
Irama musik mengalun pelan. Kepalanya ikut bergoyang mengikuti irama dari dalam headset yang kami kenakan bersama. Geral menoleh lalu tersenyum. Sama\-sama hanyut dalam lagu yang kami dengarkan dari pemutar musik yang sama. Kami memakai satu headset, satu di telinganya dan satu lagi di telingaku. Kami masih duduk bersama di atas ayunan. Kaki kami melesak ke dalam permukaan pasir yang lembut dan dingin.
My love can't rest a day,
My heart can't beat without you
What could i do without you?
“Menurutmu bukankah lagu ini terlalu dewasa untuk kita?” aku membuka percakapan setelah mendengar lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi pria bersuara merdu itu.
Geral mengerdipkan mata, bulu matanya yang lentik bergerak menggemaskan. Aku tersenyum tipis. Bulu mata miliknya memang terlalu feminim, terlalu cantik kalau kataku.
“Kalau aku yang menyanyikannya untukmu maka akan jadi lagu anak\-anak,” tawa usil mengembang di wajahnya.
“Genit!” bahuku menyodok bahunya.
“Enza, aku serius.”
“Anak tiga belas tahun ngomong serius,” aku mencibir.
Dia melebarkan matanya hingga bola mata cokelatnya tampak membesar. “Kau gak menganggapku serius?”
Aku mengangguk. Dia tampak imut, bukan mirip ayahku yang serius dan galak setiap waktu.
“Aku akan menyanyikan lagu itu nanti saat kita dewasa,” Geral berucap penuh tekad.
“Kapan itu?” aku terkikik.
“Setiap hari, setiap waktu, sampai kau tahu kalau aku serius.”
“Astaga! itu horor.”
“Aku gak peduli.”
Aku ingin menyahut. Akan tetapi, bulu kudukku mulai meremang. Berdiri ganas di atas permukaan tengkukku. Aku mengusapnya. Berusaha menghilangkan sensasi dingin di leherku.Balok\-balok es batu seolah menempal di tengkuk, membuatku menggigil kedinginan.
Aku mengusap leherku dan bergerak kaku. Berusaha untuk menoleh. Mataku bertemu dengan mata makhluk itu. Mata hitam yang kosong dan dingin.
“Arrggghhhh!”
Jeritanku melengking membelah taman bermain itu. Aku terjungkal dari ayunan. Salah satu ujung headset di telingaku terlepas. Benda itu menggantung kebingungan sama seperti ekspresi wajah Geral saat ini. Makhluk itu berbaju panjang putih yang menjuntai, rambutnya juga menggantung mengerikan hingga pinggul. Bola matanya hitam tanpa dasar. Benar\-benar mengerikan.
“Jangan dekati aku!” mataku nanar menatap makhluk itu.
Jemariku meraih butiran pasir. Mengenggamnya dan menaburkannya ke arah makhluk berbaju putih yang kini mendekati Geral. Makhluk itu menyengai, geliginya tampak tajam dan matanya yang hitam masih menatapku.
“Hentikan!”
Aku menutup telinga saat makhluk itu mulai bernyanyi. Kidung\-kidung kesedihan dalam bahasa yang asing menembus indra pendengaran. Suaranya yang dalam dan rendah membuat seluruh bulu di tubuhku berdiri. Sosok berbaju putih itu kini berjalan mendekatiku. Langkah kakinya ringan, menapak di permukaan pasir tanpa menimbulkan jejak.
Aku masih menunduk, air mata mulai menusuk di dalam kelopak mata. Telapak tangan masih meremas daun telingaku erat\-erat.
“Enza, kamu kenapa?”
“Tidak, tidak, berhentilah bersuara!”
Aku menutup telingaku lebih rapat. Akan tetapi, suara itu masih menembus masuk. Bagai jarum mungil yang melewati sela\-sela jariku untuk mencuri semua suara yang akan masuk ke dalam telinga. Licin mirip air yang merembes di setiap lubang mikroskopis sekali pun. Suaranya melengking, serak dan dalam. Mengatakan padaku kalau aku akan baik\-baik saja kalau dia mengijinkan dia masuk ke dalam tubuhku. Menuntunku untuk menyerahkan jiwaku. “Enza!”
__ADS_1
Geral menarik tanganku yang masih meremas daun telingaku. Memasukan salah satu ujung headset ke dalam lubang telingaku. Aku membeku, irama lagu itu kini bersahutan dengan suara sosok wanita berambut panjang yang kini tengah bernyanyi itu. Aku menurut kala Geral memasang ujung headset yang lain di telingaku.
