
Aku menarik napas berat berusaha menekan air mata yang mulai mengancam untuk tumpah. Dadaku terasa sesak saat mataku masih menetap di wajah pemuda itu. Masih tidak percaya kalau Geralku telah pergi. Jemariku menyentuh pinggiran peti mati. Pemuda murah senyum yang kini tampak sedih. Wajahnya pucat. Mata itu tertutup rapat seolah seseorang memaksanya untuk tertidur kala dia tidak ingin. Aku tahu, Geral pasti tidak ingin meninggalkanku seorang diri. Tapi, takdir berkata lain.
“Enza!” Samar\-samar ucapan Geral kembali terngiang.
Desau angin sore kota Jogja yang kelabu hanya membisikkan kalau aku akan melihatnya lagi malam ini. Mungkin dia akan muncul di alun\-alun utara sambil membawa dua mangkok wedang ronde. Atau aku akan melihat lagi senyuman manisnya di depan pintu rumah dengan pot arachnis merah atau mungkin dendrobium ungu yang telah berbunga. Pernah suatu kali dia membawakanku Coelogyne pandurata saat pulang dari kalimatan timur.
Aku menarik napas berat. Memikirkannya lagi, rasanya aku masih mendengar suaranya yang mendendangkan lagu\-lagu cinta diiringi petikan gitar sumbang. Geralku bukan seorang seniman. Aku ingat dengan pasti dia akan mengatakan kalau kami adalah soulmate yang ditakdirkan untuk bersama saat aku mulai mencibir permainan gitarnya.
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku tak percaya semua ini terjadi. Masih menolak untuk menerima kalau Tuhan memintanya kembali secepat ini. Dia bahkan masih tersenyum kemarin malam. Aku mengusap punggung tangan. Mencoba merasakan sisa\-sisa kehangatan genggaman Geral di sana. Pemuda itu masih ada di sini, aku yakin.
Tidak perlu menunggu waktu lama sampai ratapanku berubah menjadi raungan. Peti mati itu ditutup meski aku terus memohon untuk menunggu lebih lama. Aku belum puas melihat wajahnya. Mereka juga tidak memedulikan tangisanku dan membiarkan peti mati itu turun ke liang lahat. Air mata yang kutahan kini mengalir deras kala aku memegang gundukan tanah yang digumpalkan membentuk bola untuk dilempar oleh keluarga terdekat almarhum. Sebuah simbolisasi adat bahwa kita telah menguburkan yang tersayang dan mengantarnya kembali ke pangkuan Tuhan. Aku melemparkan bola\-bola itu ke dalam lubang kubur. Bola\-bola itu jatuh di permukaan atas peti mati.
Lemparanku terhenti kala aku mendengar suara ketukan. Aku memiringkan kepala, mencoba untuk mendengarnya lebih jelas. Suara ketukan itu terdengar lagi. Benar. Aku tidak salah dengar. Suara ketukan itu berasal dari dalam peti mati Geral. Aku menarik napas lega. Mereka pasti bisa mendengar suara ketukan itu. Mereka juga pasti sadar kalau Geral masih hidup. Pasti mereka merasa bodoh karena melemparkan bola tanah ini pada seseorang yang masih hidup.
“Hentikan!” Suaraku memekik keras. “Geral masih hidup. Aku mohon hentikan semua ini!”
Namun, lemparan itu masih terjadi. Mereka tidak mendengarkanku. Mereka mengabaikan suara ketukan dari dalam peti mati itu. Aku tidak bisa menahan lagi semua kekonyolan ini. Bola tanah itu tergenggam erat di tanganku kulepas begitu saja. Aku hanya perlu terjun ke bawah dan membuka peti mati itu. Kalau ada bukti maka orang\-orang itu akan berhenti melakukan hal bodoh seperti ini. Namun, seseorang menarik tanganku saat aku hampir melompat ke dalam lubang.
“Apa yang kau lakukan?”
Aku menoleh, ada Alex di sana. Pemuda itu menautkan alis dan menatapku.
“Geral masih hidup. Kita harus menyelamatkannya, Kak,” katanya di sela\-sela tangisan. Kekasihku ada di dalam sana, hidup dan bernapas. “Kakak juga dengar suara ketukan, kan?”
“Ketukan?”
“Iya, dari dalam peti. Geral minta tolong, Kak!” Aku tidak bisa menahan suaraku yang menanjak naik karena terlalu lega. “Kita harus menolongnya!”
