
Aku masih menunggu hingga kehilangan kesadaran soal berjalannya waktu. Namun, satu dari sekian hal yang kupastikan adalah Rael telah menghilang, begitu juga dengan jiwa Geral. Kepergian mereka menyisakan kerlip terakhir di gelang yang kupakai sebelum akhirnya padam.
Luka di leherku bertambah panjang sekian sentimeter. Aku mengernyit pelan saat menyentuhnya. Tidak sakit karena entah bagaimana luka itu hilang lebih cepat daripada goresan paling dangkal sekali pun. Hal ini sebenarnya cukup menguntungkan karena aku tidak perlu repot\-repot menjelaskan soal ini pada Alex kalau dia datang nanti. Namun, bekas luka itu mengangguku karena menyisakan garis hitam mengerikan layaknya ular yang melilit leher. Kalau mau berburuk sangka bisa saja lilitan itu akhirnya memanjang dan menebas leherku sampai putus suatu saat nanti.
“Tidak, tidak,’ gumamku.
Semua ini hanya perasaan buruk yang tidak perlu dipikirkan sampai seperti ini. Aku hanya perlu fokus untuk berjalan terus ke depan dan melakukan segala hal yang selama ini kuyakini. Mataku beralih pada kepingan puzzle yang ditinggalkan Rael. Benda yang menjadi bukti bahwa aku berhasil melewati malam pertama pergantian jiwa dengan sukses. Merayu satu jiwa dengan cara yang cukup menyusahkan. Aku juga tidak mengerti alasan dia menyerahkan benda ini padaku. Benda ini terlalu lemah untuk bisa dibilang sebagai penjamin perjanjian apa pun dan rasanya tidak mungkin bisa membuat Rael mengambil paksa raganya kalau aku membuang benda ini. Ataukah benda ini mengandung jimat? Semacam jelangkung yang dirasuki roh?
Ah! Itu tidak mungkin. Kalau memang ada roh, kutukan atau jenis apa pun itu maka seharusnya keganjilannya sudah terlihat.
“Za!”
Aku terkesiap suara panggilan itu disertai tepukan pelan yang menyambar bahuku. Aku mendongak dan menemukan wajah Alex tampak tersenyum. Demi membalasnya, aku juga ikut tersenyum. Dia kembali lebih cepat dari kupikirkan. Untung saja, dia tidak datang ketika pertukaran jiwa terjadi, kalau dia datang lebih cepat maka semuanya pasti tidak akan berjalan mulus.
“Bajumu ada di tas!” katanya.
“Terima kasih, Kak.”
“Aku tadi bertemu dokter yang memeriksa Rael di depan,” ucapnya.
“Bagaimana dia? Apa kata dokter?” tanyaku cepat.
Aku benar\-benar ingin tahu kondisi pemuda itu. Hanya saja aku tidak berani bertanya kala dokter itu berjalan masuk ke dalam ruangan Rael. Mereka sedang menjalankan tugas jadi tidak pantas rasanya kalau harus menganggu. Jadi aku hanya bisa menunggu dan saat Alex mengatakan soal dia bertemu dokter di depan, rasanya aku cukup senang.
“Katanya kita harus menunggu. Jangan terlalu khawatir,” ujarnya sambil mengulaskan senyuman di bibirnya. “Dokter juga belum keluar, kan?”
“Iya sih,” kataku menimpali. “Menurutmu, dia akan baik\-baik saja?”
“Tentu saja. Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Syukurlah.”
“Jangan sedih lagi, Za. Semua itu bukan salahmu!” katanya lagi.
Aku mengangguk setuju sambil memaksakan bibirku untuk kembali mengulas senyuman. Walaupun, ini berat. Bukan hanya soal Geral, wajah sedih Rael masih terbayang di pelupuk mata. Rasanya pasti menyakitkan saat seseorang tidak bisa memasuki tubuhnya sendiri. Namun, tidak banyak pilihan yang tersisa sekarang. Pilihanku tetap pada, aku akan memakai tubuh itu dan membuat jiwa pacarku bersemayam di sana sampai waktu perjanjian selesai. Tanganku meremas potongan puzzle lebih erat, aku tahu aku egois. Hanya saja, keegoisan itu yang membuatku bertahan. Ya bertahan atas nama cinta. Cinta yang egois.
“Ngomong\-ngomong sejak kapan kalian kenal?”
“Huh?”
“Kau dan Rael?” Alex mengedipkan mata. “Kapan kalian mulai kenal?”
Melihat Alex sampai mengulang pertanyaannya dua kali untuk menegaskan pertanyaanya sudah cukup memberikan bukti kalau dia tidak tahu apa\-apa. Fakta ini Melegakan sekaligus mengesalkan. Melegakan karena itu artinya dia tidak tahu apa pun. Namun, di sisi lain Alex akan menuntut penjelasan yang akurat dan terperinci. Aku mengenal sifatnya yang lumayan mengesalkan ini.
Ingatanku melayang. Pertanyaannya memang terkesan ringan, akan tetapi benar\-benar cukup membingungkan. Kalau aku mau mengakui dengan jujur, aku sama sekali tidak mengenal Rael sebelum ini. Bahkan sekarang pun aku tidak bisa dibilang mengenalnya, hanya beberapa kali percakapan aneh–yang aku sendiri tidak yakin apakah itu mimpi atau kenyataan.
Napasku sesak kala memikirkan kalau aku berpura\-pura mengenalnya karena asas kepentingan saja. Aku yang egois memaksanya memenuhi keinginanku. Aku bahkan baru mengetahui namanya setelah dia mengancamku. Gigil mulai menyerang tubuhku saat mengingat kejadian itu. Malam itu benar\-benar mengerikan dan sampai sekarang aku sama sekali tidak menemukan jawaban alasan yang membuat Geral kadang berbuat brutal pada malam tertentu.
