One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 23. Pengacau Takdir


__ADS_3

Sesampainya di sana, kepala Geral sudah terkulai. Darah yang pekat membasahi rambut dan bergerak pelan di atas jalanan. Kakiku lemas, napasku mulai pendek\-pendek karena dadaku mendadak teasa sesak. Kerumunan orang mulai mendekat sementara aku masih terpaku di tempatku berdiri. Jalanan yang kupijak rasanya bergerak pelan hingga membuat perutku seperti diaduk ketika aku menatap lagi sosok yang terbaring itu.



Sosok itu mendadak menghilang kala sekarang rasanya jalanan bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Aku menarik napas dan mengerjap. Sekarang aku di dalam mobil. Mobil itu melaju kencang. Aku menoleh kala mendengar suara wanita yang tampaknya mencoba menenangkanku.



Mama?



Jemariku mengusap mata, akan tetapi sosok Mama tidak mau menghilang. Mobil kami melaju cepat. Aku tersentak kala mendengar suara keras. Napasku tertahan kala mengalihkan pandangan dari Mama ke depan–ke jalanan. Bagian depan mobil itu menabrak seseorang. Sosok itu terpelanting.  Namun, aku tidak bisa melihatnya lebih lanjut karena mendadak perutku seperti ditonjok kala kursi yang kududuki berputar. Suara yang lebih keras terdengar sekarang hingga aku menutup mata. Rasanya aku muntah–atau entahlah karena mobil ini sekarang bergerak mirip gasing. Saat putaran itu terhenti aku menoleh. Kepala Mama terkulai di sampingku. Darah juga mengucur membasahi wajahnya. Meleleh turun dari mata Mama dan keningnya yang sobek.



Darah.



Aku tersedak dan langsung menutup kala cairan kental dengan rasa asam mendadak memenuhi mulutku. Namun, tanganku tidak bisa menahan lebih lama. Muntahan itu meluber di jalanan. Perutku mulas. Jemariku mengusap sudut bibirku yang bernoda muntahan. Saat itu bau anyir menyerang indra penciumanku. Bayangan\-bayangan mengerikan itu mulai memudar. Menyisakan mual yang bergolak di dalam perutku. Aku mendongak dan mataku kini beralih pada kerumunan yang terdengar ramai. Orang\-orang yang ada di sekitarku saling berbicara dan menanyakan soal keluarga atau teman yang bisa menolong pemuda malang bersimbah darah itu. Aku bahkan mendengar salah satu dari mereka berteori kalau kepala Geral mungkin sudah pecah.



Geral. Oh, tidak ini buruk. Kenapa aku malah tersesat di masa lalu dalam kondisi seperti ini?



Aku mengusap mulutku lalu beranjak berdiri. Tertatih menerabas kerumunan saat napasku keluar satu persatu dengan berat. Suara sirine mobil ambulans mulai terdengar mendekat. Geral masih terkulai lemas di jalanan tanpa ada satu orang pun yang berani menyentuh. Mungkin takut kalau terjadi apa\-apa pada pemuda itu karena korban kecelakaan tidak boleh disentuh sembarangan. Bisa jadi ada tulang yang patah atau kerusakan lain. Namun, aku tidak peduli. Kini aku bersimpuh di sampingnya dan mengangkat kepala pemuda itu ke pangkuan. Air mataku menitik deras saat melihat mata Geral masih saja terpejam. Jemariku menyentuh keningnya dan mengusap rambutnya yang lengket akibat cairan kental itu.



“Ge–Ge–ral, aku mohon buka matamu!” bibirku gemetar menyebut namanya.



Aku menggoncangkan tubuhnya dan tetap mengabaikan orang\-orang kini masih saling berbicara satu sama lain. Masih bisa mendengar salah satu mereka katanya akan menghubungi polisi. Namun, aku sama sekali peduli. Aku terkesiap kala beberapa orang menyentuh bahuku. Mereka menawari untuk membantu berdiri meski aku masih menangis. Aku menurut dan ikut berdiri kala petugas paramedis sudah datang. Para petugas itu sekarang turun sambil membawa matras. Petugas paramedis mengangkat tubuh Geral yang masih pingsan ke dalam mobil ambulans. Mereka juga memapahku naik ke dalam mobil. Tidak menunggu waktu lama sampai mobil itu mulai bergerak.