“Lanjutkan saja prosesinya, aku akan pegangi dia!” ujar Alex sambil memelukku erat\-erat.
“Kak Alex!” Kali ini aku berusaha meronta. Akan tetapi, lengan Alex memelukku sangat erat. “Kakak harus percaya padaku, Geral mengetuk dari dalam dalam peti.”
“Tidak, Enza. Geral sudah meninggal.”
“Kak, aku mohon!”
Tangisanku kembali pecah, meski begitu Alex sama sekali tidak bergeming bahkan saat aku melolong. Pemuda itu bahkan tetap ada di posisinya kala tanah\-tanah basah mulai menutupi peti mati. Napasku tercekat. Terlambat sudah. Tidak akan ada manusia yang bertahan kalau dikubur hidup\-hidup seperti itu.
“Aku mencintaimu, Enza. Sekarang, besok dan selamanya.” Suara Geral kembali terdengar.
Dia bahkan bicara sekarang. Itu jelas kalau dia meminta tolong untuk diselamatkan. Aku tidak ingin dia pergi dan aku tidak melakukan apa pun untuk menolongnya. Tidak, tidak, aku bisa menolongnya. Sekarang masih belum terlambat. Ada orang yang mati suri bahkan koma selama bertahun\-tahun. Dia hanya terkubur beberapa menit saja, dia pasti masih hidup.
Saat Alex melepaskanku, aku langsung memelesat ke gundukan tanah basah yang sekarang mulai ditaburi bunga itu. Dengan cepat, aku menghujamkan tanganku ke dalam permukaan tanah. Aku bisa melakukannya, aku bisa menyelamatkannya.
“Apa yang kau lakukan?”
Aku tidak tidak peduli dengan pertanyaan apa pun saat ini. Nyawa tetap prioritas utama dibanding menjawab pertanyaan apa pun.
“Enza, ayo kita pulang!” ucap Alex sambil menarikku lagi.
“Jangan sentuh aku!” pekikku sambil mengibaskan pegangannya.
“Kita pulang sekarang!”
“Tidak!”
Sialnya tenaga Alex lebih besar, dia bahkan dibantu orang lain. Meski aku melolong dan meronta, aku gagal melawan mereka semua. Beberapa orang berbisik di telingaku. Langit mulai berdengung dan semua warna seakan memudar berganti dengan merah dan kuning, setelah itu semua berubah menjadi gelap dan aku tidak mengingat apa pun.
Jalanan di luar sana sepi. Aku terus menatap ke sana dan tidak beranjak dari birai jendela sejak beberapa jam lalu. Jemariku mengusap permukaan dingin yang kini kududuki. Napasku tercekat saat menyadari tidak siapa pun di sampingku. Tempat ini kosong, di depanku tidak ada siapa-siapa. Padahal biasanya Geral ada di sini. Duduk di depanku dan kami saling bersitatap, bertukar pandang sebentar sebelum berbagi senyuman, Kaki kami akan saling bersentuhan lalu terlipat satu sama lain saat dia menarik tubuhku mendekat untuk menautkan ciuman. Jemariku terangkat untuk menyentuh permukaan bibirku. Ciuman terakhir masih terasa, sayangnya dia tidak ada sekarang. Dia mendadak menghilang tanpa kusadari.
Baru dua hari, tetapi rasanya sudah bertahun\-tahun terlewat. Aku melewatkan banyak waktu dengan duduk di birai jendela, menatap jalanan. Kadang makan, kadang tidak. Tidak ada yang mengingatkanku soal kebiasaan buruk ini karena aku selalu sendirian. Alex beberapa kali datang dan menginap, akan tetapi tidak lebih dari itu. Dia hanya bilang kalau akan sangat berbahaya kalau tinggal sendirian karena katanya banyak perampok yang membawa mobil dan senjata tajam untuk merangsek ke rumah korban. Namun, selain peringatan dan sesekali datang, tidak ada hal yang dilakukannya.
“Apanya yang akan dirampok, aku tidak punya apa\-apa,” tanyaku malam itu saat dia hendak menarik selimut ke dekat daguku.
“Mereka masuk secara random ke rumah korban. Katanya mereka melakukan survey dengan menyamar menjadi pemulung di siang hari untuk memantau target.”
“Aku tidak memiliki apa pun, rumah ini juga hanya bekas rumah besar yang tidak terawat. Selain letaknya yang paling dekat dengan jalan besar, tidak ada hal lain yang bisa membuat penjahat tertarik untuk berkunjung.”
