
Darren menyimpan kebimbangan di hatinya. Disatu sisi, dia ingin Ranti disisinya namun, disisi lain diapun ingin Zain terjaga. Tapi Dia adalah Darren, dia selalu tahu apa yang harus dia lakukan.
Mereka makan dalam diam. Melihat Suaminya bersikap dingin tak tersentuh, Ranti mengurungkan niatnya untuk meminta pulang. Setidaknya saat ini. Dia akan mencobanya nanti.
Triiingg ... Tringgg ...
Ranti mengambil phonselnya,"Mama" Pikirnya. Dia menatap layar phonselnya dan tertegun. Panggilan itu bukan dari mamanya, melainkan dari Bayu -dia sudah menghapusnya dari daftar blokir kemarin-. Susah payah Ranti menelan makanan di mulutnya. Dengan kaku dia menekan tombol hijau hendak mendekatkannya ketelinga. Tapi Darren merebutnya. Dengan tatapan mengerikan yang mengarah padanya, Ranti tidak berani memprotes dan membiarkan Darren menerima panggilannya.
Darren mendekatkan phonsel Ranti ke telinganya dan mendengarkan lawan bicaranya. Darren tidak bicara. Kemarahannya mengarah pada Ranti. Dia tidak terima Ranti menyembunyikan ini darinya.
"Ranti ... Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Mengenai ... Zain ...."
Setelah cukup lama tidak ada tanggapan, Bayu melanjutkan.
"Aku akan kirimkan waktu dan tempatnya..."
"Apa maksudmu?" Darren menjawab dengan dingin. Mantan suami ingin menemui istrinya? Jangan harap!
"Maaf, Ini benar nomornya Maharanti, kan? Anda siapa?" tanya Bayu sopan.
"Bukan urusan Anda bukan?" Darren langsung memutus panggilan itu.
Darren menatap Ranti dengan amarah yang menggila. Darren melempar phonsel Ranti hingga hancur berkeping-keping. Ranti terkesiap, sekali lagi dia terlibat dengan Darren yang semarah ini.
Untuk beberapa saat Ranti merasa ketakutan, tapi dia menguatkan hatinya lagi. Dia menatap Darren dengan sengit dan menaikkan dagunya.
"Apa yang Anda lakukan?"
"Maksudmu ..." Darren kecewa dan marah. Bagaimana seorang istri menyimpan masalah seperti ini dari suaminya!
"Anda tidak berhak melakukan ini pada saya. Suami? Istri? Kita tahu status kita yang sebenarnya. Tolong jangan berlebihan!" Ranti mengingatkan kembali siapa "kita" sebenarnya. Bagi Ranti, "kita" , tidak benar-benar ada.
"Kamu lebih suka bersama ... dia?" Darren sangat benci, meski hanya memikirkannya saja. Tapi dalamnya hati siapa yang tahu, benar bukan?
"Bukan urusan Anda."
Seketika aura dalam diri Darren menggelap. Dia menarik Ranti ke kamarnya.
__ADS_1
"Lepas! Leepaaasss! Lepas aku bilang!!" Ranti melawan sekuat tenaga tapi tidak berarti. Dia dihempaskan ke Ranjang besar di kamar mereka.
"Disini ... atau dirumahmu? Pilih sekarang!"
" ..... "
Darren mengambil phonsel dari sakunya. "jemput Zain ...."
"Enggakk ... kerumahku, kita kerumahku." Ranti setengah memohon.
Darren mendengus. Kemarahannya tidak menghilang, dia lalu menyiapkan barangnya sendiri. Memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil dengan kasar. Penolakan demi penolakan Ranti, tidak pernah sesakit ini. Suaminya, tapi tidak ada yang tahu, bahkan tidak ada yang boleh tahu, termasuk anaknya. Adakah yang lebih sakit dari tidak diakui?
Ranti sangat kesal. Amarahnya sama besarnya saat ini dengan Darren. Dia merasa Darren sangat arogant, dia tidak menghargainya sama sekali!!
"Kamu, mau memperkenalkan dirimu sebagai siapa nanti?" Ranti bertanya dengan menahan marah.
"Itu urusanku ...."
Ranti bersunggut-sunggut. Nafasnya memburu. Dia membalikan tubuh Darren agar menghadap padanya.
