana manusia yang satu ini masih memikirkan soal lamaran?.


"Malah bengong, turun!"


***


        Mereka sama -sama melangkahkan kaki keluar dari mobil. Ranti menatap pria di depan nya yang sama-sama berdiri disisi mobil. Pun sebaliknya, Darren menatap mata bening yang tengah menatapnya.


"Apakah ini nyata ...? Pak Darren datang ke rumah untuk melamar? Melamar aku?" Ranti.


"Ini adalah awal Ranti, selanjutnya kamu harus mencintaiku. Sebesar cintaku padamu ..." Darren.


       Mereka lalu melangkahkan kaki bersama ke rumah.


***


       Sementara di dalam mobil ...


"Ngelamar?! ... edyan! si Bos mau ngelamar mbak Ranti? ... edyan ... edyan .. .Edyaaan!!!" Seseorang kelabakan ... sendirian ...


****


" Assalamualaikum, Mama ... Ranti pulang ... " Ranti membuka pagar dan masuk ke rumah di ikuti Darren di belakangnya.  Dia menyimpan kegundahannya didalam hati.


"Waalaikumsalam ... " sahut Bu Wisnu yang bergegas keluar menyambut putrinya dengan kening berkerut.


"Tumben sudah pu- eh ... maaf, ada tamu ... silahkan masuk ...."


           Memasuki rumah ini pertama kali. Darren menyapukan pandangannya ke segala arah lalu mengikuti nyonya rumah duduk di kursi tamu. Ruangan yang sederhana, bergaya minimalis. Matanya menilik ke beberapa tempat dimana terdapat mainan Zain. Tatapannya berubah sedikit rumit. Meski hanya sesaat nyatanya pandangan itu tertangkap oleh nyonya rumah.


"Ahh ... maaf berantakan. Maklum anak-anak ...."


"Iya, Bu. Gak papa .... "


"Saya Darren, CEO di tempat kerja Ranti. Ada yang ingin saya bicarakan dengan ibu. Sebaiknya kita bicara di luar saja. Maaf agak mendadak ... "


             Darren memilih untuk mengutaran maksudnya di tempat lain. Demi kebaikan Zain dan Ranti. Ranti ingin merahasiakan hal ini dari Zain. Selain itu menimbang perasaan Ranti saat ini, yang pasti membutuhkan ruang untuk sendiri.


            Melihat sikap dari atasan putrinya, Bu Wisnu memilih untuk menyetujui. Pasti ada alasankan, seorang ceo bertamu ke rumah bawahannya.


"Emm ... baik. Ibu mengerti. Tunggu sebentar, Ibu siap-siap dulu."


             Bu wisnu segera berlalu, tentu saja dengan tanda tanya besar di benaknya. Apakah hal baik ataukah sebaliknya?. Bu Wisnu memilih menyimpang kegugupannya dan segera bersiap.


"Ibu sudah siap. Kita bisa pergi sekarang!"


"Baik, mari ... "


****


"Toko kue yang cantik ... tapi kok sepi?" batin Bu Wisnu saat memasuki toko kue sekaligus cafe yang di pilih Darren.


            Mereka memilih tempat duduk yang nyaman dan agak jauh dari meja lain. Meskipun semua meja kosong tanpa tamu.

__ADS_1


"Selamat sore ... mau pesan apa?" tanya seorang pelayan yang menghampiri meja mereka.


"coklat cake dan minuman dingin. Ibu mau pesan apa?" tanya Darren tanpa mengurangi kesopanan.


"Terserah nak Darren saja." Bu Wisnu.


"Emng ... Coklat Cake 2, teh hangat 2."Darren.


"Baik, mohon ditunggu ... " Pelayan itu pun berlalu.


" Nak Darren, sebenarnya ada perlu apa?" Bu wisnu memilih langsung ke pokok pembicaraan tanpa menunggu pesanan datang.


"Maaf jika mengejutnya Ibu. Saya bermaksud untuk melamar Ranti menjadi istri saya. Mohon Ibu merestui kami."


"Apa? Melamar?" Bu Wisnu terkejut. Namun sesaat dia mampu mengendalikan emosinya." Apa nak Darren dan Ranti berhubungan sebelumnya?" Aura seorang nyonya benar- benar tidak menghilang darinya.


"Sebenarnya tidak. Kami tidak pernah ada hubungan pribadi sebelumnya. Tapi ... bisakah saya minta restu Ibu untuk kami?"


"Alasannya?" Tatapan dan senyum tipis tersungging di bibirnya. Namun kedalaman dari ucapannya menyiratkan bobot yang berbeda.


"Karena saya terlalu mencintai Ranti ... " Darren menatap bu wisnu dalam, menyatakan kesungguhan di dalam hati dan ucapannya.


"Apa yang bisa kamu berikan."


"Hidup dan nyawa saya ... "


"Kenapa?"


"Karena saya terlalu mencintai Ranti ... "


"Kenapa?"


           Pelayan datang membawa pesanan ke meja. Mengerti sikap serius ke dua tamunya, Pelayan itupun tidak banyak bicara. Mengangguk meminta ijin yang di balas anggukan dan mulai meletakkan pesanan dimeja. Setelahnya menganguk tanda undur diri lalu berlalu.


Bu Wisnu mulai mereka-reka tujuan lawan bicaranya. "Kamu tahu siapa kami?"