“Apa pun, semua berita ini berbahaya—”
“Bukankah sejak dulu aku sendirian?” sanggahku cepat.
“Setidaknya dulu Geral sering datang, sekarang dia tidak ada lagi.”
__ADS_1
Apa susahnya membawaku bersamamu kalau kau khawatir, Kak?
Sayangnya kalimat itu gagal terucap. Aku meneguk ludah kuat\-kuat lalu melipat bibir.
“Kamu tahu kan kalau aku enggak bisa membawamu bersamaku?”
Alex seolah memberikan pertanyaan, padahal sebenarnya dia sedang memberikan pernyataan kalau aku tidak datang ke rumah itu bersamanya. Ayah tidak akan suka dengan kehadiranku di sana. Sejujurnya aku ingin mengatakan semua itu, akan tetapi aku tidak ingin terlihat seperti pengemis baik pada Alex atau pun Ayah. Tubuhku masih membeku di tempat kala pria itu mengusap kepalaku lalu dia bergerak keluar.
“Kamu harus mengerti ya, Za. Kita kan keluarga,” katanya lagi seolah\-olah dia ingin menegaskan kalau semua yang dikatakannya itu benar dan masuk akal.
Keluarga, huh?
Sejak kecelakaan beberapa tahun silam yang merenggut nyawa ibuku—satu\-satunya orang di dunia ini yang menerimaku tanpa syarat—aku sudah tidak punya keluarga lagi. Ibu yang membuat semua orang tersenyum kepadaku. Setelah Ibu meninggal, aku kehilangan segalanya. Senyuman di bibir setiap orang berubah menjadi kerut kekesalan. Semua hal menyenangkan sirna seiring dengan kepergian Ibu.
Bukan hanya kehilangan yang kuderita, sejak malam itu aku dihantui oleh perasaan bersalah dan tudingan orang\-orang. Tudingan untuk entah apa, aku tidak tahu. Tidak ada jawaban yang kudapatkan saat aku bertanya selain penghakiman. Berulang kali aku mencoba bertanya pada Tuhan dalam setiap doa. Tetapi sepertinya Tuhan pun enggan menjawab semua pertanyaan yang bergulir di dalam doa. Menolak menghapus air mata makhluknya yang selalu tumpah. Ketika aku ingin menyerah bahkan Tuhan menolak untuk mencabut nyawaku. Sejak saat itu aku kecewa pada Tuhan. Aku pun ingin membuat\-Nya kecewa dengan tidak pernah menyebut nama\-Nya dan tidak lagi mau berdoa.
Tuhan adil katanya. Ya, memang. Selain mengambil, Tuhan memberikan hadiah pengganti untukku. Satu anugerah yang semesta terkutuk ini berikan adalah suara\-suara aneh yang terdengar di telinga serta bayangan yang yang sekali berkelebat. Sialnya, seiring dengan anugerah ini, aku pun mendapatkan hadiah lain. Hadiah itu membuatku dijauhi banyak orang. Padahal awalnya aku memiliki banyak teman, tetapi mereka mulai pergi. Katanya takut saat aku mulai menyebutkan makhluk yang berdiam di pojok kelas atau wanita berambut panjang yang bergelayut manja di akar beringin yang terjulur.
Saat masih duduk di sekolah dasar anak\-anak masih mendengarkan ceritaku, soal ayunan yang bergerak sendiri di halaman atau rambut\-rambut panjang yang ada di dasar bak mandi. Ketika di sekolah menengah, para gadis memandangku aneh dan jarang sekali mendengar ceritaku. Mereka tidak lagi mengacuhkanku dan lebih tertarik pada komestik atau gebetan atau berbelanja buku bajakan di pinggir jalan. Mereka juga mulai mengejekku sebagai dukun dan berlahan menjauhiku karena berpikir akan kusantet padahal aku hanya berbagi cerita setelah aku membaca tentang boneka vodoo. Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya bercerita seperti yang biasa kulakukan. Namun, tidak ada percaya.
Jangankan mereka, Alex bahkan mengatakan kalau aku berhalusinasi saat kukatakan kalau aku pernah melihat Ayah ada di kamarku saat tengah malam, Ayah bahkan menggores tangannya dengan pisau hingga darahnya menetes mengenai mataku. Setelah semua yang terjadi, aku jadi semakin yakin kalau Tuhan ingin membuatku tidak memiliki apa pun yang bisa diambil lagi.
