
Sudah beberapa menit terlewat dan aku hanya bisa menatap wajah pucat yang kini masih mendengkur pelan dalam tidurnya. Rasanya sekarang seperti berselingkuh dengan mengangumi wajah pria lain. Jujur saja, aku merasa sedikit aneh karena aku sama sekali tidak mengenal pemuda ini dan tidak memiliki ketertarikan khusus padanya. Hanya saja, aku mengamatinya bukan tanpa alasan atau sedikit penasaran, aku ingin mencari sedikit saja kemiripan antara pemuda ini dan Geral. Sayangnya, tidak ada sedikit pun kemiripan dengan Geral yang kukenal.
Mataku menelusuri setiap jengkal wajahnya itu. Namun, rasanya tetap tidak ada persamaan apa pun selain dia sama\-sama punya dua mata, satu hidung, sebaris alis dan bulu mata. Sepertinya juga tidak mungkin mereka memiliki hubungan saudara atau pertalian darah. Akan tetapi, kenapa Alice memilih pria ini? Mungkin saja dia menyebut nama Alice yang lain, bukan Alice si peramal. Bisa saja kan, nama Alice juga bukan satu\-satunya di dunia ini.
Aku harus mencari jawaban dari semua teka\-teki yang tersisa karena sepertinya ada sesuatu yang kuketahui di balik semua kejadian ini. Sesuatu yang besar dan mungkin saling berkaitan satu sama lain. Karena kalau dipikir ulang, agak tidak logis saat Alice yang tidak mengenalku sebelumnya mendadak menawarkan untuk memanggil arwah kekasihku yang telah tiada. Terlepas dari fakta kalau aku sama sekali tidak tahu alasannya membantuku, bayaran yang belum ditagih juga sedikit menganggu. Entah mengapa aku merasakan ada hawa buruk dalam hitungan pembayaran ini, hanya saja aku sendiri tidak tahu apa tepatnya.
Selain itu, fakta lain yang sedikit menganggu adalah alasan Alice juga memilih pemuda ini sebagai wadah untuk jiwa Geral. Aku sama sekali tidak tahu apakah pemuda itu setuju atau tidak, akan tetapi kalau dipikir ulang semuanya memang terasa janggal. Seolah urusan pemanggilan jiwa dari alam baka ini hal sepele seringan mengambil air dari bak mandi. Perubahan sikap Geral yang menjadi beringas dan jahat juga pasti ada kaitannya. Sampai fakta kalau dia sampai membunuh anjing tanpa alasan ini jelas bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Aku tersentak saat terdengar suara gemerisik. Suara itu juga membuyarkan semua hipotesis yang berkembang di kepalaku. Aku langsung menatap arah datangnya suara, ternyata pemuda itu sedang menggeliat. Sepertinya sebentar lagi dia akan bangun. Aku mengusap keningnya, panas masih menyengat telapak tanganku meski begitu dia tidak lagi mengigau. Aku menepuk kepalanya berlahan agar dia kembali tidur sambil memandangi lagi sosok yang kini masih terpejam itu. Geral pasti tidak bisa sakit, dia hanya roh–seharusnya begitu kan. Akan tetapi, tubuh yang dipakainya itu tubuh manusia biasa yang bisa sakit juga. Entah mengapa fakta ini jadi menjadikan Geral sedikit lebih manusiawi. Meski aku tidak berharap dia jadi superheroa atau mendadak sakti setelah kembali dari kematian. Mati berbeda dengan bertapa.
Pikiranku melayang, kembali pada mimpi buruk yang kualami beberapa hari lalu. Dia bertanya apa aku tahu namanya. Terkadang kupikir mungkin di saat seperti ini memanggil namanya. Aku mendesah pelan, aku memang tidak tahu nama pemuda ini. Aku hanya memanggilnya Geral dan Geral. Namun, akan sangat aneh kalau aku menyebutnya dengan nama asli sedangkan yang ada di tubuh itu adalah jiwa orang lain.
“Maafkan aku yang tidak tahu namamu,” ucapku pelan sambil mengusap rambut hitamnya yang basah oleh keringat. Setelah itu aku mengangkat handuk basah yang ada di keningnya. Handuk itu tidak lagi dingin jadi aku mencelupkannya lagi ke dalam baskom air dan menaruhnya kembali di keningnya.
Aku membuka mata, malam belum berganti pagi. Jemariku menyentuh leher yang terasa kaku. Tidak tahu berapa lama aku tertidur. Punggungku pegal, mungkin gara\-gara aku tidur dalam posisi duduk. Aku menggeliat. Kepalaku masih pusing. Aku masih mengucek mata kala menyadari satu hal yang hilang dari tempat seharusnya. Sekarang jantungku benar\-benar mulai berdetak kencang. Ini tidak mungkin. Dia menghilang. Sosok Geral sudah tidak ada di tempatnya semula.
