
Empat tahun kemudian..
"Ounty..." Panggil seorang gadis kecil pada Zahra. Gadis itu adalah anak dari Tara dan Raffi.
"Iyaaa Oliv....Oliv mau apa?" Tanya Zahra sambil menarik Olivia kepangkuannya.
"Olip au et dim ounty.." Jawab Olivia.
"Es krim?" Ucap Zahra memastikan ucapan Olivia yang kurang jelas. Olivia pun menganggukan kepalanya tanda ia mau es krim.
"Okehh ayok ikut Aunty beli es krim." Ajak Zahra.
"Iyaa Ounty..." Jawab Olivia.
"Zahh mau kemana?" Tanya Salwa yang melihat Zahra menuju garasi.
"Mau beli es krim buat Oliv sekalian mau beli camilan." Jawab Zahra.
"Ooo titip susu yaa..." Pinta Salwa yang kini sedang hamil.
"Sip.." Tangap Zahra.
Zahra pun pergi menuju minimarket bersama Olivia menggunakan sepeda motor. Olivia sangat dekat dengan Zahra.
Karena kini ia adalah satu satunya ponakan Zahra. Dan Zahra sangat menyukai anak kecil.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan minimarket tersebut. Saat ia sedang mengambil es krim seseorang menepuk bahunya. Zahra sangat terkejut lalu ia menoleh kebelakang.
"Astagfirulah hal adzim...Fira.." Ucap Zahra tersenyum bahagia.
"Hehe Assalamualaikum...kak Zahra.." Ucap Fira.
"Waalaikumsalam..kamu sendiri?" Tanya Zahra.
"Nggak kok itu sama calon kaka ipar.." Ucap Fira sambil menunjuk seorang perumpuan cantik yang sedang mengambil beberapa makanan ringan.
Jelb!!!!
Hati Zahra remuk hancur bagai tersabar petir di siang bolong. Bagaimana mungkin ia tidak sakit hati ketika mendengar Fira menyebutkan calon kakak ipar.
"Kak Gina!" Panggil Fira pada perumpuan yang ia sebut sebagai calon kakak ipar.
__ADS_1
Perumpuan itu pun tersenyum lalu menghampiri Fira dan Zahra.
"Iyaa kenapa dek?" Tanya Gina.
"Kenalin kak ini kak Zahra anak sahabat mama." Ucap Fira memperkenalkan Zahra.
Gina pun tersenyum pada Zahra lalu menjulurkan tangannya.
"Gina." Ucap Gina memperkenalkan diri.
Zahra tersenyum kecut lalu membalas uluran tangan Gina.
"Zahra." Ucap Zahra.
"Ini anaknya ya?" Tanya Gina.
"Bukan ini olivia keponakanku." Jawab Zahra.
"Ounty oliv capek." Ucap Olivia pada Zahra.
"Ohh iyaaa..maaf yaa aku duluan Wassalamualaikum.." Pamit Zahra sambil mengendong Olivia.
Setelah berpamitan Zahra pun segera membayar belanjaannya ke kasir lalu ia kembali pulang dengan mata berkaca kaca.
Ia berlari ke kamar nya dengan air mata yang mengalir. Saat melewati tangga ia tersandung dan lututnya berdarah namun ia langsung bangkit dan kembali berlari ke kamar.
Di dalam kamar Zahra menangis sejadi jadinya hati nya begitu hancur. Sudah 4 Tahun lamanya ia sama sekali tak pernah bertemu dengan Zidan.
Akan tetapi di sepertiga malam nama Zidan tak pernah terlewatkan. Ia selalu berdo'a agar suatu hari ia di pertemukan kembali oleh allah dan disatukan dalam ikatan yang suci.
"Astagfirulah hal adzimm yaaa allah...apa benar perumpuan tadi calon istri Zidan? Yaa allah kenapa? kenapa kalau Zidan memang bukan Jodoh hamba mengapa hamba begitu mencintainya ya allah?? mengapa? hamba begitu sakit yaa allah....kuat kan lah hamba yaa allah.." Ucap Zahra.
"Ayoo Zahra kamu ngga boleh lemah! ayo bangkit kalo emang Zidan bukan jodoh mu ikhlaskan dia Zahra! Iyaa ayo bangkit Zahra!" Ucap Zahra menemangati dirinya.
Tok! Tok! Tok!
"Zahra!? bunda boleh masuk nak..?" Tanya Anissa dari balik pintu kamar Zahra.
Dengan segara Zahra menghapus air matanya dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
"I..i.iyahhh bunda." Jawab Zahra.
__ADS_1
Anissa pun masuk dan menghampiri Zahra. Dan bertanya mengapa mata Zahra sembab.
"Kamu kenapa nak?" Tanya Anissa.
"Zahra ngga papa kok bun.." Jawab Zahra dengan senyuman indah.
"Bunda tau kamu lagi sedih. Apa kamu ada masalah?" Tanya Anissa.
Zahra pun menunduk lalu menggelengkan kepala.
"Yaudah bunda mau ngomongin sesuatu." Ucap Anissa.
"Ngomongin apa bun?" Tanya Zahra.
"Bunda sama Ayah mau jodohin kamu sama anak tante Vera." Jawab Anissa.
"Apa!? Jodohin? Enggak Zahra ngga mau bunda..Zahra masih bisa kok cari pasangan Zahra sendiri." Tolak Zahra.
"Kita ngga akan maksa kamu. Tapi seenggaknya kamu ketemu dulu sama anaknya Mama Vera. Selama ini kamu ngga tau kan anaknya tante Vera." Jawab Anissa.
"Bener juga sih kata bunda aku belum pernah ketemu anaknya Mamah Vera. Dia siapa sih? mungkin dia takdirku. Kalau Zidan bukan jodohku mungkin Anaknya mamah Vera jodohku." Batin Zahra.
"Nanti malem mereka mau kesini." Ucap Anissa.
"Hah!? Nanti malem? kok mendadak banget sih bun?" Tanya Zahra.
"Iyaa mau gimana lagi yaudah kamu Istirahat dulu yaa nanti sore bunda kesini lagi bawa baju kamu buat nanti malem." Ucap Anissa.
"Yaudah deh terserah bunda." Jawab Zahra sambil memasukan dirinya kedalam selimut.
Bersambung...
Makasihh yaaa para readers semua...
Jujur author seneng banget bisa bikin karya ini. Author harap kalian suka dan bisa menghargai karya author yaaa...
Maaf kalo akhir akhir ini author ngga UP🙏
Bolehh dongg author minta jejak kalian di karya ini dengan cara Vote,Like,dan komen.
Author tuhhh sukaa banget kalo kalian komentar...komentar komentar kalian itu author jadiin semangat buat nulis.. 😅👍
__ADS_1
#LoveYouParaReaders..😘