
Aku berjalan cepat memasuki rumah dengan langkah panjang. Pikiranku penuh karena masih tidak yakin kalau Geral membunuh anjing itu semalam. Rasanya alasan membunuh karena anjing itu menggonggong padanya terdengar konyol dan tidak masuk akal. Anjing yang bahkan mungkin tidak berkaitan dengannya. Sialnya, aku tidak menemukan alasan itu dalam kasus ini meski aku berusaha mencari pembenaran dalam tindakan yang dilakukan oleh Geral.
Saat membuka pintu dan melangkahkan kaki masuk ke dalam, Geral tidak terlihat berkeliaran. Rumahku sesepi biasanya. Mataku menyisir ke segala arah, pemuda itu tidak tampak di mana pun bahkan saat ke kamarnya, ruangan itu kosong. Aku baru saja berbalik dan hendak keluar kala mataku terantuk pada keranjang baju kotor di pojok ruangan. Kemeja yang dikenakan Geral semalam seharusnya ada di tempat itu. Tungkaiku melangkah cepat dan langsung berjongkok. Tanpa menunggu waktu lama membuka keranjang itu. Aku mendesah, keranjang itu kosong. Sepertinya aku terlambat satu langkah.
“Sayang!”
Aku terkesiap saat suara Geral terdengar berbarengan dengan tangannya yang melingkari leherku. Desiran tidak enak mulai terasa di perutku sementara bulu kuduk mulai meremang. Aku mendongak. Sejak kapan Geral ada di tempat ini? Aku bahkan tidak menyadari saat dia masuk. Bahkan langkah kakinya saja luput dari telingaku. Sialnya, aku selalu melupakan satu hal, sejak dia hidup kembali aku sama sekali tidak pernah bisa memprediksi kedatangannya. Lupa kalau langkah kaki pemuda itu sekarang seringkali begitu halus hingga nyaris tidak terdengar.
“Aku mau mengambil cucian kotor,” kilahku berbohong.
“Aku sudah mencuci semua pakaian kotor,” Geral tersenyum senang sambil menyusupkan tangannya di dekat bawah ketiak dan menarikku berdiri. “Makan, yuk!”
“Kamu masak juga?” aku memandangi celemek berhias kepala panda yang dikenakan Geral. Tampak lucu di tubuh cowok jangkung itu. Aku nyaris tertawa tapi berusaha keras menahannya.
“Iya dong,” katanya terdengar bangga.
“Wah!”
“Ayo kamu coba!” katanya sambil mendorongku mendekati meja makan.
Mataku melebar saat melihat jejeran makanan di atas meja. Bukan hanya nasi dan satu jenis lauk, akan tetapi beberapa macam. Aku yakin, dia pasti berusah payah untuk membuat semua ini.
“Kau memasak semuanya?” tanyaku sambil berbalik menatapnya.
Geral tersenyum lagi lalu mengangguk. “Kesukaanmu,” katanya sambil menunjuk deretan rolade berwarna keemasan yang berjajar rapi di piring.
Aku belum mengucapkan apa pun saat Geral langsung memaksaku untuk duduk. Pemuda itu dengan cekatan menyiapkan makanan di piring. Sesekali aku memandangi wajahnya dan dia tersenyum padaku. Dia juga mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepalaku setelah aku menerima piring berisi nasi pemberiannya. Geral yang semanis dan sebaik yang kuingat. Mendadak aku merasa bersalah karena mencurigainya. Geralku mungkin tidak akan pernah membunuh hewan tidak berdosa. Sesakit apa pun kematian, rasanya dia tidak akan mengubah seseorang sampai sedrastis itu.
“Kamu juga duduklah!”
“Tentu.”
Dia memposisikan diri di sampingku. Seperti yang biasa kami lakukan. Duduk berdampingan membuat kami merasa lebih dekat, setidaknya itulah yang selalu diucapkannya. Kata\-kata dan pelakuannya selalu membuatku berpikir kala dia menawan sekaligus sempurna.
“Enak?”
“Enak,” aku menyahut jujur, masakan Geral memang selalu enak. Masakanku tidak ada separuh rasa hasil buah tangannya.
“Kamu tadi ke mana?”
Aku nyaris tersedak. Akhirnya dia bertanya juga mengenai hal ini. Aku tidak mungkin bicara jujur padanya. Mana mungkin aku mengatakan kalau aku keluar menemui Alice.
“Kopi?”
Pertanyaan Geral bagai percikan kembang api yang memicu jantung untuk berdetak semakin kencang. Bagaimana dia tahu? Mungkinkah dia mengikutiku atau minimal tahu tujuanku keluar tadi pagi.
__ADS_1
“Kopi?” aku membeo.
Aku mengikuti telunjuk Geral yang menunjuk karton berisi gelas kopi. Ingin rasanya aku membenturkan kepala ke tembok sesegera mungkin. Bodohnya. Tentu saja dia tahu aku membeli kopi saat dia menemukan karton berisi gelas kopi. Astaga! Aku mulai paranoid.