Begitu mobil berjalan, aku menggigit bibir. Tanganku sekarang memegangi tangan Geral yang terkulai lemas. Matanya masih terpejam dan dia tidak bergerak sedikit pun. Aku benar\-benar takut sekarang.



“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau meninggal sekali lagi!” ucapku. Namun, dia masih tetap tidak menjawab.



Sesampainya di rumah sakit, Geral langsung dibawa masuk ke ruang operasi. Sambil menunggu, aku menghubungi Alex. Meski aku malas menjelaskan kejadian ini kalaudia datang, hanya saja dia lebih tahu cara menangani masalah ini. Selama ini, dialah yang membereskan semua masalah yang kuperbuat. Seburuk apa pun, dialah satu\-satunya orang yang akan berlari untuk menolongku. Dia bisa menggantikan keluarga Geral yang kini entah di mana. Hubungan sesama pria tidak akan begitu banyak mengundang pertanyaan daripada hubungan pria dan wanita.



Peristiwa ini bisa jadi akan berakibat buruk. Hal terburuk itu mungkin saja bisa berupa tereksposnya identitas jasad yang ditempati Geral. Kalau itu terjadi maka kemungkinan orang yang mengenalnya akan mulai mencari. Memang kecil kemungkinan, akan tetapi manusia tidak pernah tahu bukan.  Tidak akan ada yang bisa menebak kalau misalnya salah satu orang yang mengenal Rael terselip di antara paramedis yang berkejaran di rumah sakit ini atau pengunjung rumah sakit. Tidak ada keterangan kalau pemuda itu yatim piatu–Alice juga tidak pernah menjelaskan. Untuk itulah, aku memerlukan Alex, meski tidak ingin.



 Aku masih duduk di bangku. Meremas rambutku. Pikiranku tetap tidak bisa tenang. Firasat buruk rasanya berkejaran satu persatu di dalam kepala. Kematian pertama Geral disebabkan oleh kecelakaan. Sekarang, dia juga mengalami kecelakaan. Sejujurnya aku takut kecelakaan ini menjadi jalan untuknya pergi lagi karena katanya dunia punya sistem alami untuk mengembalikan semuanya ke tempat seharusnya. Kedatangan Geral ke dunia bukan hal yang seharusnya terjadi dan mungkin aku telah mengacaukan takdir. Sialnya meski aku tidak ingin berdoa pada Tuhan, di hadapan takdir itu sendiri aku sama sekali tidak bisa berkutik. Aku masih keras kepala untuk tidak berdoa dan memohon pertolongan.



Indra pendengaranku berdengung pelan. Aku menunduk untuk menatap telapak tanganku yang terasa basah. Sejak kapan tanganku sebasah ini. Mataku langsung membola kala menemukan cairan merah di sana. Aku mengangkat telapak tanganku dan mengendusnya. Bau anyir langsung menusuk hidung. Mungkin sekarang aku harus membersihkannya.



Aku beranjak dari kursi dan langsung ke kamar mandi. Saat jemariku meraih kenop pintu, hawa dingin yang menyeruak membuat bulu kudukku meremang. Tetesan\-tetesan besar air yang jatuh ke permukaan wastafel menusuk gendang telingaku. Mendadak suara itu terdengar sangat menenangkan. Jemariku meraih ujung kran air dan menekannya. Deras air mengalir memenuhi bak air itu. Aku yakin tidak membutuhkan waktu lama sampai air di bak meluber. Namun, aku tidak peduli.



Aku mengulurkan tangan. Menadah air yang terus bergerak turun. Menatapnya penuh harap. Bukankah mati tenggelam sama sekali tidak berdarah. Meski kata orang mati tenggelam itu paling menyakitkan. Mereka bilang mati dengan cara itu menakutkan karena dingin dan sendirian sampai napas menghilang. Akan tetapi, aku punya pendapat berbeda. Kematian dengan cara itu bisa jadi menyenangkan, kala pelan\-pelan kematian mulai memeluk maka setidaknya tidak ada darah terlihat atau kulit yang tersayat. Bisa jadi juga manusia tidak akan kesakitan saat mencapai degukan terakhir ketika nyawa sampai di ujung tenggorokan dan menunggu untuk terlepas dari raga.



