
Darren melepas jas dan dasi di kerah kemejanya lalu segera menghempaskan diri ke atas kasur di kamar pribadinya. Euforia yang dia rasakan masih saja membuncah. Bagai ribuan kembang api yang meletup dihatinya. Indah .... Hingga menghasilkan ekspresi gila yang belum pernah muncul pada wajah tampan seorang Darren.
"Aaah ... wajah bodoh ini ...!" Rutuknya gemas pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hatinya. Lalu menutup keras wajahnya dengan bantal. Entah bersembunyi atau meredam perasaannya.
Adakah seseorang yang bisa mengendalikan hati???
"Besok, kamu akan jadi istriku ..." Sebuah kata yang dia lafalkan di hatinya, bagai sebuah mantra kehidupan. Setiap kali di ucapkan, hantaman kebahagian menyerang hatinya. Membuat hatinya berdesir lalu merambat cepat membanjiri setiap sel di tubuhnya sampai ke ujung jari-jarinya. Lagi dan lagi ... dia seolah tak ingin berhenti mengucapkannya.
***
Maharanti adalah gadis pertama dan satu-satunya yang dia cintai. Cinta pertama yang bertahan hingga 10 tahun kemudian.
Gilaa ...!! Yahh, mungkin begitulah sebagian besar orang menilainya. Tak kecuali Darren sendiri.
Gadis yang hari itu menggunakan gaun berwarna peach di ulang tahun ke-16 nya telah mencuri hati Darren muda. Begitu cantik ... dengan wajah yang lembut dan kilau dimatanya. Mata yang memancarkan kehangatan, ketulusan dan kebahagiaan itu menghipnotis dan menghisap semua cinta seorang pria 23 tahun.
Bukan cinta pada pandangan pertama, tapi cinta yang baru dia sadari. Entah bagaimana, gadis manja yang selalu di hujani cinta oleh keluarganya itu, perlahan meringsek ke dalam hati dan otak nya. Mungkin karena dia kesepian? Entahlah ...
Berawal dari kebencian dan cemburu pada kehangatan dan kebahagian keluarga berisik, yang selalu menyambangi tetangganya setiap akhir pekan. Kakek nenek Ranti. Mereka mengusik ketenangannya. Hingga Darren yang saat itu masih remaja dan menyukai berbagai alat canggih itu memata-matai mereka. Sekedar penasaran, atau mengusir kesepian? Dia sendiri tidak tahu. Hanya mengarahkan teropong ke arah sumber kebisingan itu.
Nampak jelas sebuah keluarga yang bercengkrama di halaman samping rumahnya yang luas. Yang berbatasan langsung dengan rumahnya. Pasangan senja, dan sepasang lagi yang lebih muda dengan putrinya yang belia. Darren yang sedari kecil harus hidup dalam persembunyian, tak bisa melepaskan diri dari pemandangan "indah" itu. Rasa benci perlahan berubah menjadi kerinduan. Bahkan, kadang terasa tak sabar menunggu hari kedatangan mereka.
__ADS_1
Darren tidak lagi puas dengan teropong, dia mulai memasang cctv dengan resolusi dan perekam terbaik. Yang memudahkan dia menikmati setiap moment yang dia tunggu. Dia mulai terlarut pada tiap kebahagian, kesedihan. Dan terlarut pada sebuah suara, sebuah senyuman, sebuah wajah.
Suara gadis belia yang tak hentinya berceloteh tentang hal-hal konyol di sekolahnya. Tawanya yang seolah menggelitik sudut hatinya. Senyum yang begitu cantik, bagai kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya. Dan wajah yang cantik. Begitu sempurna dengan semua bagiannya.
Terobsesi? Mungkin ...!
***
Suara pergerakan di luar kamar menyadarkan Darren.
"Ranti ..." otaknya menyerukan sebuah nama.
Kembali ke ruang kantornya, Darren memperhatikan Ranti. Terduduk di kursinya dengan tatapan kosong bagai tanpa jiwa. Redup dan rapuh. Ingin rasanya dia merengkuh wanita itu kedalam pelukannya. Memberikan penghiburan, perlindungan dan ... kasih sayang?
Darren, menelan ludahnya. Seketika tersadar, bahwa dirinyalah alasan kesedihan itu. Rasa getir mulai menyelimuti hatinya menghasilkan ringisan tipis kekecewaan. Segera dia hembaskan rasa mencolos itu dalam satu hembusan nafas dan menampilkan wajah datarnya lagi.
"Sudah siap?"
"Iya, Pak."
__ADS_1
***
Selama perjalan mereka terdiam. Larut dengan pikiran mereka sendiri. Hingga tanpa mereka sadari mereka sudah tiba di rumah Ranti.
"Pak Darren, Bu Maharanti ... sudah sampai," Dani memberi tahu penumpangnya yang sedang melamun.
"Kenapa ya kok pada ngelamun? Apa ada masalah besar di kantor?" Dani menyadari suasana yang suram, tidak seperti biasanya.
Mereka tersadar dari pikirannya yang menerawang entah kemana. Menghela nafas lalu membuka pintu dengan serentak.
"Pak Darren, kenapa bapak ikut turun?" Tanya Ranti yang terkejut dengan bosnya yang ikut membuka pintu dan siap melangkan kaki.
Darren menoleh ke arah Ranti dengan tatapan yang rumit, diakhiri dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Masih tanya lagi!' setidaknya begitulah pemikiran Ranti menterjemahkan tatapan sedikit jengah itu. Ranti Hanya mampu tertunduk dan menelan ludahnya.
" Aku memang tidak tahu, makanya tanya!."
*********
Ouuuhhh... ternyata cinta mati sama Rantiii!!!
Gemes ya..🥰
__ADS_1
tinggalkan like nya untuk ku ya... gratis kok .. 😊 🙏