“Ah! Aku lupa kalau tadi aku juga membeli sarapan, kupikir kamu belum masak,” ucapku sambil menepuk kening–aku benar\-benar tidak ingat soal nasi uduk itu.
“Iya, kita bisa makan nasi uduknya nanti,” katanya.
Aku mengiyakan. Tidak ingin membuatnya kecewa. Aku juga sudah sarapan tadi, akan tetapi rasanya tidak tepat hal itu pada orang yang sudah bersusah payah memasak pagi\-pagi begini. Aku menarik napas lalu bergerak berdiri. Sekarang aku mendekatinya.
“Geral!”
Pemuda itu menoleh dan aku merangkulkan lengan ke lehernya. Maafkan aku. Sungguh. Aku ingin mengatakannya tapi lidahku terasa kelu. Ingin sekali melepaskan semua kecurigaan ini. Ingin mempercayainya. Ingin mencintai pemuda ini tanpa keraguan. Aku mau semuanya kembali seperti dulu. Namun, aku sama sekali tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun.
“Ada apa?” suara Geral terdengar lembut.
“Tidak ada apa\-apa,” aku kembali berbohong sembari menggigit bibir. Entah sampai kapan aku harus terus berbohong dan berpura\-pura seperti ini, aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Geral tidak mengucapkan apa pun, dia hanya menepuk lenganku. Membiarkan aku memeluknya. Dia pasti mengerti apa yang ada tersembunyi di dalam hatiku, tanpa harus aku ucapkan.
“Mau makan?” tanyanya.
“Iya,” kataku sambil melepaskan pelukan.
Tidak ada yang kami bicarakan setelah itu. Hanya beberapa kali Geral mengajakku bicara tentang acara gosip yang tayang di salah satu stasiun televisi pagi ini. Sepertinya dia menonton sambil memasak. Aku juga senang menimpali obrolan ringan itu, lagi pula sepertinya itu yang aku butuhkan setelah beberapa hari terlalu sibuk berbohong dan berpura\-pura. Setelah makan, aku akan mandi dan kami akan ke toko. Setidaknya itu yang kami rencanakan hari ini.
Geral pasti ketiduran dan lupa mengangkat jemuran. Aku tersenyum sembari menggeleng beberapa kali. Dia jadi pelupa akhir\-akhir ini. Aku mengangkat jemuran yang dicuci Geral. Sedikit senang saat tahu kalau dia tidak hanya mencuci bajunya sendiri, tapi membereskan pakaian milikku juga. Aku menarik satu kemeja putih terakhir lalu menaruhnya di keranjang. Kemeja ini sepertinya yang dipakai semalam.
Aku meraih kemeja itu dan menarik bagian lengannya. Mataku membesar saat melihat lengan kemeja itu sobek. Bekas sayatan melintang di bagian lengan kanan. Bekas sayatan itu tidak teratur seolah itu bekas gigitan binatang buas. Bercak darahnya sudah menghilang, akan tetapi aku hanya bisa memperkirakan satu hal. Bisa jadi kemeja ini sobek karena bekas digigit Momo, anjing itu. Mungkinkah ini artinya Geral benar\-benar membunuh binatang malang itu semalam?
Ini tidak mungkin. Aku menanyakan semua ini padanya. Sekarang aku buru\-buru membereskan sisa pakaian yang belum diangkat dari jemuran setelah itu aku langsung berlari masuk ke dalam rumah. Menaruh keranjang pakaian itu di atas meja yang ada di dekat mesin cuci lalu berlari naik dengan kemeja sobek itu di tangan. Aku harus menanyakan hal ini padanya. Saat sampai di atas, pintu kamar Geral terbuka dan aku langsung melongok ke dalam.
“Geral!”
Tidak ada sahutan. Pemuda itu masih tidak bergerak dari posisinya, sepertinya tertidur nyenyak sekali. Aku bergerak mendekat. Geral bergumam pelan, tampaknya dia mengigau. Jemariku menyentuh keningnya, panas menyengat telapak tanganku. Rambut pemuda itu tampak lepek karena berkeringat. Tubuhnya panas.
“Geral...Geral!” aku menyenggol lengannya. Geral menggeliat tapi tidak membuka mata. “Kau dengar aku?”
Saat pemuda itu tidak menjawab, aku langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tanganku menjelajah lengan pemuda itu. Menyingkap kaos lengan panjang yang menutup hingga siku. Aku terperangah, bekas luka segar menempel di lengan dekat sikunya. Dari bekas sayatan, ini mungkin bekas gigitan binatang. Aku menutup mulut. Tidak ada penjelasan lain untuk luka ini.
