One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 7. Kebangkitan


__ADS_3

Hening dan suram sekaligus mencekam. Langkah kaki itu menghilang sesaat setelahnya meninggalkanku dengan pertanyaan yang semakin menggunung. Angin yang membuka kembali daun jendela hingga membuat benda itu kembali memukul tembok. Aku mendengus kecewa lalu kembali menekuni wajah pemuda itu, kegiatan yang rutin kulakukan di waktu senggang hingga malam datang menjemput.



“Tidur terlalu lama akan membuatmu lelah, segeralah bangun!” aku menarik selimut hingga menutupi lehernya. “Kuharap kau bangun saat aku kembali.”



Aku berjalan keluar setelah menoleh sekali lagi ke arah pemuda itu sebelum menutup pintu. Sekarang aku bergerak ke dapur untuk mengisi perut. Mendesah kecewa saat mengambil membuka penghangat nasi. Nasi putih itu belum berkurang separuhnya. Aku selalu memasak lebih banyak, berjaga\-jaga kalau Geral bangun sewaktu\-waktu. Hanya saja, pemuda itu tidak kunjung membuka mata. Aku bahkan sampai berburuk sangka kala Alice telah berdusta dan menipuku. Aku menggeleng dua kali, rasanya itu tidak mungkin. Tidak ada untungnya menipu manusia tanpa uang sepertiku. Setelah mengambil nasi dan lauknya selanjutnya aku beranjak duduk di birai jendela dengan mangkok di tangan. Aku senang makan di tempat ini sambil mengamati jalanan.



Sejak aku ditinggalkan di sini sendirian bersama seorang pengurus rumah tangga, aku selalu duduk di birai jendela. Berharap Ayah akan menjemput atau Alex akan datang. Akan tetapi, harapan itu tidak pernah terkabul. Tidak ada yang datang hingga bertahun\-tahun berikutnya. Kebiasaan itu tetap melekat meskipun sekarang aku hanya memandangi jalanan bukan berharap ada seseorang yang akan datang menjemput.



Alex hanya sesekali menemuiku di sekolah, selebihnya dia jarang sekali datang. Dia baru mulai sering datang setelah kami sama\-sama dewasa dan dia bisa menentukan kegiatannya. Mungkin dia sudah terlepas dari pengawasan Ayah setelah dewasa. Kegiatan menunggu menjadi menyenangkan saat orang yang kutunggu itu datang. Geral selalu muncul di sana, di jalanan itu nyaris setiap hari. Dia bahkan memintaku untuk tidak menunggu di birai ini lagi karena dia takut aku terjatuh, padahal aku bukan anak kecil lagi.



“Aku pasti datang,” katanya. “Jadi kau tidak perlu menunggu suatu hal yang sudah pasti.”



Cinta bukan perkara menunggu tanpa kepastian. Geral tidak membiarkanku menunggu. Dia selalu membawa kepastian. Hingga beberapa waktu lalu, dia tidak datang lagi. Jemariku meremas gagang sendok sebelum meraup makanan. Kunyahanku semakin cepat saat merasakan mataku mulai memanas. Aku mulai makan karena aku harus tetap melakukan itu untuk hidup. Meski sampai saat ini aku masih tidak paham kenapa aku harus bertahan hidup padahal mati–karena kelaparan misalnya–jauh lebih mudah dilakukan. Atau mungkin pilihan mati itu tidak sepenuhnya mudah.



Setelah makan aku mencuci mangkok yang kugunakan lalu mandi. Mungkin setelah ini, aku akan mandi lalu tidur karena tidak banyak yang bisa kulakukan sendirian. Atau mungkin aku akan menemani Geral sampai rasa kantuk datang.



Keesokan harinya...



Aku berjalan keluar dari kamar sambil menguap lebar. Matahari memang belum muncul tapi bangun lebih pagi rasanya jauh lebih menyenangkan. Aku bisa melewatkan waktu lebih banyak bersama Geral sebelum membuka kios bunga yang ada tepat di samping rumah. Mengajaknya berbicara setiap pagi selalu menyenangkan, dia hanya bisa menyetujui apa pun yang kukatakan. Tentu saja kan, dia bahkan tidak bergerak. Kalau dipikir ulang aku benar\-benar bodoh. Akan tetapi, aku selalu bisa menjadi diriku sendiri saat bersamanya. Dia meluruhkan tembok perlindunganku hingga aku sendiri sering bertingkah konyol di hadapannya. Kekonyolan yang tidak akan pernah muncul di depan orang lain. Apalagi di depan ayahku.



