
Suasana tenang seperti biasa.
Cklen ... disusul masuknya seorang pria.
Serempak Ranti dan Darren memalingkan wajahnya ke arah pintu.
Tampak seorang pria dengan postur tinggi dan menawan. Dengan setelan jas yang begitu pas di tubuh tegapnya.
"Hai ... aku mengganggu?" Sapanya ramah dan senyum yang menawan.
"Ricky? Kenapa kamu bisa disini?" Tampak jelas ketidaksukaan dalam nada suara Darren. Ricky, sang tamu yang justru terkekeh dengan sambutan tidak ramah itu.
"He.. he.. he ... " Mengalihkan pandangannya dari Darren ke arah Ranti. "Heemmm ... aa ... kakak iparku sangat cantik! Hallo, aku Ricky ... " Ricky berjalan mendekati meja Ranti dan mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri. Ranti menjabat tangan Ricky.
"Maharanti ... " Ranti memperkenalkan diri dan tersenyum ramah.
"Apa --- "Ricky belum selesai dengan kalimatnya.
"Eheemm ... " Darren berdehem keras yang membuat mereka melepaskan jabat tangan mereka. Ricky juga tidak melanjutkan kalimatnya yang terpotong. Dia justru terkekeh geli lalu berjalan ke meja Darren.
"Tadi ketemu Nicko di depan ... "jelasnya. Ricky lalu duduk di kursi depan meja Darren dan menyilangkan kaki nya dengan anggun.
"Hampir 2 bulan, apa bulan madu nya masih kurang?" Ricky.
"Tutup mulutmu!" Darren terlihat kesal.
"He..he..hee ... maaf, tapi kamu terlalu lama berdiam di satu tempat," Ricky menatap maklum ke arah Darren. Sedang Darren tampak tidak peduli, buktinya dia malah berkutat dengan handphonenya.
"Bram minta bertemu" Ricky.
"Apa urusannya dengan ku?" Darren.
__ADS_1
"Aku sudah bilangkan, Bram mengamati kita."
"Meskipun aku dan Teddy yang muncul, nyatanya dia masih bisa menebak kamulah pemimpinnya. Mau bagaimana lagi?!" Ricky mengedikkan bahunya.
"Dia minta ketemu kamu disini, besok," lanjut Ricky.
"Cari tempat lain, jangan disini," Darren.
"Dia mau disini. Kamu bersarang kelamaan. Dia pasti ingin cari tahu, harta apa yang kamu sembunyikan di perusahaan kecil ini!" Ricky mendengus. Darren melirik Ranti sekilas.
"Jam berapa?"Darren.
"Jam 2 siang," Ricky.
"Engm ... " Darren.
"Terimakasih ... "Ricky.
"Silahkan ... " Ranti tersenyum. Ricky langsung memegang pegangan cangkir dan siap menyeruput teh hangat itu. Sampai ...
"Kamu ngapain?!" bentak Darren. Dia terlihat marah.
"Ma ... minum ... teh?" jawab Ricky dengan bingung dan mengerjap beberapa kali. Tidak mengerti dengan sahabat serta Bosnya di balik panggung itu.
"Ta-ruh!!!" ucap daren dengan tatapan setajam pedang.
"Heeeehh ... " Ricky mendesah pelan. Mau tidak mau dia meletakkan kembali cangkir tehnya dengan kecewa. Mengerti maksud sang bos dan sahabatnya itu, Rickypun langsung pamit.
"Oke! Aku balik dulu," masih mendengus kesal."Jauh- jauh, minum aja gak boleh," Dia lalu berdiri dan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Bye Ranti ... " pamitnya pada Ranty dengan ramah dan senyum sepenuh hati serta kedipan sebelah matanya.
Kembali menengok Darren dikursi kebesarannya yang sudah hampir meledak.
"Ha..ha..haa ... " tawa Ricky lalu dia menghilang di balik pintu.
Suasana tenang kembali. Tapi aura di ruangan itu berubah dingin. Ranti berjalan ke meja Darren, tangannya terulur hendak mengambil cangkir teh.
"Ahh!" Ranti terkejut saat ada tangan yang menghentikannya. Dia menoleh kepemilik tangan yang tampak marah.
"Lain kali, kalo aku gak nyuruh bikin minum, jangan bikin!" Ucap Darren dengan kekesalan yang tertahan.
"Oh, Maaf Pak."
Darren melepaskan tangannya dari tangan Ranti."Biar aku yang minum," lanjut Darren kemudian .
"Ya Pak Dareen ... " sahut Ranti pasrah.
" Heeeehhh...... serba salah." Ranti kembali duduk di Kursinya dan melirik Darren yang meminum teh dengan wajah yang memerah.
"Apa tehnya terlalu panas?" Batin Ranti.
******
Dear Readers....
Love, rate, like n vote nya ya... biar semangat .. 😇😇
Semoga suka ...😊🙏
__ADS_1