Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Fitnah


__ADS_3

BUUUKKK!!


         Sebuah tinju yang kuat mendarat di pipi Alfin sampai dia jatuh terpental.


"Apa yang mau kamu lakukan ha!?" tanya Ricky sambil terengah menahan adrenalinnya yang meluap.


           Teddy dan Nicko pun tiba bergantian. Teriakan Ranti sesaat tadi ternyata mampu di tangkap oleh orang-orang dilantai itu. Suasana yang sangat sepi dan gema dari teriakan itu membuat mereka yang ada di dalam ruangan terhenyak dan mencari sumber suara. Ricky langsung berlari secepat yang dia bisa.


           Alfin mulai bangun sambil melihat ke arah suara.


"Maaf, tapi dia yang merayuku tadi ... maaf sekali ... " Masih dengan memegangi pipinya dan menahan sakit, Alfin melanjutkan." Ranti adalah teman SMP saya. Dulu dia sempat saya tolak, dan barusan dia merayuku ..." Alfin membela diri sambil meringis.


"Benarkah? ... " Suara Darren membuat semua orang menoleh padanya." Saya sungguh tidak menduganya ... "ucap Darren dengan nada datar tanpa emosi. Darren melirik Ranti sesaat. "Emm ... karena situasi yang seperti ini, saya minta maaf. Sepertinya proyek itu tidak bisa saya ambil." lanjutnya kepada Bram yang sudah berdiri disampingnya.


"Maaf, ini salah saya. Orang saya tidak kompeten. Mohon pak Darren pertimbangkan lagi ..." Bram sedikit memohon. "Apa yang kamu lakukan? Cepat minta maaf!" Perintahnya kepada Alfin yang masih mengelus pipinya.


"Maaf pak Bram, tapi saya tidak melakukan apapun. Wanita ini yang merayu saya pak. Saya sudah menolak, tapi dia terus mendesak saya pak."


"Trus ... kenapa tanganmu tadi bisa membekap mulutnya?" Ricky tidak bodoh. Apalagi yang Alfin katakan tidak sesuai dengan adegan yang tadi dia lihat. "Kalau mau berbohong, harusnya lihat-lihat juga ... siapa yang kamu bohongi!" Perlahan Ricky merangkul menenangkan Ranti yang terlihat syok.

__ADS_1


"Saya gak mau tau, cepat minta maaf sekarang!" Bram sangat marah. bahkan kata itu meluncur dari sela giginya yang merapat.


Alfin membenarkan portur tubuhnya dan meminta maaf kepada Darren."Saya mohon maaf pak Darren, saya sudah membuat kekacauan seperti ini. Saya tidak kompeten, maafkan saya. Mohon pak Darren mempertimbangkan lagi proyek itu, karna ini murni kesalahan saya pribadi, tidak berhungan dengan pak Bram". Alfin tampak bersungguh sungguh sepenuh hati dan tulus meminta maaf kepada Darren.


"Tidak! Itu tidak benar, Itu fitnah ... ! Saya sama sekali tidak merayu pak Alfin. Pak Alfin yang melecehkan saya. Demi Alloh!" Ranti membela dirinya sambil berderai airmata. Setelah bisa mencerna yang baru saja terjadi di depannya, Alfin terang- terangan melempar fitnah menjijikan itu padanya. Bahkan bersikap selayaknya korban.


"Pak Darren, tolong percaya saya pak, saya tidak mungkin melakukan hal itu ... " Sebuah ide tiba-tiba terbesit di otaknya." Pak Darren bisa cek CCTV, kita bisa lihat bersama siapa yang bersalah disini." Ranti sangat yakin dengan kata-katanya. CCTV, ya itu adalah harapan terakhirnya.


           Karena tidak ada saksi yang melihat kejadian langsung. Masalah ini tidak bisa segera diputuskan. Meski Ricky tiba lebih dulu, dia hanya melihat Alfin yang mendekatkan wajahnya pada Ranti dan sebelahnya tanganya yang membekap mulut Ranti. Sama sekali tidak mengetahui kejadian sebelumnya.


"Kamu sangat pintar Ranti. Kamu tahu titik ini tidak terekam kamera CCTV. Apa kamu pernah melakukan ini sebelumnya? Benar-benar memalukan!" tandas Alfin penuh penghinaan.


            Ranti tercekat, dia kehilangan kata-kata. Ranti melihat ke segala arah. Dan benar saja, belokan itu diluar jangkauan CCTV. Karena CCTV berada 2 meter dari belokan dan terpasang pada sisi tembok yang menjadi sudut belokan mengarah ke pintu yang ada di depan CCTV.


           Ranti sudah putus asa. Tapi ada sebagian dari hatinya masih bertahan, ada ibu dan Zain. Ranti tidak mau fitnah ini menghancurkan kehidupan mereka lagi. Kehidupan yang susah payah mereka bangun,dari sisa -sisa kehidupan mereka sebelumnya yang telah hancur.


"Saya bahkan tidak memperhatikan CCTV sebelumnya. Bagamana pak Alfin tahu jika disini tidak tersorot CCTV!?" Ranti menguatkan hatinya sesaat," Saya baru 2 bulan disini dan saya tidak pernah ke toilet ini, bisa dikatakan saya hampir tidak pernah ada di area ini. Pak Darren bisa membuktikannya ... "


"Engmm... Ranti ada benarnya, dia selalu bersama saya. Dan tidak pernah ke area ini." Setelah jeda sesaat Darren melanjutkan," Karena kita semua tidak bisa membuktikan kebenaran dari kejadian ini, kita anggap saja, ini tidak pernah terjadi." putus Darren pada akhirnya dengan suara tegas.

__ADS_1


             Keramahannya sudah menguap entah kemana. Berubah menjadi dingin dan tak tersentuh. Seperti danau yang dalam, semua emosi itu terpendam sampai kedasar dan hanya menampilkan ketenangan yang beracun.


"Tapi ini fitnah untuk saya, bagaimana saya bisa menerimanya pak Darren?".


"....." Bram hanya menatap tajam ke arah Ranti.


"Saya harap pak Bram mengehargai keputusan saya. Pak Bram setuju?"


"Semua terserah pak Darren, saya ikut saja."


"Dan untuk proyek yang pak Bram tawarkan, keputusan saya tetap. Saya tidak bisa menerimanya proyek itu, saya harap pak Bram mengerti."


"Emm ... baiklah pak Darren saya mengerti. Saya sekali lagi minta maaf untuk kekacauan ini. Semoga kedepan ada kesempatan untuk kita bekerjasama." Mereka lalu berjabat tangan." Kami permisi."


Bram berjalan meninggalkan kerumunan itu menuju lift yang diikuti Alfin dibelakangnya.


 


---------------

__ADS_1


Woaaa... Alfin jahaaaatttt!!!!


Di like n vote ya readers....😇


__ADS_2