
Saat berjalan mendekat, kening Alex terlihat berkerut. Jelas sekali ada banyak pertanyaan berjejal di dalam otaknya dan dia mungkin siap meletupkannya kapan saja. Jika itu terjadi maka artinya tanda bahaya. Hanya saja, sekarang aku sama sekali tidak bisa berpikir. Tidak ada satu pun alasan yang terpikirkan dan bisa kukatakan untuk meredam situasi.
“Apa maksudmu, Za?”
Aku meremas jemari Geral semakin kuat. Berharap kami bisa menghilang saja dari dunia ini secepatnya atau Alex mendadak lenyap. Pilihan pertama atau kedua, yang mana pun itu sama saja asalkan aku tidak harus menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulutnya beberapa menit lalu.
“A—aku hanya saja—”
“Kau tadi memanggilnya dengan nama Geral, kan?”
“Ti—tidak Kak, a—aku—” bibirku mulai gemetar dan aku benar\-benar gagal menahan gugup. Sebagai pembohong yang buruk, apalagi yang bisa kuharapkan. Aku hanya sedikit berharap mendadak bisa lebih pintar berdusta di situasi mendesak seperti sekarang.
“Geral sudah meninggal, Za.”
“Aku tahu,” tukasku pendek.
Jemari kami yang bertaut mulai berkeringat. Aku menunduk menatap lantai, terlalu takut untuk menatap wajah Alex. Jujur, aku tidak ingin beradu mata dengannya. Pemuda itu pasti akan menyadari ada yang salah dengan semua ini.
“Dia Rael, bukan?”
“Kak, hentikan!”
“Dia Rael, kan? Dia bukan Geral, kan?” terlihat ada keraguan dalam pertanyaan Alex. “Geral sudah meninggal, kan?
Aku menelan ludah lalu mengangguk. Pelan dan kaku. Anggukan sekali lagi yang menegaskan kebohonganku sekarang. Semoga saja apa yang kulakukan sekarang termasuk sedikit kebohongan, meski sebenarnya tidak bisa diartikan sebagai kebohongan. Geral memang sudah meninggal dan kami semua tahu fakta itu.
“Enza,” Alex kini menarikku lenganku hingga keningku kini memukul dadanya. Tidak membutuhkan waktu lama hingga aku jatuh dalam pelukannya.
Rasanya ada yang terhempas saat jemariku yang bertaut dengan jari\-jari pemuda itu terlepas. Sesuatu terasa putus seakan permukaan jari kami mengalirkan listrik. Alex menepuk kepalaku.
“Kak, apa yang kau lakukan?”
“Kakak lega, Za. Kau sudah bisa menerima kalau Geral sudah meninggal. Kakak tahu kau bisa melewati semua musibah ini.”
Alex masih membenamkan kepalaku dalam pelukan aneh ini. Aku bisa mendengarkan detak jantungnya yang bertalu\-talu di kegelapan ronggga dada. Dia menarik napas berat. Hembusan napasnya kini menerpa puncak kepalaku.
“Lepaskan dia!”
__ADS_1
Suara itu membuatku jantungku seketika mencelus. Ditambah lagi sekarang aku merasakan tubuh Alex menegang.
“Alex!”
Sekarang aku yakin jantungku berhenti berdebar selama sepersekian detik. Napasku tertahan. Jemari Alex meremas bahuku. Aku mendongak. Alex memiringkan kepala. Kentara sekali dia berusaha mencerna kejadian yang di luar nalar itu. Tidak ada satu pun hal mistis yang bisa diterima akal manusia. Itulah sebabnya dunia mistis dinamakan dunia transendental yang tidak terjangkau ilmu pengetahuan. Alex bukan orang yang percaya hal semacam itu. Seganjil apa pun hal mistis itu terjadi. Dia memilih dalam posisi tidak tahu, tidak mengerti dan tidak ingin menerima.