Semenjak itu aku memilih untuk menjauh dari kerumunan dan sendirian. Mereka tidak menyukaiku. Mereka telah berubah dan hanya aku yang terkungkung di masa lalu. Ketika aku lulus kuliah dan bekerja, aku memilih menjadi penjual bunga hias untuk mengurangi frekuensi bertemu orang seperti orang bekerja kantoran. Aku bisa memilih menjadi seniman, desainer lepas atau novelis yang bekerja dalam sunyi, akan tetapi aku tidak berbakat dalam beberapa hal itu. Geral lah yang menyarankanku untuk membuka toko, aku bisa belajar berinteraksi dengan orang sekaligus tidak perlu bersosialisasi terlalu banyak. Lagi pula aku juga menyukai bunga\-bunga. Meski aku tidak yakin soal ini, aku percaya padanya kalau mungkin aku menyukai bunga. Jadi satu hal yang tidak pernah berubah itu adalah Geral selalu ada di sisiku, saat aku memiliki banyak kawan untuk bercerita hingga aku sendirian bertahun setelahnya. Dia selalu ada dan ketakutan lama\-lama menghilang. Jadi kalau diminta menyebutkan anggota keluargaku maka aku akan menyebut Geral tanpa keraguan.
Aku tersentak saat lamunanku seketika buyar. Suara tetes\-tetes air tiba\-tiba yang muncul dari sudut ruangan—entah di sebelah mana. Aku mencoba mencari asal suara. Menyipitkan mata sesaat sebelum beranjak berdiri. Tidak ada apa\-apa. Jemariku meremas tepian birai jendela mencoba untuk menenangkan jantung yang mulai berdebar.
Bau apa ini?
Aku mengernyit, membaui aroma amis yang mengambang di udara. Bau memualkan yang bertiup menyebalkan di bawah hidung. Tarikan napas kuat membawa serta bau itu hingga aku menghelanya dengan jijik. Warna\-warna merah pekat juga mulai terbentuk memenuhi mataku selain suara tetesan cairan yang masih mendesis menusuk telinga.
Ada apa ini?
Bayangan demi bayangan selalu berkelebat. Aku menutup mata sesaat lalu jemariku menyentuh dada yang mulai sesak. Meremas kaos longgar yang membalut tubuhku. Aku mulai jarang merasakan atau melihat sesuatu yang aneh atau menakutkan lagi sejak aku mulai terbuka pada Geral. Pemuda itu bukan hanya memberikanku solusi, dia bahkan rutin mengantarkanku untuk konsultasi setiap bulannya. Dia juga tidak lupa mengingatkanku untuk meminum obat secara rutin. Akan tetapi, gejala ini semakin kuat kurasakan selama dua hari terakhir sejak Geral meninggal. Mungkin karena dia tidak ada jadi orang yang bisa kupercaya lagi. Kurasa aku semacam kehilangan pegangan.
Tidak, tidak, gejala ini tidak boleh datang lagi. Aku tidak ingin melihat apa pun lagi. Tidak sekarang, besok atau selamanya karena tidak ada lagi Geral yang akan mendengarkanku.
Aku buru\-buru berlari menuju nakas. Membukanya dengan serampangan dan meraih botol obat lalu menuangkannya ke telapak tangan. Hanya tinggal dua butir, satu butir untuk masing\-masing obat. Aku buru\-buru menelan dan mengguyur tenggorokan dengan air putih agar obat itu lebih cepat terlarut.
“Aku sekarang sendirian, aku harus menjaga diriku sendiri,” gumamku berulang\-ulang sambil menarik napas pelan sebelum melangkah keluar.
Tungkainya melangkah pelan keluar dari komplek perumahan untuk mencari taksi. Mengemudi akan sangat berbahaya jika aku mengkonsumsi obat\-obatan. Aku menunduk kalau berjalan sendirian lalu berhenti di depan pos siskampling dengan bapak\-bapak yang sibuk bermain catur. Mereka hanya menatapku sekilas dan aku sendiri tidak mau repot menyapa. Tanganku melambai saat sebuah taksi datang mendekat.
Sepanjang perjalanan aku diam hingga taksi menurunkanku tepat di deretan ruko di tengah kota, apotek hanya berjarak sekitar tiga ruko dari tempatku turun sekarang. Setelah membayar biaya yang tertera di argo. Jemariku langsung mengurut dompet di saku jaket saat kakiku mulai melangkah. Rasanya sepi dan kosong, sekarang tidak ada lagi yang menggenggam tanganku. Tungkaiku melangkah cepat melintasi trotoar.