Langkah kakiku terhenti kala aroma kopi tiba\-tiba menusuk hidung. Tunggu! Aku kan tinggal sendirian dan kalau aku di sini maka tidak ada orang lain yang membuat kopi. Kecuali satu orang. Mungkinkah?



Aku menyentuh dada, takut kalau jantungku meletup kapan saja. Bisa saja kan Geral sudah bangun. Senyuman mengembang di bibirku. Aku terburu\-buru berjalan ke dapur.



“Ge–”



Kata\-kata yang hendak kuucapkan mengambang di udara. Aku belum sempat menyelesaikannya kala melihat sosok yang kini berdiri di dapur. Tawaku lenyap dan aku hanya bisa melengos. Kekecewaan  langsung menyergap hingga membuat kakiku lemas.



“Pagi, Enza!”



“Kakak kapan datang?” tanyaku sambil berjalan mendekati laki\-lakiku yang kini masih sibuk berkuat di dapur.



“Aku masuk setengah jam lalu tapi kamu masih tidur.” Alex melirikku sekilas lalu kembali sibuk menyeduh dua cangkir kopi di meja.



Alex mengulurkan satu cangkir padaku. Aku menerima cangkir pemberiannya dan dia sendiri menyesap miliknya sambil duduk. Kami tidak langsung bicara karena aku sendiri mulai menikmati cairan hangat itu membasahi mulut dan masuk ke dalam tenggorokanku. Rasanya enak juga dan menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa sedikit.



“Bagaimana kabarmu akhir\-akhir ini?” tanya Alex memecah keheningan.



“Baik.”



“Oh,” pemuda itu menjawab pelan. Sepertinya dia juga bingung harus mengatakan apalagi untuk menyambung obrolan.



“Ngomong\-ngomong ada apa pagi\-pagi begini?”



“Aku mau ambil barang tapi aku lihat kamarku dikunci,” ucapnya sambil menunjuk kamar miliknya yang sejak kemarin kugunakan untuk menampung pemuda tak dikenal itu.



“Harus ambil sekarang?” aku mulai menimbang\-nimbang cara paling aman untuk menyembunyikan sesuatu yang kutaruh di sana.



Aku harus mengeluarkan pemuda itu dulu sebelum dia memberondongku dengan sejuta pertanyaan. Tetapi, bagaimana caranya? Jasad itu jelas bukan barang yang bisa dilipat terus disembunyikan.



Alex melirik arloji di pergelangan tangannya dan tersenyum. “Nanti sore juga tidak apa\-apa.”



“Sudah mau pergi sekarang?” tanyaku saat pemuda itu berdiri.



“Iya.”



“Kopimu belum habis,” kataku sambil mengedikkan bahu.



Pemuda itu bergerak mendekatiku lalu menyentuhkan tangannya di puncak kepala. Dia tersenyum. “Aku hanya mampir sebentar dan lega melihatmu baik\-baik saja. Kalau sekarang aku harus pergi kerja, kau tahu kan jam masuknya lumayan pagi.”



“Iya sih,” kataku mengiyakan.

__ADS_1



“Aku akan datang lagi nanti. Jangan khawatir!”



“Tadi Kakak bilang mau ambil barang, apa itu?”



Pemuda itu mengerutkan kening sejenak.  Dia tampak kebingungan. Mungkin mengambil barang itu hanya alasan, dia mungkin hanya ingin mampir ke rumah ini. Hal ini setidaknya membuatku sedikit senang.



 “Aku cuma penasaran,” kataku meralat.



“Oh, kamera digital yang ada di laci bawah,” tukasnya sambil menjentikkan jari–seolah\-olah dia baru saja menemukan jawaban yang tepat.



“Nanti aku siapkan jadi Kakak tinggal ambil, ” kataku menawarkan sambil memasang tawa lebar\-lebar. Semoga dia tidak sadar kalau aku sedang berpura\-pura saat ini.



“Oke, terima kasih ya,” suaranya terdengar nyaring dari balik pintu.



