Obsesi (Nikah Siri)

Obsesi (Nikah Siri)
Datang Kembali


__ADS_3

         Ranti sudah mengalami hal yang pahit di masa lalu, saat ini dia hanya ingin ketenangan. Kerugian perusahaannya, dia juga mau menebusnya. Meski dengan mengorbankan dirinya. Tapi hanya dirinya, tidak keluarganya! Maka dia memilih pernikahan siri ini. Dia bisa melayani Darren sampai dia bosan. Sampai dia punya istri yang sesungguhnya, atau selama apapun dia mau. Tapi 1 hal, jangan libatkan anak dan mamanya.


         Tapi lelaki itu seperti lintah, menempel padanya, menghisap kesabarannya sampai di level terendah. Dia terus mendekatkan diri pada anak dan mamanya. Jangan kira Ranti tidak tahu!. Ranti marah, muak, jengah dengan Darren saat ini. Ini adalah 36 jam paling menjengkelkan dalam hidupnya.


        Dengan pongah, Darren mendekat dan langsung berjongkok di depan Zain. Jerit keterkejutan terdengar dari mama-mama yang masih 'standby' di posisinya layaknya menyaksikan pertunjukan.


"Ohhh ... manis bangeeet .... "


"Perhatian ya ..."


"Pengen deh laki kayak itu ... perfect!"


Dan segala pujian untuk Darren, Ranti melihat itu hanya memberikan senyum pasrah pada para "penggemar" suaminya.


"Zain, gimana nilai rapor nya? Juara berapa?"


"Juara 1," Zain masih murung seperti tadi pagi.


"Haa..ha..ha ... memang Jagoan! Ada hadiah buat Zain," Darren mengelusnya dan menggandeng tangannya menuju mobil.


Ranti diam saja. Hatinya sudah terlanjur dongkol. Pria egois ini, benar-benar tidak mempedulikan kemauannya.


 


****


          Setelah hampir 1 jam perjalanan, Mereka sampai di taman bermain terbesar di pusat kota A. Ranti merasa tidak nyaman.


"Bagaimana jika bertemu dengan orang yang mengenalku? Lalu mengatai aku? Bagaimana dengan Zain? Dia pasti terkejut .... "


         Kegelisahan itu tak luput dari perhatian Darren. Darren ingin meyakinkan Ranti, bahwa semua baik-baik saja. Tapi handphonenya berdering.


"Ada apa?"


"........."


"Iya, cuman sekali ini," Darren lalu menutup panggilannya. Tubuhnya yang menegang santai kembali.


"Tidak apa-apa, Ayo turun," Darren mengajak Ranti dan Zain masuk ke taman bermain.


          Ranti masuk dengan ragu-ragu dan mengandeng erat tangan Zain. Sesaat, bayangan orang-orang yeng mengelilinginya dan memakinya muncul. Ranti terhenti. Lalu Darren dengan lembut merangkul bahunya dan menenangkannya. Akhirnya Ranti menguatkan hatinya dan mencoba bahagia untuk putranya.

__ADS_1


         Mereka bermain disana dengan bahagia, setidaknya Darren. Mimpi kecilnya sudah terwujud satu lagi. Rantipun terlihat bahagia, meski dia membatasi diri. Zainpun sama. Anak itu asik bermain tembak-tembakan seolah benar-benar ingin menembak orang. Setelahnya Zain terlihat puas, bukan bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Darren tahu, pasti ada orang yang mengganggunya. Ranti juga mengetahui, hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya, reaksi Zain sama persis. Sampai senja akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


 


***


         Hari bahagia yang lain bagi Darren. Sungguh dua hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupnya. Sekarang dia harus kembali kepersembunyian.


"Maaf, ada pergerakan yang intens. Sebaiknya jangan keluar dulu," Nicko melaporkan kepada Darren.


"Aku tahu. Rumahnya sudah siap?"


"Sudah, tinggal interiornya saja. Apa tidak sebaiknya membiarkan Ranti memilih sendiri?"