__ADS_1
“Enza?”
“Eh\-oh, apa?”
“Kamu sakit?”
Aku menggeleng. “Tidak.”
“Tapi, kok diam saja?” kejar Alex lagi.
“Dia datang ke rumah mencari pekerjaan,” kilahku berbohong. Aku tidak ingin menjelaskan apa pun yang ada di pikiranku juga soal perjanjian yang kuikat bersama Alice dan Rael.
“Siapa? Rael?”
“Ya.”
“Bukankah itu aneh?”
“Aneh apanya?”
Sial! Jantungku rasanya berhenti berdetak sekarang. Entah mengapa saat Alex membahas soal keanehan Rael membuatku mulai cemas dan was\-was. Aku mengangkat tangan untuk mengusap tengkuk.
“Aneh karena tiba\-tiba seorang pria muda datang untuk mencari pekerjaan ke rumah kita. Khusus menemuimu, padahal di luar ada begitu banyak pekerjaan dan rumah itu bukan yang berada di dekat pertokoan atau sejenisnya.”
“Wajar, dia butuh pekerjaan.”
“Enza!”
Aku menghela napas berat. Sikap buruknya yang lain, menuntut penjelasan tanpa satu hal pun disembunyikan dan tidak membiarkan orang lain hanya menanggapi sekenanya.
“Aku pasang iklan di media sosial, mungkin dia lihat dari sana,” kataku lagi dengan nada lebih tinggi. Sialan, aku benar\-benar setengah mati menahan bibirku yang gemetar setelahnya. Berbohong ini tidak mudah meski dilakukan beberapa kali dalam satu waktu.
“Oh.”
“Tidak semua orang seburuk yang kau pikir, Kak.”
“Tapi dia pria, Enza.” penekanan kata pria dalam suara Alex sungguh menyebalkan.
“Memangnya kenapa kalau pria?
“Dia berbahaya.”
“Buktinya aku baik\-baik saja.”
“Enza!”
__ADS_1
“Bukankah Kak Alex juga pria, dengan analogi itu maka kau juga berbahaya. Lalu apa Kakak lakukan di sini? Membuatku masuk ke dalam bahaya?”
“Aku kakakmu, bagaimana bisa kau samakan aku dengan orang asing tidak jelas itu!” ketusnya.
“Kak, bukankah kita sudah bahas masalah ini saat terakhir kali kita bertemu,” ucapku mencoba setengah mati menahan kesal. Sungguh aku tak ingin berbicara soal masalah ini lagi.
“Aku tidak akan membahasnya kalau dia tidak tinggal di rumah kita.”
Aku menatap Alex lekat\-lekat. “Kalau Kakak tak suka, aku bisa pergi.”
Alex menarik bahuku, membuatku menatapnya. Ekspresi wajahnya mulai melunak.
“Bukan itu maksudku,” dia tampak berusaha menjelaskan. Suaranya juga melembut dan anehnya terdengar penuh bujuk rayu.
“Kalau begitu, apa?”
“Kakak hanya khawatir padamu, pada keselamatanmu. Bukan menginginkan kau pergi, kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu,” matanya menyorot tajam, seakan\-akan ingin mempertegas kesungguhan dalam kalimat yang baru saja diucapkannya.
Aku terdiam. Mengepalkan tanganku lebih keras. Mataku menatapnya.
“Apakah kau juga tahu, kalau aku tidak bisa hidup tanpanya?”
Sungguh aku ingin melontarkan kalimat itu dari bibirku tapi lidah ini terasa kelu. Alex pasti akan mengusut semuanya soal Rael. Dia akan mencarikan Rael keluarga angkat atau semacamnya dan menyuruh pemuda itu pergi. Maka rahasianya akan terbongkar. Semuanya yang aku sembunyikan akan terkuak. Terpisah lagi dari Geral itu menyakitkan, membayangkannya sudah mengerikan. Aku menggeleng dua kali, mencoba menghapus pikiran buruk yang berjejalan masuk.
Kata\-kata kami terputus kala beberapa perawat dan dokter berlarian masuk ke ruang ICU–ruangan tempat Rael dirawat. Mereka terlihat terburu\-buru dan panik.
“Ada apa ini, Kak?”
“Kurang tahu, kita tunggu saja!”
Alex menarik bahuku, mendekat. Jemarinya memeluh bahuku erat, memberikan ketenangan dan rasa aman. Petugas paramedis berlarian masuk ke dalam dan keluar. Ekspresi wajah mereka tidak terbaca.
“Apa yang terjadi?” Alex menarik salah satu perawat yang membawa satu rak penuh peralatan medis.
“Maaf, kami sibuk sekarang, Mas. Pasien sedang kritis.” Perawat wanita itu buru\-buru masuk ke dalam setelah memberikan penjelasan.
“Apa?”
Suaraku mengambang di udara. Ini bohong bukan? Bukankah tadi aku baru saja melakukan ritual seratus hari, seharusnya dia bangun sekarang.
“Enza!”
“Tidak, tidak,tidak.”
“Enza!”
__ADS_1
Aku melepaskan diri dari cengkeraman Alex. Bergerak mendekati jendela kaca. Seorang dokter menekan dada Geral berulang kali. Jasad itu masih kaku di tempat, matanya terpejam dan tidak nampak bernapas. Tanganku meremas potongan puzzle di tanganku. Sudut\-sudutnya yang runcing terasa menusuk hingga perih mulai menjalari telapak tangan. Aku tidak peduli karena pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Geral tidak boleh mati untuk kedua kalinya. tidak boleh tanpa seizinku.