
4.30 pagi
Ranti terbangun seperti biasa, mengikuti jam biologis tubuhnya. Ranti merasa ada yang aneh, ada sesuatu yang menghimpitnya, hingga dia sulit bergerak. Saat kesadarannya sudah penuh, dia sudah bisa menebak benda apa yang menghimpitnya. Rasa marah kembali menyeruak dihatinya. Dia beguling turun dari kasur sekaligus lepas dari himpitan itu. Tubuh Darren.
"Kamu! Kenapa kamu bisa disini?!" Ranti berkata dengan keras dan marah. Dia mengambil bantal lalu melemparkannya ke wajah Darren yang sudah membuka matanya.
Bukk!!
"Ranti! Apa-apaan kamu!" Darren berkata sama marahnya. Seumur hidupnya belum pernah ada yang memperlakukannya seperti ini.
"Kamu yang apa-apaan! Bagaimana bisa kamu masuk kesini?"
"Hehhh ... kamu lupa? Ini kamarku, dan kamu istriku. Lalu dimana masalahnya?" Darren mengusap wajahnya. Menenangkan emosinya yang sempat naik. Sepagi ini bukan dibangunkan dengan cinta, malah di lempar bantal.. Marah? sudah jelas!!
Emosi dalam hati Ranti tidak berkurang. Bergegas dia ke kemar mandi membasuh wajah dan mengeringkannya dengan handuk. Kembali ke kamar dan menyambar jaketnya. Dia berlari keluar. Ranti ingin segera menjauh dari bosnya yang kini jadi suaminya. Bukan dia tidak tau diri, hanya saja ... setiap bersamanya Ranti selalu merasa di permainkan!
"RAANTIII!!" Darren tidak mau kalah. Dia mengejar Ranti yang sudah di ujung tangga. Dengan fisik yang lebih kuat dan besar, dalam sekejap Darren sudah memperangkap Ranti dalam pelukannya.
"Mau keluar dari sini? Tanpa ijinku, jangan harap!" Ada kemarahan dalam sorot mata dan suaranya. Tapi hanya sesaat. Selanjutnya Darren kembali melembut.
"Masih terlalu pagi, belum ada taksi. Kamu belum sholat kan? Sholat dulu, nanti aku antar."
Ranti diam tak berkutik setelah Darren melepaskannya. Dia sadar dengan kebenaran yang dikatakan Darren. Tapi disisi lain hatinya, dia benci!.
Entah bagaimana, Ranti selalu merasa 'ditaklukkan'. Rasanya Darren selalu benar dan dia tidak punya pilihan selain menurut. Ranti benci itu!
Selesai dengan ibadahnya, Ranti menuju dapur.
"Nyonya, butuh apa? Akan segera saya siapkan," tanya Bi Imah.
"Bibik, panggil saya Ranti saja. Saya merasa lebih nyaman, dan lebih dekat ... " Ranti tersenyum hangat. Sikap hangat bi Imah membuat Ranti merasa nyaman di tempat asing ini.
"Baik, Bibi akan siapkan teh hangat buat kamu, tunggu sebentar, ya."
"Tuan Darren memang tidak salah memilih istri. Cantik, lembut dan pengertian."
"Nyonya, sekalian bawakan kopi untuk tuan, ya. Ah ... kaki tua, sering ngilu ... " ucapnya dengan ekspresi kesakitan menyentuh lututnya.
"Ranti saja bi ... " Ranti mengingatkan bi Imah dengan panggilannya. Diapun membawa nampan itu ke kamar. Sedang bi Imah tersenyum cerah penuh harap.
"Tuan, kamu berhak bahagia. Semoga nyonya segera melihat ketulusanmu dan membuka hatinya untukmu."
__ADS_1
*****
Ranti sudah mengendalikan amarahnya, memilih untuk bersabar. Dia mengingat kembali 20M yang gagal masuk ke perusahaannya adalah nilai yang cukup besar untuk perusahaan menengah itu.
"Pak Darren, kopinya," Ranti meletakkan kopi di meja nakas, di samping Darren.
"Emng ... " Darren sudah sibuk dengan ponsel sepagi ini.
Mereka terdiam, sibuk sendiri. Tak berapa lama, Darren memperhatikan istrinya yang nampak gundah.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Darren mengambil kopi lalu menyesapnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin cepat pulang."
"Sarapan dulu, ayo turun."
Mereka sarapan bersama, Darren sudah memutuskan untuk menahan dirinya. Dia tidak ingin Ranti semakin menjauh. Kalau harus bersabar, Ya bersabar saja! Asal bersamamu.
