One Thousand Days

One Thousand Days
Bab 8. Tanda


__ADS_3

Aku menguap lagi karena hangatnya cahaya mentari pagi malah semakin membuatku malas membuka mata. Lengan itu mendekap erat tubuhku hingga hembusan napasnya kini membelai puncak kepalaku. Aku kembali bergelung saat tubuh hangat itu memberikan kenyamanan.



Tunggu!



 Seseorang memelukku. Buru\-buru membuka mata. Pupil mataku melebar, pemuda itu kini masih terpejam. Beringsut untuk melepaskan tubuhku dan cengkeramannya. Dengusan terlempar keluar dari mulutku kala lengan itu masih mengunci tubuhku. Aku mendongak, menatap rahang pemuda itu juga tulang pipinya yang tinggi.



“Geral!” bisikku pelan sembari berusaha menarik lenganku yang masih terjepit.



Senyuman terbit di bibirku saat aku berhasil menarik lengan–bukan berarti dia melonggarkan pelukannya. Hanya saja aku menariknya dengan paksa. Jemariku menjangkau wajah pemuda itu, menelusuri wajahnya. Wajah yang sama sekali berbeda dari milik Geral. Apa yang akan dipikirkannya kalau dia mengetahui wajahnya ini? Dia belum sempat melihat sosok barunya sejak tersadar kemarin.



Dia mendesah berlahan. Pelan\-pelan matanya terbuka. Dia menunduk menatapku. “Enza,” gumamnya.



“Geral?”



Dia mengangguk. Memulas keningku lembut sebelum menarikku dalam pelukan. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang kini berpacu cepat. Geralku hidup. Dia sekarang ada di dunia dengan jantung dan tubuh yang bergerak.



“Kenapa?” Suaranya terdengar serak dan pecah.



“Ada apa?” aku buru\-buru menarik tubuhku dari pelukannya. “Geral?”



Dia tidak mengacuhkanku atau menunduk menatapku. Matanya masih memandang ke depan. Kaku dan ekspresi wajahnya tidak terbaca. Ada apa sebenarnya?



Aku beringsut, lengannya sudah melonggar. Aku menoleh mengikuti arah matanya untuk melihat yang tengah ditatap pemuda itu. Bayangan wajahnya terbentuk di cermin besar yang berdiri di dekat tembok. Sementara wajahku ada di sebelahnya dengan kening berkerut. Kami sama\-sama masih berbaring di kasur, akan tetapi mata Geral membelalak sedikit dan ekspresi wajahnya menyiratkan ketakutan.



“Wajah ini–” suara serak itu terputus oleh tarikan napas kasar dan berat. Dia buru\-buru bangun. Aku pun ikut bangun dan memposisikan diri di depannya.  



“Geral, itu wajah barumu,” kataku sambil mengusapkan jemari di pipinya. “Kenapa?”



“Ini tidak mungkin. Tidak boleh wajah ini,” suaranya gemetar.



 “Apa maksudmu?”



Aku sama sekali tidak paham dengan reaksinya kali ini. Geral masih saja terdiam. Mata hitamnya menyorot tajam. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Bibirnya juga tergigit. Mungkin dia merasa tidak nyaman denan wajah barunya. Akan tetapi, kenapa dia mengatakan kalau tidak boleh memakai wajah ini, kenapa? Bukankah dia yang seharusnya paling tahu kalau dia tidak mungkin kembali ke tubuh aslinya?



“Aku tidak mau wajah ini,” katanya.



“Dengar, wajah ini adalah wajah penolongmu. Penolong kita,” aku menangkup wajah itu lalu menatapnya. Mengirimkan ciuman singkat untuk menenangkan pemuda itu.



“Tapi–”



“Kita bisa cari solusi nanti, operasi plastik atau apa. Yang penting kau tenang dulu!” ucapku mencoba menenangkannya.



Geral memang tenang, akan tetapi dia masih terduduk diam di atas ranjang dengan kaki menekuk. Dia melakukannya hingga beberapa menit kemudian. Sekarang dia masih belum mau beranjak. Entah apa yang salah dari wajahnya. Aku sendiri tak tahu. Hal yang terpenting adalah dia kembali. Apalagi yang dia risaukan?



“Tinggalkan aku!”



“Apa?”



“Tinggalkan aku sendiri!” pintanya.



“Baiklah. Aku akan keluar.”