Aku terkesiap kala seseorang menyentuh pundakku. Jemari panjangnya menempel di lenganku. Kepalaku mendongak, menemukan senyuman tidak asing di sana. Ini bukan mimpi kan?
“Gee—geral?”
“Ya, Enza!” Geral tersenyum sambil menarik tubuhku merapat.
Aku tergagap, pemuda itu bahkan merespon panggilanku. Belum cukup sampai di situ. Jari panjangnya kini melekat di bahu kiriku. Geral ada di sini. Dia tersenyum padaku. Aku hanya perlu menyentuh dan menggenggam tangannya seperti biasa.
Namun aku tidak menemukan apa pun saat mengulurkan tangan. Telapak tanganku sekarang menepuk angin. Aku menghentikan langkah untuk memastikan. Sosok Geral—yang kuyakini ada di sini beberapa saat lalu—mendadak lenyap. Tangan Geral juga tidak pernah ada karena tanganku ternyata hanya menepuk bahuku sendiri. Aku menarik napas, dadaku kembali terasa sesak. Tentu saja, kan. Semua ini hanya ilusi. Aku saja yang terlalu banyak berharap. Mana mungkin orang yang sudah dikubur dua hari lalu mendadak ada di sini.
Dengusan keluar begitu saja mengekspresikan kekecewaan di dada. Geral memang benar\-benar telah pergi. Bibirku melipat mencoba menahan air mata yang sepertinya bisa turun kapan saja. Tidak. Tidak, aku harus kuat. Sendirian mungkin tidak seburuk itu.
Ya, tidak seburuk itu. dengan tekad itu, aku mengangkat kepala lalu menarik bibir ke atas. Selanjutnya, menarik napas lega, setidaknya sekarang aku sudah bisa menenun sedikit senyuman. Meski mungkin ekspresi wajahku terlihat mengerikan sekarang. Meski begitu, aku ingin tetap berusaha karena katanya senyuman itu menular. Jadi aku berharap senyuman di bibir akan menular ke dalam hatiku, hingga membuatku sedikit lebih baik.
Aku melanjutkan perjalanan dan terus melangkah sampai di depan apotek. Jemariku baru menyentuh handle pintu kala mataku terantuk pada papan iklan yang telah miring dan usang di atas sebuah ruko. Ruko itu terletak di sebelah apotek, hanya dibatasi oleh satu ruko lain yang menjajakan tas dan aksesoris. Ruko usang itu tampak kontras dengan ruko lainnya yang tampak bersih dan rapi. Sejak kapan ruko usang itu ada di situ? Apa selama ini hanya aku yang tidak pernah lihat?
Langkah kakiku terhenti, akan tetapi mataku enggan beranjak. Ruko itu sangat usang dan tampaknya terbengkalai. Sarang laba\-laba menempel di dinding ruko dengan santainya. Entah ingin menambah kesan horor atau hanya ingin menunjukkan betapa malasnya pemilik ruko aneh ini. Aku menatap ruko itu sekali lagi dan nama Madam Alice tertera di papan. Melihat nama itu sunggu aku ingin tertawa dan berusaha keras menahannya.
Alice katanya, yang benar saja. Nama yang cukup aneh di kota kecil ini. Gara\-gara itu aku jadi berpikir kalau ruko usang ini menjadi pintu ke Wonderland dan alih\-alih bersama kelinci, justri kita akan ditemani laba\-laba ke dunia ajaib itu. Ini Jogja, kenapa ada ruko aneh yang bahkan mungkin tidak ada di kota lain di negara ini. Ruko itu seolah kepingan kebudayaan barat yang menyelip secara paksa di deretan ruko tradisional di tengah kota. Ada gipsi di Jogja, mungkinkah madam ini sekarang sedang bersaing dengan dukun lokal?
“Ada yang lucu?”
Akut terkesiap kala mendengar suara tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Bukan hanya sapaannya yang terdengar tidak ramah, perempuan pemilik suara itu juga menyeramkan. Perempuan muda berambut hitam legam dengan tindik di hidungnya kini menatapku. Matanya tampak menyelidik. Pakaian yang dikenakannya mirip cosplay anime yang sering muncul di televisi atau sosial media. Dia kini berdiri tidak jauh dari tempatku sekarang.
“Tidak ada,” kilahku berbohong sambil membuang muka.
“Tunggu!”
__ADS_1
Aku tidak peduli dengan panggilannya, berniat untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan semula, masuk ke apotek dan membeli obat
“Aku tahu dirimu!”