Suara geraman Geral membuatku tersentak. Sekarang giginya terdengar saling beradu karena badannya mulai menggigil lebih hebat. Mungkin bekas gigitan ini menyebabkan infeksi atau bisa jadi anjing itu menularkan rabies. Aku mengigit bibir, Geral bisa dalam bahaya kalau gigitan itu membawa rabies.
“Tunggulah, aku akan cari obat untukmu,” kataku sambil menarik selimut hingga menutupi lehernya.
Aku berjalan ke dapur lalu meraih satu garpu yang ujungnya cukup lancip. Aku menusukkan garpu itu kuat\-kuat ke permukaan lenganku sendiri. Setelah itu, aku menggigit bekas luka itu hingga lapisan kulit terluar sobek. Gigitanku tidak akan menyebabkan luka makanya aku mencoba untuk menusuknya dulu dengan garpu. Sekarang aku mengernyit sambil menggertakan gigi saat darah mengalir keluar.
__ADS_1
“Cukup, ini lumayan mirip,” bisikku sambil menutupi luka itu dengan tangan.
Kakiku melangkah cepat di jalanan menuju apotek di ujung jalan. Membawa dokter ke rumah jelas bukan pilihan bijak. Untuk saat ini, setidaknya aku hanya bisa memberikan pertolongan pertama. Kalau dia tidak juga membaik maka aku terpaksa membawanya ke dokter. Untuk menutupi semua itu maka aku harus berpura\-pura kalau akulah yang tergigit. Dengan begitu aku akan mendapatkan obat tanpa harus menjelaskan siapa sebenarnya yang sakit.
“Mbak, ada obat untuk luka digigit anjing?” tanyaku langsung menunjukkan bekas luka akibat gigitanku sendiri di lengan kiri.
“Mau periksa dulu?”
“Apakah obat saja tidak boleh?”
“Tentu saja boleh,” katanya ramah.
“Berikan saya obat demam juga,” pintaku.
“Tentu.”
Aku langsung membayar setelah penjaga apotek itu memberikan obat yang kuminta. Aku berjalan pulang dengan tergesa\-gesa. Mataku tetap mengawasi sekitar, aku takut Geral mungkin akan berkeliaran di luar rumah. Namun, aku tidak menemukan dia di luar. Setidaknya sekarang aku sedikit bernapas lega. Aku melangkah cepat menaiki anak tangga. Untunglah Geral masih terbaring di ranjang.
Aku menyentuh keningnya dan mulai mengompresnya menggunakan air dingin. Selama mengompres itu aku membersihkan lukanya dengan alkohol dan membubuhkan obat luka. Menyuapkan obat yang kudapatkan dari apotek ke dalam mulut pemuda itu.
Aku membuka mulutnya dengan sendok. Obat itu sudah kutumbuk dan kucairkan agar mudah ditelan. Sayangnya cairan obat itu terus saja mengalir keluar. Kalau memaksa, aku takut dia akan tersedak jadi memilih pelan\-pelan. Setelah cukup lama, obat itu akhirnya habis juga–meski banyak juga yang tumpah dan menempel di tisu daripada masuk ke dalam mulutnya. Kusentuh keningnya, panasnya belum juga mereda. Dia masih saja terdiam, hanya deru napasnya yang teratur membuatku yakin bahwa dia masih hidup.
“Kau akan baik\-baik saja,” aku mengusap rambut Geral yang berkeringat.
“Lice–” Geral tiba\-tiba menggeram.
“Apa?” aku terhenyak.
“Lice–”
“Siapa itu Lice?”
Aku berusaha keras mengingat semua hal yang berkaitan dengan kata Lice ini. Lice pasti sebuah nama, tapi siapa. Aku tidak ingat Geral pernah menyebutkan nama ini sebelumnya.
“Lice...Alice!”
“Alice?” aku membeo.
Keningku berkerut, mungkinkah dia Alice yang kukenal. Alice, si pemanggil arwah. Mana mungkin, Geral tidak mengenalnya.
“Tidak ada kebetulan di dunia ini.”
Suara Alice kembali terngiang di telinga. Tapi, mana mungkin. Kalau Geral tidak mengenalnya maka mungkinkah jasad ini yang mengenalnya. Aku ingat, Alice pernah mengucapkan sesuatu pada seorang wanita yang menjaga rumah yang ditinggali jasad ini.
“Dia yang akan membawanya ke tempat dia seharusnya berada.”
__ADS_1
Mataku kini menatap pemuda itu. Mungkinkah tidak ada kebetulan dalam semua ini. Pemuda ini juga bukan kebetulan menjadi jasad untuk jiwa Geral. Dia juga bukan secara kebetulan mengikat janji denganku. Alice memilihku juga bukan kebetulan. Mungkinkah kematian Geral juga bukan kebetulan? Kecelakaan yang membuat mobil Geral terjun ke jurang juga suatu hal yang direncanakan. Aku menutup bibir, mungkinkah Geral dibunuh. Bisa jadi kan? Semua ini mungkin saja terjadi.