Aku langsung berdiri. Aku bisa paham ketakutannya sekarang ini. Dia pasti kebingungan karena terbangun dalam tubuh orang lain. Mungkin aku harus memberinya seidkit waktu.  Aku menoleh sekali padanya sebelum beranjak keluar, pemuda itu masih duduk di atas ranjang. Tidak lama setelahnya aku mendengar suara benda pecah kala pintu kamar itu tertutup.



“Geral!” aku kembali masuk ke kamar itu.



Napasku tercekat saat menemukan kaca itu sekarang tidak utuh lagi. Geral merah vas bunga kosong yang semula ada di pojok nakas dan melemparkannya ke benda itu. Tidak lama setelahnya dia memekik keras. Aku langsung memelesat mendekatinya. Semua ini akan berakhir buruk kalau dia tidak bisa ditenangkan. Aku sama sekali tidak menduga sebegitu bencinya dia dengan wajah pemilik tubuh itu.



“Jangan lakukan itu, kau akan terluka!” kataku setengah berteriak kala Geral kini mencakar wajahnya sendiri.



Aku memegangi tangannya, akan tetapi Geral menepis peganganku dan mendorongku menjauh. Namun, aku tidak menyerah. Sekarang aku memeluk tubuh pemuda itu.



“Maafkan aku, Geral. Maafkan aku!” pintaku sambil memeluknya. Geral lebih tenang sekarang, akan tetapi semua itu tidak membuatku lebih lega dari sebelumnya. “Aku akan buang cerminnya. Kalau bisa kau tidur saja dulu ya!”



Aku melepaskan pelukan. Pemuda itu mendongak. Aku berusaha mengulum senyum, membiasakan diri kalau sosok asing itu adalah kekasihku. Jiwa di dalamnya adalah jiwa Geral. Hanya saja dia ada di dalam tubuh yang berbeda. Aku saja belum terbiasa, jadi bisa kubayangkan kalau Geral lebih kaget dariku.



“Iya.”



Geral sekarang berbaring. Aku menarik selimut hingga nyaris menyentuh dagunya. Aku hanya berharap dia lebih tenang–meski tidak secepatnya. Hanya saja, aku tidak bisa mencari bantuan paramedis atau ahli kejiwaan atau apa pun sekarang. Aku hanya bisa mengusahakan semua ini sendirian. Pemuda itu memejamkan mata saat aku mengusap keningnya. Setidaknya aku berharap dia bisa tidur sekarang. Setelah memastikan dia sudah tidur, aku keluar mencari sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan kaca di kamar ini.



Akibat kejadian tadi pagi, aku memutuskan untuk tidak membuka toko. Geral bisa mengamuk kapan saja dan aku sendiri tidak tahu cara menangani pemuda itu. Dia benar\-benar berubah, Geral yang kukenal selama ini tidak sebrutal itu. Namun, aku masih mencoba memahami. Aku harus melihat semua ini dari sudut pandangnya, meski tidak sepenuhnya paham setidaknya aku bisa memberinya perhatian.



“Kau harus makan!” kataku sambil berjalan masuk. Sekarang sudah tengah hari dan Geral belum beranjak dari kasur meski sudah dari beberapa jam lalu dia bangun.



Dia menggeleng lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku menaruh pantat di tepian ranjang dan menyentuh lengannya. Sesaat kemudian dia berjengit. Ada gelenyar nyeri saat dia melakukan ini. Dia bahkan tidak mau disentuh.



“Apa aku membuatmu sedih?”



Pemuda itu menggeleng sekarang. Dia tampak menelan ludah dan bibirnya terlipat.



 “Kalau begitu, kenapa?”



“Aku hanya masih belum terbiasa dengan wajah ini,” ucapnya tanpa menatapku.



“Percayalah, lama\-lama akan terbiasa.”



“Lalu bagaimana tiba\-tiba aku bisa di sini?”



Napasku tersendat. Pertanyaan yang pasti akan terlontar, cepat atau lambat. Dia pasti mengingat kalau dia sudah mati.



“Aku hanya diberi tahu kau akan kembali,” kilahku berbohong.



“Tapi, bagaimana bisa? Aku tahu aku sudah mati,” suara Geral memburu. “Seharusnya aku tidak ada di sini.”



Geral sekarang menoleh dan menatapku. Matanya menyorot tajam seakan mata itu alat pemindai sementara wajahku adalah barcode barang. Aku menarik napas panjang. Apalagi yang bisa kusembunyikan sekarang.



