
Saat pemuda itu membuka mata, hal yang terpikirkan pertama kali olehku adalah identitas jiwa yang ada di tubuh itu. Aku yakin ada Geral di sana, akan tetapi tanpa kepastian apa pun apa yang bisa kuyakini. Ditambah lagi kebiasaan aneh Geral yang kadang berubah jadi brutal seolah\-olah kerasukan binatang buas di malam hari. Untuk hal itu aku sama sekali belum menemukan petunjuk sampai sekarang dan Alice tetap enggan membuka mulut wanita itu tetap bersikukuh pada sikap sok penuh rahasia yang menyebalkan.
“Rael?” Alex langsung memanggilnya. Sementara aku masih terpaku di tempat, terlalu takut untuk menatap pemuda yang baru sadar itu.
“Kau pasti bingung, ada Enza kok di sini!” katanya Alex lagi.
Pandanganku kini beralih pada sosok Alex lalu bergantian menatap Rael yang masih terdiam di ranjang. Ekspresi kebingungan masih terpancar di wajahnya. Kemungkinan efek anesthesia belum hilang sepenuhnya. Matanya masih terlihat kosong ketika aku mendekat. Aku ingin menyebut namanya. Hanya saja, lidahku kelu. Jujur, sekarang aku bahkan terlalu takut untuk mengatakan apa pun. Takut juga kalau aku sampai salah panggil dan dia mengelak lalu Alex akan menangkap basah aksiku. Ngeri kala memikirkan kebohonganku mungkin akan terbongkar setiap detik tanpa terduga. Dia atas semua itu, aku tidak berani membayangkan kalau ritual semalam gagal dan ada orang lain di tubuh itu. Aku menggigit bibir dan menatap Alex yang masih berdiri kaku di ujung lain ranjang.
“Menurutmu ada yang tidak beres?” Alex menoleh ke arahku, keningnya berkerut. “Dia terlihat aneh”
“Iya kah?” kali ini aku mengamti Rael lekat\-lekat sambil mencoba mencari keanehan yang dibahas oleh Alex.
“Iya, coba perhatikan dia masih dia seperti itu dari tadi?”
“Mungkin efek kecelakaan dan anestesia, dia kan baru saja bangun,” aku menimpali sementara mataku tidak terlepas dari sosok Rael yang sedari tadi memang masih diam saja.
“Apa perlu kita panggil dokter?”
“Aku akan panggil,” tawarku.
Alex tersenyum. “Kakak saja, kau temani Rael.”
Aku langsung setuju. Keputusan itu lebih baik karena setidaknya aku bisa bersama pemuda ini dan berdua saja. Meskipun, aku sendiri tidak yakin siapa yang bangun kali ini. Jujur, aku masih sangat ragu. Ketika pintu kamar ini bergerak menutup, aku maju ke tepian ranjang. Menarik jemarinya yang terkulai sambil diam\-diam berharap dia segera mengenaliku.
“Geral? Kaukah itu?”
Dia menoleh sejenak. Tidak ada perubahan, ekspresi wajahnya tetap saja sama. Ada ekspresi kebingungan yang kental di sana. Aku bahkan yakin kalau dia tidak mengenaliku.
“Rael?”
Sungguh aku berharap dia tidak merespon. Dengan begitu aku yakin kalau yang ada di dalam jasad itu adalah Geral bukan orang lain. Dia masih diam. Sedetik kemudian, dia mengangkat alisnya.
Apa maksudnya?
“Rael, kan?” aku mengulang, sekedar meyakinkan.
Dia menoleh ke arahku. Jantungku mulai berdegup kencang di dalam dada. Suhu di telapak tanganku menurun drastis ketika ketakutan mulai meremas batinku. Mungkinkah aku gagal? Apakah ritual semalam tidak berhasil memanggil Geral kembali ke dunia dan memasuki tubuh Rael? Apa yang harus kulakukan? Apa aku akan kehilangan Geral lagi ketika aku belum siap untuk itu?
“Geral atau Rael?”
__ADS_1
Aku berjingkat saat pintu menjeblak terbuka. Beberapa paramedis masuk ke dalam ruangan. Alex juga masuk di belakang mereka. Dia menarikku menjauh dari kerumunan. Tautan Jemari kami terlepas. Aku terseok mengikuti Alex keluar dari ruangan.
Sial, aku bahkan belum sempat bertanya.