"Iya ... "


"Keluargamu? atau pacarmu? atau siapa orang terdekatmu yang menjadi korban tragedi itu?"


"Ibu saya ... "


         Seketika runtuhlah pertahanan hati wanita baruh baya itu. Segala skenario buruk mulai membanjiri otaknya.


"Maka balaslah padaku ... cukup padaku ... !" Suaranya sedikit bergetar, sarat akan ketakutan. Dia mencoba mengendalikan dirinya lagi. Menghela nafas nya berat, lalu menatap pria didepannya.


"Aku turut berduka untukmu. Maaf ... maaf, kamu kehilangan Ibumu ... " Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh, Bu Wisnu ingin momok ini berakhir. Jika nyawanya bisa ditukar, dia akan menukarnya untuk kedamaian Ranti dan Zain.


"Terima kasih. Tapi itu juga bukan salah Ibu. Dan saya sudah mengiklaskannya," Sungguh Darren telah mengikhlaskan kematian sang Ibunda. Menganggapnya sebagai takdir.


"Jadi, lepaskan Ranti ... saya mohon! " Sorot mata itu berubah putus asa dengan air mata tertahan.


"Saya tidak bisa, maaf ... "


"Kenapa?! Kamu boleh ambil nyawaku ... bukan ... tukarlah dengan aku! Apapun yang mau lakukan padanya ... lakukan padaku! Jangan siksa dia ... Aku mohon ... " Bu Wisnu sekuat tenaga menahan tangisannya di tenggorokan.


"Begitu pahit hidup yang kamu jalani Ranti ... Mama gak bisa membiarkan kamu menanggung yang lebih berat lagi. Aku akan melakukan apapun untuk kalian, bahkan memohon di kakinya!"

__ADS_1


        Bu Wisnu beranjak dari duduknya dan hendak menjatuhan diri di kaki Darren.


"Aku mohon ..." iba nya lagi dengan air mata yang sudah mengalir.


"Ibu! Hentikan!" Dengan sigap Darren menangkap pundak Bu Wisnu menahannya agar tetap berdiri dan mendudukan Bu Wisnu kembali ke kursi. Sekarang berganti Darren yang berjongkok di depan Bu Wisnu.


"Bu, lihatlah ... lihat aku,Bu ... " Darren mengenggam tangan Bu Wisnu, memaksanya untuk melihat pada dia. "Sekarang aku yang memohon padamu ... restui kami. Restui aku menikah dengan Ranti ... " Darren sungguh memohon dengan sepenuh hatinya.


"Kenapa ... kenapa harus Ranti?" Bu Wisnu menghapus air matanya. Melihat pria di depannya, menatap kedalam matanya. Mencoba menemukan apapun yang terbias disana.


Terkejut! Tak percaya ....


Sungguh mata itu ... wajah itu ... menampilkan semua dirinya. Sebuah ketulusan dan kesungguhan.


Bu Wisnu menelan ludahnya. Matanya mengerjap. Seketika merasa konyol.


"He.. he ...  jangan bilang kamu gila!"


"Iya ... saya akui, saya memang gila. Saya tidak bisa menghentikannya atau mengubahnya. 10 tahun ... katakan, bagaimana saya tidak gila!" Kini hidungnya terasa masam, dan matanya memerah.


          Tidak mudah mencintai dalam diam. Begitu lama ... sekali kata itu keluar dari mulutnya, segala emosi turut menyertai. Sedih, marah, rindu, tersiks ... menunjukkan diri Darren sebenarnya. Bukan CEO, tapi "cinta".


        Sungguh konyol!!


        Dalam ketidak percayaannya, Bu wisnu memalingkan wajahnya keluar jendela. Memandang jauh ... menelaah dan mencerna hal gila ini. Masih mencoba mereka skenario yang tersembunyi. Akankah sungguh ketulusan yang membawa kebahagian atau ... Bu Wisnu menelan ludahnya. Tidak berani melanjutkan pikiran buruknya.


        Sampai ... tanpa sengaja matanya menangkap sebuah objek di sudut terjauh area parkir. Dia langsung melemparkan pandangan menuduh dan sengit pada pria di depannya.


"Mobil itu ... BMW X5 Hitam!. Jadi kamu yang membuntuti Ranti selama ini!?" tanyanya dengan nada menuntut.


"Iya. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk terus melindunginya."


"Dari?" Suara itu berubah tidak sabar. Seperti ada sesuatu yang akan meledak.


Darren membasahi bibirnya, gugup."Untuk yang itu, akan saya jawab nanti. Saat waktunya sudah tepat." Darren meyakinkannya.


         Sekali lagi Bu wisnu menghela nafasnya lalu terdiam. Pikirannya menerawang ... menimbang apa yang akan di putuskannya. Hingga setelah cukup lama ....


"Jika kamu saja bersedia memberikan nyawa dan hidupmu untuknya. Aku pikir tidak ada yang lebih baik lagi dari kamu. Jadi aku tak punya alasan untuk tidak menerima kamu dan merestui kalian," putusnya kemudian.


         Raut bahagia yang berlebihan mulai muncul di wajah dan gestur tubuh pria didepannya. Membuatnya sedikit menggelengkan kepalanya.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Emm ... besok ... " jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.


" ... "


 


*********


Yeeeeyyy... Restu sudah dikantongin nih..🥳


Semangat ya Darren... 🥰


Love n like nya ya Readers.. gratis ini.. ya ya ya.. 😁✌️

__ADS_1


__ADS_2