“Anggap saja kau diberi kesempatan kedua!”

__ADS_1



Geral langsung bangun. Sepertinya dia tidak bisa terima menerima penjelasanku begitu saja. “Tapi, ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sekarang aku bernapas, jantungku berdetak dan sekarang aku di dalam tubuh orang lain. Bertemu denganmu, seharusnya aku tidak ada di sini. Jelaskan padaku, Enza!”



“Lebih baik kau tidak tahu.”



“Aku hanya butuh penjelasan. Tubuh ini terasa tidak pas dan berat, bahkan untuk bernapas saja rasanya sesak. Ini sakit, Za. Jadi setidaknya beritahu aku apa yang terjadi!”



Sakit katanya. Apakah masuk ke tubuh orang lain dan hidup kembali rasanya sekakit itu?



Aku melirik Geral yang kini menyentuh lehernya. Mendadak rasa bersalah memenuhi benakku. Kalau memang sesakit itu maka semua ini salahku.



“Maafkan aku.”



“Kenapa kau minta maaf? Kau hanya perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi!” potongnya cepat.



Tanganku terkepal, napasku mendengus kasar sementara detak jantungku mulai menanjak naik.  Kepalaku menunduk, aku tidak berani menatapnya sekarang. “Karena aku yang membawamu kembali.”



“Apa?”



Ludah besar\-besar menuruni tenggorokanku. “Aku yang memanggil jiwamu kembali.”



“Tapi, dengan apa? Bagaimana kau melakukan ini?”



“Dengan bantuan seorang pemanggil roh,” ucapku jujur.



“Enza.” Geral mengerutkan kening. “Ini terasa aneh.”



“Aku pun merasa semua ini aneh dan ganjil. Tapi, semua sudah terjadi. Jadi bisakah kita bekerjasama?” kali ini aku menatapnya. Berharap dengan sangat kalau dia akan menyetujui saranku. Meski aku tahu dia tidak menyukai tubuh barunya. Aku bisa paham, tidak mungkin ada yang senang berada di tubuh orang asing.



“Tapi, tubuh ini–”



“Aku ingin memakai tubuh aslimu, tapi–” aku memutus kalimatku, terlalu ragu untuk melanjutkan.



“Tubuhku sudah busuk?” cecarnya.



“Ini salahku. Maafkan aku, Geral.” kepalaku menunduk menatap punggung tangan. Ketakutan kembali menyergapku hingga aku tidak berani menatapnya.



Titik\-titik air mata mulai berjatuhan di punggung tanganku. Satu demi satu seperti perasaan bersalah yang mengelupas hatiku setahap demi setahap sekarang ini.



“Itu bukan salahmu,” Geral meremas tanganku.



Aku mendongak. Menatap wajahnya. Manik hitam itu memandang lurus ke arahku.Bola mata itu bahkan berbeda, apalagi yang bisa kubela dari kesalahanku sendiri. Helaan napas terlepas dari mulutku saat dia menarik tubuhku mendekat.



“Maafkan aku juga, Enza. Ini bukan salahmu, aku hanya belum bisa menerima.”



Aku hanya mengangguk. Menahan isak tangis yang ingin meloncat keluar. Selama sesaat aku bersyukur telah memanggilnya kembali. Andai bisa, aku tidak akan memaksa jiwamu masuk ke tubuh orang lain, Geral. Sayang aku tidak bisa. Jadi maafkan aku. Jemariku meremas kemeja yang membalut tubuh pemuda itu.



“Aku senang kau kembali, Geral,” kataku akhirnya. Meski hanya selama seribu hari, itu waktu yang cukup untukku. Cukup untukku agar siap melepasmu. “Aku mohon jangan bertanya lagi bagaimana kau bisa kembali.”



Pemuda itu mengangguk dan memelukku semakin erat. Untuk sesaat aku merasa lega. Setidaknya untuk saat ini dia sudah tenang.




Pemuda itu mengangguk. Aku langsung berdiri dan membantunya turun dari ranjang. Kami bergerak keluar. Dia sudah mau makan jadi mungkin hanya perlu sedikit waktu agar dia bisa kembali menjadi dirinya yang dulu. Aku yakin itu.



