
Aku masih terpaku di depan jendela saat paramedis masih sibuk memberikan pertolongan pada Rael. Semua itu hanya tampak bagai gambaran kabur saat mataku hanya terpaku pada sosok yang kini tengah terbaring itu. Aku mengigit bibir sementara tubuhku masih terus menggigil. Alex juga berdiri di sampingku dan sesekali meremas jemari tanganku. Dia mungkin hanya ingin menenangkan makanya aku pasrah saja.
“Dia akan baik\-baik saja, Za. Jadi kamu tenang saja ya!”
“Semoga,” gumamku lirih.
Aku tidak tahu berapa lama waktu berjalan. Rasa kebas di kaki itulah yang menjadi parameter bahwa aku telah berdiri cukup lama. Aku menahan napas saat salah seorang dokter keluar dengan wajah lelah.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” Alex langsung menanyakan keadaan Rael.
“Pasien sudah melawati masa krisis.”
“Benarkah?” kali ini aku yang bertanya karena mencoba meyakinkan kalau kata\-kata dokter itu benar.
“Iya, jangan khawatir!”
Dokter pria itu tersenyum ramah. Menepuk bahu Alex dan bergerak meninggalkan kami. Aku menarik napas lega. Geral selamat, setidaknya untuk saat ini.
“Sekarang kamu istirahat!”
“Apa?”
“Istirahat, Enza!”
“Tapi, Kak–”
“Kakak akan menjaga Rael. Kamu istirahat, oke?” potongnya cepat saat aku bahkan belum selesai bicara.
“Aku masih mau di sini.”
“Kamu bisa tidur di dalam mobil.”
Alis Alex bertaut, pertanda dia tidak ingin dibantah. Senyuman merekah di wajahnya saat aku akhirnya mengangguk dan menyetujui usulnya. Aku menurut juga kala dia menarik tanganku, menuntunku melalui koridor memanjang yang semula ramai kini tampak lengang. Mataku lurus memandang ke depan. Aku bukan hanya sekali atau dua kali di rumah sakit malam\-malam begini. Suasana rumah sakit selalu seperti ini. Akan tetapi, semuanya jadi tidak sama lagi sejak malam naas itu. Semua orang berlalu\-lalang kala itu. Isak tangis berbaur dengan jeritan kala jenazah mama terbaring di atas brankar. Napasku tercekat. Kejadian malam itu terulang tiga bulan lalu. Saat aku berlari menyusuri koridor, hanya untuk menemukan jasad Geral yang terbaring kaku dan tidak bernyawa.
“Enza!”
“Huh?”
Aku langsung menoleh karena suara Alex membuatku tersentak dari lamunan. Koridor itu kembali sepi. Aku mendesah, keramaian itu hanya di dalam pikiranku lalu seolah\-olah mewujud jadi nyata. Semacam adegan flashback yang ada di film\-film.
“Kau tidak apa\-apa?”
Aku menggeleng. Rasa sesak mulai memenuhi rongga dada saat semua kenangan itu masih saja berkejaran di pelupuk mata. Semua masih segar di dalam ingatan layaknya baru terjadi kemarin malam. Alex merapatkan cekalan tangannya dan meremas jemariku lebih keras. Aku pasrah, berada di dekatnya membuatku lebih nyaman. Dia tetaplah kakak laki\-lakiku.
“Apa kau mau Kakak temani?”
__ADS_1
“Tidak. Kakak jaga Rael saja!”
“Baiklah.”
Aku memposisikan diri di kursi penumpang saat Alex telah menurunkan sandaran kursi hingga kepalaku bisa berbaring dengan nyaman.
“Kamu beneran tidak apa\-apa sendirian?” tanyanya lagi.
“Iya.”
“Kakak masuk dulu.”
“Iya.”
Alex menutup pintu mobil dengan menyisakan sedikit celah kaca di bagian atas. Tidak terlalu lebar hingga membuatku kedinginan, akan tetapi cukup menghilangkan pengap. Setelah itu, aku hanya memandangi punggung Alex yang bergerak menjauh. Aku tidak tahu alasannya hingga dia ingin menjaga Rael di dalam sana dengan sukarela. Bukan aku tidak percaya Alex, hanya saja menilik dari sifatnya, dia jelas\-jelas tidak menyukai Rael.
Rasanya ada yang ganjil meski aku mencoba mencari pembenaran. Aku menarik napas panjang, sungguh tidak bisa menahan gigitan penasaran ini lebih lama lagi. Aku melangkah turun dan diam\-diam mengikutinya. Jarak kami cukup jauh hingga dia tidak akan menyadari kehadiranku. Dia juga tidak menoleh ke belakang sekali pun. Pandangannya tertuju pada ponsel di tangan.