"Katakan sekali lagi!" Zain adalah anaknya. Semua tentang dia adalah urusannya, ibunya!
Bbuukkk
Ranti memukul Darren, masih kemarahan yang besar. Ranti memukuli tubuh Darren lagi . Dia mengamuk. Dia tidak tahan lagi. Dia bisa bersabar tapi tidak dengan Zain. Zain tidak boleh masuk dalam kegilaan ini. Tidak boleh! Dan Ranti tidak akan mengijinkannya.
Darren membiarkan Ranti memukulinya. Darren mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit. Menghirup nafas sebanyak mungkin untuk menenangkan dirinya. Mereka sama-sama marah meski dengan alasan yang berbeda. Hingga beberapa saat, dilihatnya Ranti kelelahan dengan nafasnya yang tersengal. Darren menariknya kedalam pelukakannya.
" Kamu milikku, hanya milikku ..." Darren takut jika harus kehilangan Ranti lagi.
Ranti tak berdaya, dia kesal, marah dan lelah. Tapi dia masih harus berusaha menghentikan Darren. Dia tidak akan membiarkan Zain menjadi korban dari pernikahannya ini. Bahkan ini hanya pernikahan siri!
"Apa kamu akan bilang ... jika kamu adalah ayahnya? Atau ... ayahnya yang lain?"
" ... "
"Selama ini ... Dia tidak pernah punya ayah. Lalu, tiba-tiba ada orang yang mengatakan dirinya adalah ayahnya yang lain. Bagaimana perasaannya menurutmu? Dia masih 4 tahun ..." Kegetiran merayap kedalam jiwa Ranti.
__ADS_1
"...."
"Kamu akan membohongi dia? Kamu akan bilang kamu ayahnya? Lalu saat Bayu datang, dia harus percaya pada siapa? Kamu, atau Bayu?" Ranti terkekeh getir. Matanya memerah. Terbayang wajah Zain, Diapun menangis.
Darren melepaskan pelukannya. Dilihatnya wajah Ranti dengan dalam. Dia ingin menjanjikan segalanya saat ini. Menjaga, menyayangi ... segalanya! Tapi Darren takut, takut dia tidak mampu. Dia takut justru karena dirinya, Ranti akan terluka. Maka, Darren hanya memeluknya lagi. Tapi dia tetap bertekad untuk berada disisi Ranti. Dia akan membereskan siapapun yang membahayakan mereka.
****
Mereka berkendara dengan suasana suram, larut dengan pikiran mereka sendiri. Darren menarik tangan Ranti, lalu mengenggamnya dengan tanganya yang bebas. Ranti menolak, dia menarik kasar tangannya. Dareen tidak menyerah, dia menarik menggenggamnya lagi. Menggengam dan mengelus tangan Ranti seolah berkata-kata. Dan itu membuat pikiran Ranti semakin rumit. Tidak ada kata yang terucap tapi memahami emosi mereka satu sama lain.
Sampai dirumah Bu Wisnu sudah menunggu karena Darren sudah menghubunginya. Melihat mereka, Bu Wisnu tidak bertanya apapun. Wajah yang sama-sama buruk, mau bertanya apalagi?
Ranti langsung masuk kamarnya diikuti Darren. Ranti menghempaskan tubuhnya di ranjang, menutup matanya dengan lengannya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Mungkin inilah yang namanya "menyerah kalah".
Melihat Ranti begitu tak berdaya, Darren tidak mengerti harus menghiburnya bagaimana. Dia ikut berbaring di ranjang, mendekat pada Ranti. Mencoba memeluknya. Ranti langsung berbalik memunggunginya. Darren tetap memeluknya. Melingkarkan lengannya diperut Ranti dan menarik tubuh Ranti merapat padanya.
"Darrennnn ... Orang gila ..." Ranti mencatat itu dalam hatinya. Ranti sudah lelah, fisik dan jiwanya. Darren mau apa, dia tidak peduli lagi!
Di kamar yang temaram karena bias lampu diluar itu, mereka tetap larut dengan pikiran mereka sendiri. Setelah cukup lama Darren memaksa Ranti membalik tubuh menghadapnya, medekapnya, memaksakan lengannya dibawah kepala Ranti dan memeluknya dengan posesif.
"Aku tidak mau kehilangan kamu lagi ... tidak mau dan tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu ..." Darren.
__ADS_1