Aku menarik napas lega. Hampir saja. Apa katanya kalau sampai aku ketahuan menyimpan lelaki di dalam rumah. ‘Sejak kapan kamu mulai kumpul kebo?’ setidaknya dia pasti akan mengatakan itu. Aku juga harus memindahkannya dari kamar itu, tidak ada jaminan kalau Alex hanya mengambil kamera miliknya dan tidak masuk ke kamarnya.



Setelah memastikan kakakku pergi, aku memutar kunci pintu ruangan itu. Tidak ada suara di sana. Pemuda itu masih saja terlelap dalam tidur. Aku mendekatinya. Mulai curiga, jangan\-jangan dia mati. Mana mungkin seorang manusia bisa tahan tidak mengisi perutnya selama beberapa hari. Walaupun secara teori, manusia bisa tahan tidak memakan apa pun selama empat hari berturut\-turut. Eh, tapi kan dia koma. Orang yang dalam fase vegetatif biasanya tahan selama bertahun\-tahun. Hanya saja, tanpa nutrisi memadai seperti di rumah sakit rasanya agak mengkhawatirkan.



Aku mendekatinya. Menyapukan jari di bawah hidungnya. Sirkulasi udara masih terjadi, walaupun sangat lemah. Menempelkan kepala di dadanya. Jantungnya juga masih berdenyut meski tidak terlalu keras. Aku kembali menarik napas lega.



Dia masih hidup. Syukurlah.



“Ayo kita pindah!” aku menarik tangannya berusaha untuk membantunya bangun.



Aku masih dalam posisi yang sama masih berusaha lagi dan lagi tapi manusia satu itu bahkan tidak bergerak sedikit pun. “Uggghhh! Ayolah!”



Aku ingin sekali membuatnya berdiri tapi dia masih saja dalam posisi duduk. Pada akhirnya aku berhenti dan beristirahat. Semua ini membuatku lelah. Aku mendesah dan duduk di tepi ranjang. Membiarkan pemuda zombie itu kembali terkulai dalam tidurnya. Mengamati diriku sendiri dan dia secara bergantian. Pemuda itu memang tampak tinggi, bahkan nyaris jangkung. Bukankah dia tidak makan, heran kok badannya berat. Aku yang terlalu pendek atau dia yang terlalu tinggi hingga jadi berat?



“Baiklah, kita coba lagi nanti.”



Aku menyerah. Memutuskan untuk berjalan keluar dan mengunci pintu kamar itu. Mungkin aku bisa mencobanya lagi nanti. Mungkin setelah menutup toko sore nanti. Lagi pula masih ada banyak waktu sebelum Alex datang untuk mengambil kameranya.




“Ayolah, gerak sedikit kenapa?” Aku mulai frustasi.



Keringat terus membasahi keningku. Akan tetapi, pemuda zombie mengesalkan itu benar\-benar tidak mengerti masalah yang akan menimpa kami tidak lama lagi kalau dia tetap keras kepala.



“Enza!” suara Alex terdengar nyaring dari lantai bawah.



Aku terkesiap saat suara Alex, rumah ini terlalu sunyi hingga suara sekecil apa pun akan terdengar. Melepaskan peganganku dan naik ke atas ranjang. Mengganti metode dan merubah strategi. Kali ini aku mendorongnya jatuh ke bawah. Harapanku tentu saja menyembunyikannya di bawah kolong tempat tidur. Sedikit klise, haya saja itu pilihan satu\-satunya. Akan tetapi, harapan itu pupus kala lagi\-lagi aku tidak kuat mendorongnya.



“Kamu di atas?”



 “Ukhhh! Sial!” desisku kesal.



Kini aku berjongkok di tepi ranjang berharap kesialanku segera berlalu. Semoga gaya gravitasi akan menolongku sedikit saja. Masih berusaha menarik tubuh itu turun. Setidaknya begitu yang kupikirkan, jika tak berhasil mendorong maka ditarik.



Aku tercekat kala tubuh pemuda itu bergerak turun. Tubuh pemuda itu dengan sukses menindihku. Aku menggeliat, masih berusaha bergerak. Akan tetapi, bobot tubuhnya terlalu besar. Sedetik kemudian, aku masih berkutat di area yang sama. Lehernya juga menempel di wajahku. Aku masih berusaha menarik lehernya menjauh hingga beberapa detik setelahnya.



