
Alice bilang kalau Geral akan kembali menjadi dirinya sendiri. Aku ingat dengan jelas sore tadi dia mengatakannya. Aku pun percaya karena saat makan malam Geral terlihat tenang dan baik\-baik saja. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa saat membuka mata dia ada di di sini. Lebih tepatnya dia ada di atas tubuhku.
Aku mencoba membuka mulutku lebar\-lebar saat napasku mulai sesak. Mataku terbelalak, sosok itu kini tersenyum bengis tepat di depanku. Wajah itu dingin lalu beberapa detik setelahnya senyuman keji mengembang di wajahnya. Aku mencoba bergerak. Melepaskan cengkeramannya di leherku. Pemuda asing ini kini menindihku. Jemarinya yang panjang mengunci leherku hingga membuatku kesulitan bernapas.
“Apa yang kau lakukan padaku?” suara seraknya bergema di ruangan yang gelap.
Tekanan suara ini sama sekali bukan Geral. Geral tidak akan berbicara dengan nada menekan seperti itu. Kalau bukan Geral lalu siapa pemuda ini?
“Jawab!”
Aku tidak bisa menjawab–juga tidak ingin menjawab apa pun pertanyaan darinya. Kalau pun aku meremas otakku saat ini juga, aku tidak akan menemukan satu alasan pun untuk membela diriku di hadapannya. Aku tidak bisa menghadapi penghakiman yang datang tiba\-tiba. Tidak menemukan alasan kuat untuk mengunci jiwa Geral di dalam jasad pemuda yang saat ini tengah mencekikku. Alasanku hanya aku mencintai Geral. Tidak kurang dan tidak lebih. Tapi alasan itu jelas tidak akan berlaku untuknya.
Aku memukul\-mukul tangannya dengan jemari. Sia\-sia saja, cengkeramannya terlalu kuat. Mulutku terbuka berusaha mencari sedikit saja oksigen untuk menopang hidup. Pemuda itu tersenyum tipis. Kekejian yang semula kulihat menghilang sama sekali. Kesedihan menggurat di wajah itu. Matanya yang hitam seolah menghujam menembus mataku. Tidak ada kekejaman dalam mata itu. Hanya kesedihan yang terpantul di dalamnya. Bibir mungil itu masih mengulum senyuman tipis. Perubahan sikapnya yang terlalu cepat. Aku menelan ludah. Dia mungkin seorang psikopat. Aku semakin takut. Gigilan menyerang tubuhku semntara keringat dingin mulai menyembul. Dia benar\-benar mengerikan.
“Kau tahu betapa tidak adilnya ini untukku?” kalimatnya tajam tapi tidak ada kemarahan dalam suaranya.
Telingaku mungkin bermasalah karena tidak merasakan kemarahan dalam suaranya. Tidak marah maka aneh, kalau dia memang pemilik tubuh asli itu seharusnya dia akan membunuhku sekarang di tempat ini juga. Namun, aku nyaris mendengar kesedihan dalam suara itu. Cengkeramannya sedikit mengendur tapi dia tidak melepaskanku. Dia pasti ingin menyiksaku. Dia akan membunuhku dengan berlahan dan menyakitkan. Pasti seperti itu, apalagi yang kuharapkan.
Air mata mulai menggenang di dalam mataku. Ini memang tidak adil untuknya. Aku yang bersalah atas semua kekejaman ini. Akan tetapi, Tuhan lebih tidak adil padaku. Dia mengambil Geralku secara tiba\-tiba. Dia mengambil Geralku saat aku benar\-benar belum siap kehilangan.
Jika pemuda ini adalah korban atas semua ini maka penjahatnya bukan aku atau dia, akan tetapi ada pelaku lain di dalam sandiwara konyol ini. Dia adalah orang yang menyeberang jalan hingga Geralku harus mengalami kecelakaan. Dialah yang patut orang ini persalahkan. Pemuda kehilangan tubuh, sementara aku kehilangan hatiku. Pemuda ini terluka dan aku juga terluka sama sepertinya. Jika aku berharap kami impas, aku membodohi diriku sendiri. Dalam kekacauan ini, pemuda ini memang korban yang sesungguhnya. Dia memang tidak berdosa. Akulah yang bersalah makanya dia boleh mengutukku. Akan tetapi, salahkah aku kalau aku menggunakan tubuhnya untuk memanggil orang yang kucintai?
Aku hanya akan meminjam tubuhnya selama seribu hari. Dia hanya akan kehilangan hidup selama tiga tahun. Aku berjanji akan melepaskanya lalu aku akan membayar semuanya. Aku akan membayar kesalahanku. Aku akan menebus dosaku pada pemuda ini bagaimana pun caranya. Aku ingin mengatakan semua itu, hanya saja cengkeraman di leherku sekarang benar\-benar membuatku sulit bicara.