***
"Zain, sudah siap? Yuk berangkat!" Ranti sudah siap kesekolah Zain. Setelah sarapan Darren langsung mengantarnya pulang.
"Sudah ... " Zain menjawab dengan sedikit antusias.
Tiin
"Mobil Darren.Heh, memang bisa siapa lagi!" batinnya.
Baru saja Ranti mau berdamai dengan bosnya itu, tapi Darren seolah tidak ingin melepaskannya. Bagaimanapun dia 20M nya kan? Mau bagaimana lagi, terima saja!
Ranti masuk kedalam mobil bersama Zain.
"Hallo ... Zain, di sekolah pintar tidak?" Darren bertanya dengan lembut pada Zain saat mobil mulai melaju.
"Iya ... " Zain menjawab singkat. Zain yang biasanya sedikit malu jika berhadapan dengan Darren, entah kenapa hari ini justrus terlihat ... murung.
"Ada yang nakal di sekolah?"
Zain terdiam, lalu menjawab dengan sedikit marah."Enggak!"
"Kalau ada yang nakal, bilang ke om, ya." Darren mengelus kepala kecil di sampingnya.
Darren mengerti, pasti tidak mudah menjadi Zain. Tumbuh tanpa ayah yang mendampinginya dan melindunginya. Sesaat, dia menginggat dirinya sendiri waktu kecil dulu. Hanya tumbuh dengan pelayan.
Untuk pertama kalinya Zain merasakan kasih sayang yang kuat dari orang lain, selain mama dan neneknya. Dan terlebih lagi, dari seorang pria. Zain mulai sedikit membuka hatinya, hanya sedikit. Karena dalam hatinya dia tahu, Darren bukan ayahnya dan Darren bisa saja tidak menyukainya lagi.
__ADS_1
***
"Maaf, nak Darren. Sudah lama nunggu?"
"Belum, Bu. Ibu mau pesan apa?"
"Teh manis saja."
Darren segera memangil pelayan dan melakukan pesanan.
"Bu, ini sedikit hadiah dari saya. Mohon diterima ... " Darren menyodorkan sebuah dokumen dan pulpen.
"Apa ini?" Bu Wisnu membacanya dengan seksama.
"Hadiah untuk restuku? Menyuap?"
"Saya tidak berani ... " Darren terkekeh.
"Hadiah ini sudah saya siapkan dari 3 tahun yang lalu. Saya hanya tidak menemukan alasan dan waktu yang pas untuk menyerahkannya ke Ibu. Karena sekarang kita sudah lebih dekat, maka ini adalah waktu yang pas."
"Lalu alasannya?"
"Emm ... hadiah untuk ibu mertua!"
"Hemm ... baiklah, aku terima," Bu wisnu segera menandatangani surat kepemilikan itu.
Jika itu bukan dari Darren, dia bukan hanya memikirkannya ribuan kali, tapi pasti menolaknya. Tapi Darren ... Dia hanya menyukainya. Seperti anak laki-lakinya sendiri, yang lama menghilang lalu kembali. Perasaan seperti itu, tidak datang pada semua orang.
Darren lalu menjelaskan tentang konsepnya yang sudah dia sesuaikan dengan selera Bu Wisnu. Untuk pembukuan, karyawan dan hal mendetail lain, dijelaskan oleh Nicko. Darren lalu pamit lebih dulu untuk menjemput Ranti dan Zain.
****
Darren keluar dari mobilnya. Dengan tubuh tinggi dan tegap, perawakan yang bagus dan ideal, di balut dengan setelan jas hitam gelap yang pas ditubuh. Ditambah kulitnya yang putih bersih, rambut yang rapi dan wajahnya yang diatas rata-rata. Langsung membuat mama-mama di sekolah Zain heboh!
Kasak kusuk terdengar dari segala penjuru, memuji dan mengelukan Darren. Dia tidak pernah ambil pusing dengan segala pujian tentangnya. Tapi kali ini, dia merasa dadanya lebih membusung dan dagunya sedikit naik. Entah emosi dari mana, dia merasa ada dorongan untuk terlihat lebih keren. Dia ingin Ranti juga memujinya, mengaguminya seperti mama-mama ini. Dia juga ingin Ranti dan Zain bangga memiliknya.
Lagi-lagi Ranti merasa pias. Darren lagi, dan lagi... Haruskah hari-harinya penuh dengan dia?
"Tolonglah ... Aku juga ingin bernafas!"
_______
__ADS_1
Sudah up ya Readers...😊
Tetep like n love ya ..😇