Wanita itu kini mendekat. Mataku membelalak. Terlalu takut untuk menutup mata. Jemariku menarik baju Geral kuat\-kuat. Aku masih membeku dan terpaku di tempat.
“Jangan dilihat kalau itu menakutkan!”
Geral menutup wajahku dengan jaketnya. Menutupi mataku, agar aku tidak bisa melihat. Aku menoleh, tawa lebar terbentuk di wajahnya. Kami masih berkerudung jaket yang menutupi kepala. Aku terhenyak saat dia menarik salah satu ujung headset dari lubang telingaku. Gigilan mulai menyerang tubuhku. Rasa dingin yang janggal kembali menyergap.
“Jangan takut, Enza!”
“Aku takut,” tangisanku kali ini pecah.
“Aku ada di sini, jangan takut!”
“Tapi, Geral\-”
“Ssshhh! Aku akan menutup matamu agar kau tidak melihat yang tidak ingin kau lihat, aku menutup telingamu agar kau tidak perlu mendengar apa yang tidak ingin kau dengar,” Geral tersenyum lembut.
“Tapi, aku masih dengar,” aku menoleh takut\-takut ke arah sosok wanita yang kini bergerak ke samping.
Geral menarik wajahku agar berpaling menghadap padanya. “Kita perlu berbagi irama.”
“Berbagi irama?”
Dia mengangguk mantap. “Agar aku mendengar apa yang kau dengar.”
“Kau tidak bisa mendengar apa yang aku dengar,” gumamku sedih.
“Iya sih. Tapi, aku percaya.”
“Yep, aku percaya apapun yang kau katakan.”
“Begitukah?”
“Kau hanya perlu mendengar suaraku.”
“Untuk apa?”
“Agar kau selalu mengingatku, wajahku dan suaraku. Menyimpannya di dalam hatimu.” Geral tersenyum lagi.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku tidak akan melupakannya.”
I can't live a moment without you
I can breathe only if you're with me
I love you forever and ever
Suara lagu itu masih samar-samar menembus indra pendengaranku. Membuatku ikut bergumam.
“Enza! Geral!”
Sebuah suara memanggil nama kami.
“Kakak,” aku memekik buru\-buru menarik jaket itu dari wajahku.
“Ini rahasia!” bisikku nakal.
__ADS_1
“Rahasia kita berdua,” Geral tertawa pelan.
Kakak tidak boleh tahu aku ketakutan. Dia akan sangat tidak suka kalau aku membicarakan hantu.
“Kalian ngapain?” Kak Alex mengerutkan kening.
Aku terdiam membisu, Geral juga hanya diam. Jari kelingking kami saling bertaut di belakang punggung.
“Kita harus pulang sekarang, Enza!”
“Tapi, Geral.”
Aku menoleh iba pada anak lelaki yang kini masih berdiri di sampingku. Menatap Alex tanpa berkedip.
“Papanya akan menjemput sebentar lagi,” sahut Alex mantap.
“Apa kita tidak menunggu dan menemani dia sampai papanya datang?”
Alex menggeleng. “Kita harus pulang sekarang!”
“Pulanglah, kita bisa bermain lagi lain kali,” Geral tersenyum lembut.
“Kamu tidak takut?”
“Aku akan mencegahnya mengikutimu dan menahannya tetap di sini,” bisiknya di telingaku.
“Tapi–”
“Pulanglah!”
Aku menyerahkan headset itu pada Geral. “Nyanyikan aku lagu itu lain kali.”
“Tentu.”
“Pakailah!”
Aku memasukkan ujung headset itu ke lubang telinganya.
“Sudah anak\-anak? Ayo pulang!” Alex mulai tidak sabar.
Geral tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku menganggukan kepala untuk berpamitan sementara Alex menarik paksa lenganku. Aku menoleh ke belakang. Geral masih melambaikan tangannya. Kedua lubang telinganya tertutup headset. Bulu kudukku meremang. Makhluk itu belum pergi. Dia tersenyum sinis. Napasku tertahan saat sosok wanita itu merangkul Geral. Memeluknya dari belakang.
Thank you, for loving me
Thank you, for making me laugh
Suara lagu itu masih bergema. Bukan suara penyanyi pria, bukan suara Geral. Akan tetapi, suara wanita itu.
__ADS_1