Selesai makan, kami duduk di sofa dekat jendela. Memandangi jalanan tanpa banyak bicara. Geral juga menutup mulutnya rapat\-rapat. Matanya terlihat turun, sepertinya dia mulai mengantuk. Entah karena dia aru bangun dari kematian atau faktor lain, dia lebih sering tidur dibanding membuka mata.



“Geral?” sapaku memecah keheningan.



“Ya?”



“Mau tiduran?” tanyaku saat melihat pemuda itu tampak mengantuk.



 Geral mengangguk lalu membaringkan kepala di pangkuanku. Aku menatap Geral yang kini mendongak untuk memandangku. Pemuda itu terus menatapku tanpa berkedip. Setelah nyaris setengah hari penuh drama, setidaknya dia sekarang lebih tenang.



Tidak  ada sedikit pun wajah Geral di sana. Wajah cowok itu imut. Bibirnya menggemaskan. Rahang yang tegas memberikan sentuhan maskulin di wajahnya. Rambutnya lurus memanjang dengan helaian yang hampir menutupi kedua alisnya. Posturnya yang tinggi menjadikannya sosok yang rupawan. Aku sama sekali tidak mengenal pemuda ini sebelumnya. Meski begitu, aku akui dia memang memesona.



“Enza!”



“Hmmm,” aku mengangkat alis.



Aku mengusap rambutnya. Geral selalu senang kalau diperlakukan seperti ini. Senyuman lebar terbentuk di bibirku. Pemuda itu juga tersenyum. Untuk sesaat aku melihat sosok Geral di dalam matanya.



“Aku merindukanmu,” katanya.



Geral mengangkat kepala hingga wajah kami cukup dekat. Aku bisa bisa merasakan hembusan napas yang hangat menyapu wajahku. Jasad asing ini membuatku canggung untuk sekedar bertatapan sedekat ini. Meski aku tahu, jiwa Geral ada di dalam sana. Aku tidak membuka bibir saat bibir hangat itu mendarat. Masih mencoba mengusir rasa bersalah yang tiba\-tiba hadir, rasa telah berselingkuh dengan orang lain.



"Enza!" desahnya lembut.



Aku mendengarnya menyebut namaku hingga keraguan itu mulai lenyap dari pikiran. Geral! Tidak ada yang bisa melafalkan namaku seindah itu. Aku memejamkan mata. Tidak kuasa lagi menolak manis bibirnya yang menggoda. Bibir cowok ini masih terasa asing tapi sangat lembut dan terkesan berhati\-hati. Aku mengenalnya, ini Geral. Tanpa berpikir panjang aku membalas ciumannya. Membenamkan bibirku lebih dalam. Hatiku membuncah saat sensasi manis itu memenuhi mulutku. Aku merindukannya, benar\-benar menginginkannya. Jemariku menelusuri rambut\-rambut di belakang kepalanya. Aku melingkarkan lengan di leher pemuda itu. Tidak ingin dia melepaskanku.



Aku membuka mata. Kaget dan tersentak hingga tanpa pikir panjang aku menarik diri. Geral menatapku dengan pandangan kebingungan tapi aku mengusap bibir. Kesadaran dan rasa bersalah kembali menganggu. Saat aku membuka mata entah mengapa rasa bersalah itu kembali muncul. Perasaan bersalah bahwa aku tengah berselingkuh dengan orang lain. Aku masih bisa merasakan sensasi ciuman itu di bibir. Aku menikmatinya. Sungguh, apa yang terjadi padaku? Aku mengepalkan tangan. Hanya bisa membenci diriku sendiri yang seperti ini. Aku menarik napas pelan saat rasa malu mulai memenuhi pikiran.



"Ada apa?" wajahnya menyiratkan keheranan.



“Kita masih punya banyak waktu, kita bisa pelan\-pelan,” aku berkilah berbohong dengan senyum palsu di wajah.



“Aku mengerti.”



Geral menutup matanya lagi. Aku mengusap rambutnya lagi. Aku sungguh merindukannya. Akan tetapi, saat dia kembali dengan sosok yang sama sekali berbeda aku sungguh tidak tahu bagaimana aku harus bersikap. Aku ingin memperlakukannya seperti Geral. Saat aku melihatnya aku sadar kalau tubuh itu milik orang lain. Hatiku memaksa untuk tetap tidak peduli tapi kepalaku mengatakan kalau aku benar\-benar tidak berhak atas tubuh pemuda asing itu. Meskipun Geral ada di dalam tubuh itu sekarang. Tetap saja berat semua ini berat untukku. Aku tahu pasti ini juga berat untuknya.