__ADS_1
“Kau tahu siapa namaku?” suaranya parau. Berat juga dalam.
‘Apa?’ batinku berkecamuk. Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak tahu namanya. Sial!
Cengkeramannya yang semula mengendur kini kembali menguat. Aku masih menatapnya sementara kakiku memukul\-mukul ranjang saat tubuhku mulai kejang.
“Kau pasti tidak tahu!”
Suara degukan mengerikan keluar dari tenggorokanku. Leherku mungkin telah putus saat mataku mulai berkabut. Napas terakhir terlepas begitu mudahnya dari bibirku. Aku akan mati sekarang ini. Mati bahkan sebelum seribu hari. Aku tersengal dan membuka mata. Mataku nanar menatap kamarku yang sepi. Tidak ada siapa pun–termasuk pemuda itu.
Eh, mimpi?
Aku buru\-buru bangun. Takut mimpi buruk itu akan berulang. Aku berjalan ke arah cermin. Menatap leherku dengan ngeri. Aku menyedihkan. Wajah kusut dan lingkaran hitam di bawah mata. Piyama putihku basah oleh keringat dan sekarang menempel ketat di tubuhku. Rambut panjangku lengket dan basah. Aku berjalan turun. Leherku terasa panas. Tidak ada bekas tangan atau cekikan. Akan tetapi, luka kecil yang menghitam terasa panas dan berdenyut.
“Enza!”
“Kau sudah bangun?” suara Geral terdengar dari luar.
Aku masih terdiam. Ragu untuk menjawab. Sejujurnya aku ketakutan untuk melihat Geral saat ini. Meski aroma kopi dan gurih masakan yang menguar memasuki hidungku mulai membuatku goyah.
“Kau sudah bangun rupanya?”
Geral berdiri di ambang pintu dengan apron lucu bergambar kepala panda melilit tubuhnya. Aku masih belum bergerak. Mata itu kini menatapku. Mata hitam yang menuntut penjelasan dariku. Bibir yang mungilnya mengulum senyuman yang sama. Senyuman yang sama dengan pemuda yang mencekikku.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih?” Geral mendekat.
Aku bergerak mundur. Tidak berani menatap wajah pemuda itu. Wajah pemuda yang menindihku dan mencekikku beberapa saat lalu. Bukan cengkeramannya yang membuatku ketakutan. Akan tetapi, ekspresi terluka itu masih terpancar di mata itu saat dia menuntut penjelasan. Itu menyakitkan.
“Enza!”
Aku tersentak dan menepis tangan dingin Geral saat dia menyentuhku. Geral mengerutkan kening. Dia benar\-benar terlihat bingung.
“Ayolah!” Geral menarik tanganku.
Senyuman mengembang di wajahnya. Lesung pipit dalam timbul di pipinya. Geral juga memiliki lesung pipit. Ada jiwa Geral di dalam raga pemuda asing ini. Aku nyaris melupakan itu. Geralku ada di dalam tubuh pemuda asing ini. Senyumannya semakin lebar kala aku menyambut tangannya. Geral melingkarkan lengan di pundakku. Membimbingku keluar. Dia menarik kursi dan mempersilahkanku duduk. Mungkin benar kata Alice kalau Geral akan kembali jadi dirinya dan semua yang kulihat tadi hanyalah mimpi.
“Kau membuat ini?” aku takjub saat melihat nasi goreng berbentuk hati yang kini melambai di depanku.
Geral masih berdiri di belakangku. Dia kini menjulurkan leher hingga pipinya menyentuh telingaku. Kepalanya mengangguk pelan. Aku tersenyum dan mencoba menenangkan diriku. Aku hanya paranoid. Perlakuannya yang manis ini menjadi pembuktian lain bahwa dia adalah Geralku. Mungkin aku harus mengingatkan diriku berkali\-kali kalau kejadian tadi hanya mimpi.
“Enza!”
“Hmm.” aku mulai menyendok nasi goreng di piring hingga memilih untuk bergumam.
“Apa kau tahu namaku?”
Aku tersedak, nasi itu melekat di tenggorokan. Aku masih terbatuk saat tangan Geral mulai melingkari leherku. Rasa dingin mengalir dari ujung jemarinya. Kengerian mulai merayapi tulang belakangku. Napasku tertahan. Leherku kaku di tempatnya. Aku terlalu takut untuk menoleh. Dia akan membunuhku. Sekarang dia akan menghabisiku.
__ADS_1