“Enza.”  Langkah kaki Alex menapaki terdengar semakin dekat.



“Oh, tolonglah!” aku mendorong lehernya.



Apa ini?



Seketika aku terhenyak. Sesuatu berkilau saat gelangku bertemu dengan bandul chocker yang mengikat lehernya. Kilauan itu menghilang secepat kemunculannya. Aku langsung menarik tanganku. Sensasi mirip tersengat listrik menusuk pergelangan tangan. Rasa itu juga hilang dalam sekejab. Mataku masih menatap leher pemuda ini. Menimbang\-nimbang metode untuk menyelamatkan diri.



“Enza.”



Suara itu membuyarkan semua hal yang kupikirkan. Seketika aku terdiam, suaranya serak dan berat.

__ADS_1



Bukan suara Alex, siapa yang bicara?



Aku merasakan detak jantung pemuda itu meningkat di atas tubuhku. Dia kini bergerak menjauh dari tubuhku, pemuda itu benar\-benar bangun. Kini dia duduk di depanku. Aku menatapnya. Mataku kini terkunci di dalam matanya.



“Geral?” aku berbisik memanggil namanya.



Dia bergeming sementara mata kami saling bersitatap dalam diam. Bibirnya masih terkatup rapat sementara manik hitam itu mulai menatap wajahku. Aku belum sempat bertanya lebih lanjut saat mendengar langkah kaki Alex yang mulai mendekat. Kedatangan Kakak lelakiku itu membuatku semakin panik. Pemuda itu juga menyadari sesuatu. Dia berkedip sebentar lalu menggeser tubuhnya.



“Masuk ke sana!” kataku sambil menunjuk kolong ranjang tempatnya berada sebelumnya.



Dia masih duduk. Mimik wajahnya menyiratkan kebingungan. Pemuda itu masih memandangiku. Oh, jangan bilang dia pemuda polos dengan mental anak usia tiga tahun. Tiba\-tiba aku merasa frustasi. Aku tidak bisa membayangkan kalau yang kembali adalah Geral masa anak\-anak. Mungkin pemilik tubuh ini memang masih anak\-anak. Suara langkah kaki Alex kembali mengusikku.



“Cepat!” bisikku memburu



Aku mendorongnya dengan paksa ke dalam kolong tempat tidur. Pemuda itu akhirnya bergerak masuk. Aku mengikutinya. Jantungku nyaris copot saat pintu kamar terbuka. Untunglah saat itu aku tepat meringkuk di samping pemuda itu.



“Enza?” suara Kak Alex menggema di kamar saat pintu kamar ini terbuka lebar.



Aku mengunci lengan pemuda itu agar dia tidak lepas keluar. Aku menoleh ke arahnya. Seketika, aku terhenyak.  Waktu terasa membeku. Hidung kami nyaris bersentuhan. Pemuda itu memiringkan kepala lalu menatapku. Aku menyentuhkan jari telunjukku ke bibirku sendiri untuk memberikan tanda agar dia diam. Pemuda itu mengangguk, tapi matanya masih menatapku. Dia sepertinya tidak berniat mengubah sudut kemiringan kepalanya saat ini.



Aku menahan napas kala melihat kaki Alex berkeliaran di sekitar ranjang. Kakak lelakiku itu lalu berjongkok. Tangannya merogoh laci bawah. Aku meremas tangan pemuda itu lebih erat. Tangannya juga menegang di bawah jemariku. Alex masih berjongkok dan memunggungiku. Sepertinya dia belum sadar kalau kami bersembunyi tepat di belakangnya.



 “Kameranya ada di sini, ke mana sebenarnya anak itu,” gumaman Alex terdengar cukup jelas.



Alex berdiri dan membuka almari pakaian sebentar. Butir\-butir keringat mulai terasa timbul di tengkuk. Aku semakin takut dan meremas tangan pemuda itu lebih keras. Tangannya pasrah dalam genggaman, sementara itu Alex masih mondar\-mandir. Aku menahan napas. Terlalu takut kalau kakakku bahkan mendengar suara napas kami yang terdengar sangat keras.