“Kau tahu, aku senang kau pulang,” aku mengulas senyuman di wajah.



Geral tidak menjawab. Pemuda itu hanya memiringkan tubuhnya dan memelukku. Aku merasakan desahan napasnya di perutku. Dia memelukku semakin erat. Aku mendiamkannya. Geral mungkin memiliki beban yang tidak bisa dia katakan padaku. Kembali dari kematian pasti lebih mengerikan dari yang bisa kubayangkan.



“Kau mau tidur di kamar,” kataku memecahkan kebisuan.



Geral mengangguk. Mengikutiku berdiri lalu berjalan di belakang menuju salah satu kamar. Dia berbaring. Aku menarik selimut hingga nyaris menyentuh leher pemuda itu.

__ADS_1



“Tidurlah!” ucapku lembut.



Geral mengangguk dan tersenyum. Cowok itu menarik tanganku. Memintaku untuk tetap tinggal.



“Aku harus keluar sebentar.” aku mengusap pipinya penuh kasih sayang. Ingin dia tahu kalau aku menyayanginya. “Kau tidak apa\-apa kan sendirian selama aku pergi?”



“Cepatlah kembali!”



“Tentu.”



Aku mendaratkan satu ciuman di keningnya sebelum keluar. Semoga memang tidak akan terjadi apa\-apa selama aku pergi karena ada hal yang harus kulakukan hari ini.  Aku memang harus menemui Alice hari ini. Aku ingin menanyakan soal luka di leherku yang tiba\-tiba saja muncul. Luka itu tidak menyakitkan. Anehnya setelah dibubuhi obat, luka kecil itu menghitam membentuk garis tipis melengkung. Luka itu seolah membentuk tato permanen di leherku. Alice belum menjelaskan soal hal ini dan aku perlu sedikit informasi.



Tidak membutuhkan waktu lama untukku sampai di tempat itu. Aku menarik napas pelan. Ruko tempat Alice bertugas sebagai peramal masih tetap usang seperti biasanya. Aku yakin bahkan papan nama Madam Alice itu mulai miring. Aku mendorong pintu dan berjalan masuk.



“Alice!”



“Masuklah!” suara Alice terdengar dari dalam. “Aku akan buatkan teh!”



“Oke.”



Aku berjalan masuk semakin dalam. Membanting pantatku di kursi mungil yang mengitari meja makan. Meja itu bulat dan mungil. Ruangan ini biasa saja. Tidak ada yang istimewa hanya tumpukan barang\-barang dan beberapa perabotan untuk makan. Alice tidak punya banyak barang. Tatapanku tertuju pada potret besar di pojok ruangan. Entah mengapa potret itu menarik perhatianku. Aku menarik tirainya. Namun, suara deheman pelan membuatku tersentak. Aku buru\-buru melepaskan tanganku dari tirai yang menutupi potret itu. Aku mengurungkan niatku untuk mengintip potret di balik tirai, padahal sebenarnya aku benar\-benar penasaran.



Aku kembali duduk di posisi semula dan Alice kini duduk di depanku. Gadis itu menyodorkan cangkir ke arahku. Aku menarik cangkir itu lebih dekat dan mengetukkan jari\-jariku di permukaannya yang licin.



“Ada apa?”



“Itu soal Geral.”



“Kutebak dia sudah bangun makanya kau datang,” katanya sambil menautkan jemarinya.



“Ya.” aku meneguk ludah sebelum mulai bicara lagi. “Apa kau tahu cara untuk membuat Geral berhenti mengamuk?” tanyaku lagi. Alice memiringkan kepala, tampak kebingungan hingga aku menjelaskan kejadian tadi pagi.



“Bukankah dia sudah berhenti mengamuk?” tanya Alice lagi.



“Iya sih.”



“Kalau begitu tidak akan ada masalah. Dia hanya kaget, kau hanya harus memahaminya.”



“Aku tahu.”



“Nah, tidak ada yang perlu kau pikirkan soal itu. Mulai besok dia akan kembali jadi Geral yang kau kenal.”



“Kau yakin soal itu.”



“Tentu saja,” katanya meyakinkanku. Rasanya aku sedikit tenang dengan keyakinan Alice sekarang.