Tanganku masih bermain di deras air saat cairan yang bergerak turun memukul permukaan bak itu mulai tampak aneh. Awalnya bak itu terlihat berwarna putih dengan air jernih itu mengalir turun. Air yang mengalir itu mulai berubah warna. Semburat merah muda mulai timbul. Semakin banyak air yang bergerak turun, warna merah muda berubah menjadi merah pekat. Sedetik kemudian, warna air semakin pekat. Tetesan itu terjatuh di tanganku mula\-mula cair lalu mengental. Cairan itu berwarna semerah darah.



“Darah,” bibirku mendesis. Tubuhku otomatis bergerak mundur. Mengusapkan tanganku ke celana beberapa kali–sekuat\-kuatnya.  Aku ke tempat ini untuk membersihkan tanganku bukan untuk mengotorinya.

__ADS_1



“Enza!”



Aku menoleh saat suara bisikan mulai terdengar. Suara itu mengalahkan deras air yang mengalir. Saat suara panggilan itu terdengar lagi sekarang aku menatap cermin. Mataku terpaku pada permukaannya yang memantulkan bayangan. Aku menatapnya, akan tetapi bukan bayanganku yang muncul. Pelan\-pelan mulai terbentuk sosok lain di sana. Aku terhenyak dan menutup mulut kala bayangan seorang anak kecil menampakkan diri di dalam cermin.



“Enza! Enza!” suara kecilnya merintih.



“Kau tidak mengenalku!” ketusku. Namun, anak itu sepertinya tidak peduli, dia terus memandangiku sambil memanggil namaku.



 Dadaku sesak, napasku tersendat\-sendat. Rasa dingin mulai menjalar di tengkukku. Anak itu mengulurkan tangan kala dahinya anak mulai sobek. Darah mengalir turun. Semakin lama semakin deras.



“Enza!” bisiknya lagi.



“Jangan panggil aku!”



Aku melolong. Tubuhku mulai lunglai. Kakiku lemas. Kedua tanganku meremas daun telinga. Mencegah suara bisikan itu mendekat.



“Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza...!”



“Hentikan!”



“Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza... Enza...!”




“Enza!”



“Jangan panggil aku!” aku menggeleng lagi. “Kau tidak nyata!”



“Enza, ini aku. Kak Alex.”



“Kau bohong!”



“Ini aku, Alex.”



Hangat jemari–entah milik siapa–mendadak menyentuh permukaan kulitku. Aku terkesiap. Saat mendonga, mataku bertemu mata cokelat madu. Manik mata itu milih Alex. Entah bagaimana melihatnya ada di sini membuatku sedikit lebih tenang.



“Apa yang kau lakukan di sini?” suaranya terdengar panik.



“Itu,” aku menelan ludah. “Darah...bocah di cermin...,” aku menunjuk ke arah cermin dan wastafel.

__ADS_1



“Ada apa di sana?”



“Ada darah, anak kecil,” suaraku masih terbata.



“Apa maksudmu?”



“Ada darah mengucur dari kran!” jeritku marah, kenapa dia tidak juga mengerti.



“Tidak ada darah, Enza!”



“Ada.”



“Tidak ada. Coba kau lihat!”



Aku mengikuti arah mata Alex. Air itu masih mengucur deras. Jernih. Pandanganku berpindah ke arah cermin. Cermin itu kosong. Tidak ada bayangan di dalamnya. Bocah itu sudah menghilang. Mataku beralih ke Alex.



“Geral!”



“Apa?”



“Geral kecelakaan.”



“Iya, dia kecelakaan.” Alex mengangguk.



Mataku nanar menatap Alex. Mana mungkin dia tahu. Bagaimana dia bisa mengetahui semua ini secepat ini?



“Kakak tahu Geral kecelakaan?” aku menelan ludah. Keraguan mulai meremas batinku.



“Aku tahu.” suaranya mantap.



Tanganku gemetar saat gigiku gemeletuk. Aku menatap lagi manik mata cokelatnya. Mencari celah kebohongan di dalam mata itu. Mungkinkah Alex sudah mengetahui semuanya. Dia tahu kalau aku memanggil arwah. Tetapi, Sejak kapan?



 



 



 


__ADS_1


 


__ADS_2