"Benar. Tapi mungkin waktunya tidak cukup. Dan aku juga tidak mau membiarkan dia diluar terlalu lama."


"Oke, aku mengerti. Pihak selain Bram, adalah Andreas. Sepertinya dia dari dunia hitam. Aku belum bisa menemukan hubungan apapun dengan Ranti."


"Gali lagi!"


"Oke .... "


"Orang dunia hitam, siapa? kenapa menargetkan Ranti? Bahkan sejak lama."


           Darren bergelut dengan pikirannya. Kali ini dia tidak akan membiarkan Ranti terlepas lagi. Dia akan melindunginya, menjaganya tetap disisinya. Tanpa dia sadari, tekadnya perlahan membawa sikap posesifnya ke level yang lebih tinggi.


 


***


         Sementara di sebuah perusahaan, secara beruntun perusahaan itu mengalami kekacauan. Sahamnya mengalami penurunan seiring munculnya masalah. Bayu -pemimpin dari group MA- terdesak oleh para direksi yang ingin ketua Group MA diganti. Para dewan direksi merasa, Bayu sudah tidak mampu mengendalikan situasi lagi.


"Ayolah pak Bayu, situasinya sudah seperti ini. Mau turun sampai nilai berapa lagi saham kami?" keluh salah satu dewan direksi yang diikuti oleh anggota yang lain.


"Benar. Ini sudah kesekian kali nilai saham kita mengalami penurunan. Bukannya membaik, nilai turunnya justru semakin signifikan. Kami tidak bisa menerima ini begitu saja! kami mau perubahan, angin segarrr!"


        Bayu memejamkan matanya, dia tidak habis pikir, semua upaya sudah dilakukan, tapi nilai saham group MA justru semakin melemah.


       Ada yang bermain? tentu saja!. Tapi, siapa?.


       Bayu sama sekali tidak memiliki gambaran yang pasti. Dan kekacauan itu, benar-benar mulus. Terlihat seperti kecelakan atau kelalaian. Saat ini dia memilih untuk menyelesaikan masalahnya, baru mencari orang itu. Bayu memijit keningnya sesaat sebelum mendengar para dewan yang membicarakan ahli waris.

__ADS_1


"Apa maksud kalian?"


        Bayu menahan amarahnya kali ini.Mereka membicarakan hal yang paling sensitif untuknya. Ahli waris. Karena setelah dia bercerai dari Ranti dan menikah dengan kekasihnya, mereka belum di karuniai momongan.


"Bukan apa-apa ... hanya saja, pak Bayu kan juga tidak punya ahli waris. Jadi untuk apa mempertahankan posisi ini?" Keluarga Gunardi memang hanya tinggal dirinya sendiri.


"Jika ... aku memiliki ahli waris, apakah kalian akan berhenti menekanku?" Bayu menatap para dewan dengan tajam dan senyum dingin.


"Tentu saja! Kami akan mempertimbangkannya lagi. Jika ada ahli waris, siapapun akan lebih termotifasi bukan?"


"Baik, akan ku bawa putraku."


         Para dewan kembali kasak kusus sesama mereka.


"Bayu punya ahli waris?"


"seorang putra?"


"Putra dari mana? Aku belum pernah mendengarnya."


"Apa, dari keluarga wisnu? Dulu mereka bercerai, belum ada anak ...."


         Berjuta pertanyaan yang mengambang. Bayu tidak peduli. Group MA ini di bagun sendiri oleh kakeknya. Dari perusahaan kecil, berkembang menjadi Group yang besar dan kuat. Bayu tidak akan membiarkan nya diambil orang lain begitu saja!


***


        Di dalam mobil, di area parkir. Bayu terus menatap ponselnya. Ada tekat dan ada keraguan. Bimbang. Akhirnya di menekan tombol hijau dan panggilan terhubung.


"Hallo .... "


"Ranti. Ini aku ... Bayu .... "


" .... "


 


______________


Semoga suka ya readers ..


like n love nya ya .. terima kasih .. 😇🙏

__ADS_1


__ADS_2