“Aku juga mau bertanya soal ini,” kataku sambil membuka  scarf hitam yang menutupi leherku dan menaruh benda itu di pangkuanku. “Apa kau tahu luka apa ini?” aku menunjuk luka yang sekarang telah meninggalkan bekas hitam menonjol di leherku.



Alice dengan santai menyesap teh di cangkir. Gadis itu menarik alis ke atas lalu tersenyum. Senyuman yang terbentuk tampak tanpa emosi. Aku menatap wajah Alice. Ekspresinya dingin walau mungkin kata\-kata yang keluar dari bibirnya cukup ramah di telinga. Wajahnya yang oval dan kulitnya yang pucat dengan balutan rambut hitam panjang membuatnya bisa dikatakan cukup mengerikan daripada bersahabat. Meskipun, beberapa waktu lalu dia begitu ceria, entah kenapa dia sangat dingin hari ini. Aku bahkan yakin mungkin aku bertemu dengan alter ego. Aku tidak yakin salah satu dari dua sifat itu sosok Alice yang sebenarnya.



“Well, aku tahu kau akan menanyakan hal ini cepat atau lambat,” Alice masih santai sambil memainkan jemarinya di permukaan cangkir.



“Maksudmu kamu tahu luka apa ini?” aku berusaha meredam rasa antusias di dalam suaraku.



“Kau sudah gila kalau kau pikir aku tidak tahu soal itu.”



“Kalau begitu jelaskan!” pintaku.



Aku menatap Alice. Masih menunggu penjelasan. Bersikap frontal atau mungkin memaksanya bisa berakibat buruk. Bisa jadi dia bahkan tidak akan berbagi informasi denganku.



“Aku tidak akan menyembunyikan apa pun dan aku tidak pelit soal informasi yang mungkin kau butuhkan,” dia seolah bisa membaca pikiranku.



“Aku tahu,” suaraku sedikit bergetar dan aku menarik cangkir teh itu semakin dekat.



“Luka di lehermu itu adalah pertanda ritual pertamamu. Goresan itu akan bertambah hingga hari keseribu. Luka itu akan memanjang mengintari lehermu selama hari itu hingga ujungnya akan saling terkait,” Alice menghela napas.



“Maksudmu aku akan berkalung bekas luka hitam ini?”



“Itu penanda dan harga yang harus kau bayar untuk memanggil roh seseorang yang telah meninggal,” ucapannya ketus.



“Lalu apa yang akan terjadi dengan bekas luka ini?”



 “Aku tidak tahu soal itu. Tapi, hal yang aku tahu tentang ritual ini adalah pada hari ke seribu saat lingkaran itu saling terkait maka kau harus memilih, nyawamu atau nyawanya.”



“Apa maksudmu?”



“Kau akan tahu pada akhirnya,” Alice kembali berteka\-teki. “Satu hal yang pasti, kau mengikat perjanjian dengan iblis dan iblis tidak akan memberikan apa pun secara cuma\-cuma. Pada akhirnya kau akan membayar semuanya karena tidak ada yang gratis di dunia ini.”



Mendengar kata\-kata itu membuatku sedikit takut. Alice benar, tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi memanggil orang yang sudah mati kembali ke dunia maka pasti akan ada bayaran yang sangat besar.



"Membayar? Dengan apa?"



"Kau tahu iblis tidak suka memberi kejutan di awal. Pembayaran itu akan tiba pada waktunya dan kau akan melunasi hutang itu apa pun yang terjadi.”



Aku kembali mengetuk cangkirku. Menatap cairan kental teh di dalamnya. Aku merasa terjebak dan kini aku bahkan tidak tahu jalan keluarnya. Aku bergidik mendengar kata\-kata Alice barusan. Aku menyentuh leherku. Bekas luka kecil itu seolah mengigit\-gigit di balik kulitku.



"Kalau menurutku nikmati saja kebersamaanmu bersama Geral selagi kau bisa," Alice tersenyum hingga giginya yang putih menonjol mengerikan. “Sebelum kau harus membayar lunas hutangmu!”



Saat itu aku sadar kalau tidak ada lagi jalan kembali. Semua sudah terjadi dan aku harus membayar cepat atau lambat. Akan tetapi, seribu hari masih lama. Aku akan memikirkan bayarannya nanti. Untuk sekarang, aku hanya perlu sedikit senang karena Geralku telah kembali.



 



 



 


__ADS_1


 


__ADS_2