Dia duduk di deretan bangku yang kami tempati beberapa saat lalu. Aku bersembunyi di balik tembok di ujung koridor. Masih menatap Alex yang masih tampak sibuk memainkan ponselnya. Jujur aku tidak percaya kepadanya. Dia tiba\-tiba terlalu baik pada Rael. Orang yang mendadak baik itu mencurigakan. Di samping itu, aku tahu betul sifat Alex, dia tidak pernah mudah menerima kehadiran orang baru. Kalau pun bisa, tidak akan secepat ini. Apalagi, Rael pernah menjadi pemicu pertengkaran kami terakhir kali. Ini benar\-benar mencurigakan. Aku menahan napas. Lima menit berlalu, Alex masih memainkan ponsel di tangannya. Aku masih menunggu.
Kebas mulai menjalari kakiku. Aku menepuk kaki yang mulai mati rasa akibat cukup lama berdiri. Kepalaku mendongak, Alex kini terkantuk\-kantuk di kursinya. Lengannya terlipat dan kepalanya mengayun naik turun. Sesekali kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, kadang ke belakang. Alex nampak letih. Diam\-diam, aku berjalan mendekat dan membanting pantat di kursi tepat di sampingnya.
“Lehermu akan sakit kalau begini, Kak.”
Aku menggeliat. Seseorang tengah mengusap rambutku lembut. Sentuhan yang akrab dan nyaman. Permukaan empuk juga menyangga kepalaku. Membuka mata yang masih enggan untuk bangun sebenarnya. Samar\-samar aku melihat senyuman.
Eh? Aku ketiduran?
Napasku tercekat. Aku buru\-buru bangun dan mataku menatap Alex yang kini tersenyum.
“Sudah bangun?” sapanya.
“Kakak?”
“Semalam kau membuatku bisa tidur sebentar, Za. Terima kasih bahunya!”
Ah, sial!
Aku ketahuan kalau semalam diam\-diam aku duduk di sampingnya dan menaruh kepalanya di bahuku. Kenapa ketiduran? Bodoh! Bodoh! Ketiduran pula di pangkuan Alex.
“Za?”
“Eh, iya\-”
__ADS_1
Pria itu kini mengulum senyum. Berdehem pelan saat kegugupan mulai menyesaki batinku. Bukan apa\-apa, hanya saja sudah lama kami tidak sedekat ini. Wajahku mulai memanas.
“Wajahmu memerah!”
“Harusnya Kakak istirahat, bukannya malah membiarkanku tidur,” gerutuku sambil merapikan rambut, berusaha untuk mengalihkan perhatian. Suhu di wajahku benar\-benar naik.
“Kamu juga capek, Za.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Meski begitu, Kakak ingin menjagamu.” Alex mengusap kepalaku perlahan.
“Tapi, Kak\-”
“Ssstt!” Alex memotong protes yang mulai meluncur dari bibirku. “Biarkan Kakak melakukan hal kecil untukmu saat Kakak tidak mampu melakukan hal besar.”
Aku mengangguk. Memilin jemari dengan kikuk. Berharap jariku elastis dan berubah menjadi anyaman hingga aku bisa mengaburkan pikiranku saat ini.
“Rael\-”
Aku mengalihkan pandanganku dari jemari dan menatap wajah kakakku. Slow, tenang. Jangan terlalu menunjukan kalau aku peduli padanya. Alex tidak akan suka kalau aku terlalu peduli pada orang asing.
“Kita boleh menjenguknya.”
“Oh.” aku berusaha menyembunyikan rasa membuncah di dalam dadaku yang penuh rasa syukur.
“Dia sudah melewati masa kritis, dia juga sudah di pindahkan ke kamar inap.”
“Syukurlah.” Aku tersenyum tipis.
“Kamu mau bertemu dengannya?”
Aku mengangguk. Alex menarik pergelangan tanganku. Kami berjalan ke salah satu ruangan di ujung koridor. Pria itu mendorong pintu, membiarkan aku masuk terlebih dahulu. Dia menyusulku setelahnya sembari menutup pintu. Aku tercekat saat melihat Rael kini masih terbaring dengan mata terpejam. Parut\-parut luka masih memenuhi wajahnya. Perban juga melingkari kepala dan membalut lengannya.
Sungguh aku ingin menyentuh wajahnya, menautkan jemarinya di antara jari\-jariku. Membelai rambunya lalu membisikan namanya di telinga pemuda itu. Aku hanya berdiri terpaku di dekatnya. Mataku masih belum beranjak dari wajahnya.
Aku menatap sekeliling, kamar ini terlalu gelap. Pasien butuh udara segar agar cepat pulih. Aku mendekati jendela dan membuka gorden.
“Enza!” suara Alex tertahan
“Ya?” aku untuk menatapnya.
Napasku yang semula teratur kini memburu cepat. Jantungku mulai berlari cepat seakan hendak melompat dari sarangnya. Jemariku meremas kain gorden tebal itu saat aku menatap Rael. Pemuda itu kini pelan\-pelan mulai membuka matanya.
__ADS_1