Hal yang paling kutakutkan jika Alex menyadari semua hal yang kulakukan bersama Alice adalah memisahkan kami. Bukan memulangkan Geral ke alam baka atau membuang pemuda itu. Dia akan mengunciku lagi, di rumah yang sepi, sendirian hanya bersama paramedis yang selalu mengawasi setiap waktu. Dia akan mengasingkanku lagi. Sama seperti dulu. Dia akan menggunakan dalih untuk menjagaku meski kenyatannya dia hanya membuat dunia luar jaduh dari jangkauan tanganku. Dia akan memperlakukanku layaknya orang sakit. Tidak kurang, tidak lebih.
Alex melepaskan pelukannya. Matanya berpindah bergantian antara aku dan Rael yang kini masih menatap kami. Mata Alex menatap penuh rasa ingin tahu.
“Apa katamu?”
“Lepas!”
Tanganku mulai gemetar, aku mengigit bibir. Ini akan jadi buruk.
“Siapa kau?” mata Alex menghujam wajah Rael yang kini juga masih menatap kami. “Kenapa kau memerintahku seenaknya?”
Rael terdiam. Bibirnya mengatup rapat, akan tetapi matanya tidak berkedip sama sekali.
“Ra—Rael!” kataku mencoba untuk melerai sekaligus memberikan kode pada pemuda itu agar berhenti.
Alex menoleh ke arahku. Kabut kebingungan menyelimuti matanya. “Bukankah dia agak aneh, Za?”
“Mu—mungkin mengigau,” aku menelan ludah, mencari alasan. Meski alasan yang terpikirkan benar\-benar konyol dan tidak masuk akal.
“Mengigau?”
“Efek pasca\-operasi jadi mungkin belum sadar sepenuhnya. Setahuku pengaruh obat bius kan seperti itu,” kataku mencoba menjelaskan.
Alex mengangguk, sepertinya dia bisa menerima penjelasanku. Aku menarik napas lega saat dia tidak bertanya lebih lanjut. Rasa ingin tahunya itu menyebalkan dan sepertinya aku tidak akan bisa menanganinya kalau dia terus bertanya.
“Kita pulang?” Alex mendadak melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Kakak pulang duluan saja, aku akan menyusul sebentar lagi.”
“Kamu yakin?”
__ADS_1
“Iya. Kakak buru\-buru kan?”
“Tidak apa\-apa pulang sendiri?” gurat kekhawatiran mulai terjalin di wajahnya. “Kakak akan kembali lagi nanti.”
Aku mengangguk. Alex menepuk kepalaku sebelum berbalik pergi. Aku benar\-benar lega kala melihat sosoknya menghilang dari balik pintu. Sepeninggal Alex, aku duduk di tepian ranjang. Menatap wajah Rael yang tampak polos dalam tidurnya. Jemariku menelusuri rambut hitam yang tergantung lemas di keningnya. Aku menghela napas berat.
“Tidurlah!” aku menarik ujung selimut hingga ke leher, nyaris menyentuh dagu.
Aku terkesiap saat tangannya mengunciku. Dia tiba\-tiba terbangun dan menarikku dalam pelukan.
“Enza!” suaranya berbisik lembut di telinga.
Jantungku beredegup kencang. Napasku tertahan. Hatiku membuncah, namun bibirku ragu untuk menggoreskan senyuman. Mungkinkah?
“Geral?”
“Hmmm.”
“Benarkah ini kau? Kau sudah kembali?”
“Aku merindukanmu,” dia membenamkan kepalanya lebih dalam di atas bahuku.
Aku mempererat pelukan lenganku melingkari tubuhnya. Menarik napas lega beberapa kali. Akhirnya Geralku kembali.
“Jangan lepaskan aku!”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Geral.” aku menekan jemariku di punggungnya. “Tidak akan pernah.”
“Aku tahu.”
Percikan rasa perih di leherku kembali terasa. Aku merasakan goresan lain kini tengah merambati leher. Aku mengernyit, perih itu berubah menjadi rasa ngilu. Mengirimkan rasa kebas hingga ke ujung\-ujung jemariku. Rasanya seperti tersentrum listrik. Meski begitu, aku sama sekali tidak peduli. Hanya Geral yang terpenting untuk saat ini. Aku hanya ingin mencoba fokus pada satu hal itu saja.
__ADS_1