Aku melepaskan udara melalui bibir saat melihat Alex meninggalkan kamar. Menoleh ke arah pemuda yang kini masih berbaring di sampingku. Aku melepaskan pegangan. Pemuda itu urung melepaskan tanganku. Aku menoleh lalu memandangnya, bermaksud memberikan tatapan garang. Terkesiap saat pemuda itu menarik tubuhku lebih dekat. Aku menelan ludah. Kini aku berada dalam pelukannya.



“Apa yang kau lakukan?” aku memekik dalam bisikan.



“Enza?” seketika suara Alex kembali terdengar kembali.



Aku yakin seratus persen Alex mendengar suaraku barusan. Aku menatap pemuda itu. Berusaha melepaskan pelukannya. Akan tetapi, dia menarikku lebih erat. Dia menutup bibirku dengan tangannya. Aku menahan napas lagi sementara mataku tidak bisa lepas menatap bola mata hitam legam yang seolah menelanku bulat\-bulat.



Langkah kaki Alex terhenti saat aku mendengar dering panggilan telepon berbunyi nyaring. Samar\-samar aku mendengar Alex berbicara dengan seseorang. Lama\-lama dia terdengar menjauh hingga benar\-benar menghilang. Aku menatap pemuda itu. Memberikannya isyarat untuk melepaskanku. Dia tidak juga melakukannya. Aku memberontak dengan kekuatan penuh.



“Enza–”



Suara itu berat dan serak. Napasnya yang hangat menyapu telingaku. Sensasi yang tidak asing. Aku menelengkan kepala, masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Suaranya memang asing, tapi cara dia menyebut namaku terdengar begitu akrab di telinga. Lembut dan penuh perasaan. Geral selalu memanggilku dengan nada seperti itu. Geral juga selalu menyentuhkan bibirnya hingga nyaris menempel di telingaku setiap menyebut namaku.



Aku kembali tersentak saat jemari pemuda itu menangkup pipiku. Menelusuri garis rahang wajahku. Aku tidak tahu setan mana yang merasuki tubuhku saat ini. Entah mengapa aku tiba\-tiba pasrah dengan semua yang dilakukan pemuda asing ini padaku. Aku berharap dia Geral. Geralku yang kembali dari kematian. Mungkin aku gila atau delusional, entahlah aku sendiri tidak mengerti.



“Geral?” ucapku ragu, masih mencoba memanggil nama mendiang pacarku. Berharap dia ada di dalam tubuh pemuda asing ini.



Cahaya remang\-remang bulan purnama dari jendela. Samar\-samar aku bisa melihat bibir pemuda itu melengkung membentuk senyuman.



“Ya, ini aku–” suaranya serak dan lirih.



“Geral?” aku kembali menyebut namanya, biarlah kalau dia berpikir kalau aku orang bodoh.



“Iya.”



Aku terdiam. Masih menatap tidak percaya kalau saat ini Geral telah kembali. Aku menelusuri wajah pemuda itu untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Mataku basah. Kelegaan serta kebahagiaan campur aduk di dalam diriku. Hatiku terasa akan meledak saat ini juga ketika jantungku berpacu cepat. Tanganku gemetar dan panas mulai menjalari seluruh tubuh.



Pemuda itu menyentuh pipiku. Menghapus air mata yang mengalir turun tanpa kusadari. Dia  mengenggam butiran air mata itu di tangannya.



 “Geral,” aku bergerak memeluk pemuda yang kini masih menatapku. Tidak salah lagi, Geralku telah kembali.



“Aku pulang, Enza,” bisiknya lembut membelai telinga.


__ADS_1


Aku memeluknya. Sedetik kemudian, mataku mengerjap. Bibirku terkatup rapat.  Nyeri tiba\-tiba menusuk leher. Aku memekik pelan dan menyentuhkan tanganku di leher yang tiba\-tiba saja terasa perih. Cairan lengket menempel di ujung jari. Aku mendekatkan jariku ke hidung dan mencium baunya. Amis. Ini darah, tidak salah lagi. Namun, aku tidak ingin menunjukkan semua ini pada Geral dan membiarkannya tetap memelukku. Aku menyeringai lalu senyum mengembang di bibirku. Ritual darah itu telah dimulai. Aku berhasil memanggil Geralku kembali.


__ADS_2