“Tidak mungkin.”
“Aku mengenalmu. Serius,” katanya bersikeras.
“Kamu salah orang!” ketusku tidak ingin mendengar kata\-katanya lagi.
“Kekasihmu baru saja meninggal dua hari lalu, bukan?” katanya dengan suara lantang dan tangan terlipat di dada.
Langkahku terhenti, bagaimana dia bisa tahu?
“Tentu saja aku tahu,” katanya lagi seolah\-olah dia bisa membaca pikiranku sekarang.
Aku terdiam, tanganku terkepal erat. Sejujurnya, aku tidak ingin menoleh karena dia mungkin saja mengenal Geral, bukannya aku. Geral memang terkenal sebagai salah satu anak konglomerat terkaya di kota ini. Aku sebagai kekasih Geral memang sering muncul di media sosial walau bukan kami yang memposting semua itu. Jadi kurasa dia tahu dari sana. Tapi, di atas semua itu memang tahu apa soal Geral dan aku.
“Aku tahu semuanya,” katanya seolah\-olah menjawab pertanyaanku yang tidak pernah kuucapkan.
“Tidak mungkin!” elakku cepat. “Kamu enggak kenal aku.”
“Enza Kamajaya!”
Aku menoleh saat dia menyebut namaku. Mataku mulai memindai dan menelisik. Dari mana dia tahu nama lengkapku. Dukun? Cosplayer atau mata\-mata, pilihan terakhir ini ini membuatku cukup geli, mata\-mata di kota yang bukan metropolitan ini, untuk apa? Kota ini bahkan terlalu sempit untuk sekedar dijelajahi.
Gadis itu tersenyum. “Kau menginginkan dia hidup kembali bukan?”
Aku tidak menjawab dan masih memandangnya tanpa berkedip. Memandangi sosok mungilnya yang kini masih berdiri dengan angkuh di atas sepatu bot selutut dengan warna gothic senada. Pakaian yang sama sekali tidak cocok dikenakan di kota yang panas ini.
“Aku bisa membantunya kembali padamu.?”
“Apa maksudmu?” tanyaku mencoba menebak maksud perkataannya. Aku hanya kehilangan Geral, rasanya tidak mungkin dia tahu soal itu.
“Kekasihmu, Geral Wicaksono.”
“Apa?” bibirku berkedut sekarang.
“Namanya Geral Wicaksono, kan?” ulangnya dengan nada menyebalkan.
Dia menyebut nama lengkap Geral dengan percaya diri, sungguh menyebalkan. Dari mana dia tahu sampai sejauh ini?
“Kau gila!”
“Bagaimana kalau aku benar\-benar bisa melakukannya?”
Aku tersenyum sinis. “Maka aku akan memberikan apa pun yang kau mau.”
“Deal. Mari mampir ke tokoku,” ucapnya sambil menunjuk ruko usang dengan papan nama hampir jatuh itu.
Senyuman terpercik di bibirku. “Kau pikir aku percaya. Kau pembohong. Geralku bukan hilang, dia meninggal.”
“Apa hubungannya dengan aku pembohong dan pacarmu yang meninggal?” tanyanya terdengar bingung.
“Karena tidak ada orang mati yang bisa kembali ke dunia.”
“Aku bisa memanggilnya.”
“Oh ya?” Aku mengangkat satu alis.
“Ya. Kau mau bukti?” Matanya menatapku lekat\-lekat. Sepertinya dia benar\-benar serius dengan kata\-katanya.
Tanganku mengepal. Mungkinkah dia benar\-benar bisa melakukan semua itu? Bukankah semua itu terlalu mustahil?
Aku menarik napas lalu memandanginya. “Sayangnya aku tidak berminat,” ucapku sebelum mengibaskan tangan.
“Datanglah sebelum tujuh hari peringatan kematiannya. Kalau kau berminat tentu saja.” Gadis itu setengah berteriak.
Aku tidak menoleh lagi dan memilih untuk mengabaikan gadis itu. Sekarang aku meraih pintu apotek dan menyelipkan tubuhku ke dalamnya. Sungguh aku tidak ingin kembali pada wanita itu bukan karena tidak tertarik. Tetapi sungguh tawaran itu sangat menggiurkan. Siapa yang tidak menginginkan Geral kembali? Kalau Geral kembali maka aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Jika memang aku bisa memanggilnya kembali, maka aku akan melakukan apa pun juga.
__ADS_1