“Dia akan baik\-baik saja, Za.” Alex menarik napas pelan saat aku baru saja menyandarkan punggung di permukaan tembok.
“Aku tahu.”
“Setidaknya dia sudah sadar sekarang.”
“Minimal dia masih hidup.”
“Enza.”
Alex berbalik, menarik daguku hingga kami bersitatap. “Semua ini bukan salahmu, ini kecelakaan bukan kau sengaja melakukannya.”
“Tetap saja.”
“Dia hidup, dia bernapas, dia membuka mata. Jadi tidak ada yang perlu kau pikirkan terlalu jauh!” suara Alex menanjak naik.
“Bagaimana keadaannya?”
Dokter itu membenarkan letak kacamatanya dan tersenyum. “Pasien baik\-baik saja, dia hanya belum sadar sepenuhnya. Efek obat bius jadi dia masih seperti itu, bukan masalah besar.”
Aku menarik napas lega. Untunglah dia baik\-baik saja. Rasanya aku tidak bisa lebih lega dari ini.
“Terima kasih banyak, Dok.”
“Sama\-sama, Enza.”
Alex menepuk bahuku, aku mendongak. Dia tersenyum. Matanya seolah mengatakan aku harus percaya padanya karena semua yang dia katakan benar adanya.
“Kakak mau pulang dulu?”
“Nanti abis menjenguk Rael.”
“Oh, baiklah.”
__ADS_1
“Kau juga harus pulang.”
“Tapi–”
“Mandi, makan dan istirahat sebentar. Setelah itu, kau bisa kembali kemari.” Alex menutup argumentasiku dengan kalimat tegas. Ini perintah dan alex jelas tidak suka dibantah.
“Iya,” kataku akhirnya.
Kami berjalan masuk ke dalam. Pemuda itu tampaknya tertidur. Matanya terpejam. Aku menghampirinya. Gigil mulai menjalari jari sementara keringat dingin kini mulai membanjiri tengkukku. Diam\-diam aku melirik Alex, dia tidak boleh menyadari kalau sekarang aku benar\-benar gugup.
“Dia tidur.”
“Kalau begitu kita bisa pulang sebentar,” Alex mengedikkan bahu.
“Oke.”
Aku menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga ujung selimut itu menyentuh dagunya. Berharap dengan cara seperti ini dia akan lebih nyaman. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang, hal kecil tak berguna. Aku berharap dia bisa tidur nyenyak, siapa pun yang ada di dalam sana. Entah Geral atau Rael, asalkan dia selamat dan baik\-baik saja itu sudah cukup untuk saat ini. Tidak cukup untuk menghilangkan ketakutanku, akan tetapi bisa membuat rasa bersalah yang sejak tadi hinggap di pikiranku sedikit terkoyak.
“Enza, ayo!”
“I–iya, Kak.”
Aku buru\-buru bergerak menjauh, melepaskan ujung selimut dari jariku. Aku terkesiap. Jantungku seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Napasku tertahan.Angin seakan meniup pipiku sesaat saat jendela kamar itu menjeblak terbuka. Tidak ada yang menyentuh jendela. Bahkan tidak ada yang berada di dekat jendela. Sensasi ganjil itu mulai menyerang. Membangkitkan bulu kuduk yang mulai penasaran.
Aku terkesiap dan langsung menoleh kala sesuatu menyentuh tanganku. Sentuhan itu membuatku gemetar. Mataku terpaku pada lenganku. Dia mengenggamnya. Kali ini aku memandang wajah itu. Manik hitam itu menatapku.
“Enza!” suara serak itu mengambang di udara.
Jantungku mulai berdenyut pelan lalu semakin cepat seakan ada petasan yang siap meledak beberapa detik lagi. Napasku mulai memburu saat rasa sesak memenuhi dada. Dia mengenaliku dan memanggil namaku.
“Ge–Geral, kan?” ucapku setelah menelan ludah.
“Geral?”
Suara Alex menggema memenuhi ruangan. Kening pria mengerut kebingungan. Bibirku gemetar, gamang mencari penjelasan. Genggamannya di tanganku semakin menguat. Tanganku terkepal. Kebohonganku terbongkar sudah. Alex sudah tahu kalau di dalam tubuh Rael itu ada jiwa Geral. Kenapa aku bisa kelepasan? Apa yang harus kukatakan sekarang?
__ADS_1