“Sudah bangun?”
Aku terkesiap lalu mendongak. Mataku bersitatap dengan mata pemuda itu. Sorot matanya terlihat dingin di bawah cahaya lampu. Aku meneguk ludah dan merasakan telapak tanganku mulai dingin. Lelaki di depanku ini berbahaya. Denyut jantungku semakin menanjak naik. Tubuhku mulai merinding saat bulu kuduk di tengkuk juga mulai berdiri.
__ADS_1
“Ge–Ge–rral, kan?”
Hening. Pemuda itu tidak menjawab. Mataku beralih cepat antara pintu keluar dan wajah pemuda itu. Aku bersiap untuk kemungkinan terburuk dan melarikan diri. Sekaranglah saatnya. Aku langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Tidak sempat menoleh lagi saat terdengar suara di belakangku. Pintu bahkan belum terbuka kala pemuda itu merangsek mendekat. Jeritan tertahan keluar dari bibirku saat tangannya menarik rambutku.
“Ughhhh!”
Suara tertahan mencelat keluar dari mulutku kala aku terbanting ke lantai. Aku belum sempat bergerak saat dia merangsek dan menindih tubuhku. Tangan kanannya mengunci leherku. Mataku membesar saat melihat benda berkilau di tangan kirinya, sebuah gunting. Mungkin aku akan mati hari ini. Namun, aku tidak bisa menyerah. Apalagi dengan melihat gunting yang bisa mencongkel bola mataku dengan kapan saja. Tanganku menggelepar sementara kukuku mencakar lantai.
“Panggil aku!”
Aku mencoba menggerakkan leherku untuk mencari asal suara. Akan tetapi, tidak ada siapa pun. Yang kulihat hanya Geral yang berubah menjadi ganas.
“Aku akan menolongmu. Percayalah!”
Suara itu kembali terdengar menggema sementara semakin ragu. Tidak ada siapa pun di kamar ini. Bisa jadi itu suara jin atau sebangsanya atau mungkinkah...tidak, tidak, rasanya tidak mungkin.
“Ada fase ketika jiwa kekasihmu melemah dan mungkin pemilik tubuh itu kembali. Saat itu terjadi, jangan biarkan dia melepaskan kalungnya!”
__ADS_1
Kali ini suara Alice bergema di kepalaku. Mungkinkah ini benar suara pemilik asli tubuh ini? Ataukah aku hanya mengigau? Bukankah saat kematian mendekat, apa saja bisa terjadi dan terpikirkan. Bisa jadi juga semua suara saling tumpah tindih. Entah manayang benar atau salah.
“Kau mau mati?”
Suara itu terdengar lagi. Aku menggertakkan gigi. Aku tidak ingin mati, setidaknya tidak malam ini dan dalam kondisi dibunuh. Mataku menangkap kilauan di lehernya. Kalung itu berkilau. Bisa jadi kalung itu adalah jalan keluarku satu\-satunya. Tepat saat Geral mengangkat tangannya hendak menghujamkan gunting itu, aku mengangkat tubuhku sedikit agar tanganku bisa menggapai kalung itu. Berharap pada satu taruhan terakhir yang mungkin bisa menyelamatkanku atau aku akan mati. Kalau pun aku selamat malam ini, minimal aku kehilangan satu mata akibat gunting Geral.
Lepas!
Senyuman tipis terbentuk di wajahku saat tanganku berhasil meraih kalung itu. akan tetapi, kelegaan itu berubah jadi pekikan kala ujung gunting yang dipegang Geral kini menghujam lengan kananku. Ujung gunting menancap tepat saat aku bangun untuk meraih kalung. Kengerian mulai merambati tubuhku saat melihat gagang gunting itu masih menancap di lengan atas. Tidak cukup dalam untuk membuatku pingsan tapi koyakannya tetap membuatku kesakitan. Aku terjatuh kembali ke belakang hingga sebuah tangan menahan kepalaku sebelum membentur lantai.
“Enza!”
Aku terhenyak. Suara itu terdengar akrab, namun asing. Tidak ada Geral dalam suara itu. Mata itu menatapku. Mata hitamnya yang menghanyutkan masih saja sama hanya saja sorotnya berbeda.
“Siapa kau?”
Dia tidak menjawab. Pertanyaanku terhenti saat jeritanku bergema bercampur kesakitan. Pemuda itu menarik gunting itu keluar dari lenganku. Aku memandang dengan kengerian saat gunting bersimbah darah itu kini berpindah ke tangannya. Mimik wajahnya tidak terbaca. Mungkinkah akan menghujamnya lagi? Kali ini mungkin dia akan menancapkannya tepat di jantungku.
__ADS_1