Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Mantan Nona Muda


__ADS_3

          Ranti terdiam ditempat untuk beberapa saat. Terkejut … Pasti! Dia tidak berfikir akan melihat mobil itu disini, digedung kantornya.


“Apakah ini benar- benar sebuah kebetulan? ataukah aku dibuntuti?” Pemikiran itu membuat bulu-bulu halusnya meremang.


           Ranti bergidik ngeri. Dengan wajah pucat Ranti segera berlari ke motornya, lalu melaju cukup kencang. Ketakutan yang pekat terlihat dimata dan wajahnya. Tubuhnyapun sedikit gemetar.


"Tidak mungkin ada yang ingin menyakitiku ... aku tidak pernah menyakiti siapapun!” Ranti mencoba menenangkan dirinya sendiri.



"Siapa pemilik mobil itu? Kenapa membuntuti aku?” Ranti sangat takut dan cemas.



"Tenang … tenang … mungkin bukan penguntit, mungkin kebetulan … "Ranti berusaha keras menenangkan diri, lalu perlahan memperlambat laju motornya. Tapi rasa takut itu tak juga hilang.



“Mama! Aku harus bertanya pada mama!” tekatnya dalam hati.


 


***


               Seperti biasa Zain selalu menyambut kepulangan mama tercintanya. Ranti tersenyum berusaha menyembunyikan ketakutan yang menggelayutinya.

__ADS_1


"Zain sayang … sudah mandi?” mengelus rambut zain, “Zain makan dulu, ya. Disuapin nenek. Mama mandi sebentar … oke!" Ranti berusaha semampunya untuk tampak ceria di depan Zain. Tapi tidak dengan Bu Wisnu, dia tau ada yang terjadi dengan putrinya. Raut wajah itu, tidak ingin dia lihat lagi di wajah cantik putrinya.


"Ya Alloh … jangan ada lagi hal mengerikan yang menimpa kami. Biarkan kami tenang ya Alloh …” Hati Bu Wisnu resah. Ada kesedihan dan kepahitan yang terpancar dari matanya. Susah payah dia tekan perasaannya dan kembali menyuapi dan bermain dengan cucunya, Zain.


                 Malam hari setelah Zain tertidur, Ranti menceritakan apa yang dilihatnya di parkiran kantornya. Hal yang meresahkan pikirannya dan membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ma, apa mungkin ... ada keluarga korban yang mendendam kepada kita ya, Ma?" Ranti sangat gelisah dan takut.


"Hus! … kamu ngomong apa!,”duduk mendekat, “Sayang, kejadian itu sudah lama, semua korban sudah mendapat santunan. Harusnya sudah tidak ada masalah lagi, iya kan!” Bu Wisnu mencoba menenangkan putrinya.


"Meskipun itu bukan salah ayahmu, dia juga harus masuk penjara dan akhirnya meninggal di tempat itu. Kita juga sudah hidup menjauh, apalagi yang mereka inginkan?. Seharusnya sudah tidak ada, kan?" lanjutnya sambil menggelus tangan Ranti, Putrinya yang malang ….


****


         Sebelumnya, keluarga Wisnu adalah keluarga kaya. Ayah Ranti -Haris Putra Wisnu- adalah pemilik perusahaan konstruksi terbesar di kota A, PT. WeBest Tbk. Selain itu mereka juga memiliki bisnis hotel dan resort. Pak Haris sendiri adalah pribadi yang hangat dan cerdas, menjadikan Keluarga Wisnu salah satu keluarga kelas atas yang cukup terpandang. Sampai sebuah petaka terjadi.


          Semua media national dan international meliput dan menyiarkannya perkembangannya setiap hari. Orang-orang terus menyaksikan dan mengikuti berita itu. Banyaknya korban yang jatuh menarik simpati kepada korban dan kemarahan kepada pihak yang bertanggung jawab, PT. WeBest dan Pak Haris secara pribadi. Tak terbayang banyaknya hujatan yang dilemparkan masyarakat kepada mereka. Belum lagi banyaknya tuntutan yang harus mereka penuhi. Tuntutan ganti rugi dari pihak pengembang properti, tuntutan dari keluarga korban, dan juga tuntutan hukum. Segala cara sudah dilakukan untuk membuktikan bahwa Haris tidak bersalah.


           Sayangnya, kecurangan yang dilakukan oleh orang terdekatnya, tidak terbukti. Proposal pembangunan yang asli, yang sesuai dengan standart telah ditukar dengan proposal palsu. Dan telah di tandatangani oleh pak Haris. Bahkan proposal kerja samanyapun dipalsukan dan terdapat tanda tangan pak Haris. Sehingga tuntutan pemalsuan dan penipuan mengarah langsung kepada pak Haris. Mereka jatuh bangkrut. Semua aset yang mereka miliki dijual untuk membayar santunan kepada para korban dan ganti rugi. Hingga mereka tidak memiliki apa-apa sama sekali.


             Bencana itu benar-benar menghancurkan kelurga Wisnu, hingga tidak bersisa. Takdir hidup yang sungguh kejam. mencabik dan merobek kehidupan yang mereka miliki menjadi debu.


 


****

__ADS_1


             Bu Wisnu terus menenangkan putrinya. Perlahan ketakutan dihati Ranti berkurang, meskipun tidak hilang.


"Istirahatlah, Nak. Sudah malam. Besok masuk kerja, kan?" Bu Wisnu menatap dan mengelus rambut putrinya dengan sayang, mencoba menghilangkan kecemasan yang masih jelas dimata Ranti.


"Besok pagikan Ranti juga harus kepasar nganter kue jajanan lho …” ucap nya sambil tersenyum. Ranti tetap diam, dalam hatinya yakin bahwa mobil itu benar-benar membuntutinya.


"Insyaalloh bukan apa-apa sayang. Nyatanya selama mobil itu disekitarmu, tidak ada hal serius yang terjadi padamu kan?” Ranti akhirnya mengangguk meskipun ragu, berusaha setuju dengan sang mama. Ranti pun beranjak kembali kekamarnya.


"Ranti, kuatlah anakku ... lihatlah semua yang kita alami sebelumnya. Kamu pasti kuat, Sayang … " air mata kini mengalir dipipi Bu Wisnu setelah Ranti berlalu. Rasa pilu itu masih menggelayuti jiwanya.


"Ranti putri ku..  Nona Muda keluarga Wisnu ..." Bu Wisnu menutup wajah dengan kedua tangannya menahan isakan yang hampir keluar agar tak terdengar putrinya.


"Maaf kan mama, Nak. Mama tidak bisa menyelamatkan kamu dari keterpurukan keluarga kita ….“ Bu Wisnu tergugu di kamarnya, kesedihan yang dia simpan jauh di dasar hatinya kini tak terbendung lagi.


"Putriku … Mantan Nona Muda Keluarga Wisnu ….”


              Bu Wisnu terus tenggelam dalam tangis dan penyesalan untuk putrinya. Anaknya satu satunya yang dia sayangi, dia manjakan. Kini putri kecil itu harus bekerja keras dengan tangan halusnya. Dalam tangisnya dia memohon ...


"Roda kehidupan sudah berputar padaku … kumohon ya Alloh, putar roda kehidupanmu lagi untuk putriku … Ranti!”


 


 


*****

__ADS_1


Selamat membaca readers...😃


love n like nya donk ..😇😇


__ADS_2